Senin, 11 November 2013

Memilih Menjadi Mahasiswa Aktivis

11 November 2013

Alhamdulillah, pertama-tama saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. atas nikmat rizki yang diberikanNya. Ini adalah tulisan pertama saya yang diketik pada PC baru. Mau diberi nama gak ya? Warnanya putih semua, kira-kira kalau pun ingin memberi nama, akan saya namai ‘tazakka’ saja, sepertinya cocok.

Sejak awal masuk kuliah saya bisa dikatakan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan non-kuliah. Mulai dari menghadiri acara-acara yang diselenggarakan berbagai organisasi sampai mengurusi beberapa acara-acara yang sama diwaktu berikutnya. Tidak ada masalah memang, kita mau menyibukkan diri diluar kulih atau hanya mau fokus di kuliah. Toh memang tujuan kita yang utama adalah kuliah, bukan untuk kesibukan diluar kuliah.

Dari berbagai pilihan menjadi mahasiswa, saya amati, setidaknya ada 3 kategori mahasiswa. Pertama, mahasiswa SO (study oriented). Mahasiswa kategori ini adalah mereka yang hanya fokus pada kuliah dan mendalami disiplin ilmu yang sedang mereka tempuh. Kedua, mahasiswa aktivis. Kategori kedua ini ada 3 versi, yaitu: 1. Mahasiswa yang lebih memprioritaskan organisasi ketimbang kuliahnya 2. Mahasiswa yang lebih memprioritaskan kuliahnya meski ia turut berorganisasi dan 3. Mahasiswa yang seimbang antara kuliah dan organisasinya. Kategori mahasiswa yang ketiga adalah mahasiswa wirausaha. Sebenarnya ini mirip dengan kategori kedua, namun saya pisahkan karena ranah kesibukannya berbeda. 3 kategori itu lah yang nampak dominan jika saya amati, meski tak menutup kemungkinan ada kategori-kategori yang lain. Silakan dikembangkan sendiri.

Nah, kali ini saya ingin spesifik pembahasannya tentang kategori mahasiswa yang kedua. Kenapa? Karena saya termasuk di dalamnya, insya Allah. Dan tulisan ini pun sebagai motivasi untuk saya pribadi. Syukur-syukur jika yang membaca juga termotivasi. Semoga bermanfaat saja lah untuk saya dan pembaca.

Seperti disebutkan di atas, mahasiswa aktivis ini ada tiga versi. Mari kita bahas satu per satu. Versi pertama, Mahasiswa yang lebih memprioritaskan organisasi ketimbang kuliahnya. Ibaratnya ini mahasiswa seperti lilin. Ia menerangi sekelilingnya tapi merelakan dirinya terbakar. Artinya apa? Bahwa mahasiswa seperti ini bahaya untuk kelangsungan studinya. Karena ia lebih mementingkan organisasinya ketimbang tujuan utamanya menjadi mahasiswa, yaitu kuliah. Bisa saja organisasinya berjaya, namun jika ia terus lelap dalam euforia organisasi dengan bermalas-malasan dalam kuliahnya, bisa diprediksi kuliahnya bakalan molor. Bahkan bisa jadi ia di drop out karena nilainya kecil. Saya tidak sepakat bila kesibukan mengurus organisasi dijadikan alasan jika nilai jelek. Sebenarnya itu lebih pada personnya. Untuk versi mahasiswa seperti ini saya sarankan untuk ‘bertobat’. Bertobat dalam artian porsi untuk fokus kuliahnya ditambah lah, paling tidak bisa seimbang antara kuliah dan organisasi.

Versi kedua, Mahasiswa yang lebih memprioritaskan kuliahnya meski ia turut berorganisasi. Kalau boleh saya bilang mahasiswa macam ini adalah mahasiswa yang, maaf, PHP (pemberi harapan palsu). Karena apa? Ia tidak begitu interst dengan organisasinya. Organisasi diikuti hanya untuk mengisi waktu luang ketika tidak sedang mengerjakan tugas atau belajar. Biasanya sih sulit untuk diajak kerjasama dalam berorganisasi, makanya cocoknya mahasiswa seperti ini menjadi anggota, bukan menjadi pengurus. Jika diberi amanah ujung-ujungnya mengecewakan. Karena jika berbenturan sedikit saja antara kepentingan organisasi dengan kepentingan kuliahnya, ia lebih memilih kepentingan kuliahnya. Untuk mahasiswa versi ini, saran saya sih jangan terlalu sering mengecewakan teman-teman organisasi lah. Kasihan teman-temannya yang lain.

Terakhir, versi mahasiswa aktivis ketiga adalah Mahasiswa yang seimbang antara kuliah dan organisasinya. Yang ini nih yang saya demen. Prestasinya oke, organisasinya juga oke. Setelah mengikuti training motivasi, 7 november lalu, ada fakta yang disampaikan sang trainer, yang sebelumnya saya tahu ada aktivis yang bagus prestasinya, tapi belum tahu buktinya. Nah, waktu itu trainernya menguak fakta bahwa memang aktivis tersebut memang bagus prestasinya. Ia menjadi ketua di organisasi, otomatis di organisasi ia aktif, disisi lain ia juga menyandang gelar mahasiswa berprestasi. Inilah mahasiswa yang bisa menyeimbangkan antara kuliah dan organisasinya. Manajemen waktunya rapi dan teratur, sehingga bisa mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan baik, pun bisa mengerjakan tugas-tugas organisasi dengan baik. Mahasiswa yang dapat menyeimbangkan antara kuliah dan organisasinya adalah mahasiswa yang progresif. Maka dari itu, saya menyarankan diri saya pribadi dan kepada para pembaca yang kuliah dan turut berorganisasi, seimbangkanlah antara kuliah dan organisasi. Namun yang paling penting dalam menjaga keseimbangan tersebut, untuk menjalankan kuliah dan organisasi, tentulah urutan yang harus dikerjakan pertama adalah tugas kuliah, setelah itu baru menjalankan tugas organisasi.

Sekian sedikit ulasan dari saya, semoga kita dapat memilih yang terbaik untuk bisa kita kerjakan. Semangat. Kurang-lebihnya saya mohon maaf. Dan semoga bermanfaat. Aamiin.

Tidak ada komentar: