Selasa, 26 November 2013

Konsep Ekonomi Islam

26 November 2013

         Alhamdulillahirabbil ‘alamin, pertama saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menjadikan bangun waktu subuh saya tadi terasa ringan walau baru tidur sekitar jam setengah 12 malam dan baru datang juga dari Bogor. Dan shalawat serta salam semoga terlimpah ruahkan kepada junjungan Rasulullah SAW, keluarga, shahabat, serta penerus risalahnya hingga akhir zaman.

Ba’da shalat shubuh, setiap selasa di Masjid Al Falah Patrang rutin diadakan kajian tafsir Al Qur’an oleh Ust. Khoirul Hadi. 26 November 2013 kajiannya sampai pada QS. Al Baqarah ayat 261. “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Ayat ini, QS. Al Baqarah ayat 261-274, berisi tentang konsep ekonomi Islam. Dan ayat selanjutnya berbicara tentang riba. Konsep ekonomi Islam menitikberatkan pada Infak/sedekah. Konsep inilah yang menjadikan masyarakat Islam pernah berjaya dari segi ekonomi. Terdapat baitul maal, yang merupakan kumpulan/tumpukan harta benda dari hasil infak, sedekah, maupun zakat dari masyarakat. Dari baitul maal inilah pemerintah dapat memakmurkan masyarakatnya. Puncaknya ketika kekhalifahan Umar bin Abdul Azis yang sampai-sampai tak ada seorang pun yang mau menerima bantuan dari baitul maal ini.

Konsep ekonomi Islam ini telah terbukti kejayaannya dalam memakmurkan masyarakat, namun mengapa sekarang tidak mau melirik konsep tersebut? Kini justru banyak diterapkan konsep ekonomi kapitalis dan riba.

Terkait infak itu sendiri, kembali pada QS. Al Baqarah ayat 261, bahwa Allah akan melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang berinfak di jalanNya sebesar 700 kali lipat. Secara sederhana, jika kita berinfak Rp 1.000 maka Allah akan menggantinya dengan Rp 700.000. ini untuk memberi pelajaran bagi yang berinfak akan kebenaran kandungan ayat ini. Namun tak semua balasan itu didapat didunia dan berupa uang atau harta. Mungkin juga balasan tersebut adalah berupa selamatnya orang yang berinfak dari kecelakaan, atau kesembuhan dari penyakit, dan lain sebagainya.

Ada kisah nyata dari jamaah pengajian rutin ahad pagi setiap pekan ke-4 di pusat penelitian kopi dan kakao, Majelis Dhuha. Ibu-ibu dari muslimat NU ini pernah menginfakkan semua uangnya yang ia bawa setelah ia menyisihkan sebagiannya hanya untuk ongkos naik becak. Beliau tidak menghitung berapa uang yang dimasukkan dalam kotak infak. Sambil menutup mata, ibu tersebut memasukkan uang tersebut ke dalam kotak infak disertai dengan niatan yang tulus karena Allah. Ia tak tahu bagaimana bisa membiayai kebutuhan hari itu, ia serahkan balasannya dari Allah SWT. Tak lama setelah usai pengajian, ibu itu dikejutkan dengan lakunya tanah orang yang coba ia jualkan, singkat cerita beliau mendapat bagian sebesar 10 juta rupiah dari hasil penjualan tanah tersebut. Bagitulah Allah membalas amalan dari jalan yang tak diduga.

Demikian sedikit kajian yang semoga dapat bermanfaat bagi kita sekalian. Kurang-lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Allahu a’lam bish shawab.

Tidak ada komentar: