Kamis, 19 April 2012

Dengan 'Tenaga Dalam' Wanita Dapat Baik-Memperbaiki

19 April 2012

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya taraf kehidupan umat manusia saat ini, peran wanita masa kini tidak bisa dikesampingkan. Peran mereka dalam perbaikan kehidupan sungguh sangat luar biasa. Berbagai bidang kegiatan mereka lakukan dengan penuh dedikasi demi terciptanya suatu perbaikan dalam tataran umat manusia dewasa ini. Tak heran jika mereka saat ini disejajarkan derajatnya dengan para pria, yang akhir-akhir ini kita kenal dengan istilah emansipasi wanita. Dengan penyetaraan tersebut wanita masa kini sudah mulai menampakkan perannya secara strategis dalam perubahan sosial masyarakat yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun peran wanita juga terbatas, tak seperti layaknya peran pria yang notabene bisa melakukan berbagai hal. Wanita tidak dapat menggantikan secara keseluruhan apa yang dapat diperbuat oleh pria. Oleh karena itu sudah seyogyanya peran mereka dibatasi dalam ruang lingkup sebagai pendorong dari belakang apa yang dilakukan oleh pria. Hal ini tentunya tidak mengurangi esensi peran wanita itu sendiri dalam melakukan perbaikan.

Kita lihat saja dari tataran kehidupan yang kecil dalam sebuah jalinan rumah tangga. Batasan-batasan peran wanita disini haruslah sesuai dengan aturan yang ada, dalam kata lain wanita harus tunduk dan patuh pada pemimpinnya yaitu suami. Sebagai pemimpin tentunya suami tidak akan membiarkan istrinya melakukan semua kegiatan untuk mengurusi rumah tangganya sedang dia sendiri tidak melakukan apa-apa, akan tetapi ada batasan-batasannya.

Seorang istri hanya bisa mendukung dan membantu suaminya dari belakang agar bisa mensejahterakan kehidupan rumah tangganya. Tak hanya mensejahterakan kehidupan rumah tangganya, namun juga mendukung dan membantu suaminya agar sang suami dapat memperbaiki kondisi sosial masyarakat. Bukan istri itu yang harus bekerja dan melakukan berbagai hal sebagai pengganti dari tugas suami. Hal lain yang bisa dilakukan seorang istri disini adalah mendidik buah hatinya agar nantinya dapat berdayaguna bagi lingkungan sekitarnya. Karena didikan yang paling berkesan adalah didikan yang penuh kasih sayang dari seorang ibu.

Dari sedikit gambaran mengenai rumah tangga diatas nampaklah bahwa peran wanita tak harus menggantikan tugas dari pria. Peran strategis seorang wanita dalam perbaikan ialah membantu dan mendorong dari belakang apa-apa yang dilakukan seorang pria. Sekali lagi hal ini tentunya tidak akan mengurangi esensi dari peran wanita itu sendiri. Dan itulah yang saya maksud dengan ‘tenaga dalam’ wanita.

Rabu, 18 April 2012

Laporan Observasi: Sistem Kepercayaan Masyarakat di Dusun Watu Ulo

18 April 2012

Laporan Hasil Observasi
Judul : Sistem Kepercayaan Masyarakat di Dusun Watu Ulo

Sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD)





Disusun Oleh:
Achmad Roni M                       (101910201052)
M. Luki Yudha Akhsan            (101910101017)
M. Bagus Setiawan                   (101910101032)







Unit Pelaksana Teknik
Bidang Studi Mata Kuliah Umum (UPT BS MKU)
Universitas Jember
2011

...................................................................................................................................................................

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena kita telah diberi curahan nikmat dan kasihsayang yang berlimpah. Tidak lupa shalawat serta salam semoga tetap terlimpah dan curahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya.
            Alhamdulillah kami telah menyelesaikan laporan hasil observasi di desa Sumberejo dusun watu ulo yaitu “SISTEM KEPERCAYAAN MASYARAKAT DI DUSUN WATU ULO” yang merupakan salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Walaupun terdapat beberapa halangan di antaranya kawasan observasi yang belum kami kenal dan cukup jauh serta halangan-halangan lain akan tetapi pada akhirnya kami dapat menyelesaikan laporan ini.
            Kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memberikan bimbingan dan pengarahan serta dukungan, baik moril ataupun materil dalam penyusunan laporan ini.
            Dalam laporan hasil observasi ini di jelaskan bagaimana kehidupan masyarakat di dusun watu ulo serta bagaimana keadaan religi di dusun watu ulo. Oleh karena itu kami harap laporan hasil observasi ini bisa menjadi ilmu, manfaat serta sebagai cerminan sosial bagaimana kehidupan masyarakat di desa Sumberejo dan di dusun watu ulo pada khususnya.
            Memang dalam pelaksanaan observasi lapangan maupun dalam pembuatan laporan haisl observasi ini kami rasa belum sempurna. Mungkin masih banyak kesalahan yang kami perbuat. Oleh karena itu, kami mohon maaf bila terdapat kesalahan baik dalam penulisan atau dalam bahasa. Semoga karya ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan digunakan di masa yang akan datang.


2.  ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dsb manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal disuatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan didalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
           
            Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat sangat erat kaitannya dengan kebudayaan. Karena kebudayaan sendiri merupakan sebuah hasil interaksi antar individu dalam suatu kelompok / masyarakat. Salah satu unsur dari budaya itu sendiri adalah sistem kepercayaan/religi. Menurut Radcliffe-Brown agama adalah ekspresi dalam satu atau lain bentuk tentang kesadaran terhadap ketergantungan kepada suatu kekuatan diluar diri kita yang dapat dinamakan dengan kekuatan spiritual atau moral..

            Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan di luar diri kita, kekuatan gaib, luar biasa atau supra natural yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Kehidupan beragama sangatlah bertolak dengan aspek ilmiah atau bisa disebut tidak rasional dalam pandangan individu atau masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini ada kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empirik dan ilmiah. Namun demikian, kehidupan beragama adalah kenyataan hidup manusia yang ditemukan sepanjang sejarah masyarakat dan kehidupan pribadinya. Ketergantungan masyarakat dan individu kepada kekuatan gaib ditemukan dari zaman purba sampai pada zaman modern ini. Kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga menjadi sebuah kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius.

            Mempercayai sesuatu sebagai sesuatu yang suci dan sakral juga merupakan ciri khas kehidupan beragama. Adanya aturan terhadap individu dalam kehidupan bermasyarakat, berhubungan dengan alam lingkungannya, atau daam berhubungan dengan Tuhan. Adanya aturan kehidupan yang dipercayai berasal dari Tuhan juga termasuk ciri dari kehidupan beragama.
           
            El – Ehwani dan Norbeck memandang kehidupan beragama sebagai subsistem atau bagian dari kehidupan manusia secara keseluruhan yang hanya berhubungan dengan yang gaib sebagaimana yang umum dipahami saat ini. Walau bagaimanapun keduanya mengakui universalnya kehidupan beragama  dikalangan masyarakat manusia, baik beragama sebagai sistem atau subsistem dari kehidupan. Keduanya juga sebagaimana umumnya manusia dewasa ini, tidak memahami dari segi esensi atau hakikat kepercayaan kepada yang gaib dan yang sakral. Disamping universal, kehidupan beragama di zaman modern ini sudah demikian kompleks. Banyak macam agama yang dianut manusia dewasa ini. Aliran kepercyaan, aliran kebatinan, aliran pemujaan atau yang dikenal dalam ilmu sosial dengan istilah occultisme juga banyak ditemukan dikalangan masyarakat modern. Hampir setiap agama terpecah menjadi beberapa madzhab, aliran atau sekte yang lebih banyak lagi dari agama yang biasa dikenal. Kemudian cara menerima dan menghayatinya juga bermacam-macam. Kehidupan beragama saat ini ada yang yang dijadikan sebagai tempat penyejuk jiwa dan pelarian dari hiruk pikuk ekonomi dan sosial politik kehidupan masyarakat sehari-hari. Ada pula yang dijadikan sumber motivasi untuk mencapai kehidupan ekonomi dan sosial politik. Bahkan ada juga yang dijadikan alasan untuk melancarkan radikalisme, seperti pemberontakan dan terorisme.

            Tidak hanya itu, kehidupan beragama sangatlah mempunyai pengaruh yang luas dalam pembentukan prilaku dan karakter sesorang atau masyarakat, berperan dalam pembentukan norma-norma, moral dan hukum. Adanya sila pertama dalam “Panca Sila” yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” juga merupakan suatu wujud betapa pentingnya kehidupan beragama bagi suatu bangsa. Oleh karena itu kehidupan beragama sangatlah kompleks, mengejutkan dan penuh dengan berbagai misteri, sehingga sangat menarik dan penting untuk dipahami dan dimengerti secara ilmiah.

            Oleh karena itu, kehidupan beragama sangatlah penting untuk kita telusuri dan kita pahami di berbagai tempat termasuk di Dusun Watu Ulo yang mempunyai berbagai macam budaya yang saling berhubungan dan berketerikatan satu sama lain. Dusun  Watu Ulo sendiri merupakan suatu wilayah yang mempunyai suatu budaya yang unik dan menarik, salah satunya adalah budaya “Petik Laut” yang begitu kental dengan tradisi-tradisi budaya jawa dan sering kali nampak adanya suatu ke-tidak cocokan dengan agama yang mereka peluk yaitu agama Islam sebagai agama mayoritas wilayah tersebut. Ketidak sesuaian hal tersebut nantinya akan kami bahas dalam hasil observasi yang bersumber pada beberapa tokoh masyarakat yang telah kami jadikan sebagai Informan dalam penelitian kami.

       Selain itu masih banyak lagi hal yang menarik dari system kepercayaan Dusun Watu Ulo yang akan kami bahas di bagian selanjutnya. Seperti kepercayaan-kepercayaan penduduk kepada mahluk gaib penunggu laut dan sawah serta kepercayaan-kepercayaan yang lain.


1.2 Rumusan Masalah        
1.      Agama apa saja yang dianut oleh masyarakat Dusun Watu Ulo?
2.      Bila ada beberapa agama, adakah perbedaan kepercayaan yang mengakibatkan perpecahan antar warga?
3.      Bagaimanakah pengaruh agama yang mereka anut bagi segala aspek kehidupan warga Dusun Watu Ulo?
4.      Bagaimanakah konteks kehidupan beragama diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat baik dalam beribadah maupun dalam kehidupan sosial lainnya?

1.3 Maksud dan Tujuan
            Adapun maksud dan tujuan dari diadakannya observasi ini adalah:
1.      Untuk mengetahui kondisi sosial budaya, terutama kehidupan keagamaan di Dusun Watu Ulo
2.      Untuk mengerti dan memahami masalah sosial terutama di bidang ke agamaan di Watu Ulo.


1.4 Tinjauan Pustaka
1.      Menurut Dr Nur syam dalam bukunya yang berjudul Islam Pesisir, beliau mengemukakan : Islam jawa berkembang melalui pesisir dan terus berkelanjutan ke wilayah pedalaman.kontak kebudayaan antara para pendatang yang sering singgah di wilayah psisir pada masa-masa awaa islam di Jawa mentebabkan adanya proses tarik menarik antarabudaya lokal dengan budaya luar yang tak jarang menghasilkan dinamika budaya masyarakat setempat. Kemudian yang terjadi ialah sinkretisme dan atau akulturasi udaya, seperti: praktik meyakini iman di dalam ajaran islam akan tetapi masih mempercayai keyakinan lokal.
Selain itu beliau juga mengemukakan : Ajaran islam yang termuat di dalam Teks AlQuran dan Al Hadith adalah ajaran yang merupakan sumber asasi, dan ketika sumber itu di gunakan atau di amalakan di suatu wilayah sebagai pedoman kehidupan maka bersamaan dengan itu, tradisi setempat bisa saja mewarnai penafsiran masyarakat lokalnya. Karena penafsiran itu bersentuhan dengan teks suci, maka simbol yang diwujudkanya juga sesuatu yang sakral.

2.      Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul the Religion Of Java mengemukakan : Slametan adalah versi Jawa dari apa yang barangkali merupakan upacara keagamaan yang paling umum di dunia; ia melambangkan kesatuan mistis dan social mereka yang ikut serta di dalamnya.
Selain itu Geertz juga mengidentifikasikan jenis-jenis slametan dalam empat jenis :
a.       Yang berkisar sekitar krisis-krisis kehidupan-kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian.
b.      Yang ada hubungannya dengan hari-hari raya Islam, maulud Nabi, Idul Fitri, Idul Adha dan sebagainya.
c.       Yang ada kaitannya dengan integrasi social desa, bersih desa.

d.      Slametan “sela” yang diselenggarakan dalam waktu yang tidak tetap, tergantung kepada kejadian luar biasa yang dialami seseorang, keberangkatan untuk suatu perjalanan jauh, pindah tempat, ganti nama, sakit, terkena tenung, dan sebagainya.

3.   Dalam buku “Agama dalam kehidupan manusia” karangan Bustanuddin Agus diterangkan bahwa karena memercayai yang gaib, memercayai wahyu, memercayai surga dan neraka, sekalipun semuanya itu bukan dari manusia, adalah manusia dan masyarakat, pada umumnya para antropolog menempatkan agama (religi) sebagai salah satu dari aspek-aspek kebudayaan (cultural universals, unsure-unsur kebudayaan yang ditemukan secara universal, di mana dan kapan pun) karena dia merupakan norma dan prinsip-prinsip yang ada dalam keyakinan, pemahaman, dan rasa masyarakat yang bersangkutan dalam berhubungan dengan yang gaib.

4.    Islam jawa sebagai agama rakyat dipandang sebagai penyimpangan dari agama islam. Sebaliknya, Mark R. Woodward dalam bukunya “Islam Jawa” menunjukkan bahwa islam dan jawa compatible. Jika pun ada pertentangan-pertentangan yang terjadi antara keduanya, adalah suatu yang bersifat permukaan dan wajar dalam bentangan sejarah islam. Pertentangan ini bisa dirujuk sebagai persoalan klasik islam, yaitu bagaimana menyeimbangkan antara dimensi hukum dan dimensi mistik, antara ‘wadah’ dan ‘isi’, antara ‘lahir dan ‘batin’. Dengan demikian, Islam jawa di sini “dibaca” sebagai varian yang wajar dalam islam dan berhak hadir.
Secara umum kaum Sufi bersedia menerima unsur-unsur tradisi Hindu dan Budha yang di dalam istilah mereka bersifat zahir (eksternal), tetapi menolak unsur-unsur yang hanya bisa diinterpresentasikan sebagai batin (internal). Demikian juga mereka tidak menerima doktrin-doktrin kosmologis, sebagai lawan mitologis. Kaum Sufi memelihara setidaknya pada tingkat eksoterik, gagasasn ketuhanan traspenden.


1.5 Cara Observasi
1.      Diskusi kelompok dan pencarian referensi sebelum ke lapangan.
Hal ini di maksudkan agar saat di lapangan proses penggalian informasi dapat terlaksana dengan baik dan tidak ada hambatan dalam proses observasi karena sudah ada rencana yang matang apa yang harus di kerjakan saat sudah ada di lapangan.

2.      Persiapan ke lapangan.
Mempesiapkan apa saja hal yang di butuhkan saat di lapangan dan merencanakan apa saja kegiatan selama di lapangan.

3.      Pengambilan data.
Dengan cara wawancara dengan nara sumber serta pengamatan-pengamatan langsung di lapangan bagaimana keadaan sosial serta keagamaan di lapangan.

4.      Menganalisis dan menyusun data.
Hal ini di lakukan agar data bisa lebih mudah di pahami dan agar lebih jelas penyampaianya.

5.      Pemasukan data ke dalam laporan hasil observasi.

6.      Penyempurnaan pengambilan data dengan memasukanya ke dalam laporan hasil observasi


1.6  Lokasi Observasi
Observasi ini di lakukan di daerah pesisir selatan kabupaten Jember, tepatnya di dusun Watu ulo, desa Sumberejo, kecamatan Ambulu, kabupaten Jember. Lokasi ini dipilih dengan alasan sebagai berikut :
1.             Lokasi ini merupakan daerah kawasan wisata, karena itu pasti ada dampak pada daerah ini mengenai kebudayaan atau ritual yang di pertontonkan atau di jadikan daya tarik pengunjung.
2.             Adanya organisasi keagamaan yang membuat lokasi ini patut untuk di jadikan tempat observasi.
3.             Adanya ritual-ritual dan adanya makam keramat yang banyak di datangi wisatawan, hal ini merupakan pokok bahasan yang menarik dari sisi keagamaan.


1.7 Sistematika Tulisan
A.       Halaman Judul , adalah nama yang diberikan untuk laporan observasi.
B.       Kata Pengantar, mengemukakan:
1. Ucapan terima kasih
2. Kendala saat proses pembuatan laporan
3. Harapan-harapan penulis dalam penyusun laporan
C.       Daftar isi
Merupakan penyajian dari sistematika isi laporan, dibuat untuk mempermudah para pembaca mencari judul atau sub judul dari isi laporan yang dibacanya.
D.    Pendahuluan, mengemukakan:
1. Latar belakang : merupakan alasan-alasan mengapa memilih judul observasi dan menjadi pembuka materi dalam laporan observasi.
2. Rumusan masalah : merumuskan masalah dari pembuatan laporan, dalam hal ini adalah perumusan masalah salah satu dari tujuh unsur kebudayaan yaitu agama.
3. Maksud dan tujuan : mengemukakan maksud dan tujuan kelompok melakukan kegiatan observasi.
4. Tinjauan pustaka : menjelaskan dan menunjukan studi-studi yang sudah di lakukan oleh peneliti terdahulu.
5. Cara observasi : menjelaskan secaeamendalam bagaimana cara melakukan observasi atau pengamatan mulai daritahap persiapan sampai pada saat penyusunan laporan.
6. Lokasi observasi : Mendiskripsikan secara singkat wilayah/daerah yang dijadikan tempat atau lokasi observasi.
7. Sistematika hasil laporan : Uraian singkat mengenai struktur laporan kelompok mulai bab pertama sampai terkhir.
E.       Gambaran umum lokasi observasi
Menjelaskan tentang gambaran umum lokasi observasi yang  menyangkut kondisi lingkungan sosial dan budaya masayarakat, kondisi ekonomi, dan struktur sosial/agama.
F.      Pembahasan
Menjelaskan berbagai hal atau peristiwa keagamaan yang patut di bahas serta pendiskripsian bagaimana laporan itu di buat serta pendiskripsian kegiatan lapangan secara detail.
G.      Kesimpulan
Menjelaskan dan meringkas dari isi pembahasan serta jawaban dari masalah yang di rumuskan di dalam observasi.
I.          Daftar pustaka
Mengemukakan sumber-sumber yang di jadikan referensi dalam penulisan laporan.
J.    Lampiran, mengemukakan:
1. Gambar kegiatan lapangan.
2. Pedoman wawancara.
3. Transkip hasil wawancara.

...................................................................................................................................................................


BAB 2. GAMBARAN UMUM LOKASI OBSERVASI

2.1    Gambaran Umum Lokasi
Dusun Watu Ulo terletak 40 kilometer selatan kota jember. Keadaan lingkungan di sana sangat kondusif dengan pemandangan pantai yang masih bersih dan sekaligus gunung-gunung yang masih hijau. Di dusun Watu Ulo mayoritas penduduk bermata pencaharian nelayan dan sangat sedikit sekali yang bermata pencaharian petani, jadi di dusun Watu Ulo keadaannya cenderung sepi karena jika pagi, siang dan sore hari kebanyakan penduduk mencari nafkah dengan melaut. Padahal tak kurang dari 3400 jiwa penduduk di dusun Watu Ulo akan tetapi masih saja dusun tersebut terlihat sepi apalagi jaka pada saat malam hari.

Masyrakat di dusun Watu Ulo cenderung ramah dengan para tamu. Mereka mudah bersosialisasi dengan pendatang, hal ini mungkin dari akibat dari pantai watu ulo yang di jadikan tempat wisata, jadi penduduknya sudah terbiasa dengan wisatawan.

Kemudian keadaan keagamaan di dusun Watu Ulo adalah mayoritas penduduk beragama islam. Hanya sedikit sekali yang beragama non islam, hanya 3 kepala keluarga yang beragama non islam. Akan tetapi perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk bersosialisasi bagi penduduk dusun Watu Ulo.


...................................................................................................................................................................


BAB 3. PEMBAHASAN

3.1    Laporan Hasil Observasi
Awal perjalanan kami mulai pada hari sabtu 8 oktober 2011. Mulai dari berangkat kos yang kurang lebih sekitar jam 12.55 WIB. Perjalanan kami akukan dengan santai dan tidak terburu-buru karena selain ingin melihat-lihat jalan sekitar juga keadaan lalu lintas di daerah kota juga lumayan padat karena pada saat itu saatnya para pelajar pulang dan banyak kendaraan yang berlalu lalang. Selain itu juga keadaan cuaca mendukung utuk tidak terburu-buru yaitu mendung dan agak panas jadi kami tidak terlalu kepanasan seperti siang-siang biasanya yang sangat panas di jember.

Perjalanan menuju lokasi observai yaitu di daerah desa Sumberejo di dusun watu ulo kami lanjutkan dengan santai. Tepat di depan SMP N 6 Jember kami melihat ada perbaikan jalan, hal ini cukup mengganggu keadaan lalu lintas karena keadaan lalu intas di sana lumayan ramai.

Jam 13.15 tepat kami sampai di dusun Krasak. Di sana sudah mulai nampak pemandangan sawah-sawah yang luas dan dari kejauhan juga nampak gunung-gunung yang jarak antara gunung-gunung tersebut tidak terlalu jauh. Tidak jauh dari sawah-sawah tersebut kami melihat ada rumah aneh. Rumah itu tersusun dari bambu-bambu yang di jadikan satu, dan sepertinya di buat menyerupai kandang.

Saat di desa Kertonegoro kami melihat kejadian aneh. Ada dua pemuda menaiki sepeda motor dengan kecepatan yang bisa di bilang tinggi tiba-tiba jatuh d samping kami. Kami sontak terkejut karena kedua pemuda tersebut tidak menabrak apa-apa akan tetapi sepeda mereka langsung jatuh dan mereka ikut jatuh akan tetapi mereka langsung bangun jadi kami urungkan niat kami untuk membantu mereka.

Kami bingung letak dari dusun watu ulo karena ini baru pertama kali kami kesana. kami melihat-lihat marka jalan dan akhirnya kami menemukan desa Sumberejo. Tepat jam 13.45 kami sampai di desa Sumberejo. Di sana kami melihat ada balai desa dan pasar berhadap-hadapan. Dari sana kami menyusuri jalan untuk menemukan lokasi dusun watu ulo. Agar tidak salah lokasi kami memutuskan untuk tanya warga dan hasilnya kami masih jauh dari lokasi observasi. Informasi dari warga dusun watu ulo masih jauh dan jalanya mengikuti jalanan yang beraspal.

Kondisi jalan yang sangat buruk dan kami baru pertama ke sana mengakhibatkan kami bingung lagi dan kami memutuskan tanya pada penjual es krim di MA/kampus/TPQ Nahdatul Arifin yang pemimpin dari MA itu yaitu kyai Muhammad Faqih muharror. Agar terkesan tidak terlalu mencurigakan kami tanya-tanya penjual es krim tersebut sekaligus membeli es krimnya. Kami terkejut dengan harga es krimnya yaitu Rp 500,- per es krim. Kemudian kami tanya-tanya tentang dusun watu ulo dan penjual tersebut , memberi petunjuk untuk mengikuti jalan terus belok kiri kemudian lurus sampai menemukan jalanan beraspal yang bagus.

Setelah kami sampai di jalan yang beraspal tesebut kami putuskan untuk  berhenti di masjid terdekat karena saat itu sudah hampir waktunya sholat ashar. Masjid itu bernama masjid Al-Amir, sebelum sholat ashar kami putuskan untuk bertanya pada takmir masjid di mana letak dusun watu ulo dan ternyata kami sudah sampai di dusun watu ulo. Kami putuskan untuk langsung mengobservasi sekaligus melihat-lihat keadaan desa.

Di mulai dari sholat ashar, jamaahnya di masjid Al-Amir sangat sedikit, hanya ada kami, takmir masjid yang bernama H Muhammad Amirudin, imam masjid dan dua orang ibuk-ibuk. jamaah. Kami penasaran mengapa jamaah di masjid Al-Amir ini sedikit dan sepi dan kami memutuskan untuk akan menanyakanya pada bapak ketua dusun.

Kami menunggu waktu magrib dan sedikit mengobrol sekedar bersosialisasi dengan takmir masjid. Keadaan jamaah pada sholat magrib sangat kontras dengan saat ashar tadi. Saat magrib, masjid rame dengan adanya 4 orang anak kecil yang melakukan “pujian” sehabis ada adzan. Jamaahnyapun bertambah menjadi 6 pria dewasa, 4 anak laki-laki, 1 anak perempuan, 4 orang wanita dan sekaligus imam. Jadi jika di total ada 16 jamaah sekaligus imam pada sholat magrib.

Setelah kami melaksanakan sholat magrib kami putuskan untuk menemui bapak kepala dusun di rumahnya. Kami berkenalan dengan bapak kepala dusun. Nama dari kepala dusun watu ulo adalah bapak Ngadi Purwanto yang berusia 34 tahun. Beliau sudah menjadi kepala dusun sudah kurang lebih 3 tahun. Kemudian kami mengawali pertanyaan dengan berapa banyak pemduduk di dusun watu ulo ini, dan beliau memaparkan jika jumlah total penduduk di watu ulo ini ada sekitar 3400 jiwa diantaranya adalah 1717 laki-laki dan 1686 perempuan.

Kami mulai mempersempit pembahasan dengan menanyakan agama mayoritas dan minoritas. Beliau menjawab bahwa 99% penduduk di dusun watu ulo adalah beragama islam karena hanya ada 2 kepala keluarga saja yang beragama kristen. Setelah itu kami mulai bertanya tentang apakah ada organisansi keagamaan seperti Nahdatul Ulama(NU) ataupun Muhammadiyah di dusun watu ulo. Beliau menjawab bahwa mayoritas penduduk dusun watu ulo adalah NU dan hanya sedikit sekali yang Muhammadiyah. Beliau menuturkan bahwa hanya ada 4 kepala keluarga yang Muhammadiyah, yaitu sekitar 8 orang termasuk beliau sendiri.

Kami mulai bertanya-tanya tentang kenapa masjid selalu sepi kalau siang dan lumayan rame jika petang atau malam. Beliau menuturkan bahwa pekerjaan mayoritas di dusun watu ulo adalah nelayan, maka dari itu masjid selalu sepi saat siang hari karena nelayan mulai berangkat kerja saat subuh dan pulang saat magrib. Hal itu menjadi alasan utama mengapa masjid selalu sepi saat sholat dhuhur dan ashar. Beliau juga menuturkan jika warga lebih suka sholat di musholla dari pada masjid, hal itu juga sebagai penyebab mengapa masjid         Al-Amir sepi jamaah. Kemudian anak-anak juga suka mengaji di musholla, rumah pak Paren dan pondok kyai Karim.

Kemudian beliau mulai bercerita tentang masjid Al-Amir itu sering kemalingan, “kotak amal pernah di bobol, pernah juga di bawa sekaligus kotaknya dan juga power untuk adzan juga pernah di curi” ujar beliau. Kemudian kami bertanya apakah tidak ada pencegahan seperti ronda malam atau kegiatan pengamanan yang lain untuk meminimalisir kejadian serupa. Beliau menuturkan bahwa pernah ada ronda malam akan tetapi hanya sebentar karena mayoritas adalah nelayan jadi mereka saat malam lebih suka beristirahat saja.

Kemudian kami bertanya-tanya tentang seputar masjid Al-Amir. Beliau menuturkan bahwa masjid Al-Amir itu baru di bangun pada tahun 2008 dan penyandang dana total pembuatan masjid itu adalah H Muhammad Amirudin. Kemudian kami bertanya tentang tokoh masyarakat atau sesepuh di dusun watu ulo, beliau menjawab bahwa jika sesepuh hampir tidak ada karena sudah wafat semua akan tetapi masih ada beberapa sesepuh dusun itu yaitu kyai Yasin dan kyai Karim.

Kami mulai menanyakan sejarah masuknya islam pertama di dusun watu ulo. Beliau menjawab yang menjadi pembawa agama islam di daerah dusun tersebut adalah mbah Ramelan dari Madura sekitar ratusan tahun dulu. “Sekarang makam mbah Ramelan terletak di puncak gunung wedus” , ujar beliau.

Kami menayakan apakah ada seperti pengajian-pengajian rutin di dusun watu ulo. Beliau menjawab bahwa di dusun watu ulo warganya sangat aktif dalam hal keagamaan. Pada malam jumat pasti ada pengajian rutin bagi para laki-laki dan juga banyak kumpulan ibu-ibu pengajian di dusun watu ulo serta anak-anak juga mengaji semua, jadi antusia warga pada acara keagamaan sangat besar.

“Apakah ada adat-adat atau upacara-upacara di dusun ini”, tanya kami. Beliau menjawab jika ke-gotong royongan masyarakat di dusun watu ulo ini masih sangat baik, jika ada salah satu warga yang membangun rumah maka warga lain harus membantu agar pekerjaan membangun ruah cepat selesai akan tetapi  hal ini di selingi dengan sajen-sajen seperti ketupat lengkap dengan lepet, daun dan batang pohon beringin, pisang komplit dengan batangnya,tebu ireng kemudian di gantung di depan rumah sampai rumah itu jadi dan sajen itu di buang.

“Kami pernah mendengar bahwa ada upacara-upacara seperti petik laut di dusun ini”, tanya kami lagi. Beliau membenarkan hal tersebut. “Ada dua tempat di adakannya petik laut, pertama di dusun ini dan yang ke dua di pasir putih”, ujar beliau. “kapan di adakan petik laut?”, tanya kami. “setiap bulan suro”, jawab beliau. Dan petik laut di dusun watu ulo sendiri di adakan di pertigaan payangan.

Kami mulai menanyakan tentang sajen-sajen yang di gunakan dalam petik laut. Beliau menjawab bahwa biasanya menggunakan sampan yang panjangnya 1,5 meter dan lebarnya 70 centimeter untuk meletakkan sajen-sajen. Sajen tersebut adalah kepala kambing, ayam hitam hidup dan yang paling penting harus ada buah siwalan. Kemudian sajen-sajen itu di hanyutkan ke laut sekaligus dengan sampanya.

Masyarakat-masyarakat sekitar beranggapan bahwa laut itu ada penunggunya seperti Nyi Roro Kidul, maka dari itu mereka melakukan petik laut untuk menghormati penunggu tersebut. Dan juga kami menanyakan apakah ada larangan-larangan di dusun watu ulo. Beiau menjawab jika dulu pernah ada mitos dilarang memakai baju warna merah jika di dusun tersebut karena Nyi Roro Kidul tidak suka warna merah, pernah ada kejadian orang yang memakai baju warna merah hilang terseret ombak dan ada juga yang langsung sakit ketika memakai baju warna merah.

“Tapi sekarang sudah tidak ada mas, karena jaman semakin berkembang, apalagi saat lebaran, masyarakat suka memakai baju macem-macem dan beraneka warna, jadi mitos-mitos dan larang tersebut sudah tidak ada”, ujar kepala dusun. Jadi sekarang sudah tidak ada lagi larangan-larangan di dusun watu ulo.

“Apa ada lagi upacara-upacara di dusun watu ulo?”, tanya kami lagi. Beliau menjawab masih ada, biasanya di adakan selametan bareng penduduk dusun yang bertempat di anjir. Anjir adalah nama tempat yang di gunakan berteduh para nelayan, dan biasanya di adakan setiap jumat legi.

“Apakah hal-hal tersebut tidak menyimpang dari agama pak?” tanya kami kembali. Beliau menjawab bahwa hal-ha tersebut sangatlah menyimpang dari ajaran agama akan tetapi beliau tidak memiliki pilihan lain karena adat tersebut sudah mendarah daging di masyarakat, jika ritual-ritual atau upacara-upacara tersebut tidak di laksanakan akan menimbulkan keresahan pada warga dusun watu ulo.

Kami mulai menanyakan tentang organisasi-organisasi keagamaan seperti NU dan muhammadiyah. Kami menanyakan apakah hubungan antara masyarakat muhammadiyah dan NU di dusun watu ulo baik-baik saja atau kurang baik. Beliau menjawab jika hubungan antar tetangga sselama ini baik-baik saja tidak ada masalah. “terus bagaimana jika ada tahlilan apakah bapak ikut?”, tanya kami. Beliau menjawab jika beliau tetap ikut tapi hanya untuk kurang lebih 4 hari saja karena hanya untuk menghormati saja dan bukan karena alasan yang lain.

Karena beliau orang muhammadiyah beliau tidak terlalu antusias seperti warga yang lain dan beliau melakukan berupaya pendekatan secara halus agar masyarakat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan adat dulu.

Akhirnnya penggalian informasi hari itu kami akhiri karena hari sudah malam dan kami merencanakan untuk memulai kembali penggalian informasi pada keesokan harinya. Sebenarnya kami berencana bermalam di masjid Al-Amir, akan tetapi tidak jadi karena teman kami memperbolehkan kami menginap di rumahnya di daerah sekitar alun-alun ambulu.

Pada hari minggu tanggal 9 oktober 2011 kurang lebih jam 08.00 kami memulai mencari informasi lagi tentang keagamaan di dusun watu ulo. Hari ini kami berfokus pada pencari informasi pada masyarakat dan tokoh-tokoh desa.

Kami memulainya dengan mendatangi pak kepala dusun lagi karena kami rasa informasi yang kami dapat tadi malam belum memuaskan dan belum lengkap. Kami mendatangi rumah beliau lagi akan tetapi beliau tidak sedang di rumah. Kami di beri tahu keluarga beliau jika beliau ada di tokonya deket pantai watu ulo.

Ketika kami sampai dan bertemu pak kepala dusun watu ulo, kami minta ijin untuk wawancara lagi dan beliau mengijinkan. Kami membuka dengan pertanyaan apa saja yang di lakukan ketika acara petik laut. Ternyata kami mendapat jawaban yang cukup mengejutkan dari kepala dusun.

Petik laut merupakan acara adat yang memadukan acara islam dan hindu. Petik laut di laksanakan selama 3 hari. Hari pertama ialah menggelar mocopat. Mocopat adalah mengaji khas jawa. Hari ke dua warga menggelar baca Al-quran bersama. Pada hari ke tiga warga menggelar pengajian dan di tutup dengan upacara pelepasan sesajen ke laut.

Dalam hari ke tiga saat pengajian inilah di manfaatkan kepala dusun untuk menyelipkan pesan-pesan keagamaan pada warga melalui para ustad yangdi undang untuk mengisi ceramah pada pengajian hari ke tiga pada acara petik laut.

“Jika terlalu terjadi perubahan terlalu ekstrim maka warga tidak akan pernah bisa menerima” ujar beliau. Beliau takut karena beliau orang muhammadiyah maka beliau di tuduh yang macam-macam seperti menghilangkan adat yang sudah mendarah daging di dusun watu ulo tersebut. Pernah ada kejadian proses petik laut tertunda hampir 4 bulan dan itupun warga sudah geger dan resah karena takut upacara tidak bisa di langsungkan.

Ternyata selain petik laut juga ada upacara yang lain. Yaitu sedekah bumi atau lebih di kenal dengan sedekah Dewi Sri. Inti dari upacara ini juga sama yaitu memberi penghormatan yang dalam hal ini adalah penjaga sawah. Akan tetapi sedekah bumi sudah tidak di laksanakan karena sudah banyak penduduk yang tidak memperdulikanya.

Kami mulai bertanya kembali tentang organisasi keagamaan. Ternyata beliau adalah ketua ranting muhammadiyah desa Sumberejo sejak tahun 2010. Di dusun ini ternyata masyarakatnya sangat peduli dengan keagamaan pada ank-anak. Sebagai hasilnya TPQ di salah satu mushola pernah juara satu tingkat SD dan kecamatan Ambulu.

Kami menyudahi peremuan kami dengan bapak kepala dusun dengan menanyakan siapa nama warga yang non muslim dan warga muhammadiyah agar kami mendapatkan keterangan dan tanggapan dari pihak yang lain.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi makam mbah ramelan yang terletak di atas gunung wedus. Perjalanan ke menuju gunung wedus cukup mudah. Menurut informasi makam tersebut juga di jadikan tempat ziarah para wisatawan luar kota.

Setelah membayar parkir Rp 2000,- kami mencoba untuk melihat makam mbah Ramelan secara langsung dan berharap dapat bertemu juru kunci makam tersebut agar bisa mendapat informasi tentang awal perkembangan agama islam di dusun watu ulo. Di bawah gunung kami melihat ada papan yang bertuliskan “makam mbah Patiolong”. Kami mengira bahwa mbah ramelan dan mbah patiolong adalah satu orang.

Perjalan naik gunung sungguh sangat berbahaya. Banyak bebatuan terjal dan tanah yang berpasir sangat menyulitkan karena jika tidak hati-hati maka akan terpeleset dan bisa saja celaka karena pinggiran dari jalan itu adalah tebing-tebing curam.

Sesampainya di atas kami di suguhi pemandangan yang luar biasa indah menawan. Pemandangan bebatuan yang menyerupai ular (watu ulo), pemandangan pantai yang masih bersih dan berjejeran perahu nelayan. Di atas gunung kami juga bertemu dengan pengunjung makam yang lain dan mereka memberitahu kami rumah dari juru kunci makam.

Kami melanjutkan mendaki dan akhirnya sampai juga di makam mbah Patiolong. Makam beliau termasuk sederhana, hanya ada pagar kayu yang membatasi makam dari pengunjung dan ada beberapa bendera merah putih di sekitar makam. Di sekitar makam beliau juga terdapat satu makam lagi yang tidak bisa di sebutkan namanya.

Setelah puas melihat makam sang penbawa islam di sekitar daerah dusun watu ulo, kami melanjutkan perjalanan ke rumah juru kunci makam. Akhirnya kami menemukan rumah dari juru kunci makam mbah Patiolong. Adalah pak Rudi yang menjadi juru kunci dari makam mbah Patiolong. Setelah kami konfirmasi kami menemukan fakta bahwa mbah Ramelan dan mbah Patiolong adalah 2 orang yang berbeda.

Mbah Ramelan adalah sesepuh yang tergolong pendatang baru, sedangkan mbah Patiolong adalah seorang orang yang di segani sejak dulu. Mbah Patiolong adalah sesepuh dari kerajaan mataram yaitu tepatnya sebelum adanya para walisongo di daerah jawa yang pemimpinya adalah seorang wanita yang bernama Yuliana. Juru kunci tersebut juga masih percaya adanya reinkarnasi dari roh-roh leluhur.

Setelah dari rumah juru kunci kami melanjutkan perjalanan ke rumah warga muhammadiyah yang dari informasi bernama bapak Daniel. Disana kami di sambut ramah oleh bapak Daniel. Dengan malu-malu beliau mengaku bahwa beliau adalah warga muhammadiyah.

Bapak Daniel adalah pendatang dari Sumbersari Jember. Beliau baru kurang lebih 7 tahun tinggal di dusun watu ulo. Setelah kami menanyakan tentang bagaimana keadaan bertetangga di dusun watu ulo, beliau menjawab bahwa di dusun watu ulo sangat kondusif dan masyarakatnya sangat toleransi tentang NU dan muhammadiyah karena warga muhammadiyah sangat sedikit di dusun watu ulo jadi tidak ada pertentangan yang pernah terjadi.

Kami juga menanyakan tentang mengapa masjid di dusun watu ulo sep dari jamaah. “Sebetulnya alasanya klasik mas, karena kesibukan, termasuk juga saya jarang ke masjid”, jawab pak Daniel dengan nada sedikit bercanda dan malu-malu.

Kemudian kami menanyakan apakah bapak Daniel pernah mengikuti acara-acara seperti petik laut atau yang lain. Beliau menjawab bahwa beliau tidak pernah ikut ritual-ritual ataupun yang lain, beliau juga menuturkan bahwa beiau tidak mengenal adanya sajen atau sebangsa itu karena menurut beliau itu adalah salah.

“Apakah pernah ada pertentangan tentang agama pada waktu dulu di watu ulo?”, tanya kami. Beliau menjelaskan bahwa dulu pernah ada ustad yang bernama ustad Muslih yang menjadi bahan pembicaraan. “Dulu pernah ada acara ngaji di pertigaan jalan dan kebetulan ustad Muslih di tunjuk sebagai pembaca doa dan sang ustad menolak dengan halus”, ujar beliau. Menurut beliau ngaji di pertigaan jalan tidak sesuai dengan kepercayaan ustad Muslih dan bukan ajaran agama juga, serta takutnya warga itu mulai mewajibkan sesuatu yang sebenarnya bukan ajaran dari agama, maka dari itu ustad menolak dengan bahasa yang halus.

“Apakah bapak pernah ikut tahlilan atau tidak?”, tanya kami. Beliau menjawab bahwa beliau juga ikut tapi cuma sebatas untuk menghormati saja. Beliau ikut menghadiri tahlilan hanya kurang lebih 2 hari agar tidak menyinggung warga yang lain. “Apakah ada hukuman jika bapak tidak ikut tahlilan?”, tanya kami kembali. Jika hukuman langsung tidak ada akan tetapi jika hukuman sosial ada, seperti menjadi bahan pembicaraan warga sekitar. “Hukuman sosial hanya sebatas rasan-rasan saja, tidak lebih”, ujar beliau.

Setelah itu kami meninggalkan rumah bapak Daniel dan mencari warga yang beragama non muslim untuk kami tanyai pendapatnya tantang keadaan keagamaan di dusun watu ulo. Setelah mencari dan mencari kami tidak menemukan warga yang beragama non muslim karena yang satu mungkin sedang beribadah karena hari itu adalah hari minggu dan yang lain sedang tik ada di rumah.

Ketika kami putus asa untuk mewawancarai warga non muslim kami memutuskan untuk makan siang. Kami memutuskan untuk membeli bakso. Ketika kami membeli bakso kami juga sedikit berbincang dengan penjual bakso dan hasilnya kami terkejut dengan kasus yang kami temukan.

Ternyata penjual bakso yang bernama pak Bambang adalah seorang warga non muslim. Beliau mengaku bahwa dulu di KTP beliau agama tertulis protestan akan tetapi sekarang di KTP beliau menjadi islam. Beliau juga tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Kami penasaran jika beliau non muslim mengapa saat hari minggu seperti ini beliau masih di rumah. Beliau menjawab jika akses menuju tempat peribadatan sangat jauh maka dari itu beliau memutuskan untuk beribadah di rumah saja.

Kemudian kami menanyakan tentang keadaan keagamaan di dusun watu ulo. “Bagaimana keadaan keadaan sosial agama di sini pak, apakah baik-baik saja?”, tany kami. Beliau menjawab jika keadaan keagamaan di dusun watu ulo baik-baik saja dan beliau menuturkan juga bahwa hubungan antar warga juga baik. “Apakah jika ada tahlilan di rumah warga, apakah bapak juga di undang?”, tanya kami lagi. Beliau menjawab jika beliau tidak di undang dan beliau tidak datang ketika ada upacara keagamaan seperti itu.

Setelah bakso kami habis kami pamit dan membayar Rp 5000 per bakso. Kami melanjutkan penggalian informasi ke sesepuh desa yaitu pak kyai Karim. Setelah sampai di pondok beliau yaitu pondok Aryad Roro Cangkring yang terletak di tengah-tengah sawah kami menunggu santri jamaah sholat dhuhur dulu setelah itu baru bertanya-tanya. Ketika sholat sudah selesai kami memutuskan untuk bertanya pada salah satu santri tentang pak kyai Karim. Ternyata beliau sedang tidak ada di pondok dan kami memutuskan untuk pamit.
           
Setelah dari pondok kami berencana ke masjid Al-Amir untuk sholat dhuhur. Setelah sholat kami berbincang-bincang dengan bapak Muhammad Amirudin. Kami sedikit berbincang tentang mengapa masjid Al-Amir sepi dari jamaah. “orang-orang disini itu takut yang namanya lapar akan tetapi tidak takut dengan yang namanya mati, buktinya mereka sibuk dengan pekerjaanya dan tidak takut dengan pekerjaan mereka yang di tengah-tengah laut”, jawab beliau. Sebuah pernyataan yang cukup membuat kami sedikit tertawa.

Setalah selesai berbincang-bincang dengan beliau kami memutuskan untuk mengakhiri observasi lapangan di dusun watu ulo karena kami menganggap data yang kami dapatkan sudah cukup banyak dan kami juga sudah dapat menyimpulkan bagaimana keadaan keagamaan di dusun watu ulo.


...................................................................................................................................................................


BAB 4. KESIMPULAN

4.1    Kesimpulan
1.      Masyarakat di dusun Watu ulo mayoritas muslim.
2.      Agama islam sudah ada di dusun Watu ulo sejak masa kerajaan Majapahit.
3.      Banyak acara keagamaan yang masih di lakukan seperti pengajan rutin dan tahlilan dan selametan.
4.      Masyrakat di dusun Watu ulo merupakan penganut ajaran agama yang taat akan tetapi masih mempercayai ritual.
5.      Masih adanya warga yang mempercayai adanya reinkarnasi pada leluhur mereka.
6.      Masyarakat tidak terlalu meributkan tentang masalah beda keagamaan.
7.      Masyarakat cenderung bersosialisasi dengan baik walau beda paham.
8.      Warga tidak terlalu meributkan tentang masalah beda organisasi keagamaan.

...................................................................................................................................................................


DAFTAR PUSTAKA

Syam, Nur, 2005, Islam Pesisir. Yogyakarta: LkiS.
Geertz, Clifford, 1983, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa yang di adaptadi dari buku The Religion of Java. Jakarta : Dunia Pustaka Jaya.
Agus, Bustanudin , 2006,Agama dalam Kehidupan Manusia, Jakarta : RAJAGRAFINDO PERSADA.
Woodward, Mark R, 1999, Islam Jawa, Yogyakarta : LkiS
Hasil wawancara dengan bapak Ngadi Purwanto (kepala dusun Watu Ulo)
Hasil wawancara dengan bapak Muhammad Amirudin (ta,mir masjid Al-Amir)
Hasil wawancara dengan bapak Rudi (juru kunci makam mbah Patiolong)
Hasil wawancara dengan bapak Daniel (warga muhammadiyah)
Hasil wawancara dengan bapak Bambang (warga kristen)

...................................................................................................................................................................

LAMPIRAN

1.        Pedoman Wawancara

1.      Apa agama mayoritas di watu ulo?
2.      Bagaimanakah asal usul dari tersebarnya agama tersebut di watu ulo?
3.      Siapa pembawa agama tersebut ke watu ulo?
4.      Bagaimanakah agama tersebut?
5.      Sudahkah agama tersebut mempengaruhi kehidupan sosial di dusun watu ulo?
6.      Apakah ada kebiasaan khusus bagi penduduk di desa watu ulo?
7.      Apakah ada kepercayaan-kepercayaan khusus bagi penduduk watu ulo?
8.      Apakah ada yang pernah menentang adat atau kepercayaan-kepercayaan tersebut?
9.      Apakah ada golongan-golongan tertentu dalam satu agama tersebut?
10.  Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
11.   Apakah pernah ada pertentangan antara organisasi-organisasi keagamaan tersebut?
12.  Bagaimana sikap mereka dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari?
13.  Bagaimanakah sikap pemeluk agama mayoritas terhadap agama minoritas?
14.  Bagaimanakah sikap pemeluk agama minoritas terhadap agama mayoritas?


2.        Transkip Wawancara

Pak Kepala Dusun :
Di dusun Watu Ulo mayoritas penduduk beragama islam dan minoritas atau sangat sedikit sekali yang beragama non muslim. 99% warga beragama islam dan hanya ada 2 kepala keluarga yang beragama non muslim. Selain itu kalangan muslim di usun Watu Ulo juga ada 2 golongan yaitu muhammadiyah dan nahdatul ulama. Mayoritas penduduk adalah nahdatul ulama (NU) dan hanya sedikit sekali yang muhammadiyah, yaitu sekitar 4 kepala keluarga. Warga NU disana juga biasa menggelar selametan diantaranya tahlilan, selametan jumat legi dan lain sebagainya. Hal ini di maksudkan juga untuk bersosialisasi antar warga.
Soal masjid Al-Amir mengapa selalu sepi saat siang hari karena mayoritas penduduk bermata pencaharian nelayan jadi jiak pagi, siang dan sore hari mereka melaut dan baru pulang jika menjelang petang.
Kemudian di dusun Watu Ulo masih ada ritual-ritual yang masih di pertahankan seperti halnya petik laut. Petik laut merupakan upacara yang di peruntukan pada roh-roh atau penunggu yang ada di laut. biasanya menggunakan sampan yang panjangnya 1,5 meter dan lebarnya 70 centimeter untuk meletakkan sajen-sajen. Sajen tersebut adalah kepala kambing, ayam hitam hidup dan yang paling penting harus ada buah siwalan. Kemudian sajen-sajen itu di hanyutkan ke laut sekaligus dengan sampanya. petik laut di selenggarakan selama 3 hari. Hari pertama ialah menggelar mocopat. Mocopat adalah mengaji khas jawa. Hari ke dua warga menggelar baca Al-quran bersama. Pada hari ke tiga warga menggelar pengajian dan di tutup dengan upacara pelepasan sesajen ke laut. Hal ini di lakukan untuk menghormati penunggu laut.

Pak Amir :
Soal masjid kenapa selalu sepi itu karena warga lebih takut lapar dari pada takut mati. Buktinya warga lebih berani mengambil resiko di tengah laut dari pada untuk mengingat sholat. Para warga juga terlalu sibuk urusanya sendiri-sendiri sehingga lupa atau malas untuk ke masjid.

Pak Rudi :
Pembawa islam yang pertama ialah mbah patiolong. Beliau adalah sesepuh dari kerajaan majapahit. Beliau menyebarkan agama islam di daerah sekitar dusun watu ulo jauh sebelum para wali datang.

Pak Daniel :
Masyarakat disini sangat kondusif. Mereka tidak terlalu mempersoalkan adanya perbedaan antar muhammadiyah dan NU karena warga muhammadiyah sangat sedikit sekali di dusun Watu Ulo. Apabila terjadi perbedaan munkin hukuman sosialnya hanya berupa rasan-rasan saja dan tidak lebih dari itu.
Mengapa masjid selalu sepi itu sebenarnya alasanya sangat klasik, yaitu karena warga sibuk dengan pekerjaan merka masing-masing.
Persoalan yang menyangkut sajen itu sebenarnya tidak boleh di lakukan karena bertentangan dengan kaidah agama. Tapi jika persoalan tahlilan atau peringatan kematian masih bisa di toleransi hanya untuk sebatas bersosialisasi saja.

Pak Bambang :
Tidak tahu bagaimana bisa terjadi tapi identitas di KTP dulu adalah kristen. Akan tetapi sekarang berubah menjadi islam. Mungkin kepala dusun yangbaru tidak mengetahui sehingga di tulis sebagai pemeluk islam.
Persoalan bersosialisasi antar warga di dusun Watu Ulo sangat baik. Tidak ada yang mempersoalkan tentang perbedaan agama atau perdebata tentang hal itu. Masalahnya hanya satu. Di dusun Watu Ulo tempat peribadatan untuk pemeluk kristen tidak ada danjikapun ada tempatnya sangat jauh, jadi lebih baik beribadah di rumah saja.