Minggu, 25 Maret 2012

makalah sirah nabawiyah


MAKALAH
“PERJALANAN HIDUP RASULULLAH SEBELUM DI ANGKAT MENJADI RASUL”



                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

Oleh:
M. Bagus Setiawan



Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
Komisariat Universitas Jember-Daerah Jember
Maret 2012



KATA PENGANTAR

Alahamdulillah segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kasih sayang dan petunjuknya kepada kita, semoga kita semua senantiasa dalam lindunganNya. Sholawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, serta para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan ummat islam yang senantiasa mengikuti jalan Beliau hingga yaumul qiyamah.
Sungguh menakjubkan seorang hamba utusan Allah bernama Muhammad bin Abdullah, yang dipilih Allah untuk menyempurnakan ajaran tauhid. Sebagai penyampai kabar gembira dan ancaman kepada seluruh ummat di dunia. Beruntunglah kita sebagai ummat islam yang mempunyai sosok pemimpin yang sangat agung dan tiada yang bisa menyamai keagungannya.
Sebagai ummat Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kita mengenali Beliau melalui sirahnya, agar semakin kuat rasa cinta kita padanya dan dapat mengambil pelajaran dari sejarah perjalanan Beliau untuk bisa kita contoh. Karena di dalam pribadi Rasulullah SAW terdapat suri tauladan yang baik.
Semoga kita dapat tetap terus istiqomah dalam menjalankan segala apa yang di perintah Allah dan senantiasa menjauhi segala laranganNya. Dan semoga kita di himpun sebagai ummat Nabi Muhammad SAW hingga bertemu dengannya kelak di Jannah Illahi. Amin Allahumma amin.



PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Sebagai seorang muslim sejati, yang benar-benar memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan yang selalu rindu akan Jannah Allah, tentu akan meneladani junjungannya. Karena dengan itu, derajat taqwanya akan tinggi disisi Allah.
Kita semua tahu bahwa junjungan kita yaitu Nabiyullah Muhammad SAW. Namun apakah kita sudah mengenalnya? Jawaban dari pertanyaan tersebut tergantung dari individu manusia masing-masing. Jika seseorang sangat mencintai Rasullullah, tentunya ia akan berusaha semampunya untuk bisa mengenal pribadi Rasullullah.
Dengan mempelajari sejarah Rasulullah SAW, seseorang akan dapat lebih mengenal siapa sejatinya pribadi agung itu. Setelah mempelajari sejarah Rasulullah pastilah seorang itu lebih mencintai Rasulullah SAW dari pada cintanya pada semua makhluk.
Untuk menuju kecintaan itu, dalam makalah ini akan sedikit membahas sejarah Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan hidup Beliau sebelum diutus sebagai Rasul.

2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas adalah bagaimana perjalanan hidup Rasulullah SAW sebelum diutus sebagai Rasul, mulai Beliau dilahirkan sampai awal diutusnya menjadi Rasul.
3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk lebih mengenal pribadi Rasulullah SAW dan juga lebih mencintainya.



PEMBAHASAN

Dalam makalah ini akan sedikit membahas tentang perjalanan Rasulullah SAW sebelum diutus menjadi Rasul. Dimulai dari kelahiran sampai dengan awal diutusnya menjadi Rasul.
Sebelum masuk pada sejarah kelahiran Rasulullah, kita perlu mengetahui nasab atau garis keturunannya terlebih dahulu. Nabi Muhammad SAW mempunyai garis keturunan yang mulia dari  para Nabi sebelum Beliau, yaitu masih satu garis dengan Nabi Ismail AS bin Ibrahim AS.
Dari garis Ayah, nasabnya ialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusyay bin Hakim bin Murrah bin Ka’ab bin Qalib bin Fakhri bin Malik bin Nadlir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudlor bin Nadzar bin Mu’adz bin Adna bin Adad, sampai terhubung dengan Nabi Ismail AS bin Ibrahim AS. Sedangkan dari garis Ibu, nasabnya ialah Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zahra bin Hakim.
Setelah mengetahui nasab Rasulullah barulah kita menginjak pembahasan mengenai perjalanan Beliau sebelum diutus menjadi Rasul.

1.      Menjelang dan Saat Kelahiran
Menjelang kelahiran sampai pada kelahiran Rasulullah, banyak peristiwa-peristiwa yang menunjukkan kalau Beliau adalah insane pilihan. Beliau lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah atau bertepatan pada 20 April tahun 571M.
Pada saat Nabi Muhammad SAW berada dikandungan Ibunya yang berumur 7 bulan, Ayahnya (Abdullah) wafat. Jadi Beliau terlahir dalam keadaan yatim.
Peristiwa-peristiwa besar sebelum Rasulullah lahir antara lain: adanya pasukan gajah yang akan merobohkan ka’bah dan tidak terrealisasi karena adanya serangan dari burung Ababil; api majusi padam, yaitu api yang tak pernah padam selama beratus-ratus tahun; jin tidak bisa mencuri berita gaib dari langit yang akan disampaikan pada tukang sihir; bintang besar bercahaya, yang sebelumnya tidak pernah ada; burung-burung indah berterbangan di atas langit mekah dan berkicau riang menyambut kelahiran Rasulullah; pohon kurma yang kering kembali berbuah; mata air yang sebelumnya kering memencar kembali; berhala bersujud; serta Ibunya tidak pernah merasa letih saat mengandung Beliau.
Saat Rasulullah lahir, Ibunya tidak merasakan sakit; Beliau lahir sudah dikhitan; langsung sujud; dan memandang langit.

2.      Ibu Susuan
Pada saat Nabi Muhammad lahir, di lingkungan bangsawan Quraisy punya kebiasaan untuk memberikan bayi yang lahir kepada suku pedalaman untuk disusukan. Ibu susuan yang dianggap terbaik adalah dari kalangan kabilah Bani Sa’d.
Menunggu kedatangan orang dari Bani Sa’d, Ibunya menyerahkan bayi Nabi Muhammad pada Tsuwaiba (budak perempuan Abu Lahab). Pada saat itu Tsuwaiba sedang menyusui putranya, Hamzah. Jadi Nabi Muhammad dan Hamzah adalah saudara satu susuan.
Halimah binti Abi Dhu’aib bersama suaminya, Harist bin Abdul ‘Uzza dating kepada keluarga Nabi. Dan Nabi pun dibawa pulang untuk disusui. Sebenarnya, saat itu salah satu payudara Halimah tidak bisa memancarkan ASI. Namun semenjak menyusui Nabi, payudara itu bisa memancarkan ASI.

3.      Penyucian Hati
Masa kecil Rasulullah dilalui di kampong Halimah. Suatu hari saat Beliau berumur 3 tahun, Rasulullah diajak menggembala kambing oleh saudara susuannya, Dhimran. Tiba-tiba datang Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail yang menjelma menjadi manusia berbaju putih bersih. Mereka membawa Nabi Muhammad mejauh dan membaringkannya di rerumputan. Bajunya dibuka dan dadanya dicuci dengan air dingin dari bejana.
Kemudian Malaikat Jibril meletakkan ujung pisau dibawah tenggorokan Nabi tepat diatas dada. Pisau ditusukkan dan ditarik, dadnya robek sampai pusar. Tulang Nabi terbelah tanpa meneteskan darah. Selanjutnya hatinya diambil dan dicuci dengan air, sebagian ujungnya dipotong dan dicuci lagi. Hati itu dikembalikan pada tempatnya dan dada ditutup kembali tanpa bekas dan Nabi tidak merasakan kesakitan.

4.      Kembali ke Pangkuan Aminah
Setelah peristiwa pembersihan hati Rasulullah, Halimah dan suamunya, Harist syok luar biasa. Semula mereka ingin memelihara Nabi Muhammad sampai dewasa karena banyak mengundang berkah. Tetapi niat itu mereka batalkan karena takut aka nada peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan pada Nabi Muhammad. Akhirnya pada saat berumur 6 tahun, Beliau dikembalikan pada Ibu kandungnya, Aminah.
Suatu saat Aminah mengajak Nabi Muhammad silaturahmi ke keluarganya di Madinah.perjalanan tersebut di temani Ummu Aiman (budak peninggalan Ayahnya). Setelah selesai bersilaturahmi, mereka pun berniat kembali ke Mekah. Di perjalanan pulang ini Aminah sakit dan wafat. Dan Beliau kini yatim piatu.

5.      Diasuh Kakek dan Paman
Sepeninggal Aminah, Rasulullah kemudian diasuh oleh kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Namun baru 2 tahun dalam asuhan, Abdul Muthalib pun wafat pada usia 80 tahun.
Sebelum Abdul Muthalib wafat, Beliau berpesan kepada  Abu Thalib (paman Nabi Muhammad) agar merawat keponakannya. Dan sepeninggal Abdul Muthalib, Nabi Muhammad dirawat pamannya yaitu Abu Thalib.

6.      Bahira Sang Rahib
Selagi usia Rasulullah SAW mencapai 12 tahun, dan ada yang berpendapat lebih 2 bulan 10 hari, Abu Thalib mengajak Beliau pergi berdagang dengan tujuan Syam, hingga tiba di Bushra. Di negeri ini ada seorang rahib yang dikenal dengan sebutan Bahira, yang nama aslinya adalah Jurjis. Tatkala rombongan tiba di daerah ini, sang rahib menghampiri mereka dan mempersilahkan mereka mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan. Padahal sebelum itu rahib tersebut tidak pernah keluar, namun begitu ia bisa mengetahui Rasulullah SAW dari sifat-sifat Beliau. Sambil memegang tangan Beliau, sang rahib berkata, “Orang ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Kemudian rahib Bahira meminta agar Abu Thalib kembali lagi bersama Rasulullah tanpa melanjutkan perjalanannya ke Syam, karena ia takut gangguan dari orang-orang Yahudi. Dan setelah kembali ke Mekah, Rasulullah membantu pamannya mengembala kambing.

7.      Pernikahan dengan Khadijah
Setelah mengetahui banyak kebaikan yang dimiliki Rasulullah, Khadijah pun ingin menikah dengannya. Lebih-lebih setelah mendengar keterangan maisarah tentang sikap dan perilaku Rasulullah selama perjalanan ke Syam.
Sebenarnya sudah banyak para pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahi Khadijah. Namun dia tidak mau. Tiba-tiba saja dia teringat seorang rekannya, Nafisah binti Munyah. Dia meminta agar rekannya ini menemui Rasulullah dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah. Ternyata Rasulullah menerima tawaran itu, lalu Beliau menemui paman-pamannya. Kemudian paman-paman Beliau menemui paman Khadijah untuk mengajukan lamaran. Setelah semuanya dianggap beres, maka pernikahan siap dilaksanakan. Yang ikut hadir dalam pelaksanaan akad nikah adalah Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar.

8.      Peletakan Hajar Aswad
Pada suatu masa, banjir besar melanda Mekah yang mengakibatkan dinding Ka’bah retak. Kaum Quraisy sempat kebingungan melihat keadaan ini. Namun mereka takut untuk memperbaikinya.
Ketika pasukan Romawi terdampar karena bencana laut, diketahui kalau nahkodanya adalah seorang yang ahli rancang bangun bernama Baqum. Walid bin Mughira pun segera menemuinya. Mereka sepakat untuk memperbaiki Ka’bah.
Akhirnya Ka’bah diperbaiki. Empat sudut yang diperbaiki adalah sudut selatan yang disebut Ar Rukn Al Yamani, sudut barat yang disebut Ar Rukn Asy Syani, sudut utara yang disebut Ar Rukn Al Iraqi, dan sudut timur yang disebut Ar Rukn Al Aswadi. Pembangunannya dilakukan secara gotong-royong dengan masyarakat setempat yang dipimpin oleh Baqum. Rasulullah turut serta dalam memperbaiki dengan meletakkan batu-batu sampai tingginya mencapai 11 meter.
Sebuah peristiwa terjadi saat akan meletakkan kembali hajar aswad, yaitu disebelah timur. Acara peletakan batu ini pun menjadi perselisihan. Masing-masing kaum merasa paling berhak untuk meletakkannya. Hal ini terjadi karena meletakkan hajar aswad dianggap penghormatan tinggi yang tak ternilai harganya. Perselisihan ini terus-menerus terjadi hingga hamper terjadi pertumpahan darah.
Abu Umayyah bin Mughira dari Bani Makhzum segera melerai dan ngasih kebijakan, “ percayakan putusan ini pada orang yang pertama kali masuk pintu shaffa!” para pemimpin dari masing-masing kelompok menyetujui usulan tersebut, kemudian pulang. Keesokan paginya mereka pun dating ke Ka’bah untuk melihat siapa orang yang pertama kali datang ke pintu shaffa. Ternyata orang itu adalah Nabi Muhammad SAW. Orang-orang sepakat bahwa yang mengembalikan hajar aswad adalah Rasulullah.
Namun Rasulullah mempunyai pemikiran bijaksana yang tidak dipikirkan orang lain. Beliau dengan cerdas meletakkan hajar aswad pada sebuah kain. Kemudian Beliau meminta keempat pimpinan dari masing-masing suku untuk ikut memegang keempat sudut kain tersebut. Setelah itu mereka bersama-sama mengangkat hajar aswad dan Rasulullah meletakkan ditempatnya semula. Dengan begitu setiap suku merasa mendapatkan penghormatan yang sama. Permusuhan pun selesai dengan sendirinya. Dan mereka serentak menyerukan Al Amin kepada Nabi Muhammad, yang artinya orang yang dapat dipercaya.



PENUTUP

1.      Kesimpulan
Dari sedikit pembahasan di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa perjalanan kehidupan Rasulullah SAW sebelum diutus menjadi Rasul sangat banyak pelajaran yang dapat di ambil. Kita jadi lebih mengenal Rasulullah setelah membaca sejarah hidup Beliau.
2.      Saran
Mari mengenal lebih dalam junjungan kita Nabi Muhammad SAW dengan lebih banyak membaca sejarah hidupnya dan terus berusaha untuk selalu mengikuti sunnah-sunnahnya.

Rasa Itu

25 Maret 2012
Rasa itu

Ada yang harus ditangisi
Ada rasa yang mulai hilang
Saat jiwa tak lagi mencumbui Rabbnya
Saat lidah tak lagi keluh bertasbih menyebut namaNya
Saat lupa menyesaki tiap desah nafas
Saat kesombongan mulai liar
Saat dunia begitu melenakan
Semuanya menjadi kering
Linier dengan hatiku yang sedang kemarau
Oh…, mengapa rasa itu harus merasaiku?
Tatkala aku sedang mendendangkan senandung mujahid muda

Pengecut!
Lirih itu membuncah dari ruang hatiku
Seperti tsunami
Melumat seisi jiwaku
Meluluhlantahkan keegoan
Yang sedang berdiri mengangkang
Di atas jiwa yang tandus
Untuk tersadar seketika
Membuatku ingin muntah
Memuntahkan penat yang selama ini mencumbui jiwaku

Rasa itu
Seperti sepoi yang melambai nyiur
Perlahan membunuhku
Melawan adalah keabadian
Takluk adalah penghianatan
Penghianatan atas penghambaan
Takluk adalah pengecut
Batinku berbisik lirih
Tak ada tempat bagi pengecut
Karena negeri ini tidak dibangun dari jiwa yang pengecut
Saatnya bangkit anak muda

Terlalu banyak untuk di khianati. Tak ada tempat bagi pengecut
Tak ada tempat bagi penghianat. Tak boleh ada kata mundur
Karena mundur adalah sebuah pengingkaran
Mengingkari realitas kehambaan
Kehambaan yang dipersaksikan saat di alam rahim
Sekali lagi, saatnya bangkit anak muda

(diambil dari Buletin Da’wah Islam Al-Fahm Edisi 6/Tahun ke 3. Oleh Aryanto Abidin, Presiden Partai Lingkar Cendekia Unhas dan Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel)

Kamis, 22 Maret 2012

Ruh Dakwah


22 Maret 2012
Ruh Dakwah

Sungguh tatkala semangat dakwah ini membara
Seolah urusan yang lain adalah nomor dua
Betapa jiwa raga ini ingin ku serahkan seutuhnya
Hanya untuk dakwah dan demi tegaknya Kalimatillah

Tak seperti diriku sebelum mengenal tarbiyah
Yang segala urusan diperhitungkan untung ruginya
Berat untuk mengeluarkan harta
Tak mau berlelah-lelah di jalan dakwah

Namun kini seolah dakwah adalah laku utama
Ingin ku berikan seluruh diri ini untuk tegaknya kalimat Allah
Sungguh cita tertinggi ialah mati di jalanNya
Hingga bertemu orang-orang yang beriman di JannahNya

Apa yang bisa ku berikan untuk dakwah
Kan kuberikan semuanya
Jiwa dan darah pun siap ku korbankan
Semua untuk kejayaan islam yang mulia

Semoga Allah meridhoi jalan ini
Allahu Akbar!!

Senin, 19 Maret 2012

Semangat Diri

19 Maret 2012
Semangat diri

HariKu terasa berseri
Ketika dating nur Illahi
Dalam dekapan tarbiyah
Bergerak dimedan dakwah

Rasa syukur ini tiada tara
hatiKu hidup dibuatnya
tiap hari dihiasi kebahagiaan
dan semangat itu selalu bermunclan

ku bangga dengan eratnya ukhuwah ini
jalinan persaudaraan yang selalu membangun
tak pernah sedikitpun meruntuhkan
sebab kita tahu semua karena Allah

Selasa, 13 Maret 2012

Teruslah Bergerak

13 Maret 2012
Teruslah bergerak

Aku adalah Aktivis Dakwah
Ku harus penuhi kualifikasi untuk itu
Ilmuku harus luas dan terkuasai
Bukan hanya ilmu agama
Ilmu umum pun harus terkuasai

Dari mana ku penuhi itu?
Jawabnya adalah ku harus banyak baca dan belajar
Tak sekedar baca dan belajar, ku harus memahaminya
Dan ku yakin, ku bisa penuhi kualifikasi itu

Karena Aktivis Dakwah bukan pendengar
Tapi Aktivis Dakwah adalah penyampai
Yang akan merubah umat
Ke arah yang lebih baik tentunya

Demi tujuan yang mulia, Allah
Segala upaya dilakukan untuk mencapai ridhonya
Belajar tiada henti
Bergerak dengan langkah pasti

Tiada alas an untuk mundur
Sekali melangkah, harus terus berjalan ke depan
Mundur berarti pengecut
Dan tiada tempat untuk pengecut di ranah Dakwah ini
Yakinlah, Allah yang akan membimbing dan menolong
Karena ku bergerak demi tegaknya Kalimat Allah
Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah
Dan ingatlah semua karena Allah