Selasa, 22 Oktober 2013

Tersenyum di Atas Pundak

22 Oktober 2013

Sesuai dengan tradisi dari unit kerohanian Islam, pasti di sana ada yang namanya mentoring. Dua tahun aktif di sana, tiba waktunya aku juga harus membina. Artinya aku akan diberi kelompok mentoring, dan aku sebagai pementornya. Jika ditanya kesiapan, aku bisa saja menjawab belum siap. Tetapi tuntutan pengkaderan akan selalu “memaksa” untuk siap dibina dan membina.

Pengetahuan keIslaman yang pas-pasan, bukanlah penghalang untuk dapat mengelola kelompok mentoring. justru dengan menjadi pementor, maka aku nantinya harus banyak belajar, terutama pengengetahuan keIslaman itu sendiri. Karena ada pendapat “kalau kita mengajar, maka kita pun turut belajar”.

Aku belum tahu, bisakah aku menjadikan binaan-binaanku menjadi orang-orang yang paham akan Islam dan menjadikan mereka turut berjuang menegakkan kalimat Allah SWT. yang bisa aku lakukan adalah berusaha untuk itu, lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan lebih merendahkan hati. karena yang harus dipercayai adalah, “Allah akan menolong orang yang menolong agamaNya, dan sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. Dan dengan rendah hati, insya Allah binaanku akan bisa tersentuh hatinya dengan apa-apa yang aku sampaikan, hingga Allah memberi hidayahNya kepadaku dan binaanku.

Pada waktunya, proses itu pun aku mulai hingga saat ini, alhamdulillah. Dengan menjadi pementor, aku menjadi tahu dinamika dalam kelompok mentoring itu seperti apa, bagaimana solusi pemecahan masalahnya, dan seterusnya. Dalam mengelola kelompok mentoring inilah insya Allah ada berkah. Karena yang dicari disini adalah ridhaNya.

Kebahagiaan pun muncul dalam mengelola mentoring. di dalamnya ada prinsip besar, “bersyukur bila diberi nikmat dan bersabar bila diberi ujian.” Seperti disebutkan di atas, pasti ada dinamisasi dalam mengelola kelompok mentoring. terkadang banyak yang hadir dan mengasyikkan dalam majelis, ini salah satu nikmatnya. Juga kadang sedikit yang hadir dan rasanya membosankan, dan inilah ujian. Meski terdapat dinamisasi, aku harus bahagia mengelola mentoring, karena aku sudah mengetahui prinsip syukur dan sabar.

Belakangan aku sempat memikirkan, apa yang ku lakukan saat ini, akan membawa kebahagiaan yang lebih besar. Hari itu entah apa yang membuatku termotivasi untuk tidak tidur semalaman. Aku mendesain pamflet hingga dini hari. Padahal acaranya dilaksanakan malam hari itu juga. Tapi aku merasa enjoy saja melakukannya. Hingga tak terasa adzan subuh berkumandang. Aku pun bergegas pergi ke masjid. Dan sepulangnya dari masjid, aku rebahkan tubuhku di atas kasur.

Di atas kasur itulah aku membayangkan, sambil menutup mata yang serasa pedas dan panas, “sebenarnya apa yang aku cari dalam jalan dakwah ini? Aku tidak digaji disini, insya Allah, Allah lah yang memberi gaji, berupa pahala dan ridhaNya, aamiin.” Terus aku juga membayangkan aku terbujur kaku tak bernyawa lagi, dan aku tersenyum di atas keranda yang mengantarkanku ke liang lahat. Dan yang mengusung keranda itu adalah binaan-binaanku. Sungguh indahnya hidup jika dinikmati.

Itulah mungkin sedikit impian sederhanaku dalam mengemban dakwah ini. Semoga Engkau, Ya Allah, selalu membimbingku ke jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai. Hingga sampailah aku pada gerbang akhirat dengan senyuman. Dan kelak bertemu dengan Engkau di Jannah yang Engkau janjikan. Aamiin. 

Selasa, 01 Oktober 2013

ADK Itu Punya Etos Kerja Tinggi (Harusnya)

1 Oktober 2013

Jum’at sore, aku masih berada di kampus. Waktu selesai kuliah aku manfaatkan untuk berbincang dengan kawan-kawan. Ditengah perbincanganku bersama kawan-kawanku, telepon genggamku bergetar, ada telepon dari murabbi.
Bergegas aku angkat telepon itu. “Assalamu’alaikum. Akhy, bisa datang liqo’ sekarang?” tanya murabbi.
“Wa’alaikumsalam. Afwan Ustadz, Orang tuaku mau datang ke sini. Kemarin juga sudah ijin mas Hemi untuk absen.” Jawabku.
“Ow gitu. Jam berapa datang?”
“Ini sudah sampai di Tanggul, mungkin setengah jam lagi sudah sampai.”
“emm, gini aja akhy, kamu saya beri penugasan. Penugasannya silaturrahim ke rumah salah satu ustadz. Ntar saya kasih nomor HP Ustadz yang saya rekomendasikan.” Terang Murabbi.
“Oke Ustadz, insya Allah.”
“Ya sudah. Gitu aja yah.”
“Iya Ustadz, Afwan.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
HP aku taruh kembali ke dalam saku. Sejenak aku lanjutkan perbincanganku bersama kawan-kawan. Tak lama, aku pun pamit pulang terlebih dahulu.
Esok harinya, pasca telepon penugasan itu aku dapat, Murabbiku SMS. “Tolong kamu silaturrahim ke Ustadz Bagus. Ini nomornya 085xxxxxxxx. Usahakan sebelum hari rabu sudah kelar yah.” Dan aku jawab dengan SMS, “Iya Ustadz, insya Allah.”
Berbagai pikiran liar melayang-layang. Ada berbagai pertanyaan, kenapa aku ditugasi untuk silaturrahim. Ke Ustadz Bagus lagi. Namanya sama denganku. Mungkin Murabbi mengetes kasigabanku dalam menjalankan amanah. Mungkin juga ingin menetes pola komunikasiku. Sampai pada kesimpulan yang aku buat sendiri. Pasti beliau ingin mengetes pola komunikasiku, itu alasannya aku disuruh silaturrahim kepada orang yang namanya sama denganku.
Kalau aku SMS ustadz Bagus, mungkin Murabbiku minta SMS itu diteruskan kepadanya. Untuk mengetahui pola komunikasiku. Ah, aku telepon sajalah, biar gak ketahuan pola komunikasiku. Opsi itu aku pilih seketika. Namun melihat keuangan yang mulai menipis, terpaksa aku memakai SMS untuk berkomunikasi dengan Ustadz Bagus.
Ahad malam aku baru menghubungi Ustadz Bagus. Aku agak bingung mau memulai dengan kalimat apa. Ah, biasa ajalah, akhirnya aku ketik, “Asslamu’alaikum, Ustadz. Afwan mengganggu waktunya. Saya Bagus dari UNEJ. Ini ada penugasan liqo’ untuk silaturrahim ke Ustadz. Bagaimana Ustadz?”
Tidak ada balasan. Hingga siang esok harinya beliau menjawab, “Wa’alaikumsalam, bisa nanti malam jam 8an.” Aku balas, “dimana Ustadz?” beliau singkat menjawab, “dirumah saya.” Tak panjang kata juga aku jawab, “oke Ustadz, insya Allah.”
Aku tahu daerah rumahnya. Tapi aku tidak tahu persisnya rumah beliau yang mana. Akhirnya aku SMS lagi, “Afwan Ustadz, Rumahnya nomor berapa?” dua kali aku kirim tidak ada balasan. Ya sudahlah. Aku tanyakan ke temen-temen saja.
Siang itu, senin, jeda kuliah aku bergegas menuju mushalla untuk shalat dzuhur. Di mushalla, aku bertemu teman tetangga fakultas. Langsung saja aku datangi, “Assalamu’alaikum. Gimana kabarnya?”
“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah baik.”
“Sudah Shalat?”
“Belum, ini mau shalat juga.”
“Bareng yah.”
“Oke.”
Sambil nunggu anak-anak lain untuk shalat bareng, aku tanya dia, “Tau rumahnya Ustadz Bagus?”
“Ustadz Bagus yang mana?”
“Itu yang dosen di UnMuh, katanya rumahnya deket tempat tinggalmu?”
“Emm, gak tau aku.”
“ow, ya udah, ayo shalat.” Ajakku ketika sudah ada beberapa anak yang juga mau shalat dzuhur.
Selesai shalat aku pamit. Aku ada kuliah lagi sampai sore. Sepulang kuliah, aku tanyakan kepada kakak di kosan. “mas, rumah pak Bagus itu yang nomor berapa?”
“kalo nomornya gak tau. Tapi kalo jalannya tau.”
“Dimana?”
“Ada pemandian, kan ada jalan masuk, sebelum itu ada jalan kecil ke kiri. Belok kiri aja. Rumahnya disekitar situ.” Jelas kakakku.
“Tepatnya rumah yang ke berapa?”
“Waduh itu yang lupa.”
“emm, ya udah kalo gitu.”
Terpaksa aku harus tanya-tanya orang nanti.
Setelah shalat isya’ aku sudah siap untuk berkunjung ke rumah Ustadz Bagus. sekitar jam 8 aku berangkat. Setibanya di sekitar lingkungan perumahan tempat tinggal beliau, aku tanya ke orang sekitar. Akhirnya aku dapati rumah beliau dan aku pun bertamu seperti biasanya.
Aku ketok pintu rumah itu. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Jawab orang dalam rumah. Orang yang berperawakan santun itu membukakan pintu dan menyuruhku masuk.
Obrolan pun saya mulai, “Sehat Ustadz?” pertanyaan yang acap kali aku tanyakan setiap ketemu seseorang.
“Alhamdulillah baik. Kamu?
“Alhamdulillah baik juga Ustadz.”
Tidak tahu mau ngobrol apa, karena memang aku tidak menyiapkan topik khusus sebagai bahan obrolan. Sejenak hening, beliau memulai lagi obrolan kita, “ini ada penugasan dari Murabbi ya?”
“Iya Ustadz” sambil nyengir aku jawab sngkat.
“ya, mungkin maksud Murabbimu menyuruh silaturrahim ke sini karena saya sekarang di struktur di amanahi untuk mengelola kaderisasi. Nanti saya juga ingin tanya-tanya terkait perkembangan kaderisasi kampus. Kamu kan di kaderisasi juga toh?”
“Emm, iya Ustadz.”
“Gimana, kaderisasi di kampusmu?”
“Alhamdulillah, insya Allah lancar.”
“Gak ada kendala?”
“Ya ada sebenarnya, kendalanya kita kurang konsolidasi antarUKKI. Sehingga monitoring liqo’ juga kurang. Terus yang saya rasakan temen-temen masih kurang untuk kapasitas Tsaqafahnya Ustadz.”
“Iya, memang komunikasi itu penting sekali akhy. Cobalah, komunikasinya itu diperbaiki. Untuk masalah Tsaqafah juga harusnya kita memperkuat itu. Karena datangnya pertolongan Allah itu ya dari pemahaman kita terhadap amal-amal kita. Jadi sarana-sarana seperti tatsqif itu penting untuk di rutinkan.”
“Gini Ustadz, kita sebenarnya sudah merancang adanya Madrasah Intensif (MI). Dan itu sama konsepnya dengan tatsqif, namun yang membedakan adalah sasaran. Kalau MI kita konsep untuk semua kader, tanpa penjaringan. Karena sebenarnya materi-materi tatsqif juga materi yang bersifat dasar.”
“emm, ya bagus juga. Jadi untuk menambah tsaqafah memang harus seperti itu. Ya sudah tinggal dijalankan saja berarti.”
“insya Allah Ustadz,”
“Silakan diminum.” Kata beliau sambil menyodorkan air mineral.
“Iya”
“terus gini akhy, saya dengar kader-kader pada banyak yang terserang virus cinta. Apa itu benar?” tanya beliau.
“emm, gimana ya, mungkin kalau cinta sampai melanggar batasan syar’I tidak Ustadz. Kan memang tag line cinta itu sedang merebak dikalangan ADK, tapi insya Allah tidak sampai berlebihan.”
“karena gini akhy, saya amati itu sampai pada terserang VMJ. Apa saya yang kurang tau kondisi sebenarnya, atau seperti apa?”
Kembali, pertanyaan yang membuat aku bingung menjelaskannya. “ya, itu tadi Ustadz, insya Allah tidak sampai terkena VMJ.”
“ya sudah, saya Cuma khawatir kalau ADK terjangkit VMJ kan juga gak baik. Tapi memang gak ada ya?”
“emm, gimana yah, susah jelasinnya Ustadz, ya memang ada beberapa yang saya lihat, meski tak melanggar batas syar’I terlalu berat, semisal SMS Ikhwan-Akhwat yang, ya semacam ada ketertarikan gitu.”
“nah, itu dia, saya kan khawatirnya itu malah menjadi VMJ. Karena susah akhy, untuk memutus itu. Terus gimana cara kamu untuk memperbaiki itu?”
“ya, kalau saya sih biasanya memperingatkan. Terus mungkin kalu saya ya, SMS sesuai kebutuhan, atau agak dikakukan.”
“emm, iya-iya, memang perlu diperingatkan saudara-saudara kita yang begitu itu. Kamu kan juga tidak menutup kemungkinan juga bisa seperti itu kan?”
Aku tersenyum kecil, “semoga tidak aja Ustadz.”
Meregangkan otot leher, beliau dan aku pun minum sejenak, disambung dengan helaan nafas beberapa kali.
Giliran aku membuka obrolan kembali. Waktu sudah menunjukkan lewat dari jam 9 malam. “emm, Ustadz. Sebenarnya… saya ingin lanjut study ke Jepang.” Aku tak menyangka kata itu dengan berani, meski sempat tersendat, akhirnya keluar dari lisanku.
“bagus itu akhy. Kamu bisa itu. Saya senang ada ikhwah yang punya impian tinggi seperti ini.”
Aku hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.
Beliau meneruskan pembicaraannya, “jadi akhy, etos kerja yang kita miliki itu seharusnya melebihi orang-orang kebanyakan. Kita lebih berhak memilikinya daripada orang lain. Saya taun lalu menyelesaikan S2. Waktu itu saya mendapat pembimbing yang dimata temen2 saya, bahkan senior2 saya, itu biasa disebut killer. Siapa yang bertemu dengan dosen tersebut, pasti lulusnya molor, ada yang 3 tahun ada yang 4 tahun. Tapi meski begitu tetep saja saya tekuni. Bahkan amanah ngajar saya tidak saya tinggalkan. Saya sering PP Surabaya-Jember. Amanah mengelola liqo’ tidak saya tinggalkan. Semua menjadi rutinitas saya, antara S2, ngajar dan membina. Alhamdulillah dengan ketekunan itu saya bisa lulus tepat, 2 tahun.”
Aku Cuma bisa menyimak dan mengangguk angguk.
Beliau meneruskan, “ada temen saya, maunya fokus kuliah S2. Semua amanah ia tinggalkan, termasuk ngajar. Dia gak mau tersibukkan dengan pekerjaannya. Tapi nyatanya dia lulus 4 tahun, sedang saya meski dibimbing dosen killer bisa lulus Cuma 2 tahun. Artinya apa, etos kerja kita itu dituntut tinggi. Kita tekuni saja yang bisa kita kerjakan.”
“emm, iya Ustadz.”
“saya sebenernya yang paling tidak sepakat kalau ada ADK yang mengulur2 wisudanya dengan alasan Dakwah. Kita itu punya etos kerja yang tinggi harusnya. Jadi gaka ada alasan telat lulus gara-gara mikirin dakwah. Apalagi sampai mutus kuliah.”
Waktu sudah lewat jam setengah sepuluh. “terakhir Ustadz, karena sudah malam juga, apa yang harus saya lakukan untuk bisa meraih impian?”
“kalu saya Cuma berpesan, jaga interaksi dengan Allah, pertama. Kedua, lakukan hal kecil yang bisa kita lakukan dan itu istiqamah. Terus yang ketiga, jaga niat dan selau berdo’a.”
“oke Ustadz, terimakasih sudah banyak nasihatnya. Saya pamit dulu.”
Setelah berjabat tangan, aku ucapkan salam, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Kunjungan hari itu pun aku sudahi lewat dari jam setengah sepuluh malam. Banyak hal yang aku temui dari silaturrahim tersebut. alhamdulillah. semoga kita bisa selalu memiliki gairah untuk memiliki etos kerja yang tinggi. aamiiin.