Sabtu, 14 September 2013

Berdakwahlah Semampumu

14 September 2013

Karena dakwah itu wajib!

Dakwah bisa menjadi fardhu ‘ain apabila di suatu tempat tidak ada orang yang melakukannya. Demikian juga dengan dengan amar makruf dan nahi mungkar bisa menjadi fardhu ‘ain, bisa juga fardhu kifayah. Ketika jumlah para da’i masih sedikit, sementara kemungkaran demikian banyak dan kebodohan  merajalela seperti keadaan kita saat ini, maka dakwah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap orang, sesuai dengan kemampannya. Ia bisa juga menjadi fardhu ‘ain bagi orang-orang tertentu, dan sunah bagi orang-orang lainnya, karena di tempat mereka sudah ada orang yang melakukan tugas tersebut secara memadai.

Jika demikian, maka dakwah di masa kita sekarang ini menjadi kewajiban syar’i bagi setiap muslim dan muslimah, baik muda maupun tua. Mereka semua wajib menyampaikan apa yang diketahui meskipun hanya satu ayat. Allah SWT. berfirman,
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan wanita, sebagian mereka (adalah) menjadi penoling bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, mennaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. At Taubah: 71).
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang dari berbuat yang makruf.” (QS. At Taubah: 67).

Imam Al Qurtubi menyatakan di dalam tafsirnya, “Allah telah menjadikan amar makruf dan nahi mungkar sebagai pembeda antara orang mukmin dan munafik. Dengan demikian, hal itu menunjukkan bahwa di antara ciri-ciri yang paling istimewa dari orang-orang yang beriman adalah amar makruf nahi mungkar.”

Islam tidak akan muncul dan tersebar kecuali dengan dakwah dan tabligh. Ada juga sebuah kaidah: “sesuatu yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib”. Contohnya shalat. Shalat tidak sempurna jika belum bersuci terlebih dahulu dengan wudhu. Maka wudhu hukumnya menjadi wajib. Oleh karena itu, dakwah juga menjadi wajib untuk tegaknya Islam.

Maka berdakwalah

Dari Nu’man bin Basyir r.a., dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda, “Perumpamaan orang yang tegak di atas ajaran Allah dan yang meninggalkannya, seperti orang-oarang yang berdesakan di atas kapal. Sebagian berada di atas dan sebagian yang lain berada di bawah. Orang-orang yang ada di bawah, apabila mengambil air harus melewati orang-orang yang ada di atasnya. Maka mereka berkata, ‘bagaimana jika kita lubangi saja bagian yang di bawah kita ini, sehingga tidak usah mengganggu yang di atas?’ jika orang-orang yang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan niscaya tenggelamlah semuanya. Tetapi jika mencegahnya, selamatlah mereka dan selamatlah semuanya.” (HR. Bukhari).

Cegahlah orang-orang yang ingin melubangi agama ini. Tidak cukupkah kabar gembira dari Rasulullah SAW. untukmu yang disebutkan di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai merikut:
Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, ia berhak memikul dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tidak mengirangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW. pernah bersabda kepada Ali r.a.,
Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada seseorang karenamu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. Bukhari-Muslim).

Ini semua merupakan nikmat yang besar, kedudukan yang mulia, dan kebaikan yang merata, karena engkau telah diciptakan untuk kebaikan, dan kebaikan itu diciptakan untukmu, dan Allah telah menakdirkan kebaikan itu ada di tanganmu. Adalah keberuntungan bagimu karena engkau mendengar Rasulullah SAW. bersabda,
sesungguhnya Allah, malaikatNya, serta penduduk langit dan bumi, hingga semut yang ada di dalam lubangnya, dan ikan-ikan yang ada di laut, (semuanya) berselawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
Sumber: Aziz, Jum’ah Amin Abdul, Fiqih Dakwah, Surakarta: Era Adicitra Intermedia, 2011, Cet. VII.

Tidak ada komentar: