Minggu, 22 Desember 2013

Menjadi Ummat yang Berdaya dan Menang

22 Desember 2013

Bersama Abi Ma’sum (Pengasuh PP. Al Ishlah-Bondowoso)

Diawal ceramahnya, Abi Ma’sum mengajak para hadirin untuk senantiasa meminta tambahan rahmat dari Allah SWT. Karena dengan rahmat inilah manusia akan mendapat bimbingan dariNya.

Beliau menyampaikan, ummat Islam saat ini masih belum bisa menang. Sekitar 80% keuangan yang ada di Indonesia masih dikuasai asing. Yang dikuasai ummat Islam hanya sekitar 20%. Pemerintahan belum Qur’ani, perpolitikan juga belum bisa menang. Masalah begitu banyaknya, namun ummat Islam masih saja banyak yang bertikai antar sesamanya. Padahal merebut kemenangan itu lebih penting.

Selanjutnya beliau menerangkan bahwa untuk memenangkan ummat, adalah dengan kembali kepada khittah, yaitu “laa haula wa laa quwwata illa billah” (tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah SWT). Dengan menyandarkan setiap urusan dunia ini kepada Allah, insya Allah semuanya akan terselesaikan.

Untuk bisa menjadi ummat yang berdaya dan menang, setidaknya ada 3 macam power atau kekuatan yang harus dikuasai.
1.      Psyche power (kekuatan jiwa). Dalam bahasa Islamnya quwwatul himmah. Ini merupakan kekuatan diri kita akan cita-cita yang tinggi, motivasi, dan keberanian dalam bertindak.
2.      Technical power (kekuatan teknis). Mencakup life skill, kemampuan organisasi, manajemen, relasi, dll.
3.      Hidden power (kekuatan tersembunyi). Inilah yang disebut quwwatul ma’unah, pertolongan dari Allah SWT. Ini kekuatan satu-satunya yang tak terukur oleh kacamata manusia.
Tiga kekuatan itu yang diyakini oleh orang asing untuk menjadikannya menang. Kita sebagai seorang muslim, tentunya harus bisa lebih tinggi kekuatannya.

Kemudian beliau menjelaskan. Untuk dapat berdaya dan menang, ummat perlu mengerti dan memahami bagaiman iman yang benar itu, bagaimana seorang mukmin yang sejati itu? Jawabannya ada di QS. Al Hujurat: 14-18.

Sebelum ditutup dengan muhasabah, Abi Ma’sum berpesan kepada para jama’ah. Ada 3 pesan yang dapat saya catat diakhir ceramahnya.
1.      Janganlah hari-hari kita terlewat begitu saja tanpa membaca al Qur’an. Beliau menganjurkan kita untuk membaca al Qur’an setiap hari, meski membacanya satu ayat. Agar hari-harinya merasa terbimbing oleh Allah.
2.      Janganlah melewatkan malam begitu saja tanpa sholat malam. Karena ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Kita bisa memilih cara Abu Bakar r.a. atau cara Umar bin Khattab r.a.. Abu Bakar selalu sholat malam sebelum tidur, sedangkan Umar bin Khattab melakukannya setelah tidur terlebih dahulu. Keduanya sama-sama mendapat pujian dari Rasulullah. Jika Abu Bakar dipuji karena sifat kehati-hatiannya. Dan Umar bin Khattab dipuji karena kesanggupannya/ kekuatannya dalam bangun dimalam hari.
3.      Perbanyak istighfar. Karena Rasulullah yang ma’sum (terbebas dari dosa) saja beristighfar 70, atau di hadits lain, 100 kali setiap harinya. Kita sebagai hamba yang pastinya tak luput dari kesalahan harusnya beristighfar melebihi itu. Selain istighfar atau memohon ampunan bagi diri kita sendiri, alangkah lebih baiknya lagi kita memohonkan ampun terhadap kesalahan/dosa orang tua, guru, orang yang berjasa, dan siapa saja muslim-muslimah yang bisa kita hadirkan dalam do’a itu. Karena bisa jadi musibah yang kita alami adalah karena banyaknya kesalahan/dosa kita. Sedangkan musibah hadir sebagai adzab (bagi orang kafir), ujian (bagi Muslim sholih), dan peringatan (bagi Muslim nakal).

Inilah sedikit catatan yang saya dapatkan dari pengajian majelis dhuha, (22/12), pagi tadi. Semoga dapat bermanfaat bagi saya dan kita sekalian. Aamiin J

Tidak ada komentar: