Minggu, 22 Desember 2013

Menjadi Ummat yang Berdaya dan Menang

22 Desember 2013

Bersama Abi Ma’sum (Pengasuh PP. Al Ishlah-Bondowoso)

Diawal ceramahnya, Abi Ma’sum mengajak para hadirin untuk senantiasa meminta tambahan rahmat dari Allah SWT. Karena dengan rahmat inilah manusia akan mendapat bimbingan dariNya.

Beliau menyampaikan, ummat Islam saat ini masih belum bisa menang. Sekitar 80% keuangan yang ada di Indonesia masih dikuasai asing. Yang dikuasai ummat Islam hanya sekitar 20%. Pemerintahan belum Qur’ani, perpolitikan juga belum bisa menang. Masalah begitu banyaknya, namun ummat Islam masih saja banyak yang bertikai antar sesamanya. Padahal merebut kemenangan itu lebih penting.

Selanjutnya beliau menerangkan bahwa untuk memenangkan ummat, adalah dengan kembali kepada khittah, yaitu “laa haula wa laa quwwata illa billah” (tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah SWT). Dengan menyandarkan setiap urusan dunia ini kepada Allah, insya Allah semuanya akan terselesaikan.

Untuk bisa menjadi ummat yang berdaya dan menang, setidaknya ada 3 macam power atau kekuatan yang harus dikuasai.
1.      Psyche power (kekuatan jiwa). Dalam bahasa Islamnya quwwatul himmah. Ini merupakan kekuatan diri kita akan cita-cita yang tinggi, motivasi, dan keberanian dalam bertindak.
2.      Technical power (kekuatan teknis). Mencakup life skill, kemampuan organisasi, manajemen, relasi, dll.
3.      Hidden power (kekuatan tersembunyi). Inilah yang disebut quwwatul ma’unah, pertolongan dari Allah SWT. Ini kekuatan satu-satunya yang tak terukur oleh kacamata manusia.
Tiga kekuatan itu yang diyakini oleh orang asing untuk menjadikannya menang. Kita sebagai seorang muslim, tentunya harus bisa lebih tinggi kekuatannya.

Kemudian beliau menjelaskan. Untuk dapat berdaya dan menang, ummat perlu mengerti dan memahami bagaiman iman yang benar itu, bagaimana seorang mukmin yang sejati itu? Jawabannya ada di QS. Al Hujurat: 14-18.

Sebelum ditutup dengan muhasabah, Abi Ma’sum berpesan kepada para jama’ah. Ada 3 pesan yang dapat saya catat diakhir ceramahnya.
1.      Janganlah hari-hari kita terlewat begitu saja tanpa membaca al Qur’an. Beliau menganjurkan kita untuk membaca al Qur’an setiap hari, meski membacanya satu ayat. Agar hari-harinya merasa terbimbing oleh Allah.
2.      Janganlah melewatkan malam begitu saja tanpa sholat malam. Karena ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Kita bisa memilih cara Abu Bakar r.a. atau cara Umar bin Khattab r.a.. Abu Bakar selalu sholat malam sebelum tidur, sedangkan Umar bin Khattab melakukannya setelah tidur terlebih dahulu. Keduanya sama-sama mendapat pujian dari Rasulullah. Jika Abu Bakar dipuji karena sifat kehati-hatiannya. Dan Umar bin Khattab dipuji karena kesanggupannya/ kekuatannya dalam bangun dimalam hari.
3.      Perbanyak istighfar. Karena Rasulullah yang ma’sum (terbebas dari dosa) saja beristighfar 70, atau di hadits lain, 100 kali setiap harinya. Kita sebagai hamba yang pastinya tak luput dari kesalahan harusnya beristighfar melebihi itu. Selain istighfar atau memohon ampunan bagi diri kita sendiri, alangkah lebih baiknya lagi kita memohonkan ampun terhadap kesalahan/dosa orang tua, guru, orang yang berjasa, dan siapa saja muslim-muslimah yang bisa kita hadirkan dalam do’a itu. Karena bisa jadi musibah yang kita alami adalah karena banyaknya kesalahan/dosa kita. Sedangkan musibah hadir sebagai adzab (bagi orang kafir), ujian (bagi Muslim sholih), dan peringatan (bagi Muslim nakal).

Inilah sedikit catatan yang saya dapatkan dari pengajian majelis dhuha, (22/12), pagi tadi. Semoga dapat bermanfaat bagi saya dan kita sekalian. Aamiin J

Sabtu, 21 Desember 2013

Saya Kira Cuma Disuruh Geser

21 Desember 2013

Kedisiplinan kereta api listrik sangatlah ketat. Tak lama berhenti pada satu stasiun, mungkin sekitar 3 menit saja berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, lantas kembali meninggalkan stasiun dengan gagahnya. Sistem ini cukup bagus untuk dijadikan pelajaran mengenai menghargai waktu, walaupun itu sedetik. Kalau terbiasa tidak disiplin atau tertib, atau sering lalai atau apalah itu sifat yang kurang peka terhadap waktu, maka hasilnya adalah lelucon.

Ceritanya ada segerombolan anak yang naik KRL. Dengan berjubelnya penumpang di dalamnya, mereka ada yang dapat tempat duduk, juga ada yang terpaksa berdiri. Nikmatnya perjalanan, membuat merka yang duduk tertidur. Teledornya adalah, saat sampai di stasiun tujuan, mereka yang tidur ini dibangunkan. Tapi sudah dibangunkan, karena cuma 3 menit penumpang turun dan naik, ada satu diantara mereka yang menyangka dia dibangunkan untuk bergeser tempat duduk. Wal hasil, satu anak ini kebablasan, tidak turun di stasiun tujuan. Dia baru bangun setelah ditelepon temannya setelah lewat dari stasiun berikutnya.

Makanya jangan teledor ya, bersiapsiagalah. hhehee

Jumat, 20 Desember 2013

Teknologi Reduksi Emisi Ramah Lingkungan

20 Desember 2013
Seminar nasional
Pembicara: Warju, M.T (Dosen Jurusan Otomotif Unesa-Surabaya)



Emisi gas buang dari kendaraan bermotor menyumbangkan 70% polusi udara di bumi. 30% lagi adalah hasil dari pembakaran lainnya, misalkan kebakaran hutan, asap rokok, dll.

Ada beberapa jenis gas buang dari kendaraan yang dapat menimbulkan polusi udara, antara lain: timah hitam/ timbal (Pb), karbon monksida (CO), Nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), dan hidro karbon (HC).

Gas-gas tersebut sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, karena jika terlalu banyak terhirup, akibatnya bisa berujung pada kematian. Diantara dampak dari emisi gas buang yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

   1.      Timah hitam/ timbal (Pb)
Timbal dapat meracuni sistem pembentukan sel darah merah, sehingga menyebabkan anemia (kekurangan zat besi), memengaruhi kecerdasan dan dan menurunkan IQ pada anak-anak, memicu tekanan darah tinggi, mengganggu fungsi reproduksi dan berakibat buruk bagi jantung hingga mengakibatkan kematian.
Contoh penyakit yang ditimbulkan dari Pb adalah:
·         Hidrosefalus
·         Mikrosefalus
·         Menengitis
·         Autis

   2.      karbon monksida (CO)
karbon monoksida dapat mengurangi kemampuan darah dalam mengangkut oksigen, sehingga darah kekurangan udara. Akibatnya adalah pikiran serasa melayang, jika ada 25% zat CO yang terhisap oleh manusia. Akan pinsang jika ada 50% zat CO yang terhisap, dan berujung kematian dengan adanya 75% zat CO yang terhisap oleh manusia. Hal ini dikarenakan CO lebih mudah mengikat HB dibandingkan dengan O2. Jika 1 O2 hanya bisa mengikat 1 HB, jauh dari itu, 1 CO dapat mengikat HB hingga 120 HB.

   3.      Nitrogen oksida (NOx)
NOx dapat menyebabkan mata merah berair, radang tenggorokan, gangguan hidung, dan asma.

   4.      sulfur oksida (SOx)
Gas ini mengakibatkan mata merah, paru-paru kronis, dan paru-paru obstruktif kronis.

   5.      hidro karbon (HC)
sedangkan emisi gas hidro karbon dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit paru-paru akut.
Dari kelima emisi gas yang dihasilkan dari pembakaran pada kendaraan bermotor tersebut, dapat kita simpulkan bahwa emisi tersebut berbahaya bagi kesehatan manusia. Belum lagi akibat yang ditimbulkannya bagi lingkungan. Misalnya mengakibatkan pemanasan global yang berdampak sistemis pada perubahan iklim dan meningkatnya debit air laut dari waktu ke waktu.

Di antara begitu kompleksnya permasalahan yang ditimbulkan dari emisi gas buang tersebut, ada beberapa solusi dari berbagai pihak, mulai dari LSM, komunitas, sampai pemerintah. Diantara solusi yang ditawarkan adalah:

1.      menanam lebih banyak pohon, dengan membuat taman kota atau paru-paru kota, meluaskan lahan tumbuhan hijau. Karena dengan semakin banyaknya tumbuhan, maka semakin banyak CO2 yang diserap dan semakin banyak O2 yang dihasilkan tumbuhan dari proses fotosintesis.

2.      Mematikan mesin jika terjadi kemacetan lalu lintas, agar emisi tidak terjadi. Bisa juga mematikan mesin kendaraan jika sedang menunggu kereta api melintas atau menunggu lampu merah.

3.      Tidak membiarkan tutup tangki bahan bakar terbuka terlalu lama. Kejadian ini sering kali terjadi pada saat pengisian BBM di SPBU. Sambil mengantri, tutup tangki dibuka untuk menunggu giliran diisi. Cara yang baik adalah jangan membukanya kecuali sudah siap untuk diisi BBM. Dan setelah pengisian segeralah menutupnya kembali. Karena dengan terbukanya tutup tangki, ada 5% emisi gas HC yang keluar.

4.      Tidak perlu memanasi kendaraan bermotor. Terkadang asalah ini banyak yang mempertentangkan. Ada yang beranggapan bahwa memanasi mesin kendaraan adalah untuk mengangkat oli biar naik. Padahal hanya butuh waktu 12 detik untuk menaikkan oli mesin tersebut. Ada lagi alasan memanaskan mesin kendaraan adalah untuk dapat mencapai suhu kerja mesin. Cara untuk mengatasi agar kendaraan bermotor dapat mencapai suhu kerja adalah dengan menjalankannya pelan-pelan sampai mesin dirasa cukup panas.

5.      Jangan sering-sering buka-tutup gas tangan. Karena dengan itu ada sekitar 5-10% emisi HC yang dikeluarkan setiap kali tarikan pedal gas.

Kamis, 19 Desember 2013

KAIDAH FIQIH SECARA UMUM

19 Desember 2013

1. Larangan membahas sesuatu yang belum terjadi
2. Menjauhi banyak pertanyaan dan mempersulit masalah
3. Menjauhi perbedaan dan berpecah belah dalam agama
4. Mengembalikan masalah-masalah yang berselisih di dalamnya kepada Al Qur’an dan Hadits

Jumat, 13 Desember 2013

Resensi Buku: Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah Di Indonesia


13 Desember 2013



Judul               : Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah Di Indonesia
Penulis            : Tim Penulis Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Penerbit          : FORMAS (Forum Masjid Ahlus Sunnah)
Tahun             : 2013

Buku ini merupakan panduan dari MUI yang diperuntukkan kepada masyarakat Muslim di Indonesia, agar masyarakat mengetahui apa-apa yang terkait dengan syi’ah. Selain sebagai penambah pengetahuan bagi masyarakat, buku ini juga mengajak masyarakat untuk membentengi diri mereka terhadap aliran syi’ah yang dianggap menyimpang. Dalam buku ini MUI melakukan berbagai kajian terkait dengan syi’ah, dan menyimpulkan bahwa aliran syi’ah yang ada di Indonesia adalah menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah Waljama’ah.

Secara garis besar ada 5 bahasan dalam buku ini yang dipaparkan oleh tim penulis MUI. Antara lain:
1. Sejarah syi’ah
2. Penyimpangan ajaran syi’ah
3. Pergerakan syi’ah di Indonesia dan penyebarannya
4. Sikap dan respon MUI tentang faham syi’ah
5. Fatwa dan pernyataan Ulama Indonesia tentang hakikat dan bahaya syi’ah.

Pada bab tentang sejarah syi’ah, dipaparkan bahwa syi’ah ada sejak awal masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra. Dari awalnya yang masih lurus beraqidah Islam hingga adanya penyimpangan seperti yang umum diketahui masyarakat tentang syi’ah akhir-akhir ini.

Setelah memaparkan sejarahnya, dijelaskan pada bab penyimpangan ajaran syiah beberapa penyimpangannya. Dalam bab ini, sistem penulisannya adalah memaparkan pemahaman syi’ah itu seperti apa, berdasar pendapat tokoh syi’ah dan beberapa kitab yang ditulis oleh kaum syi’ah. Kemudian dari pemaparan tentang pemahaman tersebut, ada pandangan Ulama terkait apa yang dipahami dan diyakini pengikut syi’ah. Pandangan Ulama disini adalah untuk meluruskan dan menjelaskan perkara yang benar. Diantara yang dibahas di dalam buku ini adalah penyimpangan faham syi’ah tentang:
1. Orisinalitas al Qur’an,
2. ahli bait Rasulullah SAW dan mengkafirkan sahabat Nabi
3. mengkafirkan umat Islam
4. kedudukan Imam syi’ah
5. hukum nikah mut’ah.

Pada bab berikutnya menjelaskan pergerakan syi’ah di Indonesia dan penyebarannya. Di bab ini dijelaskan, ada 3 generasi utama, yaitu: generasi pertama, sebelum revolusi Iran tahun 1979 dimana pergerakannya masih sangat terbatas dan eksklusif. Generasi kedua yang didominasi oleh kalangan intelektual dari perguruan tinggi. Dan generasi ketiga mulai bersemangat misionaris yang tinggi dalam menyebarkan ajaran. Dalam bab ini juga dipaparkan data konflik yang pernah terjadi dan poros persebaran syi’ah di Indonesia.

Dari pemaparan bab-bab sebelumnya yang menjelaskan beberapa fakta tentang syi’ah, bagian 4 adalah pemaparan beberapa respon atau fatwa dari MUI yang berkaitan dengan syi’ah. Tercatat ada 15 pernyataan dari MUI yang secara garis besar menyatakan bahaya dari syi’ah dan perlu untuk diwaspadai.

Dan bagian akhir dalam buku ini, dituliskan kembali pernyataan dari beberapa Ulama Indonesia tentang hakikat dan bahaya syi’ah. Antara lain: Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari (Rais Akbar NU), Prof. DR. Hamka (ketua umum MUI pusat periode 1975-1980), DR. Muhammad Natsir (mantan perdana menteri RI), dan KH. Hasan Basri (ketua umum MUI pusat periode 1985-1998).

Selasa, 26 November 2013

Konsep Ekonomi Islam

26 November 2013

         Alhamdulillahirabbil ‘alamin, pertama saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menjadikan bangun waktu subuh saya tadi terasa ringan walau baru tidur sekitar jam setengah 12 malam dan baru datang juga dari Bogor. Dan shalawat serta salam semoga terlimpah ruahkan kepada junjungan Rasulullah SAW, keluarga, shahabat, serta penerus risalahnya hingga akhir zaman.

Ba’da shalat shubuh, setiap selasa di Masjid Al Falah Patrang rutin diadakan kajian tafsir Al Qur’an oleh Ust. Khoirul Hadi. 26 November 2013 kajiannya sampai pada QS. Al Baqarah ayat 261. “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Ayat ini, QS. Al Baqarah ayat 261-274, berisi tentang konsep ekonomi Islam. Dan ayat selanjutnya berbicara tentang riba. Konsep ekonomi Islam menitikberatkan pada Infak/sedekah. Konsep inilah yang menjadikan masyarakat Islam pernah berjaya dari segi ekonomi. Terdapat baitul maal, yang merupakan kumpulan/tumpukan harta benda dari hasil infak, sedekah, maupun zakat dari masyarakat. Dari baitul maal inilah pemerintah dapat memakmurkan masyarakatnya. Puncaknya ketika kekhalifahan Umar bin Abdul Azis yang sampai-sampai tak ada seorang pun yang mau menerima bantuan dari baitul maal ini.

Konsep ekonomi Islam ini telah terbukti kejayaannya dalam memakmurkan masyarakat, namun mengapa sekarang tidak mau melirik konsep tersebut? Kini justru banyak diterapkan konsep ekonomi kapitalis dan riba.

Terkait infak itu sendiri, kembali pada QS. Al Baqarah ayat 261, bahwa Allah akan melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang berinfak di jalanNya sebesar 700 kali lipat. Secara sederhana, jika kita berinfak Rp 1.000 maka Allah akan menggantinya dengan Rp 700.000. ini untuk memberi pelajaran bagi yang berinfak akan kebenaran kandungan ayat ini. Namun tak semua balasan itu didapat didunia dan berupa uang atau harta. Mungkin juga balasan tersebut adalah berupa selamatnya orang yang berinfak dari kecelakaan, atau kesembuhan dari penyakit, dan lain sebagainya.

Ada kisah nyata dari jamaah pengajian rutin ahad pagi setiap pekan ke-4 di pusat penelitian kopi dan kakao, Majelis Dhuha. Ibu-ibu dari muslimat NU ini pernah menginfakkan semua uangnya yang ia bawa setelah ia menyisihkan sebagiannya hanya untuk ongkos naik becak. Beliau tidak menghitung berapa uang yang dimasukkan dalam kotak infak. Sambil menutup mata, ibu tersebut memasukkan uang tersebut ke dalam kotak infak disertai dengan niatan yang tulus karena Allah. Ia tak tahu bagaimana bisa membiayai kebutuhan hari itu, ia serahkan balasannya dari Allah SWT. Tak lama setelah usai pengajian, ibu itu dikejutkan dengan lakunya tanah orang yang coba ia jualkan, singkat cerita beliau mendapat bagian sebesar 10 juta rupiah dari hasil penjualan tanah tersebut. Bagitulah Allah membalas amalan dari jalan yang tak diduga.

Demikian sedikit kajian yang semoga dapat bermanfaat bagi kita sekalian. Kurang-lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Allahu a’lam bish shawab.

Senin, 11 November 2013

Memilih Menjadi Mahasiswa Aktivis

11 November 2013

Alhamdulillah, pertama-tama saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. atas nikmat rizki yang diberikanNya. Ini adalah tulisan pertama saya yang diketik pada PC baru. Mau diberi nama gak ya? Warnanya putih semua, kira-kira kalau pun ingin memberi nama, akan saya namai ‘tazakka’ saja, sepertinya cocok.

Sejak awal masuk kuliah saya bisa dikatakan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan non-kuliah. Mulai dari menghadiri acara-acara yang diselenggarakan berbagai organisasi sampai mengurusi beberapa acara-acara yang sama diwaktu berikutnya. Tidak ada masalah memang, kita mau menyibukkan diri diluar kulih atau hanya mau fokus di kuliah. Toh memang tujuan kita yang utama adalah kuliah, bukan untuk kesibukan diluar kuliah.

Dari berbagai pilihan menjadi mahasiswa, saya amati, setidaknya ada 3 kategori mahasiswa. Pertama, mahasiswa SO (study oriented). Mahasiswa kategori ini adalah mereka yang hanya fokus pada kuliah dan mendalami disiplin ilmu yang sedang mereka tempuh. Kedua, mahasiswa aktivis. Kategori kedua ini ada 3 versi, yaitu: 1. Mahasiswa yang lebih memprioritaskan organisasi ketimbang kuliahnya 2. Mahasiswa yang lebih memprioritaskan kuliahnya meski ia turut berorganisasi dan 3. Mahasiswa yang seimbang antara kuliah dan organisasinya. Kategori mahasiswa yang ketiga adalah mahasiswa wirausaha. Sebenarnya ini mirip dengan kategori kedua, namun saya pisahkan karena ranah kesibukannya berbeda. 3 kategori itu lah yang nampak dominan jika saya amati, meski tak menutup kemungkinan ada kategori-kategori yang lain. Silakan dikembangkan sendiri.

Nah, kali ini saya ingin spesifik pembahasannya tentang kategori mahasiswa yang kedua. Kenapa? Karena saya termasuk di dalamnya, insya Allah. Dan tulisan ini pun sebagai motivasi untuk saya pribadi. Syukur-syukur jika yang membaca juga termotivasi. Semoga bermanfaat saja lah untuk saya dan pembaca.

Seperti disebutkan di atas, mahasiswa aktivis ini ada tiga versi. Mari kita bahas satu per satu. Versi pertama, Mahasiswa yang lebih memprioritaskan organisasi ketimbang kuliahnya. Ibaratnya ini mahasiswa seperti lilin. Ia menerangi sekelilingnya tapi merelakan dirinya terbakar. Artinya apa? Bahwa mahasiswa seperti ini bahaya untuk kelangsungan studinya. Karena ia lebih mementingkan organisasinya ketimbang tujuan utamanya menjadi mahasiswa, yaitu kuliah. Bisa saja organisasinya berjaya, namun jika ia terus lelap dalam euforia organisasi dengan bermalas-malasan dalam kuliahnya, bisa diprediksi kuliahnya bakalan molor. Bahkan bisa jadi ia di drop out karena nilainya kecil. Saya tidak sepakat bila kesibukan mengurus organisasi dijadikan alasan jika nilai jelek. Sebenarnya itu lebih pada personnya. Untuk versi mahasiswa seperti ini saya sarankan untuk ‘bertobat’. Bertobat dalam artian porsi untuk fokus kuliahnya ditambah lah, paling tidak bisa seimbang antara kuliah dan organisasi.

Versi kedua, Mahasiswa yang lebih memprioritaskan kuliahnya meski ia turut berorganisasi. Kalau boleh saya bilang mahasiswa macam ini adalah mahasiswa yang, maaf, PHP (pemberi harapan palsu). Karena apa? Ia tidak begitu interst dengan organisasinya. Organisasi diikuti hanya untuk mengisi waktu luang ketika tidak sedang mengerjakan tugas atau belajar. Biasanya sih sulit untuk diajak kerjasama dalam berorganisasi, makanya cocoknya mahasiswa seperti ini menjadi anggota, bukan menjadi pengurus. Jika diberi amanah ujung-ujungnya mengecewakan. Karena jika berbenturan sedikit saja antara kepentingan organisasi dengan kepentingan kuliahnya, ia lebih memilih kepentingan kuliahnya. Untuk mahasiswa versi ini, saran saya sih jangan terlalu sering mengecewakan teman-teman organisasi lah. Kasihan teman-temannya yang lain.

Terakhir, versi mahasiswa aktivis ketiga adalah Mahasiswa yang seimbang antara kuliah dan organisasinya. Yang ini nih yang saya demen. Prestasinya oke, organisasinya juga oke. Setelah mengikuti training motivasi, 7 november lalu, ada fakta yang disampaikan sang trainer, yang sebelumnya saya tahu ada aktivis yang bagus prestasinya, tapi belum tahu buktinya. Nah, waktu itu trainernya menguak fakta bahwa memang aktivis tersebut memang bagus prestasinya. Ia menjadi ketua di organisasi, otomatis di organisasi ia aktif, disisi lain ia juga menyandang gelar mahasiswa berprestasi. Inilah mahasiswa yang bisa menyeimbangkan antara kuliah dan organisasinya. Manajemen waktunya rapi dan teratur, sehingga bisa mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan baik, pun bisa mengerjakan tugas-tugas organisasi dengan baik. Mahasiswa yang dapat menyeimbangkan antara kuliah dan organisasinya adalah mahasiswa yang progresif. Maka dari itu, saya menyarankan diri saya pribadi dan kepada para pembaca yang kuliah dan turut berorganisasi, seimbangkanlah antara kuliah dan organisasi. Namun yang paling penting dalam menjaga keseimbangan tersebut, untuk menjalankan kuliah dan organisasi, tentulah urutan yang harus dikerjakan pertama adalah tugas kuliah, setelah itu baru menjalankan tugas organisasi.

Sekian sedikit ulasan dari saya, semoga kita dapat memilih yang terbaik untuk bisa kita kerjakan. Semangat. Kurang-lebihnya saya mohon maaf. Dan semoga bermanfaat. Aamiin.