Sabtu, 22 Juni 2013

yang Menentramkan itu Akhwat

22 Juni 2013

          Sya’ban. Katanya bulan pernikahan. Untuk menyempurnakan agama Allah. Karena menjadi pengantin baru dibulan ini tentu akan terasa indah. Masih jauh dari pertikaikan antarpasangan. Dengan itu akan menjadikan Ramadhan berlipat berkah. Mungkin itu yang menjadi alasan sebagian besar saudara-saudara kita melangsungkan pernikahannya dibulan Sya’ban. Ya, mungkin itu. Apa pun alasannya semoga diberkahi dengan niat yang baik pula.

Cukup menggelitik jika berbicara soal pernikahan. Terkadang mau, malu, minder, jaim, dan lain-lain perasaan didalamnya. Karena pernikahan melahirkan keluarga baru dilingkungan masyarakat. Karenanya dibutuhkan persiapan ini dan itu untuk melangsungkannya.

Tapi bukan soal pernikahan yang akan dibahas secara panjang lebar disini. Kami ingin lebih menekankan pembahasan dalam tulisan ini tentang ‘akhwat’. Butuh sedikit keberanian memang jika mengangkat satu tema tentang akhwat. Karena akan disangka begini dan begitu. Ah, abaikan sajalah dulu sangkaan itu. Kami yakin ikhwah akan selalu berprasangka baik. Karena ini menyangkut eksistensi gerak kader dakwah itu sendiri. Pikir kami sih begitu.

Bismillah. Ini nih yang menarik. Akhwat. Ternyata termuat juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Arti akhwat menurut KBBI adalah (bentuk jamak) saudara perempuan atau teman perempuan. Itu arti secara umum. Ada arti khususnya. Artian yang ditelurkan oleh aktivis dakwah. Menurutnya, perempuan/wanita tak sama artinya dengan akhwat.

Perempuan/wanita ialah yang berjenis kelamin perempuan/wanita dan dilihat dari sifat dan sikapnya tidak atau kurang taat beragama. Sedangkan akhwat ialah yang berkelamin perempuan/wanita yang sifat dan sikapnya mencerminkan taat beragama.

Perbedaan sederhananya adalah bisa dilihat dari cara berpakaian. Jika perempuan/wanita dalam berpakaian tidak/belum menutup aurat. Menutupnya pun tidak/kurang sempurna. Masih ketat, transparan, rambut masih kelihatan dan terlihat kulit kakinya misalnya. Sedangkan akhwat ialah yang sempurna menutup auratnya. Jilbabnya lebar hingga menutupi dada, pakaian longgar, kulit kaki terbungkus kaos kaki.

Karena para akhwat itu memahami betul firman Allah dalam Al-Qur’an, insya Allah. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31).

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Nah, dilihat dari yang tampak saja berbeda. Apalagi jika mau ditelisik lebih dalam mengenai sifat dan sikapnya. Tentu akan seindah tampaknya dalam berpakaian. Insya Allah.

Kami ingin sedikit saja menggambarkan tentang sifat dan sikap akhwat. Pertama, sepanjang yang kami ketahui, telapak tangan akhwat tak pernah disentuhkan pada telapak tangan seorang yang bukan mahramnya. Kedua, ada jam malam yang membatasi interaksi mereka dengan lawan jenis. Ini demi menghindari keburukan-keburukan yang akan terjadi. Ketiga, akhwat itu tangguh. Tidak cengeng dan manja akan rintangan yang menghadang. Mereka berusaha sebisa mungkin mandiri dalam menyelesaikan problem yang ada.

Semua akhwat akan menentramkan hati. Siapa pun yang akan menjadi pendamping hidup kita, selama seorang tersebut akhwat, tak usah khawatir akan kebahagiaan hidup kita. Karena ‘semua menentramkan’.

Sudah ada gambaran kan mengapa kami membedakan antara perempuan/wanita dengan akhwat? Semoga bermanfaat.

Terakhir, kami mengajak dan menghimbau kepada para muslimah, jadilah akhwat! Kau akan selamat! Insya Allah.
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)
(QS. An Nuur: 31) dan (QS. Al Ahzab: 59) adalah ketetapan Allah SWT. Maka amalkanlah! Tiada pilihan lain! Sekali lagi, wahai para muslimah, jadilah akhwat!

Wallahu a’lam bishshawaf

Tidak ada komentar: