Minggu, 25 Maret 2012

Rasa Itu

25 Maret 2012
Rasa itu

Ada yang harus ditangisi
Ada rasa yang mulai hilang
Saat jiwa tak lagi mencumbui Rabbnya
Saat lidah tak lagi keluh bertasbih menyebut namaNya
Saat lupa menyesaki tiap desah nafas
Saat kesombongan mulai liar
Saat dunia begitu melenakan
Semuanya menjadi kering
Linier dengan hatiku yang sedang kemarau
Oh…, mengapa rasa itu harus merasaiku?
Tatkala aku sedang mendendangkan senandung mujahid muda

Pengecut!
Lirih itu membuncah dari ruang hatiku
Seperti tsunami
Melumat seisi jiwaku
Meluluhlantahkan keegoan
Yang sedang berdiri mengangkang
Di atas jiwa yang tandus
Untuk tersadar seketika
Membuatku ingin muntah
Memuntahkan penat yang selama ini mencumbui jiwaku

Rasa itu
Seperti sepoi yang melambai nyiur
Perlahan membunuhku
Melawan adalah keabadian
Takluk adalah penghianatan
Penghianatan atas penghambaan
Takluk adalah pengecut
Batinku berbisik lirih
Tak ada tempat bagi pengecut
Karena negeri ini tidak dibangun dari jiwa yang pengecut
Saatnya bangkit anak muda

Terlalu banyak untuk di khianati. Tak ada tempat bagi pengecut
Tak ada tempat bagi penghianat. Tak boleh ada kata mundur
Karena mundur adalah sebuah pengingkaran
Mengingkari realitas kehambaan
Kehambaan yang dipersaksikan saat di alam rahim
Sekali lagi, saatnya bangkit anak muda

(diambil dari Buletin Da’wah Islam Al-Fahm Edisi 6/Tahun ke 3. Oleh Aryanto Abidin, Presiden Partai Lingkar Cendekia Unhas dan Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel)