Jumat, 13 Desember 2013

Resensi Buku: Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah Di Indonesia


13 Desember 2013



Judul               : Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah Di Indonesia
Penulis            : Tim Penulis Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Penerbit          : FORMAS (Forum Masjid Ahlus Sunnah)
Tahun             : 2013

Buku ini merupakan panduan dari MUI yang diperuntukkan kepada masyarakat Muslim di Indonesia, agar masyarakat mengetahui apa-apa yang terkait dengan syi’ah. Selain sebagai penambah pengetahuan bagi masyarakat, buku ini juga mengajak masyarakat untuk membentengi diri mereka terhadap aliran syi’ah yang dianggap menyimpang. Dalam buku ini MUI melakukan berbagai kajian terkait dengan syi’ah, dan menyimpulkan bahwa aliran syi’ah yang ada di Indonesia adalah menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah Waljama’ah.

Secara garis besar ada 5 bahasan dalam buku ini yang dipaparkan oleh tim penulis MUI. Antara lain:
1. Sejarah syi’ah
2. Penyimpangan ajaran syi’ah
3. Pergerakan syi’ah di Indonesia dan penyebarannya
4. Sikap dan respon MUI tentang faham syi’ah
5. Fatwa dan pernyataan Ulama Indonesia tentang hakikat dan bahaya syi’ah.

Pada bab tentang sejarah syi’ah, dipaparkan bahwa syi’ah ada sejak awal masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra. Dari awalnya yang masih lurus beraqidah Islam hingga adanya penyimpangan seperti yang umum diketahui masyarakat tentang syi’ah akhir-akhir ini.

Setelah memaparkan sejarahnya, dijelaskan pada bab penyimpangan ajaran syiah beberapa penyimpangannya. Dalam bab ini, sistem penulisannya adalah memaparkan pemahaman syi’ah itu seperti apa, berdasar pendapat tokoh syi’ah dan beberapa kitab yang ditulis oleh kaum syi’ah. Kemudian dari pemaparan tentang pemahaman tersebut, ada pandangan Ulama terkait apa yang dipahami dan diyakini pengikut syi’ah. Pandangan Ulama disini adalah untuk meluruskan dan menjelaskan perkara yang benar. Diantara yang dibahas di dalam buku ini adalah penyimpangan faham syi’ah tentang:
1. Orisinalitas al Qur’an,
2. ahli bait Rasulullah SAW dan mengkafirkan sahabat Nabi
3. mengkafirkan umat Islam
4. kedudukan Imam syi’ah
5. hukum nikah mut’ah.

Pada bab berikutnya menjelaskan pergerakan syi’ah di Indonesia dan penyebarannya. Di bab ini dijelaskan, ada 3 generasi utama, yaitu: generasi pertama, sebelum revolusi Iran tahun 1979 dimana pergerakannya masih sangat terbatas dan eksklusif. Generasi kedua yang didominasi oleh kalangan intelektual dari perguruan tinggi. Dan generasi ketiga mulai bersemangat misionaris yang tinggi dalam menyebarkan ajaran. Dalam bab ini juga dipaparkan data konflik yang pernah terjadi dan poros persebaran syi’ah di Indonesia.

Dari pemaparan bab-bab sebelumnya yang menjelaskan beberapa fakta tentang syi’ah, bagian 4 adalah pemaparan beberapa respon atau fatwa dari MUI yang berkaitan dengan syi’ah. Tercatat ada 15 pernyataan dari MUI yang secara garis besar menyatakan bahaya dari syi’ah dan perlu untuk diwaspadai.

Dan bagian akhir dalam buku ini, dituliskan kembali pernyataan dari beberapa Ulama Indonesia tentang hakikat dan bahaya syi’ah. Antara lain: Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari (Rais Akbar NU), Prof. DR. Hamka (ketua umum MUI pusat periode 1975-1980), DR. Muhammad Natsir (mantan perdana menteri RI), dan KH. Hasan Basri (ketua umum MUI pusat periode 1985-1998).