Senin, 24 Juni 2013

Untuk Indonesia Makmur

24 Juni 2013

Terinspirasi dari ceramah yang diberikan Ustadz Abu Haidzar, LC dalam pengajian rutin pekan ke-4 Majelis Dhuha Jember. Yang saya tangkap kala itu adalah, Indonesia akan makmur jika rakyatnya dapat menjaga sholat berjama’ahnya di Masjid. Ini untuk laki-laki. Yang perempuan boleh turut sholat berjamaah di masjid. Tapi lebih baiknya, perempuan sholat tepat waktu di rumah.

Beliau menyampaikan satu kisah saat beliau di Arab Saudi. Ketika dekat waktu sholat, semua aktifitas warga akan terhenti. Yang berkendaraan memarkir kendaraannya, yang punya toko segera ditutup, dan semua aktifitas yang ada dihentikan sejenak. Semua akan merapat ke satu tempat bernama Masjid. Mereka semua mempersiapkan diri guna mendengarkan adzan dan sholat berjamaah di Masjid.

Dan apa yang dilihat oleh beliau terlepas dari disiplin mereka melaksanakan sholat. Adalah sebuah realita bahwa kebanyakan warga Arab Saudi adalah mereka yang berkendara roda empat. Jarang dalam pendangan beliau orang yang berkendara roda dua.

Dibandingkan dengan Indonesia dengan kondisi tanah air yang amat subur. Bahkan ada anggapan bahwa tanah kita tanah surga. Tongkat yang ditanam pun dapat berbuah. Tak berlebihan jika ada seorang yang mengatakan demikian. Karena Indonesia memang tanah kaya dan subur. Coba lihat apa yang dipunyai Arab Saudi? Tanah gersang, lautannya lautan pasir, gunungnya gunung batu.

Jika dibandingkan juga, bagaimana tingkat kesejahteraan rakyatnya. Tentu kita sepakat bahwa Arab Saudi lebih sejahtera. Dari contoh yang disampaikan Ustadz Abu Haidzar, LC kebanyakan warganya menggunakan roda empat dalam berkendara. Coba tengok Indonesia. kebanyakan masih menggunakan roda dua dalam berkendaraan.

Kembali ke topik. Lantas apa hubungannya sholat berjamaah dengan tingkat kesejahteraan rakyat suatu negara? Dalam kedangkalan ilmu yang saya miliki, kemungkinan itu muncul karena dengan sholat berjamaah, otomatis kerekatan tali persaudaraan itu akan kuat. Dengan kuatnya tali persaudaraan itu, mereka akan saling memahami satu sama lain. Mereka akan saling mengisi satu dengan yang lain. Dan keberkahan pun akan lebih cepat diterima, karena sholatnya dilakukan secara bersama-sama.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153)

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al 'Ankabuut: 45)

Mungkin karena sholat tersebut dilakukan secara berjamaah sehingga pertolongnnya pun berjamaah. Juga perlindungannya pun berjamaah. Karena itulah kesejahteraan suatu negeri hadir. Insya Allah, dengan seluruh rakyat Indonesia yang muslim memunaikan sholatnya secara berjamaah di Masjid, akan terciptalah INDONESIA MAKMUR.
Wallahu a’lam bishawab.

Minggu, 23 Juni 2013

Resensi Buku: Jalan Cinta Para Pejuang

23 Juni 2013



Judul                : Jalan Cinta Para Pejuang
Penulis             : Salim A. Fillah
Penerbit          : Pro-U Media
Tahun              : Cetakan ke-7, Maret 2012

Melihat covernya yang menampakkan suatu negeri dan para penunggang kuda. Sudah dapat tergambar sebelum kita membacanya. Didalamnya pasti berbicara mengenai jihad para generasi pertama umat Islam. Adanya sebuah negeri juga nampaknya memperlihatkan akan kejayaannya dahulu. Kejayaan yang tentunya diperjuangkan dengan sangat berat dan penuh totalitas.
Dalam buku ini dibahasakan ‘langkah’ dari setiap bab yang akan dituliskan. Ada tiga langkah. Pertama, dari dulu beginilah cinta. Langkah pertama ini menerangkan bahwa bukan cinta pada seseorang yang akan dibahas didalam buku ini. Melainkan cinta akan yang maha cinta, Allah SWT. Dipaparkan juga pendapat-pendapat para filsuf yang itu berkaitan dengan cinta.
Langkah kedua mencoba untuk meluruskan yang bermakna cinta. Bagaimana mempertahankan cinta akan dien yang kita yakini. Masih memaparkan pendapat-pendapat para intelektual dunia dalam upanya membuka pola pandang kita tentang sebenarnya cinta. Juga terdapat perbandingan-perbandingan baik-buruk suatu kehidupan cinta.
Dan langkah ketiga barulah memasuki semakna cinta hakiki. Ada empat tapak dalam langkah ketiga. Penulis mencoba mengarahkan kita bahwa ‘beginilah sesungguhnya cinta’. Tapak pertama berbicara visi. Sebuah tugas dan tujuan besar mengantar pikiran pembaca untuk diterima dengan baik. Dimana tugas dan tujuan besar haruslah terpatri dalam diri setiap muslim.
Tapak kedua menggugah kita agar tetap dan terus berjuang menunjukkan cinta. Dituliskan ‘gairah’ di tapak kedua, agar gelora itu tetap ada dan terjaga. Kehidupan yang dinamis memang seringkali membuat kita harus selalu memperbaharui semangat juang.
Cinta yang sudah terpikirkan dan terdapat hentakan gairah akan kembali pada suara nurani. Di tapak ketiga kita diajarkan untuk mencintai dengan tulus. Karena itu, kita perlu bertanya pada hati sebagai kunci kebaikan atau keburukan kita. Dan ditapak terakhir, tapak keempat, kita disodorkan bahwa cinta membutuhkan kesetiaan.
Dari alur yang dituliskan dapat disimpulkan, penulis mencoba meluruskan persepsi cinta buta sehingga dapat melihat. Bahwa bukan cinta itu terpaku pada manusia. Cinta harus tetap dijalur ketaatan pada sang penentu takdir. Hingga kita menyadari, sebenarnya cinta adalah perjuangan tegakkan kalimat Allah.

Sabtu, 22 Juni 2013

Bagaimana Mungkin

22 Juni 2013
Bagaimana mungkin
Noda itu terhapus
Oleh satu kali bilasan

Bagaimana mungkin
Angin itu termaafkan
Oleh hilangnya ia
Setelah bangunan porak poranda

Bagaimana mungkin
Tanaman bebas hama
Oleh sekali basmian

Bagaimana mungkin
Zina mata terhapus
Oleh satu tangisan

Bagaimana mungkin
Kata terucap terampunkan
Oleh diamnya ia
Setelah banyak hati tersakiti

Bagaimana mungkin
Zina telinga terbebas
Oleh sekali menghindari kata buruk


Allah
Ampuni kami

yang Menentramkan itu Akhwat

22 Juni 2013

          Sya’ban. Katanya bulan pernikahan. Untuk menyempurnakan agama Allah. Karena menjadi pengantin baru dibulan ini tentu akan terasa indah. Masih jauh dari pertikaikan antarpasangan. Dengan itu akan menjadikan Ramadhan berlipat berkah. Mungkin itu yang menjadi alasan sebagian besar saudara-saudara kita melangsungkan pernikahannya dibulan Sya’ban. Ya, mungkin itu. Apa pun alasannya semoga diberkahi dengan niat yang baik pula.

Cukup menggelitik jika berbicara soal pernikahan. Terkadang mau, malu, minder, jaim, dan lain-lain perasaan didalamnya. Karena pernikahan melahirkan keluarga baru dilingkungan masyarakat. Karenanya dibutuhkan persiapan ini dan itu untuk melangsungkannya.

Tapi bukan soal pernikahan yang akan dibahas secara panjang lebar disini. Kami ingin lebih menekankan pembahasan dalam tulisan ini tentang ‘akhwat’. Butuh sedikit keberanian memang jika mengangkat satu tema tentang akhwat. Karena akan disangka begini dan begitu. Ah, abaikan sajalah dulu sangkaan itu. Kami yakin ikhwah akan selalu berprasangka baik. Karena ini menyangkut eksistensi gerak kader dakwah itu sendiri. Pikir kami sih begitu.

Bismillah. Ini nih yang menarik. Akhwat. Ternyata termuat juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Arti akhwat menurut KBBI adalah (bentuk jamak) saudara perempuan atau teman perempuan. Itu arti secara umum. Ada arti khususnya. Artian yang ditelurkan oleh aktivis dakwah. Menurutnya, perempuan/wanita tak sama artinya dengan akhwat.

Perempuan/wanita ialah yang berjenis kelamin perempuan/wanita dan dilihat dari sifat dan sikapnya tidak atau kurang taat beragama. Sedangkan akhwat ialah yang berkelamin perempuan/wanita yang sifat dan sikapnya mencerminkan taat beragama.

Perbedaan sederhananya adalah bisa dilihat dari cara berpakaian. Jika perempuan/wanita dalam berpakaian tidak/belum menutup aurat. Menutupnya pun tidak/kurang sempurna. Masih ketat, transparan, rambut masih kelihatan dan terlihat kulit kakinya misalnya. Sedangkan akhwat ialah yang sempurna menutup auratnya. Jilbabnya lebar hingga menutupi dada, pakaian longgar, kulit kaki terbungkus kaos kaki.

Karena para akhwat itu memahami betul firman Allah dalam Al-Qur’an, insya Allah. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31).

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Nah, dilihat dari yang tampak saja berbeda. Apalagi jika mau ditelisik lebih dalam mengenai sifat dan sikapnya. Tentu akan seindah tampaknya dalam berpakaian. Insya Allah.

Kami ingin sedikit saja menggambarkan tentang sifat dan sikap akhwat. Pertama, sepanjang yang kami ketahui, telapak tangan akhwat tak pernah disentuhkan pada telapak tangan seorang yang bukan mahramnya. Kedua, ada jam malam yang membatasi interaksi mereka dengan lawan jenis. Ini demi menghindari keburukan-keburukan yang akan terjadi. Ketiga, akhwat itu tangguh. Tidak cengeng dan manja akan rintangan yang menghadang. Mereka berusaha sebisa mungkin mandiri dalam menyelesaikan problem yang ada.

Semua akhwat akan menentramkan hati. Siapa pun yang akan menjadi pendamping hidup kita, selama seorang tersebut akhwat, tak usah khawatir akan kebahagiaan hidup kita. Karena ‘semua menentramkan’.

Sudah ada gambaran kan mengapa kami membedakan antara perempuan/wanita dengan akhwat? Semoga bermanfaat.

Terakhir, kami mengajak dan menghimbau kepada para muslimah, jadilah akhwat! Kau akan selamat! Insya Allah.
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)
(QS. An Nuur: 31) dan (QS. Al Ahzab: 59) adalah ketetapan Allah SWT. Maka amalkanlah! Tiada pilihan lain! Sekali lagi, wahai para muslimah, jadilah akhwat!

Wallahu a’lam bishshawaf

Rabu, 19 Juni 2013

Organisasi Sehat dan Ideal

19 Juni 2013

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), organisasi adalah kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu. Atau kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

Begitulah organisasi, dimana di sana terdapat kumpulan beberapa orang yang berhimpun menyatukan langkah gerak kedepan untk tujuan yang dikehendaki bersama. Dari sekumpulan orang tersebut, tentunya masing-masing orang mempunyai pikiran dan gagasannya pribadi. Oleh krena itu, hal mendasar yang harus dipunyai sebuah organisasi ialah tujuan dari organisasi itu sendiri. Tujuan dapat dijabarkan dalam visi dan misi. Dan tujuan tersebut akan masuk dalam kesepahaman bersama dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga atau yang akrab disebut AD-ART.

Didalam AD-ART tersebut diatur berbagai macam bentuk peraturan yang akan menjadi kesepakan bersama antaranggota. Sehingga dalam menjalankan aktifitasnya di organisasi tersebut, para anggota tetap terjaga pola geraknya. AD-ART mutlak dipunyai sebuah organisasi ideal.

Berbicara organisasi, tentulah harus ada satu orang yang berkemampuan untuk mengoordinir bermacam-macam orang yang ada didalamnya. Sehingga satu organisasi itu dapat berjalan sesuai dengan pola geraknya. Itulah yang kita kenal sebagai pemimpin.

Suatu organisasi akan berjalan selaras jika sang pemimpin mempunyai sifat dan sikap kepemimpinan dalam dirinya. Syarat adanya kepemimpinan dalam diri seorang pemimpin adalah mutlak dipunyai. Kepemimpinan itulah yang akan membawa bahtera organisasi berlayar menuju suatu tempat yang ingin dicapai.

Dalam hal sifat dan sikap kepemimpinan atau dapat kita katakan sebagai pilar kepemimpinan, setidaknya ada 7 (tujuh) yang harus dipunyai seorang pemimpin. Pertama, mengenal diri. Bagaimana seorang pemimpin tersebut dapat mengenali dirinya sendiri sehingga ia dapat membawa dirinya ke arah yang lebih baik dan dapat membawa organisasi yang dibawainya juga dapat dibawanya kearah yang baik. Kedua, berkarakter. Seorang pemimpin yang mempunyai karakter, secara kasat mata akan tampaklah kepemimpinannya. Karakter yang diharapkan adalah karakter yang sesuai dengan tuntutan agama, sehingga tidak menyalahi aturan yang ditetapkan Tuhan Yang Maha Esa.

Ketiga, cinta kasih. Seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat dan sikap cinta kasih kepada orang lain juga terhadap lingkungan disekitarnya. Dengan cinta kasih tersebut, pemimpin akan memberi dan melakukan sesuatu dengan ikhlas. Keempat, integrasi dan adil. Kemampuan dalam mengelola sumberdaya yang ada dengan mengedepankan prinsip keadialan akan membuat seorang pemimpin tersebut didamba oleh anggota yang dipimpinnya.

Kelima, keteladanan dan bersahaja. Pemimpin adalah seorang yang akan dituruti oleh pengikutnya karena adanya keteladanan dan kebersahajaan dalam dirinya. Karena keteladanan akan memberikan gambaran praktis yang akan dilakukan untuk kebaikan gerak suatu organisasi dan kebersahajaan adalah penguat jika suatu hal tersebut diinginkannya untuk dilakukan oleh yang lain. Keenam, totalitas. Segala pengorbanan dan pengabdian sepenuhnya dari seorang pemimpin pada sebuah organisasi yang dipimpinnya akan menjadikannya fokus memberikan kontribusi maksimal demi tercapainya tujuan adanya organisasi tersebut.

Dan terakhir, ketujuh, kolaborasi. Pemimpin harus bisa memadukan berbagai pola pikir yang dipunyai seseorang yang ikut dalam organisasi. Juga harus dapat memadukan kinerja pengikutnya sehingga terciptalah iklim organisasi yang sehat. Setelah semuanya padu, menjadikan arah gerak organisasi tersebut semakin jelas dan tjuan yang diimpikan pun akan semakin dekat.

Berbicara organisasi, tentu tak lepas dari pengelolaan atau lebih akrab dengan manajerial. Bagaimana mengurus segala administrasi yang dibutuhkan sebuah organisasi demi menunjang terselenggaranya arah gerak dari organisasi itu sendiri.

Fungsi manajerial akan sangat dibutuhkan mengingat kita berada dalam negara hukum yang sesuatunya harus terperinci pada hitam diatas putih. Itulah dasasr penyelenggaraan organisasi itu dijalankan. Semisal surat-menyurat, pengarsiapan dan dokumentasi kegiatan. Kesemuanya itu harus diperhatikan secara jeli agar organisasi tersebut dapat dikatakan sehat. Apalagi manajerial ini ditangani secara rapi dan profesional, maka akan menghasilkan keluaran organisasi yang ideal.

Selain dari itu semua di atas, terdapat satu hal lagi yang penting dilakukan sebuah organisasi demi terciptanya kesinambungan gerakan kedepan. Agar visi organisasi tersebut dapat sampai, yang notabene visi tersebut akan membutuhkan waktu lama, maka perlu adanya regenerari. Guna memberikan tongkat estafet suatu arah gerak.

Kaderisasi. Inilah satu fungsi utama yang akan menghantarkan organisasi terus-menerus menjalankan roda gerakannya sehingga tercapailah tujuan yang semula ingin dicapainya. Dengan melakukan pola kaderisasi yang apik, terstruktur dan berkesinambungan, organisasi akan semakin cerah kedepannya. Karena untuk mencapai tujuannya, masih tetap ada yang memperjuangkan dan mempertahankannya.

Jadi intinya, untuk menjadikan organisasi itu sehat dan ideal, terletak pada tulisan-tulisan tebal di atas. Jika kesemuanya bagus, maka lihatlah organisasi tersebut akan selalu berjaya.

Selasa, 18 Juni 2013

Catatan Liqo'

18 Juni 2013


10 Januari 2013 pukul 20.30 @Mr. Te (Novan Yudhistira)
·         Tema: amal dan ibadah
·         Amal terbaik adalah amalan yang ikhlas, bersih niatnya, dan dikerjakan dengan tuntunan yang benar
·         Ibadah = ta’at (ketundukan) + cinta

9 Februari 2013 (Novan Yudhistira)
·         Tema: Taqarrub Ilallah
·         Analogi keyakinan adanya Allah: misal penyakit Flu, kita tidak perlu melihat virusnya, tapi cukup melihat tanda-tandanya saja (panas, hidung meler, dll) kita tahu bahwa ada penyakit flu yang diderita.
·         Semakin berat tugas dakwah, semakin banyaklah qiyamul lail, dzikir, tilawah, dll. Intinya, wajib mendekatkan diri kepada Allah.
·         Jangan menjadi lemah oleh tantangan-tantangan dakwah, sungguh sebelum kita, amanah dakwah lebih berat.

19 Februari 2013 @Rumah P. Didik (Weni Kristanto)
·         Tema: Intima’ Jama’I (berafiliasi dengan jama’ah)
·         Intima’ Jama’I melebihi batasan-batasan formalitas
·         Ada 3 dimensi
1.       Aqidah: ada 3 poin penting, pertama intima’ terhadap risalah yang dijalani, yaitu dakwah. Kedua, aqidah yang lurus. Dan ketiga, pengerahan niat diri untuk kepentingan Islam. Jika kita intima’ terhadap dakwah, sesungguhnya kita intima’ kepada Allah;
2.       Pemikiran: harus terikat dengan fikrah Islam secara total dan secara prinsip.
3.       Struktural: menuntut orang yang ada didalamnya untuk tidak egois dan individualis.
·         Bila 3 dimensi tersebut berjalan baik, akan menjadi disiplin yang baik. Indikatornya adalah, jika ada tugas dakwah, maka dilaksanakan segera.

26 Februari 2013 @Islamic Centre Jember (Ustadz Khoirul Hadi)
·         Tema: Arkanul bai’ah (10 pilar dakwah)
1.       Al fahm: ada 20 prinsip Islam didalamnya
2.       Al ikhlas
3.       Amal: amal selalu menyertai keImanan. Amal, membentuk pribadi muslim sesuai 10 muwashafat. Kemudian membentuk usrah/ keluarga muslim. Kemudian membentuk masyarakat –pemerintahan- islami.
4.       Al jihad: paling rendah adalah mengingkari keburukan dengan hati, paling tinggi adalah perang.
5.       At tadhiyah (pengorbanan): apa yang harus dikorbankan? Segala sesuatu (harta, nyawa, waktu, dll). Karena jihad tanpa pengorbanan adalah tidak mungkin.
6.       At thoah: melaksanakan perintah dalam keadaan sulit maupun lapang, malas maupun semangat.
7.       Ats tsabat (tegar): tetaplah tegar dijalan dakwah, meski tahun demi tahun dilalui terasa begitu panjang dan melelahkan. QS. Al Ahzab: 23 “diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).
8.       At tajarrut (totalitas): membersihkan fikrah dari pengaruh-pengaruh dari figur-figur atau isme-isme. Kita akan dihadapkan pada 6 macam orang; muslim mujahid, muslim tidak aktif, muslim berdosa, kafir dzimmi (dilindungi), non blok, kafir yang memerangi.
9.       Al ukhuwwah: berpadu dalam ikatan aqidah, inilah ikatan paling kokoh. Cinta kasih terendah adalah lapang dada, yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan saudaranya).
10.   Tsiqah: puas kepada qiyadah dan memberi penghormatan kepadanya.

16 Maret 2103 (ustadz Neman)
·         Tema: Tajarrut (totalitas). Artinya lepas, bebas dari kesyirikan.
·         Contoh, salah satu bentuk totalitas pada Islam: kisah Bilal bin Rabbah, kisah Mus’ab bin Umair, kisah Ja’far.
·         Bila sudah bersyahadat, konsekwensinya adalah harus totalitas.
·         Untuk meraih totalitas, harus berkorban jiwa, waktu, harta.
·         Ciri orang beriman, salah satunya adalah tidak suka izin.
·         Apa yang kita ingin dari tajarrut?
1.       Fokus pada sistem islam, yaitu dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Yang lain dilepas
2.       Melepas kecenderungan selain agama Islam dan dakwah Islam
3.       Melepas kebanggaan selain Islam
4.       Melepas segala macam rintangan (lemah memahami agama), harus kuat memahami agama
5.       Melepas futur dan bermalas-malasan dan menunda-nunda sesuatu.

2 April 2013 @Islamic Centre Jember (dr. Supangat)
·         Tema: ihsan (merasa diawasi)
·         QS. Qaaf: 16 “dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”
·         Kalau diawasi, kita harusnya merasa risih dan berhati-hati. Ibarat kita diawasi dosen saat ujian, bagaimana rasanya?
·         Itqon (tertata urusan), akan dapat untung:
1.       Dapat cinta Allah
2.       Dapat pahala dari Allah
3.       Dapat pertolongan dari Allah
·         Tiada yang menghalangi kita untuk sukses jika kita dapat 3 untung di atas.
·         Minta tolonglah pada sesuatu yang tidak membutuhkan pertolongan. Jangan minta tolong pada sesuatu yang masih butuh pertolongan. Mintalah hanya pada Allah.
·         Berharap pada manusia akan mengecewakan, namun berharap pada Allah pasti tidak akan kecewa.

9 April 2013 @ma’had Ibnu Katsir (Novan Yudhistira)
·         Tema: futur (luntur, lemah)
·         Sebab-sebab futur:
1.       Berlebih-lebihan dalam agama. Sedikit amal tapi istiqomah adalah lebih utama dari pada banyak tidak istiqomah. Dahulukan/ prioritaskan yang wajib dari pada yang sunnuah.
2.       Melampaui batas dalam hal yang mubah
3.       Suka menyendiri dan meninggalkan jama’ah
4.       Sedikit mengingat mati dan kampung akhirat
5.       Seenaknya melakukan amalan sehari-hari
6.       Kemasukan barang haram/ subhat
7.       Lupa sunnatullah, alam dan kehidupan. Pengennya instan.
8.       Tidak memerhatikan hak badan
9.       Berteman dengan orang yang rendah kemauan dan cita-cita
10.   Serabutan dalam melakukan sesuatu
11.   Menganggap sepele kesalahan yang kecil. Misalnya bohong, maka akan menimbulkan bohong-bohong yang lain.

19 April 2013 @rumah mas novan yudhistira (ustadz hari setiawan)
·         Tema: nikmatnya iman
·         Kisah Abdullah bin Mas’ud
·         3 sifat mancapai nikmatnya iman:
1.       Mencintai Allah dan RasulNya melebihi segalanya
2.       Mencintai seseorang karena Allah
3.       Enggan kembali menjadi kafir setelah mendapat hidayah seperti enggan dimasukkan dalam api neraka.
·         QS. Al Anbiyaa’: 90 “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami”. Segerakanlah dalam mengerjakan kebaikan, jangan hanya mengerjakannya, tapi segerakan!
·         Al Israa’: 79 “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. Tahajjud adalah sunnah mu’akad, berusahalah mengerjakannya!
·         Kisah khalid bin walid pada perang yarmuk
·         Ripiyuna katsir: gak pernah takut, gak pernah menyerah, dan gak pernah lemah.
·         Jika cinta, gak akan memberikan waktu sisa. Berusahalah shalat berjamaah tepat waktu!

23 Mei 2013 @rumah mas Novan Yudhistira (Novan Yudhistira)
·         Tema: memecahkan masalah
·         Rubah cara berpikir untuk pecahkan masalah. Semua dapat terselesaikan.
·         Jangan mau kalah dengan tikus. Tikus itu cerdik, selalu cari jalan dan cara untuk tuju sasaran.
·         Bukan kesulitan yang besar, kapasitas diri kitalah yang masih kerdil
·         Cara paling efektif memengaruhi orang adalah memberi tauladan.

13 Juni 2013 @rumah mas Novan Yudhistira (Novan Yudhistira)
·         Tema: dakwah pasca kampus
·         Dimanapun karier kita nanti, kita harus tetap membawa misi dakwah
·         Jika cita kita jelas, Allah akan semakin mudah memberi yang kita inginkan. Sama halnya dengan ketika kita minta uang ke orang tua kita, pasti orang tua kita bertanya “untuk apa?”, jika tujuannya jelas, maka akan semakin percaya memberikan uang tersebut, beda kalau masih belum jelas, pasti akan ragu juga untuk memberi.
·         Ada 3 sektor profesi:
1.       Publik: PNS, eksekutif, legislatif, yudikatif, dll
2.       Privat: pengusaha, trainer, profesional, dll
3.       Lembaga sosial: lembaga amil zakat, dll