Minggu, 26 Mei 2013

Oleh-oleh FIM 14C (3 habis)

26 Mei 2013

Pembicara: Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Akademisi dan Praktisi Bisnis Indonesia/  Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen UI/ Founder Rumah Perubahan)
Materi: Be a Driver

Mengenal diri, suatu hal yang penting diketahui agar kita arif dalam bersikap. Dan pemimpin harus bisa mengenali dirinya. Tak sekedar mengenal, tapi juga bisa membawa dirinya kearah yang lebih baik.
Jika kita sudah mengenal diri kita, disegala tempat kita akan mendapati diri kita seperti apa adanya. Tidak seperti apa yang kita lihat saat ini, dimana kita hidup di peradaban kamera. Di depan kamera, tidak ada orang yang asli. Kenapa? Karena kebanyakan orang masih bimbang dalam mengarahkan dirinya.
Pemimpin harus mempunyai self yang kuat. Jika sudah mempunyai self yang kuat, dalam keadaan, situasi dan kondisi apa pun ia tetap seperti biasanya. Artinya ia tidak akan mencla-mencle dalam sikapnya. Kita tidak ingin ada lagi kepemimpinan auto pilot. Karena kepemimpinan semacam itu akan menghalangi keleluasaan pemimpin untuk memberi kebijakan. Kepemimpinan auto pilot adalah kepemimpinan yang tidak berani mengambil risiko.
Ada dua tipe pola pikir manusia dalam menyikapi sesuatu, pertama constraint based thinking dan yang kedua opportunity based thinking. Yang pertama merasa ada yang menghalanginya untuk mengambil keputusan sehingga ada ketidakluasaan dalam menyikapi sesuatu. Sedang yang kedua merasakan bahwa kesempatan harus diambil dan tak mau melewatkannya.
Misalnya, seorang constraint based thinking akan mengatakan “meskipun mawar itu indah, tapi berduri”. Sedangkan seorang opportunity based thinking akan mengatakan “meskipun berduri, mawar itu indah”. Jika disuruh untuk memetiknya, maka seorang opportunity based thinking-lah yang akan melakukannya.
Kalau kita mau, pasti akan menemukan jalan, tapi jika tidak maka kita hanya akan menemukan alasan-alasan. Jangan pikirkan yang kita tidak punya atau yang orang lain punya, tapi pikirkan yang kita punya.

Pembicara: Elly Risman Musa, M.Psi (Psikolog/ Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati)

Materi: Mengenal Diri

Untuk menilai diri, kita perlu tanyakan kepada diri kita, siapa saya? Darimana saya? Sedang dimana saya? Mau kemana saya?. Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadikan kita mengetahui sejatinya diri kita.
Sifat manusia itu dipengaruhi dari 20% karena sifat-sifat yang diturunkan oleh orang tua dan 80% adalah faktor lingkungan. Disini menjelaskan akan pentingnya kita berada di lingkungan yang baik. Maka dari itu perlu dibentuk lingkungan sekitar yang baik agar seseorang itu bisa menjadi pribadi yang baik. Yang dapat mengenali dirinya dari 4 pertanyaan mendasar di atas.
Membentuk lingkungan yang baik adalah mutlak untuk menjadikan generasi-generasi yang akan datang semakin bermartabat. Hal yang paling mendasar untuk membentuk pribadi masa depan yang bermartabat adalah dengan melakukan pengasuhan anak secara baik oleh orang tua di rumah. Rumah yang notabene adalah lingkungan terkecil dari segi kehidupan, akan berdampak besar jika orang tua memaksimalkan peranannya dalam pengasuhan anak.
Ada 7 tujuan pengasuhan anak, antara lain:
1.        Menjadikan anak sebagai hamba Allah yang bertaqwa,
2.        Menyiapkan anak untuk menjadi suami/ istri,
3.        Menyiapkan anak untuk menjadi Ayah/ Ibu,
4.        Menjadikan anak sebagai orang profesional,
5.        Menjadikan anak bisa mendidik anak dan istrinya,
6.        Menjadikan anak sebagai pengayom (bagi laki-laki),
7.        Menjadikan anak bisa bermanfaat bagi orang lain.
Pada hakikatnya, manusia itu perjalanan dari tanah menuju tanah. Kita semua lahir dari tanah, dan mati pun akan dipendam di tanah. Maka persiapkanlah perbekalan menuju kesana.

Pembicara:   Bukhori Nasution (Pemerhati Pendidikan)
Materi: Integritas dan Adil

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata integritas beratri mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Syair berikut mungkin dapat merefleksikan bahwa kita masih mempunyai integritas.

Aku peduli

Tapi masa depan bangsaku
Itu bukan yang paling penting buat aku

Duit banyak, hidup enak, posisi
Jauh lebih penting dari
Keadilan, integritas, moral

Aku yakin dan pasti
Ada harapan
Negaraku masih menjunjung moral yang tinggi
Tapi itu gak bakal bertahan

Nafsu lebih dinomor satukan
Tren menunjukkan
Anak cucu kita akan menuai kebobrokan kita

Aku gak percaya
Indonesia akan tetap jaya

Memandang kedepan, aku melihat
‘Degradasi moral melanda anak muda’
‘Kawin cerai, apa salahnya?’
‘korupsi sudah menjadi budaya’
‘Video mesum, itu mah biasa’

Gak bisa dibilang lagi
Masih ada yang peduli akan bangsa ini

Udah jelas banget
Generasi ini udah hancur dan gak ada harapan
Sungguh sedih dan konyol kalo kita pikir
Kita bisa menjadikan dunia ini lebih baik

Tapi kita masih bisa membalikkan itu semua
Kita bisa menjadikan dunia ini lebih baik

Sungguh sedih dan konyol kalo kita pikir
Generasi ini udah hancur dan gak ada harapan

Udah jelas banget
Masih ada yang peduli akan bangsa ini

Gak bisa dibilang lagi
‘Video mesum, itu mah biasa’
‘korupsi sudah menjadi budaya’
‘Kawin cerai, apa salahnya?’
‘Degradasi moral melanda anak muda’
Memandang kedepan, aku melihat
Indonesia akan tetap jaya

Aku gak percaya
Anak cucu kita akan menuai kebobrokan kita

Tren menunjukkan
Nafsu lebih dinomor satukan
Tapi itu gak bakal bertahan
Negaraku masih menjunjung moral yang tinggi

Ada harapan
Aku yakin dan pasti
Keadilan, integritas, moral
Jauh lebih penting dari
Duit banyak, hidup enak, posisi

Itu bukan yang paling penting buat aku
Tapi masa depan bangsaku
Aku peduli

Adil merupakan bagian kecil dari moral. Moral yang terpenting adalah moralitas kita terhadap Allah, baru kemudian moralitas kita terhadap manusia.
Adil bukan berarti menyamaratakan semuanya, akan tetapi adil ialah bagaimana kita menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan yang sepatutnya/ sesuai porsinya, dan tidak berat sebelah. Misalkan dalam pemilihan umum, bukan adil itu menyamakan suara tukang becak samadengan suara profesor. Jika suara mereka sama, justru itu tidak adil. Karena tidak sepatutnya orang yang lebih berilmu disamakan dengan orang yang kurang berilmu.
Seharusnya dalam penentuan keputusan di era demokrasi sekarang ini, tetap menyerahkan kepada ahlinya. Jangan menyerahkannya pada semua orang yang dianggap sama suaranya. Namun para ahli itu pun harus musyawarah mufakat untuk mengambil suatu keputusan. Dan syarat para ahli itu memutuskan sesuatu tersebut, ia harus bermoral.
Berani melawan arus! Memang capek, tapi begitulah seharusnya. Jangan terlena!

Pemateri: Prof. Hikmahanto Juwana, SH, LL.M, Ph.D (Guru Besar Hukum Internasional UI)
Materi: Keadilan

Dalam menegakkan keadilan itu ada 2 hal:
1.      Harus punya integritas dan moralitas,
2.      Harus punya argumentasi.
Seperti dijelaskan pemateri sebelumnya, bahwa integritas dan moralitas itu penting untuk dimiliki setiap diri yang menginginkan kepemimpinan. Sedangkan harus mempunyai argumentasi adalah landasan/ dasar ilmiyah yang kita miliki untuk menegakkan keadilan itu sendiri.

Pembicara: Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia)
Materi: Bersahaja dan Keteladanan

Yang perlu ditekankan pada diri kita sebagai warga negara Indonesia adalah bagaimana kita harus mempunyai sikap ‘menjadi tuan di Negeri sendiri’. Menjadi tuan di negeri sendiri bukan berarti menjadi tuan rumah bagi warga negara asing secara berlebihan dan boros dalam menjamu tamu. Bukannya tidak menghormati atau memuliakan mereka, akan tetapi lebih pada kita tetap harus menjaga kebersahajaan kita.
Menjadi tuan di negeri sendiri artinya kita menjadi master yang dapat mengatur siapa saja yang datang. Bukan malah kita yang diatur. Intinya kita menerima adanya pihak asing yang datang asalkan memberi kebaikan bersama dan tidak merugikan kita sebagai master.


Keteladanan yang dilakukan oleh bung Hatta banyak sekali, yang itu dapat kita contoh. Dalam bukunya ‘berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan nasional Indonesia’, beliau menuliskan betapa cintanya beliau akan Ibu Pertiwi. Juga kerinduan akan kemerdekaan Indonesia.
Beliau menginisiasi untuk mebangun persatuan dengan pembuatan jalan sehingga masing-masing daerah tidak merasa asing. Selain itu, beliau mencoba mempersatukan Indonesia dengan komunikasi. Komunikasi yang tetap menjaga bahasa daerah sebagai karakter dari masing-masing daerah. Karena dalam bahasa daerah ada akhlaknya. Jadi, belajar bahasa daerah juga secara otomatis belajar akhlak.
Diantara sifat bung Hatta adalah:
1.      Tangguh, disiplin dalam pilihan hidupnya,
2.      Tepat waktu, waktunya benar-benar teratur dengan detail
3.      Menghargai dan dekat dengan orang kecil
4.      Taat beribadah
5.      Berpikiran ‘kemakmuran masyarakat lebih utama’
6.      Kalau belanja tidak suka menawar
7.      Ramah dan sederhana
Dalam mendidik keluarganya, bung Hatta menanamkan beberapa nilai, antara lain:
1.      Ibadah
2.      Disiplin diri
3.      Jujur
4.      Menjaga rahasia negara
5.      Menanamkan kecintaan terhadap Indonesia
6.      Jalan-jalan  ke pelosok untuk mengetahui kondisi masyarakat
“Hanya suatu bangsa yang faham akan harga dirinya, maka cakrawalanya akan terang benderang”

Pembicara: dr. Yus Rizal Jurnalis (Dokter Spesialis Bedah Umum/ Tim Mer-C)
Materi: Solidaritas, Totalitas, Cinta Kasih

Wawasan dapat menjadi bahan bakar agar terus kontinyu. Itulah yang menjadi dasar agar kita bisa mempunyai kesadaran akan solidaritas dan cinta kasih. Karena dengan wawasan yang luas, kita akan semakin memahami kondisi orang-orang di tempat lain.
Bicara tentang solidaritas, disini pemateri sebagai bagian dari volunteer kemanusiaan yang didalamnya membutuhkan yang namanya totalitas dan cinta kasih. Dengan itulah kita merasa nyaman untuk misi-misi kemanusiaan.
Dengan totalitas yang diberikan, pekerjaan yang dilakukan akan menuai hasil yang maksimal. Juga dengan cinta kasih, maka kita akan ikhlas menjalankannya. Karena bukan apa-apa yang diinginkan selain kebaikan bersama. Makanya solidaritas itu membutuhkan totalitas untuk aksinya dan juga cinta kasih untuk menjaga kerelaan.

Pembicara: Jamil Azzaini (Inspirator Sukses Mulia)
Materi: Finding Your Passion

Hidup itu harus bertumbuh, naik, naik, dan naik. Jika hidup tidak bertumbuh atau stagnan, akan mengakibatkan kemunduran. Karena waktu akan terus berubah dan berputar.
Dalam menjalani kehidupan ini, kita perlu 4 ON:
1.      Vision
Visi disini adalah visi hidup kita kedepan. Mau apa kita hidup di dunia ini. Yang pertama tujuan hidup kita harus jelas, menyangkut dunia dan akhirat. Namun yang perlu di prioritaskan adalah tujuan akhirat. Karena jika tujuan hidup kita adalah akhirat, maka dunia pun didapat. Namun jika tujuan utamanya dunia dengan mengesampingkan akhirat, maka yang diperoleh adalah dunia saja.
2.      Action
Dari visi yang sudah kita miliki, maka kita juga harus berikhtiar atau melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Ikhtiar itu dibuktikan dengan aksi yang kita lakukan.

Dalam beraksi, kita harus kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Kerja keras akan memperkuat myelin yang ada dalam otot-otot syaraf kita sehingga apa yang kita lakukan akan menumbuhkan sebuah kebiasaan. Dan kebiasaan itu adanya karena dipaksa dengan kebiasaan yang baru. Kerja keras memberikan nilai 99% terhadap capaian sesuatu yang kita lakukan, sedang 1% adalah inspirasi.
Kerja cerdas berarti kita mengasah brain memory. Jika kita melakukan kerja cerdas, yang ada dalam pikiran kita adalah ‘memberi yang terbaik, dapat yang terbaik’. Orang-orang cerdas itu bersaing dengan kekuatan, bukan kelemahan. Maka dari itu kita harus tahu kekuatan diri.
Dan dari ketiga kerja tersebut, yang terakhir adalah kerja ikhlas. Jika kita merelakan apa yang kita lakukan, insya Allah itu akan membuahkan lebih banyak kebaikan untuk diri kita sendiri. Tanpa kerja ikhlas, apa yang kita lakukan akan terasa memberatkan. Karena kita tidak leluasa dan tidak bebas malakukan suatu hal.
3.      Passion
Ciri dari passion adalah enjoy. Bahwa kita menikmati sesuatu yang kita kerjakan. Bertumbuh, karena suatu hal yang kita kerjakan sesuai dengan keinginan kuat kita, pastilah itu akan bertumbuh. Dan terakhir adalah dihargai. Karena kita mengerjakan sesuatu sesuai dengan keahlian kita, maka kita pun akan dicari. Kita akan dehargai dengan keahlian kita tersebut.
4.      Collaboration
Tentunya, kita sebagai makhluk sosial akan membutuhkan  orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Untuk lebih mempercepat menuju apa yang kita inginkan, kolaborasi atau bekerjasama adalah suatu hal yang penting. Dalam melakukan kolaborasi, kita memerlukan partner yang tepat, berguru dan bergaul dengan kingpin (pengambil keputusan), dan aktif di komunitas.
Dengan passion, berarti kita memberi bukti. Selain itu juga berpeluang menjadi ibadah dan berpeluang besar dikenal sebagai ahli dibidang yang ditekuni.

Pembicara: Tatty Elmir (Pendiri FIM/ Direktur Eksekutif Djakarta Public Society/ Pengurus Asosiasi Selamatkan Anak Indonesia)
Materi: Youth & Social Problem

Sungguh miris melihat Indonesia yang moralitasnya masih bobrok. Betapa tidak, saat ini banyak gerakan ‘syahwat merdeka’. Dimana mesum ditempat umum sudah terbiasa, banyak wanita yang pakaian tapi telanjang, dll. Seks bebas dikalangan muda dan pemerkosaan sudah menjadi rahasia umum. Belum lagi media mesum semakin merebah, seperti video mesum, majalah atau tabloit mesum, dll. Itu masalah ‘syahwat’, belum lagi masalah yang lain. Narkoba, judi, maupun kasus kriminalitas yang lain.
Belum banyak yang sadar bahwa mereka adalah remaja yang hari esok dinanti untuk menggantikan kepemimpinan negeri. Maka dari itu, kita yang hadir disinilah yang akan menjadi kunag-kunag, lentera penerang di tengah masyarakat yang gelap. Kitalah yang harus melakukan dan menyerukan perbaikan itu semua.

Selesai…





Tidak ada komentar: