Minggu, 23 Juni 2013

Resensi Buku: Jalan Cinta Para Pejuang

23 Juni 2013



Judul                : Jalan Cinta Para Pejuang
Penulis             : Salim A. Fillah
Penerbit          : Pro-U Media
Tahun              : Cetakan ke-7, Maret 2012

Melihat covernya yang menampakkan suatu negeri dan para penunggang kuda. Sudah dapat tergambar sebelum kita membacanya. Didalamnya pasti berbicara mengenai jihad para generasi pertama umat Islam. Adanya sebuah negeri juga nampaknya memperlihatkan akan kejayaannya dahulu. Kejayaan yang tentunya diperjuangkan dengan sangat berat dan penuh totalitas.
Dalam buku ini dibahasakan ‘langkah’ dari setiap bab yang akan dituliskan. Ada tiga langkah. Pertama, dari dulu beginilah cinta. Langkah pertama ini menerangkan bahwa bukan cinta pada seseorang yang akan dibahas didalam buku ini. Melainkan cinta akan yang maha cinta, Allah SWT. Dipaparkan juga pendapat-pendapat para filsuf yang itu berkaitan dengan cinta.
Langkah kedua mencoba untuk meluruskan yang bermakna cinta. Bagaimana mempertahankan cinta akan dien yang kita yakini. Masih memaparkan pendapat-pendapat para intelektual dunia dalam upanya membuka pola pandang kita tentang sebenarnya cinta. Juga terdapat perbandingan-perbandingan baik-buruk suatu kehidupan cinta.
Dan langkah ketiga barulah memasuki semakna cinta hakiki. Ada empat tapak dalam langkah ketiga. Penulis mencoba mengarahkan kita bahwa ‘beginilah sesungguhnya cinta’. Tapak pertama berbicara visi. Sebuah tugas dan tujuan besar mengantar pikiran pembaca untuk diterima dengan baik. Dimana tugas dan tujuan besar haruslah terpatri dalam diri setiap muslim.
Tapak kedua menggugah kita agar tetap dan terus berjuang menunjukkan cinta. Dituliskan ‘gairah’ di tapak kedua, agar gelora itu tetap ada dan terjaga. Kehidupan yang dinamis memang seringkali membuat kita harus selalu memperbaharui semangat juang.
Cinta yang sudah terpikirkan dan terdapat hentakan gairah akan kembali pada suara nurani. Di tapak ketiga kita diajarkan untuk mencintai dengan tulus. Karena itu, kita perlu bertanya pada hati sebagai kunci kebaikan atau keburukan kita. Dan ditapak terakhir, tapak keempat, kita disodorkan bahwa cinta membutuhkan kesetiaan.
Dari alur yang dituliskan dapat disimpulkan, penulis mencoba meluruskan persepsi cinta buta sehingga dapat melihat. Bahwa bukan cinta itu terpaku pada manusia. Cinta harus tetap dijalur ketaatan pada sang penentu takdir. Hingga kita menyadari, sebenarnya cinta adalah perjuangan tegakkan kalimat Allah.