Sabtu, 18 Mei 2013

Impas

18 Mei 2013

Pagi hari seorang tukang becak hendak membeli lontong sayur. “Bu, mau beli lontong sayur. Tapi uangku hanya seribu, boleh ya?” tanya si tukang becak. Ibu penjual menyahuti dengan kecut, “hari gini beli lontong sayur seribu perak?”. Sambil memelas, “iya Bu, boleh ya. Masih belum ada penglaris nih becak saya”. “ya udah, gak papa” Ibu penjual merendah.
Tukang becak tersenyum terimakasih. Ibu penjual, “nih lontongnya” (menjulurkan lontong sebungkus). “loh kok cuma dikasih lontong. Sayurnya mana?” tanya tukang becak heran. “kalo seribu mah cuma dapat lontong, gak usah sayur” tanggap si Ibu. Tukang becak pun menerima dengan raut wajah hambar.
Pada sore hari, tukang becak lewat di depan pasar yang berangsur sepi. Dilihatnya si Ibu penjual lontong sayur tadi nampak kebingungan cari tumpangan (becak) untuk bawa barang belanjaannya. Dengan rendah hati tukang becak mendekati si Ibu, “becak Bu?”. “Alhamdulillah, akhirnya ada becak juga. Iya pak” kata si Ibu gembira.
“mau ke mana?” tanya tukang becak. “mau ke rumah, deket kok. Nanti setelah turunan nyampe” jawab si Ibu akrab. “ya udah, silahkan. Lima ribu ya?” tawar si tukang becak. “waduh uang saya tinggal seribu pak, gimana nih? Gak papa ya?” si Ibu memelas. Dengan ketus tukang becak menjawab; “ya udah, gak papa. Sini uangnya”. Si Ibu tersenyum sungkan sambil ngasihkan uangnya.
Setelah si Ibu menumpang becak dan tiba di turunan yang cukup curam, si Ibu mulai khawatir dengan laju becak yang semakin kencang. “rem pak, rem. Rumah saya sudah kelihatan tuh, nanti kebablasan” kata si Ibu gopoh. Dengan ringan tukang becak menjawab, “kalo cuma seribu mah gak pake rem Bu, hahaa” (niat hati membalas kelakuan si Ibu tadi pagi).