Minggu, 19 Februari 2012

Resensi Buku: Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 1 dan 2

19 Februari 2012



Judul Asli              : Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna
Penulis                   : Hasan Al-Banna
Penerbit                 : Daarud-Da’wah, Iskandaria, Mesir
Judul Terjemahan  : Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin
Penerjemah            : Anis Matta, Rofi’ Munawwar dan Wahid Ahmadi
Penerbit                 : Era Intermedia, Solo, Indonesia
Tahun Terbit          : 2005
Sesuai judul aslinya, “Majmu’ah Rasail” (Kumpulan Risalah), buku ini berisi kumpulan surat, makalah, dan transkip pidato yang pernah dibuat dan disampaikan oleh Hasan Al-Banna sepanjang hidupnya di medan dakwah dan jihad. Di dalamnya berisi pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna tentang dakwah yang tentu saja akan berhubungan dengan gerakan dakwah yang dipeloporinya, Ikhwanul Muslimin.
Secara keseluruhan, di dalam buku ini terdapat 18 judul dari kumpulan risalah Hasan Al-Banna, yaitu: 1. Risalah Ta’lim, 2. Nizhamul Usar, 3. Dakwah Kami, 4. Apakah Kita Para Aktivis?, 5. Kepada Mahasiswa, 6. Menuju Cahaya, 7. Risalah Jihad, 8. Mu’tamar Ke-Enam, 9. Mar’ah Muslimah, 10. Kepada Apa Kami Menyeru Manusia?, 11. Di Bawah Naungan Al-Quran, 12. Al-Ma’tsurat, 13. Al-Aqaaid, 14. Kepada Para Pemuda Dan Secara Khusus Kepada Mahasiswa, 15. Dakwah Kami Di Zaman Baru, 16. Antara Kemarin dan Hari Ini, 17. Mu’tamar Ke-Lima, Dan 18. Agenda Persoalan Kita Dalam Kacamata System Islam.
‘Risalah ta’lim’ merupakan rumusan rambu-rambu dalam sebuah gerakan Islam. Di dalamnya terdapat rukun-rukun bai’at (arkanul-bai’ah) dan kewajiban-kewajiban seorang mujahid.  Adapun rukun bai’at tersebut antara lain: 1. fahm (pemahaman), 2. Ikhlas, 3. Amal (aktivitas), 4. Jihad, 5. Tadhiyah  (pengorbanan), 6. Taat (kepatuhan), 7. Tsabat (keteguhan), 8. Tajarrud (kemurnian), 9. Ukhuwwah, dan 10. Tsiqah (kepercayaan).
Dalam ‘nizhamul usar’, Hasan Al Banna ingin menekankan pentingnya pembinaan agar tujuan dakwah bisa tercapai, khususnya dalam bingkai ukhuwwah. Beliau menekankan tiga pilar utama agar ikatan usrah ini menjadi erat. Yaitu ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan takaful (saling menanggung beban).
Bagian ‘dakwah kami’, menjelaskan tentang karakteristik dakwah Ikhwan dan bagaimana sikap ikhwan menanggapi berbagai faham dan aliran diseluruh dunia. Misal pandangan mereka terhadap nasionalisme dan kebangsaan. Di bahas juga tentang sikap ikhwan menanggapi fenomena perbedaan mazhab dalam Islam.
Berikutnya dalam ‘Apakah Kita Para Aktivis’, ‘Kepada Mahasiswa’, dan ‘Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa’, Hasan Al Banna ingin menegaskan dan memberi paradigma bahwa kita sebagai kader dalam gerakan dakwah harus menjadi kaum-kaum yang senantiasa beramal dan memiliki aktivitas positif. Harus bisa menunjukkan bahwa gerakan dakwah itu memiliki aktivitas yang berimbas nyata bagi kehidupan. Menjaga aktivitas takwiniah dan juga sebagai mahasiswa juga harus memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, memahami ranah siasah / politik dan bisa memberikan filtrasi terhadap sistem politik barat.
Hasan Al-Banna juga pernah mengirim surat kepada Pemimpin saat itu, Raja Faruq I dan Mustafa An Nahnas, yaitu pada bagian ‘Menuju Cahaya’. Isinya secara umum menyampaikan tentang pentingnya reorientasi kekuasaan agar kembali kepada cita-cita Islam, pandangan Islam terhadap politik barat dan solusi-solusi konkrit untuk  memperbaiki kebijakan pemerintahan.
Berikutnya secara khusus, Hasan Al-Banna juga membahas seputar wanita dalam ‘Mar’ah Muslimah’. Di dalamnya ia menjelaskan urgensi wanita di dalam Islam dan bagaimana kontekstualisasi kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Bagaimana pendapat Islam tentang wanita juga bantahan terhadap beberapa pendapat yang dianggap menyimpang seputar wanita.
Pada bagian ‘Antara Kemarin dan Hari Ini’ membahas tentang perkembangan dan sasaran fikrah islamiyah. Risalah ini telah diterbitkan sejak awal munculnya fikrah Ikhwan sebelum terjadinya perang dunia II dan telah dibaca oleh para aktivis dakwah pada saat itu. Di dalamnya ada diskripsi yang bagus tentang mabadi’ (dasar-dasar) Islam serta sarana untuk melakukan ishlah (perbaikan) sebagaimana telah diserukan kepada kita untuk menerapkannya. Di dalamnya juga dibahas selayang pandang tentang daulah islamiyah di awal kebangkitannya, saat Al-Qur’an dijadikan dustur (undang-undang) dalam kehidupan masyarakat, dan Rasulullah sendiri yang memimpin dan menjadi qudwah (sumber keteladanan) bagi mereka. Pada risalah ini juga terdapat analisis yang cukup detail tentang faktor-faktor yang dapat mengacaukan arus kebangkitan ummat Islam dan menggeser keberadaan mereka. Pembaca juga akan mendapatkan untaian kalimat yang berisi taujih (pengarahan) yang sangat mengena pada penghujung risalah ini. Sungguh, tidak akan shalih generasi akhir dari umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan shalih para pendahulunya.
Berikutnya dalam ‘Dakwah Kami di Zaman Baru’ menyampaikan tentang bagaimana dakwah Islam bersikap di era modern ini. Pandangan tentang konteks nasionalisme, arabisme dan ketimuran. Juga menekankan pentingnya aspek pendidikan dan tarbiyah bagi umat manusia untuk mengembalikannya kepada kesadaran akan Tuhan (rabbaniyah ‘alamiyah).
‘Di Bawah Naungan Al Qur’an’, memberi himbauan kepada para aktivis Islam agar kembali kepada nilai-nilai dasar Islam dan juga punya landasan agar tidak sepenuhnya taklid kepada sistem barat.
Pada bagian ‘Al Ma’tsurat’, membahas tentang wirid dan dzikir harian yang senantiasa menjadi kebiasaan para aktivis Islam. Di situ disampaikan dzikir-dzikir harian yang ma’tsur, berdasarkan dalil-dalil yang shahih.  Secara tekstual, kalimat-kalimat dzikir juga dituliskan. Mulai dari ayat-ayat Al Qur’an yang berisi do’a dan pengingat kepada Allah. Juga dzikir-dzikir yang dianjurkan dan biasa dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabat. Terdapat pula do’a-do’a harian yang dianjurkan agar dilakukan pada setiap kesempatan.
‘Al-‘Aqaaid’ merupakan bagian yang membicarakan tentang masalah ‘aqidah Islamiyah. Disitu disampaikan seputar konsep dasar ‘aqidah dalam Islam. Bagaimana bahwa Islam sangat menghargai akal manusia beserta dalil-dalilnya. Disampaikan pula tentang asmaa’ul husna yang berjumlah 99 dan bagaimana kontekstualisasinya dalam kehidupan yang juga disertai dalil ‘aqli maupun naqli.
Dalam buku Risalah Pergerakan ini, memuat juga pidato Hasan Al-Banna dalam Muktamar Ikhwanul Muslimin, yaitu Muktamar Ke-lima dan Ke-enam. Muktamar ke-lima (muktamar al khamis) secara umum memuat tujuan dan karakteristik dakwah Ikhwanul Muslimin, Wasail (perangkat) dan khuthuwat (langkah-Iangkah) manhaj Ikhwanul Muslimin dan sikap Ikhwan terhadap jamaah-jamaah lain. Sedangkan dalam muktamar ke-enam, menjelaskan dan memberikan reorientasi gerakan jama’ah Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan dakwah yang melandaskan dirinya pada keIslaman yang murni. Memberi tanggapan tentang kondisi Mesir dan pandangan tentang pengaruh pemikiran barat pada sistem kemasyarakatan.
Pada bagian terakhir, ‘Agenda Persoalan Kita dalam Kacamata Sistem Islam’ menyikapi beberapa problematika ummat dan solusinya. Dalam hal ini Asy Syahid menyampaikan tiga sudut pandang masalah, yaitu permasalahan internal Mesir, permasalahan negara-negara Islam di dunia dan permasalahan pemikiran umat yang terinfiltrasi dan mulai keluar dari pemikiran Islam. Ditawarkan juga bagaimana Islam memandang berbagai masalah tersebut dan solusinya dalam konteks Islam itu sendiri.
Demikian isi buku Risalah Pergerakan 1 dan 2. Suatu keharusan bagi aktivis dakwah untuk membaca bahkan memahami buku ini. Dalam buku ini kita akan menemukan pemikiran-pemikiran cemerlang dan jenius dari pendiri gerakan dakwah terbesar di dunia sampai saat ini, Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna.