Senin, 20 Februari 2012

MELIRIK KOMPARASI GERAKAN-GERAKAN ISLAM


MAKALAH
“MELIRIK KOMPARASI GERAKAN-GERAKAN ISLAM”
Di susun sebagai syarat mengikuti Dauroh Marhalah 2

 



Oleh:
M. Bagus Setiawan



Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
Komisariat Universitas Jember-Daerah Jember
Februari 2012



KATA PENGANTAR

Alahamdulillah segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kasih sayang dan petunjuknya kepada kita, semoga kita semua senantiasa dalam lindunganNya. Sholawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, serta para shahabat, tabi’in, dan ummat islam yang senantiasa mengikuti jalan Beliau hingga yaumul qiyamah.
Jika kita berbicara tentang berbagai gerakan Islam, tentunya kita mengenal berbagai macam golongan. Hal ini sejalan dengan hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu).
Dalam makalah “Melirik Komparasi Gerakan-gerakan Islam” ini kita akan membahas mengenai perbedaan-perbedaan pergerakan islam mulai dari Salafi, Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir, serta Ikhwanul Muslimin.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi referensi untuk mengetahui berbagai macam gerakan-gerakan Islam. Akhir kata, mohon maaf bila dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan. Saran dan kritik membangun dari para pembaca tentunya sangat diharapkan dari para pembaca untuk perbaikan karya tulis penulis kedepannya.



PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu), perbedaan-perbedaan pada kelompok ini menarik untuk di ketahui.
Selain pengetahuan tentang kelompok-kelompok atau gerakan-gerakan islam yang ada, kita juga dituntut untuk mengetahui perbedaan-perbedaannya. Oleh karena itu, penting untuk kita pahami pergerakan mereka agar tidak terjadi perselisihan maupun pertentangan pada gerakan-gerakan islam tersebut.
Secara garis besar, mereka adalah sama yaitu suatu kelompok yang mengatasnamakan Islam sebagai landasan pemikiran. Tujuan utamanya juga insya Allah sama, yaitu menegakkan kalimat Allah. Namun disamping persaman-persamaan tersebut, terdapat perbedaan dalam pergerakannya. Itulah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk mengetahuinya.

2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas adalah mengenai apa perbedaan-perbedaan pergerakan dari gerakan islam, diantaranya adalah Salafi, Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir, serta Ikhwanul Muslimin!


3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini selain sebagai syarat untuk mengikuti Dauroh Marhalah 2, juga untuk menimba pengetahuan mengenai gerakan-gerakan islam yang ada.



PEMBAHASAN

1.      Salafi
Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang mengajak untuk berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang diimani, dipahami, dan diterapkan oleh para Salafush Shalih. Para juru dakwah/da’i Dakwah Salafiyyah mengambil ilmu dari para ‘ulama Dakwah Salafiyyah pada setiap zaman. Mereka berguru kepada para ‘ulama rabbani Setiap dakwah yang tidak tegak di atas prinsip ini maka itu adalah dakwah yang menyimpang dari jalan yang benar dan lurus.

2.      Jama’ah Tabligh
Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.
Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; ”Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh.
A.    Latar belakang berdirinya jamaah tabligh
Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, ”Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah 'Abirah I’tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut Tabligh Aqa’iduha Wa Ta’rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19). Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh) bahwasanya Muhammad Ilyas rmendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah  (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 3).
B.     Asas dan landasan jama’ah tabligh
Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang, bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:
1.      Yakin terhadap kalimat Thoyyibah Laa ilaaha ilallah Muhammadur rasulullah.
·         Artinya: Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
  • Laa ilaaha ilallah
    • Maksudnya: Mengeluarkan keyakinan pada makhluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah di dalam hati.
    • cara mendapatkannya:
      • dakwahkan pentingnya iman
      • latihan dengan membentuk halakah iman
      • berdoa kepada Allah agar diberi hakikat iman.
  • Muhammadar rasulullah
    • Maksudnya: Mengakui bahwa satu-satunya jalan hidup untuk mendapatkan kejayaan dunia dan akhirat hanya dengan mengikuti cara hidup Rasulullah s.a.w.
    • cara mendapatkannya:
      • dakwahkan pentingnya sunnah rasulullah
      • latihan dengan menghidupkan sunnah 1x24 jam setiap hari
      • berdoa kepada Allah agar dapat mengikuti sunnah rasulullah.
2.      Salat khusyu' dan khudu'.
·         Artinya: Salat dengan konsentrasi batin dan rendah diri dengan mengikuti cara yang dicontohkan Rasulullah.
·         Maksudnya: Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah dalam salat kedalam kehidupan sehari-hari.
·         cara mendapatkannya:
§  dakwahkan pentingnya salat khusyu' wal khudu'
§  latihan dengan memperbaiki zhahir dan bathinnya salat mulai dari wudhu, ruku', gerakan serta bacaan2 dalam salat
§  berdoa kepada Allah agar diberi hakikat salat khusyu' dan khudu'.
3.      Ilmu ma'adz dzikr
·         Ilmu
§  Artinya: Semua petunjuk yang datang dari Allah melalui Baginda Rasulullah.
·         Dzikir
§  Artinya: Mengingat Allah sebagaimana Agungnya Allah.
§  Maksudnya Ilmu ma'adz dzikr:
·         Melaksanakan perintah Allah dalam setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan ke-Agungan Allah mengikuti cara Rasulullah.
4.      Ikramul Muslimin
·         Artinya: Memuliakan sesama Muslim.
·         Maksudnya: Menunaikan kewajiban pada sesama muslim tanpa menuntut hak kita ditunaikannya.

·         cara mendapatkannya:
§  dakwahkan pentingnya ikramul muslimin
§  atihan dengan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal menghormati yang tua, menghargai yang sesama, menyayangi yang muda.
§  berdoa kepada Allah agar diberi hakikat ikrakul muslimin.
5.      Tashihun Niyah
·         Artinya: Membersihkan niat.
·         Maksudnya: Membersihkan niat dalam beramal, semata-mata karena Allah.
·         cara mendapatkannya:
§  dakwahkan pentingnya tashihun niyah
§  latihan dengan mengoreksi niat sebelum, saat dan setelah beramal.
§  berdoa kepada Allah agar diberi hakikat tashihun niat.
6.      Dakwah dan tabligh
·         Dakwah
o   Artinya: Mengajak
·         Tabligh
o   Artinya: Menyampaikan
§  Maksudnya:
§  Memperbaiki diri, yaitu menggunakan diri, harta, dan waktu seperti yang diperintahkan Allah.
§  Menghidupkan agama pada diri sendiri dan manusia di seluruh alam dengan menggunakan harta dan diri mereka.
§  cara mendapatkannya :
§  dakwahkan pentingnya da'wah wat tabligh.
§  latihan dengan keluar di jalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 hari setiap tahun dan 3 hari setiap bulan. kita tingkatkan pengorbanan dengan keluar 4 bulan setiap tahun, 10 hari setiap bulan dan 8 jam setiap hari.(ulama 1 tahun seumur hidup).

3.      Hizbut Tahrir
A.    Tujuan dan latar belakang
Tujuan dan latar belakangnya adalah mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi, merupakan tujuan utama yang melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya. Yang dimaksud khilafah adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (khalifah) yang dibai’at oleh umat.
B.     Landasan berpikir Hizbut Tahrir
Landasan berpikir HT adalah Al Qur‘an dan As Sunnah, namun dengan pemahaman kelompok sesat Mu’tazilah bukan dengan pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya.
Mengedepankan akal dalam memahami agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah merupakan ciri khas keagamaan mereka. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila ahli hadits zaman ini, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, menjuluki mereka dengan Al-Mu’tazilah Al-Judud (Mu’tazilah Gaya Baru).
Padahal jauh-jauh hari, shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah berkata: “Kalaulah agama ini tolok ukurnya adalah akal, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya.” [2] (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 162, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani).

4.      Ikhwanul Muslimin
Tujuan Ikhwan sebenarnya terbatas pada pembentukan generasi baru kaum beriman yang berpegang pada ajaran Islam yang benar, di mana generasi tersebut akan bekerja untuk membentuk bangunan umat ini dengan shibghah islamyah dalam semua aspek kehidupannya.
Sedangkan jalan yang ditempuh oleh Ikhwan untuk mewujudkan tujuan itu terbatas pada pengubahan tradisi global kehidupan masyarakat dan pembinaan para pendukung dakwah dengan ajaran Islam ini, sehingga mereka menjadi suri teladan bagi yang lainnya dalam hal memegang prinsip, memelihara, dan menegakkan hukum-hukumnya. Mereka selalu menempuh langkah tersebut dalam mencapai tujuan sehingga mereka meraih keberhasilan dengan kepuasan hati dan sepenuh rasa syukur kepada Allah.



PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari sedikit pembahasan di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa setiap gerakan Islam memiliki cirri khas yang berbeda dalam pergerakannya. Begitu juga dengan latar belakang terbentuknya gerakan tesebut yang bervariasi. Dari situ kita dapat mengambil pelajaran bahwa setiap gerakan Islam memiliki tujuan yang mulia, hanya saja cara penerapan syariat Islamnya berbeda-beda.

2.      Saran
Pahami kembali berbagai gerakan-gerakan tersebut di atas dengan memperbanyak wawasan mengenainya atau dengan banyak membaca apa saja yang berhubungan dengan gerakan Islam tersebut di atas. Jangan menghukumi atau menafsirkan buruk sesuatu bila belum memahami betul apa sebenarnya yang terjadi.

Minggu, 19 Februari 2012

Resensi Buku: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 1 dan 2

19 Februari 2012



Judul Asli              : Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna
Penulis                   : Hasan Al-Banna
Penerbit                 : Daarud-Da’wah, Iskandaria, Mesir
Judul Terjemahan  : Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin
Penerjemah            : Anis Matta, Rofi’ Munawwar dan Wahid Ahmadi
Penerbit                 : Era Intermedia, Solo, Indonesia
Tahun Terbit          : 2005
Sesuai judul aslinya, “Majmu’ah Rasail” (Kumpulan Risalah), buku ini berisi kumpulan surat, makalah, dan transkip pidato yang pernah dibuat dan disampaikan oleh Hasan Al-Banna sepanjang hidupnya di medan dakwah dan jihad. Di dalamnya berisi pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna tentang dakwah yang tentu saja akan berhubungan dengan gerakan dakwah yang dipeloporinya, Ikhwanul Muslimin.
Secara keseluruhan, di dalam buku ini terdapat 18 judul dari kumpulan risalah Hasan Al-Banna, yaitu: 1. Risalah Ta’lim, 2. Nizhamul Usar, 3. Dakwah Kami, 4. Apakah Kita Para Aktivis?, 5. Kepada Mahasiswa, 6. Menuju Cahaya, 7. Risalah Jihad, 8. Mu’tamar Ke-Enam, 9. Mar’ah Muslimah, 10. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia?, 11. Di Bawah Naungan Al-Quran, 12. Al-Ma’tsurat, 13. Al-Aqaaid, 14. Kepada Para Pemuda Dan Secara Khusus Kepada Mahasiswa, 15. Dakwah Kami Di Zaman Baru, 16. Antara Kemarin dan Hari Ini, 17. Mu’tamar Ke-Lima, Dan 18. Agenda Persoalan Kita Dalam Kacamata System Islam.
‘Risalah ta’lim’ merupakan rumusan rambu-rambu dalam sebuah gerakan Islam. Di dalamnya terdapat rukun-rukun bai’at (arkanul-bai’ah) dan kewajiban-kewajiban seorang mujahid.  Adapun rukun bai’at tersebut antara lain: 1. fahm (pemahaman), 2. Ikhlas, 3. Amal (aktivitas), 4. Jihad, 5. Tadhiyah  (pengorbanan), 6. Taat (kepatuhan), 7. Tsabat (keteguhan), 8. Tajarrud (kemurnian), 9. Ukhuwwah, dan 10. Tsiqah (kepercayaan).
Dalam ‘nizhamul usar’, Hasan Al Banna ingin menekankan pentingnya pembinaan agar tujuan dakwah bisa tercapai, khususnya dalam bingkai ukhuwwah. Beliau menekankan tiga pilar utama agar ikatan usrah ini menjadi erat. Yaitu ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan takaful (saling menanggung beban).
Bagian ‘dakwah kami’, menjelaskan tentang karakteristik dakwah Ikhwan dan bagaimana sikap ikhwan menanggapi berbagai faham dan aliran diseluruh dunia. Misal pandangan mereka terhadap nasionalisme dan kebangsaan. Di bahas juga tentang sikap ikhwan menanggapi fenomena perbedaan mazhab dalam Islam.
Berikutnya dalam ‘Apakah Kita Para Aktivis’, ‘Kepada Mahasiswa’, dan ‘Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa’, Hasan Al Banna ingin menegaskan dan memberi paradigma bahwa kita sebagai kader dalam gerakan dakwah harus menjadi kaum-kaum yang senantiasa beramal dan memiliki aktivitas positif. Harus bisa menunjukkan bahwa gerakan dakwah itu memiliki aktivitas yang berimbas nyata bagi kehidupan. Menjaga aktivitas takwiniah dan juga sebagai mahasiswa juga harus memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, memahami ranah siasah / politik dan bisa memberikan filtrasi terhadap sistem politik barat.
Hasan Al-Banna juga pernah mengirim surat kepada Pemimpin saat itu, Raja Faruq I dan Mustafa An Nahnas, yaitu pada bagian ‘Menuju Cahaya’. Isinya secara umum menyampaikan tentang pentingnya reorientasi kekuasaan agar kembali kepada cita-cita Islam, pandangan Islam terhadap politik barat dan solusi-solusi konkrit untuk  memperbaiki kebijakan pemerintahan.
Berikutnya secara khusus, Hasan Al-Banna juga membahas seputar wanita dalam ‘Mar’ah Muslimah’. Di dalamnya ia menjelaskan urgensi wanita di dalam Islam dan bagaimana kontekstualisasi kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Bagaimana pendapat Islam tentang wanita juga bantahan terhadap beberapa pendapat yang dianggap menyimpang seputar wanita.
Pada bagian ‘Antara Kemarin dan Hari Ini’ membahas tentang perkembangan dan sasaran fikrah islamiyah. Risalah ini telah diterbitkan sejak awal munculnya fikrah Ikhwan sebelum terjadinya perang dunia II dan telah dibaca oleh para aktivis dakwah pada saat itu. Di dalamnya ada diskripsi yang bagus tentang mabadi’ (dasar-dasar) Islam serta sarana untuk melakukan ishlah (perbaikan) sebagaimana telah diserukan kepada kita untuk menerapkannya. Di dalamnya juga dibahas selayang pandang tentang daulah islamiyah di awal kebangkitannya, saat Al-Qur’an dijadikan dustur (undang-undang) dalam kehidupan masyarakat, dan Rasulullah sendiri yang memimpin dan menjadi qudwah (sumber keteladanan) bagi mereka. Pada risalah ini juga terdapat analisis yang cukup detail tentang faktor-faktor yang dapat mengacaukan arus kebangkitan ummat Islam dan menggeser keberadaan mereka. Pembaca juga akan mendapatkan untaian kalimat yang berisi taujih (pengarahan) yang sangat mengena pada penghujung risalah ini. Sungguh, tidak akan shalih generasi akhir dari umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan shalih para pendahulunya.
Berikutnya dalam ‘Dakwah Kami di Zaman Baru’ menyampaikan tentang bagaimana dakwah Islam bersikap di era modern ini. Pandangan tentang konteks nasionalisme, arabisme dan ketimuran. Juga menekankan pentingnya aspek pendidikan dan tarbiyah bagi umat manusia untuk mengembalikannya kepada kesadaran akan Tuhan (rabbaniyah ‘alamiyah).
‘Di Bawah Naungan Al Qur’an’, memberi himbauan kepada para aktivis Islam agar kembali kepada nilai-nilai dasar Islam dan juga punya landasan agar tidak sepenuhnya taklid kepada sistem barat.
Pada bagian ‘Al Ma’tsurat’, membahas tentang wirid dan dzikir harian yang senantiasa menjadi kebiasaan para aktivis Islam. Di situ disampaikan dzikir-dzikir harian yang ma’tsur, berdasarkan dalil-dalil yang shahih.  Secara tekstual, kalimat-kalimat dzikir juga dituliskan. Mulai dari ayat-ayat Al Qur’an yang berisi do’a dan pengingat kepada Allah. Juga dzikir-dzikir yang dianjurkan dan biasa dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabat. Terdapat pula do’a-do’a harian yang dianjurkan agar dilakukan pada setiap kesempatan.
‘Al-‘Aqaaid’ merupakan bagian yang membicarakan tentang masalah ‘aqidah Islamiyah. Disitu disampaikan seputar konsep dasar ‘aqidah dalam Islam. Bagaimana bahwa Islam sangat menghargai akal manusia beserta dalil-dalilnya. Disampaikan pula tentang asmaa’ul husna yang berjumlah 99 dan bagaimana kontekstualisasinya dalam kehidupan yang juga disertai dalil ‘aqli maupun naqli.
Dalam buku Risalah Pergerakan ini, memuat juga pidato Hasan Al-Banna dalam Muktamar Ikhwanul Muslimin, yaitu Muktamar Ke-lima dan Ke-enam. Muktamar ke-lima (muktamar al khamis) secara umum memuat tujuan dan karakteristik dakwah Ikhwanul Muslimin, Wasail (perangkat) dan khuthuwat (langkah-Iangkah) manhaj Ikhwanul Muslimin dan sikap Ikhwan terhadap jamaah-jamaah lain. Sedangkan dalam muktamar ke-enam, menjelaskan dan memberikan reorientasi gerakan jama’ah Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan dakwah yang melandaskan dirinya pada keIslaman yang murni. Memberi tanggapan tentang kondisi Mesir dan pandangan tentang pengaruh pemikiran barat pada sistem kemasyarakatan.
Pada bagian terakhir, ‘Agenda Persoalan Kita dalam Kacamata Sistem Islam’ menyikapi beberapa problematika ummat dan solusinya. Dalam hal ini Asy Syahid menyampaikan tiga sudut pandang masalah, yaitu permasalahan internal Mesir, permasalahan negara-negara Islam di dunia dan permasalahan pemikiran umat yang terinfiltrasi dan mulai keluar dari pemikiran Islam. Ditawarkan juga bagaimana Islam memandang berbagai masalah tersebut dan solusinya dalam konteks Islam itu sendiri.
Demikian isi buku Risalah Pergerakan 1 dan 2. Suatu keharusan bagi aktivis dakwah untuk membaca bahkan memahami buku ini. Dalam buku ini kita akan menemukan pemikiran-pemikiran cemerlang dan jenius dari pendiri gerakan dakwah terbesar di dunia sampai saat ini, Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna.

Filosofi Gerakan KAMMI

19 Februari 2012

MENGENAL KAMMI LEWAT  FILOSOFI GERAKAN KAMMI
Oleh: M. Bagus Setiawan

Filosofi merupakan landasan yang menjadi dasar pemikiran dari suatu objek, yang disini objek tersebut adalah sebuah organisasi kemahasiswaan. Sebagai organisasi kemahasiswaan, gerakan KAMMI tidak akan dipahami jika kita tidak terlebih dahulu mengetahui filosofinya. Oleh karena itu, cara tepat mengenal KAMMI adalah dengan terlebih dahulu mengetahui filosofi gerakannya. Filosofi gerakan KAMMI meliputi asas; visi; misi; prinsip gerakan; paradigma gerakan; serta status, identitas, dan peran. Berikut adalah penjabaran dari filosofi gerakan KAMMI:
1.      Asas KAMMI
KAMMI berasaskan Islam. ini mengutamakan persaudaraan (ukhuwwah islamiyah) antar sesama mahasiswa muslim Indonesia dan bersifat Independen.

2.      Visi KAMMI
KAMMI merupakan wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Islami di Indonesia.

3.      Misi KAMMI
a.       Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.
b.      Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.
c.       Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
d.      Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.
e.       Mengembangkan kerjasama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar).

4.      Prinsip Gerakan KAMMI
a.       Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
b.      Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
c.       Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
d.      Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
e.       Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
f.       Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI
5.      Paradigma Gerakan KAMMI
a.       KAMMI adalah dakwah tauhid
b.      KAMMI adalah gerakan intelektual profetik
c.       KAMMI adalah gerakan sosial independen
d.      KAMMI adalah gerakan politik ektraparlementer

6.      Status, Identitas, dan Peran
KAMMI adalah organisasi ekstra kampus yang menghimpun mahasiswa muslim seluruh Indonesia secara lintas sektoral, suku, ras dan golongan. KAMMI menghimpun segenap mahasiswa muslim Indonesia yang bersedia bekerjasama membangun negara dan bangsa Indonesia.
KAMMI berperan sebagai wadah dan mitra bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menegakkan keadilan dan kebenaran dalam wadah negara hukum Indonesia melalui tahapan pembangunan nasional yang sehat dan bertanggung jawab.
KAMMI mengambil peran sebagai mitra bagi masyarakat dalam upaya-upaya pembangunan masyarakat sipil, demokratisasi dan pembangunan kesatuan/persaudaraan ummat dan bangsa melalui pendampingan/advokasi sosial, kritisi/konstruktif terhadap kebijakan negara yang memarginalisasi masyarakat.