Selasa, 16 Desember 2014

Sisi lain longsor Banjarnegara, Ustadz harus segera ambil peran.

24 Safar 1436 H
16 Desember 2014 M

Menyimak berita perkembangan bencana alam yang terjadi di Banjarnegara-Jateng, Jum'at (12/12/2014) amat menarik. Pasalnya ada beberapa sudut pandang yang membuat saya tergelitik untuk turut menuliskannya. Yaitu terkait dengan klenik warga sekitar yang cukup santer diberitakan pada media-media online.

Bahkan air bekas basuhan dari Presiden RI pun jadi rebutan. Berharap berkah dari air itu untuk merubah nasib dan perbaikan rejeki katanya. Begitulah berita yang beredar. Jika berita itu benar, hal demikian tidak dapat dibenarkan. Karena yang Maha memberi rejeki hanyalah Allah SWT.

"Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?" (QS. Yunus: 31).

Sungguh kalau demikian adanya, maka aqidah umat harus diluruskan, harus diselamatkan. Bahwa klenik yang telah diperbuat harus dihentikan dan melakukan taubat, kembali kepada Allah SWT. Maka tugas para ustadz yang dapat menjangkau lokasi untuk turut menjaga aqidah umat. Dan tetap melakukan pendampingan sampai kondisi kondusif dan benar-benar terjaga aqidah mereka. Semoga kita dan saudara-saudara kita diteguhkan iman dan islam. Aamiin

Selasa, 25 November 2014

Selamat Hari Guru by @mbagusetiawan

3 Safar 1436 H
25 November 2014 M


#SelamatHariGuru :) engkaulah pelita penyinar terang bagi kami, murid2mu

1. Saya ingin haturkan salam penghormatan sedalamnya pada para bapak/ibu guru saya. Dari TK s/d Kuliah. #SelamatHariGuru

2. Kpd guru TK yg saya lupa wajah juga namanya, maaf mendalam jika engkau blm bs terbayang lagi... #SelamatHariGuru

3. Namun terimakasihku haturkan padamu guru TKku smw. Aku trbimbing karena kalian. TK nan jauh dsna, Darun Najah, Sidoarjo. #SelamatHariGuru

4. Kpd guru SDku smw, jg terimakasih telah menuntun dalam belajar. tak bisa ku sebutkan semua, tp ku coba sebut beberapa... #SelamatHariGuru

5. Bpk/ibu guru SDku semua spesial. Yg akan saya sebut adl yg sedang terlintas dlm pikiran... #SelamatHariGuru

6. Bpk. Alm. Daman Huri, guru agama Islam SD Trewung, Pasuruan. Terimakasih atas kesabaran dan kedisiplinan yg bpk ajarkan. #SelamatHariGuru

7. Semoga engkau bahagia di alam sana. Salam rinduku padamu, semoga Allah kumpulkan kita kembali di jannahNya, aamiin. #SelamatHariGuru

8. Ibu Suharlis, terimakasih atas bimbingan ketekunan yg engkau ajarkan. 'Garang'mu adl kasih sayang. #SelamatHariGuru

9. Ibu Pamrih, kepsek yg tulus tanpa pamrih, meski bernama pamrih. Terimakasih ats ketegarannya bimbing kami yg 'nakal'. #SelamatHariGuru

10. Bpk. Kadir yg selalu hadirkan keceriaan dg senam dan olahraganya. Terimakasih, pak. #SelamatHariGuru

11. Bpk. Slamet, terimakasih bimbingan yg tegas dan tegarnya. #SelamatHariGuru

12. Ibu Neni, terimakasih membimbing unt ikuti lomba cerdas cermat, yg rela membagi wktnya hingga sekolah sepi. #SelamatHariGuru

13. Bapak Rahman, kepsek baru yg coba buka wawasan kami, terimakasih atas wawasan yg bpk berikan. #SelamatHariGuru

14. Ibu Lilik, terimakasih kesabarannya meski kami banyak menggunjing engkau. Semoga sabarmu adl berkah bagi kami. #SelamatHariGuru

15. Tak lupa guru MI Miftahul Ulum dan Guru ngaji di Masjid Al Abror (Ust. Sidiq) yg berikan asupan keislaman. #SelamatHariGuru

16. Bpk Ahmad, terimakasih kesabarannya mendidik kami, juga keluangan wkt istirahatnya unt ajari kami. #SelamatHariGuru

17. Bpk. Abidin yg popular, terimakasih banyak ilmu yg engkau beri. Semoga ketulusanmu berbuah bahagia. #SelamatHariGuru

18. Bpk Achyak, terimakasih pelajaran b. Arabnya. Saya sedang mngorek memori lbh dr 10thn lalu unt belajar b. Arab lg dsni. #SelamatHariGuru

19. Bpk (lupa namanya tp ingt wajahnya). Terimakasih pelajaran shorrofnya. Maaf jika dulu kurang antusias. Skrg aku tau manfaatnya, mksih

20. Guru SMP, http://t.co/wFGWTm7k5A, kita kenal sbg kepsek disiplin n sering 'blusukan', terimakasih kepemimpinannya, bpk. #SelamatHariGuru

21. Ibu siti, terimakasih pelajaran pancasilanya. #SelamatHariGuru

22. Ibu Nurul, terimakasih ketekunannya mengajar mtk sehingga kami paham. #SelamatHariGuru

23. Ibu Purwatiningsih, walikelas 3C, terimakasih pengayomannya dan pelajaran b. Indonya. #SelamatHariGuru

24. Bpk. Santoso, terimakasih jg ilmu mtknya. #SelamatHariGuru

25. Bpk. Didik yg familiar, terimakasih pelajaran jasmerahnya. Seorang yg tegas n disiplin, yg menindak 'kebathilan' murid2nya...

26. ...meski tak lg d SMPN 2 Grati, pikiran engkau tetap hidup disana. SATRIA 165, bahkan skrg jd logo. Bpk hebat, salut.

27. Guru SMKN 1 Grati, Bpk. Guntur. Terimakasih telah mengajari kami ikhlas dan terimakasih transfer ilmunya. #SelamatHariGuru

28. Bpk. Bambang, terimakasih kehangatan suasana yg dibangun hingga cairnya kelas.

29. Bpk Basir, terimakasih ilmunya, kebijaksanaannya. #SelamatHariGuru

30. Ibu Afifah, Ibu Ita, dan Ibu Ulfa, terimakasih ilmu matematikanya dg varian metode pembelajarannya.

31. Ibu pipit laoshi, terimakasih pelajaran b. Mandarinnya. #SelamatHariGuru

32. Ibu Yu'la Diana n Ibu Nunik, terimakasih pelajaran IPAnya, khususnya AMDAL. #SelamatHariGuru

33. Bpk. Imam n Bpk Sajumin, terimakasih ilmu agama Islam n BTQnya. #SelamatHariGuru

34. Terimakasih juga dosen2 saya saat ini. Terimakasih banyak atas sharing Ilmunya :) #SelamatHariGuru

Jumat, 21 November 2014

Resensi Buku GMGM


Oleh: M. Bagus Setiawan
 
 

Judul Asli                    : Jiil An Nashr Al Mansyuud
Penulis                        : Dr. Yusuf Qordhowi
Penerbit                      : Maktabah Wahbah, Kairo – 1988
Judul Terjemahan     : Generasi Mendatang Generasi yang Menang
Penerjemah               : H. Salim Basyarahil
Penerbit                      : Gema Insani Press, Jakarta – Cet. Keempat 1995

Buku kecil ini merupakan jawaban dari keresahan seorang sahabat dari penulis. Disebutkan dalam mukaddimah dengan ungkapan “apakah malam ini belum juga mau berakhir? Apakah fajar belum juga mau menyingsing?...”. Maksud dari ungkapan itu adalah ketika melihat realita kekinian kondisi umat Islam yang seakan tenggelam dalam gulita malam. Umat yang rusak moralitasnya, teracuni aqidahnya, dan juga lemahnya dalam berislam secara totalitas. Lantas keresahan itu berkembang, sampai kapankah kondisi Umat Islam terpuruk hingga saat ini? Kapan generasi terbaik umat ini kembali hadir bak fajar menyingsing hadirkan cahaya benderang?.
Keresahan itu kemudian dijawab oleh penulis sebagai kabar gembira. Bahwa generasi mendatang yang akan menyibak gulita pastilah datang. Penulis mengisyaratkan, kita tak boleh putus asa dengan keadaan umat Islam yang terpuruk sekalipun. Karena sunnatullah adalah ketetapan, adanya malam pasti akan ada fajar yang menggantikan.
Penulis mengawali penjabaran dari jawaban atas keresahan itu dengan kata Islam itu sendiri. Islam adalah ruh dari umat ini. Dengan Islamlah umat ini akan bisa hidup. Artinya kemenangan atau kejayaan Islam akan selalu meminta ruhnya, yaitu Islam itu sendiri. Maka dari itu penulis menyerukan umat ini untuk kembali pada Islam. Sederhananya, Islam dapat diartikan dengan rukun Islam. Dimana rukun pertama adalah mengucap dua kalimat syahadat. Dari pemahaman dua kalimat inilah umat ini akan totalitas memperjuangkan Islam.
Pada kenyataannya, umat Islam saat ini belum begitu memahami konsekuensi dari keIslaman dirinya. Diantara sebabnya adalah tidak sadarnya hakikat hidup manusia di dunia, terjajahnya nalar manusia oleh nilai-nilai buatannya sendiri sehingga ujungnya adalah pemisahan agama dan materi (sekuler). Hal ini diabadikan oleh penulis dengan bahasan problema besar umat Islam. Lalu diberilah petunjuk bagaimana hukum kemenangan itu. Ada 3 hukum kemenangan menurut Dr. Yusuf Qordhowi, pertama kemenangan hanya dari sisi Allah, kedua kemenangan dilimpahkan pada orang-orang yang menolong Allah SWT, dan ketiga kemenangan itu hanya dapat diraih oleh kaum mukminin saja.
Lantas apa saja ciri-ciri maupun karakter dari generasi mendatang yang dapat menghadirkan kemenangan Islam kembali, dibahas dalam bab yang berjudul Generasi Mendatang Generasi yang Menang. Disebutkan ada duabelas ciri maupun karakter dari generasi mendatang yang akan kembali memenangkan Islam. Pada akhirnya, generasi harapan itu hadir oleh gemblengan dari pembinaan pergerakan Islam dewasa ini. Pembinaan inilah yang menjadi tanggungjawab bagi semua pergerakan Islam yang merindukan kemenangan dan kejayaan Islam kembali.

Jumat, 07 November 2014

Beginilah Tauhid


14 Muharram 1436
7 November 2014 

Tauhid arti sederhananya adalah menjadikan satu. Untuk memahami secara holistik tentang tauhid, maka penjelasannya dibagi menjadi tiga. Yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, serta tauhid asma wa shifat. Namun belakangan ini, para ulama' menjabarkan lagi menjadi empat. Ketambahan tauhid Mulkiyah yang sebenarnya masuk dalam penjelasan tauhid Uluhiyah. Penjabaran ini dikarenakan para ulama' mengkhawatirkan manusia jaman sekarang tak lagi memandang bahwa hukum Allah adalah yang tertinggi.

Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah adalah meyakini keEsaan Allah SWT sebagai Rabb. Yaitu Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, raja diraja, dan pengatur alam semesta ini.

Secara nalar, adanya sesuatu pasti ada asal muasalnya. Adanya ciptaan pasti ada penciptanya. Begitulah fitrah manusia dalam berpikir. Adanya alam semesta ini pun tentulah ada penciptanya, Ialah Allah SWT.

Hanya Allah yang maha memberi rizki kepada semua makhluknya. "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." (QS. Hud, 11: 6). Begitu juga manusia harus meyakini bahwa Allah-lah Sang raja diraja yang mengatur segala macam urusan makhluknya.

Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah artinya mengEsakan Allah dalam ibadah atau sesembahan. Bahwa tiada Illah yang berhak disembah melainkan Allah SWT. Hanya menjadikan satu saja yang disembah.

Tauhid ini penting untuk diyakini agar tauhid manusia lurus. Sehingga manusia tak menyembah selain kepada Allah SWT. Ditinggalkan semua sekutu-sekutu Allah, thaghut. Jadi semua thaghut harus ditinggalkan oleh manusia untuk kemurnian keyakinannya.

Thaghut bisa diartikan luas. Manusia yang menyembah manusia misalnya, maka manusia yang disembah adalah thaghut. Contohnya manusia meyakini dengan berdo'a kepada manusia lainnya atau yang telah tiada maka do'anya dapat dikabulkan. Atau manusia meyakini ada kekuatan ghaib dari pohon sebelah mata air, sehingga harus ada sesaji untuk 'penghuni' pohon. Hal ini (syirik) tidak dibenarkan dalam tauhid. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa', 4: 48)

Tauhid Mulkiyah
Seperti disebutkan di awal, tauhid mulkiyah adl penjabaran dari tauhid uluhiyah. Hal ini dikarenakan arti dari tauhid mulkiyah adalah meyakini hukum Allah SWT adalah hukum tertinggi, sedangkan hukum buatan manusia adalah rendah dan tak bisa memuliakan manusia seutuhnya. Namun bukan berarti jika seorang tak berhukum dengan hukum Allah SWT lantas dianggap kufur. Contoh, Indonesia belum berhukum pada hukum Allah secara total, yang menjadi landasan adalah UUD,  UU, dan peraturan pemerintahan lainnya. Jika seseorang mematuhi UU dan menjalankannya, bukan berarti orang ini kufur dan tak boleh orang lain men-takfir-i (menghukumi kafir) jika orang ini masih meyakini bahwa hukum Allah-lah yang tertinggi.

Berhukum pada hukum Allah SWT adalah bentuk kepatuhan manusia dalam Ibadah (tauhid uluhiyah). Namun Para ulama' menjabarkan tauhid mulkiyah dari tauhid uluhiyah untuk memberitakan kepada manusia bahwa meyakini hanya satu hukum (yaitu hukum Allah) adalah perkara tauhid. Para ulama' ingin manusia menyadarinya secara benar.

Tauhid Asma wa Shifat
Tauhid asma wa shifat artinya meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang baik dan setiap nama itu mempunyai masing-masing sifatNya. "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)" (QS. Thaha, 20: 8). Bahwa Allah tak sama dengan makhlukNya. Misalnya manusia mempunyai nama karim (mulia), tapi kelakuannya sehari-hari buruk atau tidak mulia, berarti antara nama dan sifatnya bertolak belakang. Atau misalnya lagi ada manusia bernama sami' (mendengar), tapi di usianya yang sudah tua ia tak lagi bisa mendengar melainkan suara yang keras dan didekatkan, nama dan sifatnya berbeda. Berbeda dengan Allah SWT, dengan nama-nama yang baik itu, sifatNya berbanding lurus seperti namaNya. Misalnya, dalam asmaul husna ada nama Allah SWT, Al-Ghafur (maha pengampun), sifatNya memang maha pengampun. Seperti firmanNya dalam al-Qur'an, "Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa', 4: 106).

Keempat tauhid tersebut harus diyakini secara keseluruhan. Tak bisa cukup bertauhid rububiyah saja tanpa bertauhid uluhiyah, misalnya. Seperti musyrik Qurays dahulu. Jika ditanya siapa yang menciptakan mereka, jawabnya Allah. Tapi dalam beribadah, mereka sembah yang namanya Lata, Uzzah, Hubal, dll. Artinya mereka tak bertauhid secara menyeluruh. Maka belum bisa dikatakan beriman.

Semoga kita dapat bertauhid secara menyeluruh dan tetap menjaganya hingga akhir hayat. Karena Allah SWT telah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali-Imran, 3: 102). Wallahua'lam bish shawab.

Selasa, 28 Oktober 2014

Ruh Sumpah Pemuda

4 Muharram 1436 H
28 Oktober 2014 M

Berangkat dari pemahaman akan istilah iman, ruh sumpah pemuda dapat kita hayati bersama. Bahwa iman adalah membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan. Sumpah pemuda mempunyai ruh berupa keyakinan akan sebuah cita persatuan berbangsa. Yang awalnya lebih tinggi fanatisme kedaerahan, menjadi satu semangat kebangsaan.

Cita-cita persatuan untuk kebebasan dan keadilan yang bergelora dari diri pemuda telah menjadi tonggak sejarah. Sejarah lahirnya kesatuan tujuan untuk satu berdaulat. Bukan terpecah-pecah antardaerah, apalagi hanya karena perbedaan antarsuku bangsa dan bahasa. Kepercayaan akan perubahan inilah yang akhirnya disadari bersama oleh para pemuda kala itu.

Memang disetiap perubahan yang terjadi, dari dulu hingga sekarang, pemudalah pilarnya. Di kongres pemuda ke-2 yang diadakan 27-28 Oktober 1928 silam, terkumpullah ruh persatuan berbangsa itu. Yang kemudian diikrarkan 3 bunyi sumpah, sumpah pemuda. "Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia." Begitulah gairah pemuda. Sumpah telah disuarakan, bak mengucapkan dengan lisan dalam istilah iman.

Tiga sumpah itulah yang kemudian menjadi segerak perubahan. Tak ada lagi sekat kedaerahan. Tak ada lagi saling menjatuhkan. Tak ada lagi hina-menghina suku maupun bahasa. Kesemuanya telah menjadi satu persatuan, Indonesia. Perubahan sikap dan sifat perjuangan yang holistik tersebut, pada waktu kedepan menjadi segerak cita kemerdekaan. Tepatnya 17 tahun setelah sumpah itu diikrarkan. Persatuan yg dicitakan akhirnya terproklamasikan. Ruh sumpah pemuda telah mengilhami kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dengan ruh sumpah pemuda jua, Indonesia telah benar-benar terbebas dari belenggu penjajahan pada 1960. Setelah setahun sebelumnya kolonial ingin memecah belah kemerdekaan dengan pengakuan Republik Indonesia Serikat. Artinya, Indonesia diupayakan untuk menjadi negara-negara bagian. Kolonial ingin membangkitkan kembali fanatisme kedaerahan. Dan berkat ruh sumpah pemuda, keinginan itu sirna. Kita bisa dapati sampai hari ini, NKRI masih berdiri. Inilah pengamalan dari keyakinan akan cita.

Semangat sumpah itu juga harusnya tetap disadari oleh generasi negeri ini. Sehingga tak ada lagi konflik Poso, Ambon, Sampit, Papua, Aceh, dan lainnya. Ruh itu harus tetap ada sekarang, bahkan masa depan. Bahwa persatuan lebih mulia daripada berpecah-belah. Jika ada budaya asing yang merusak budaya ketimuran kita, bisalah kita tolak bersama. Juga apabila bahasa Indonesia tak lagi dijunjung, bisalah kita junjung (lagi) bersama.

Delapan puluh enam tahun sudah kita peringati hari ini, 28 Oktober, hari sumpah pemuda. Dan ruh dari sumpah ini akan tetap relevan saat ini dan masa depan. Maka peringatan tak seharusnya menjadi sikap yang monumental, tapi haruslah menjadi sikap keseharian pemuda lintas zaman. Yaitu sikap persatuan dan perjuangan untuk kemerdekaan sejati.

Rabu, 27 Agustus 2014

INDONESIANISASI INDONESIA

 
Indonesia merupakan negara yang didalamnya terdapat berbagai ragam suku, budaya, ras, adat istiadat, agama, bahasa, dan lain-lain. Selain itu juga, Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan yang luas. Dari sabang sampai merauke, nama Indonesia terbentang. Itulah Indonesia.
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sungguh amat pelik kondisi saat itu. Para tokoh-tokoh perjuangan dibuang, diasingkan, dan di penjara. Memang untuk mencapai kemerdekaan itu membutuhkan pengorbanan. Tak hanya para tokoh yang merasakan penderitaan dan siksaan. Rakyat jelata lebih parah lagi, mereka terbelenggu dengan imperialisme kala itu.
Tergambar jelas bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia menginginkan bangsa ini bebas dari tirani asing yang mencokol. Bagaimana para pahlawan kita berjuang begitu hebatnya demi penguasaan pemerintah ditangan sendiri. Mungkin tak ada yang lain dibenak mereka, yaitu kemerdekaan. Dimana kemerdekaan itu akan berdampak pada kesejahteraan rakyat dan Indonesia pun dapat memimpin bangsanya sendiri.
Semangat itulah yang harusnya terwarisi dari generasi ke generasi. Namun apa yang terjadi? Realitanya generasi saat ini semakin jauh meninggalkan nilai-nilai luhur tersebut. perjuangan untuk ‘menjadi tuan di negeri sendiri’ seakan semakin luntur dimakan waktu. Lihatlah kepemimpinan bangsa kita saat ini. Benar pemimpinnya orang Indonesia asli, tapi siapa yang mengendalikan?. Lihatlah retorika-retorika yang diperagakan oleh wakil-wakil rakyat di senayan. Kepentingan siapa yang dijadikan bahan perdebatan?. Kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah, untuk siapa itu? Jawabannya adalah untuk kepentingan asing.
Tak hanya elit pemerintahan yang dijadikan alat asing untuk memenuhi kepentingannya. Rakyat juga dijadikan alat untuk mempermulus kepentingan itu cepat terealisasi. Lihatlah kehidupan rakyat kita sekarang. Bagaimana dengan budaya masyarakat kita sekarang? Bagaimana dengan pola hidup masyarakat kita sekarang? Dari mana masyarakat mendapatkan uang? Dari mana masyarakat mendapatkan kebutuhan hariannya? Jawabannya adalah pengaruh asing.
Bagaimana tidak, kita tahu sendiri budaya-budaya Indonesia semakin hari semakin redup. Pola hidup masyarakat kita sekarang sudah berubah seperti hidup kebarat-baratan. Sumber keuangan Indonesia dikuasai oleh orang-orang non pribumi. Sampai-sampai, kebutuhan harian pun tak lepas dari penagruh asing. Itulah realitanya sekarang. Begitu hebatnya penguasaan segala sektor di bumi pertiwi saat ini. Memang tidak bisa dipungkirai bahwa kita masih terbelenggu oleh pihak asing.
Mengapa sampai terjadi demikian? Mentalitas orang Indonesia saat ini kurang terdidik dan kurang terarahkan dengan baik. Mentalitas yang juga dapat diartikan sebagai karakterlah yang mempengaruhi pola kehidupan dan pola pikir seseorang. Erie Sudewo, mantan direktur Dompet Dhuafa dalam kesempatannya berbicara di pelatihan kepemimpinan ke-14 yang diselenggarakan FIM (Forum Indonesi Muda), memaparkan bagaimana karakter itu sangat penting dimiliki setiap individu. Berikut sedikit catatan dari materi yang disampaikan:
Yang akan dibicarakan disini adalah reformasi karakter. Bagaimana kita membentuk karakter pribadi kita sehingga memiliki jati diri yang kuat. Ini penting dibahas karena bisa dikatakan, jika kita lihat kondisi moralitas bangsa kita saat ini, degradasi moral anak bangsa semakin menjadi.
Indonesia adalah contoh yang paling baik untuk tidak dicontoh. Banyak diantara anak bangsa yang mempunyai banyak keahlian dibidangnya masing-masing. Banyak juga diantara mereka yang mempunyai posisi-posisi penting sebagai pengambil kebijakan nasional. Dan tak jarang juga ada diantara mereka yang tidak mencerminkan apa yang sedang diamanahkan.
Sudah rahasia umum jika pejabat mulai dari tingkat kampung sampai tingkat nasional banyak yang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pengambil kebijakan dibidang hukum juga tak jarang bermain amplop. Warga sipil pun tak sedikit yang pesimis dengan prestasi-prestasi nasional, sepakbola misalkan. Juga dibidang pendidikan kita dituntut untuk memenuhi kompetensi, yang semua itu tidak bisa baik jika tidak diimbangi dengan karakter setiap individu.
Karena mereka hanya punya kompetensi. Dimana kompetensi tersebut hanya mengantarkan orang pada suatu keahlian tertentu, tapi tidak terhadap mentalitas atau karakter yang dimiliki. Mereka hanya dididik untuk bisa memenuhi kualifikasi tertentu untuk bisa mengisi pos-pos tertentu.
Kualitas manusia itu dilihat dari kompetensi dan karekternya. Jika seorang mempunyai kompetensi dan diimbanginya dengan karakter, bijaklah jika kita katakan ia adalah seorang yang sukses mulia. Dan jika kita menginginkan sukses mulia, bangunlah karakter berbasis agama. Karena agama adalah warisan yang paling suci.
Orang yang selalu dilatih kecerdasannya tanpa dilatih karakternya, maka orang akan lebih buas dari serigala. Jika kebanyakan manusia Indonesia sudah mempunyai karakter disamping kompetensinya, siapa yang dapat membendung Indonesia lebih baik, makmur dan sejahtera?.
Itulah sedikit catatan dari materi ‘character building’ yang disampaikan Erie Sudewo. Karena karakter itu akan membentuk sikap seseorang, maka ini perlu dipunyai oleh setiap warga negara Indonesia. Jika karakter-karakter orang Indonesia sudah baik, maka nilai-nilai luhur itu akan terasa kembali.
Para pendahulu, pejuang, dan pahlawan kemerdekaan telah jelas memiliki karakter nasionalis. Sesuai dengan jamannya, karena memang yang dibutuhkan kala itu adalah semangat nasionalisme. Dengan semangat dan karakter yang dimiliki tersebut pendahulu kita bersatu padu untuk membebaskan tanah air ini dari belenggu dan otoritas tirani penjajah. Sehingga dari kesatuan tujuan itu bangsa Indonesia bisa merdeka.
Sekarang tantangan buat kita, para generasi muda khususnya, adalah mengembalikan semangat juang para pendahulu kita guna melepaskan Indonesia saat ini dari ketergantungan pihak asing. Kepentingan-kepentingan asing itu harus kita putus. Dan kemerdekaan Indonesia akan benar-benar terwujud jika Indonesia dapat menjadi tuan di negerinya sendiri.
Seperti yang disampaikan Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI) dalam kesempatan yang sama: Yang perlu ditekankan pada diri kita sebagai warga negara Indonesia adalah bagaimana kita harus mempunyai sikap ‘menjadi tuan di Negeri sendiri’. Menjadi tuan di negeri sendiri bukan berarti menjadi tuan rumah bagi warga negara asing secara berlebihan dan boros dalam menjamu tamu. Bukannya tidak menghormati atau memuliakan mereka, akan tetapi lebih pada kita tetap harus menjaga kebersahajaan kita.
Menjadi tuan di negeri sendiri artinya kita menjadi master yang dapat mengatur siapa saja yang datang. Bukan malah kita yang diatur. Intinya kita menerima adanya pihak asing yang datang asalkan memberi kebaikan bersama dan tidak merugikan kita sebagai master.
Dari sedikit catatan tersebut, terbesit dalam pikiran, bahwa memang harusnya kita sebagai bangsa yang sudah memproklamirkan kemerdekaan, dapat mengelola Indonesia ini sendiri. Maksudnya adalah dengan memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya alam secara mandiri. Bukannya malah menuruti pihak asing. Karena otomatis kita tidak akan menerima keuntungan dari penguasaan asing tersebut.
Pemimpin saat ini haruslah bijak dalam mengatur bangsanya. Jangan sampai kepemilikan-kepemilikan atau modal-modal dari asing itu semakin merajalela. Kita harus bisa mengelola negara ini tanpa harus didikte oleh luar. Harus berani memutus hubungan dengan pihak asing jika itu dampaknya berkelanjutan menyengsarakan masyarakat.
Dan tantangan bagi pemuda saat ini, kita dituntut untuk memperbaiki negeri ini. Karena pemuda hari ini adalah pelopor (tokoh) kepemimpinan hari esok. Dari berbagai problema Indonesia saat ini, kuncinya adalah masih besarnya penguasaan asing diberbagai sektor kehidupan negeri ini. Maka dari itu kita perlu untuk Indonesianisasi Indonesia.
Dengan semangat kolaborasi karya untuk negeri, kita jadikan diri kita kunang-kunang yang akan menerangi gulita. Karena titik-titik cahaya kunang-kunang, jika itu banyak, akan menerangi seantero Indonesia. Dan Indonesiapun akan bercahaya.

Usaha Keras, Allah yang Membalas!


 Salah satu tulisan dalam buku Goresan Kecil untuk Negeriku. Oleh M. Bagus Setiawan.


Di pinggiran gedung-gedung Ibukota yang menjulang tinggi, Sari hidup sederhana bersama keluarganya. Anak ke-3 dari empat bersaudara ini adalah anak yang cukup berbakti kepada kedua orang tuanya. Hidup di lingkungan perkotaan membuatnya mempunyai wawasan yang cukup luas. Wajar saja, ia hidup di tanah metropolitan, Jakarta.

Sejak usia sekolah menengah pertama, Sari ingin sekali bisa belajar ke Eropa. Keinginan itu didasari karena banyaknya orang disekelilingnya yang melanjutkan studi ke luar negeri, terutama ke Eropa. Bahkan orang terdekatnya pun dijadikannya tauladan untuk berani bercita-cita tinggi seperti itu. Masdar, kakak Sari pada waktu itu sedang menempuh S2 di Belanda. Kakak Sari mendapatkan beasiswa untuk studinya tersebut.

Sari menyadari cita-citanya untuk belajar ke Eropa merupakan keinginan yang sangat besar. Itu akan tercapai dengan perjuangan yang besar pula. Ia pun selalu giat belajar agar bisa meneruskan ke sekolah menengah atas, kuliah, hingga bisa belajar di Eropa.

Pelajaran yang paling ia tekuni adalah bahasa Inggris. Dengan berbagai cara ia lakukan demi menguasai bahasa Inggris, mulai dari menghafal kosakata-kosakata baru sampai berlatih bicara di depan cermin. Sari menyadari bahwa yang dibutuhkan seseorang untuk dapat beradaptasi di lingkungan yang baru adalah paling tidak ia harus menguasai bahasa sebagai alat komunikasi.

Tak hanya tekun belajar, Sari juga selalu berdo’a dan meminta do’a dari orang tua agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Ia meyakini, kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa akan memuluskan jalannya. Bahkan tak jarang ia larut dalam deraian air mata pada shalat malamnya. Shalat dhuha tak pernah ia tinggalkan kecuali jika berhalangan. Puasa sunnah pun kerap ia lakukan. Semua itu ia dedikasikan guna membangun kedekatan denganNya.

Hari-hari Sari terus termotivasi untuk bisa belajar ke Eropa. Sampai ia lulus sekolah menengah pertama dan melanjutkan ke sekolah menengah atas. Tak pernah sedikit pun ia melupakan cita-citanya yang satu ini.

Motivasi dari orang-orang di sekitarnya kembali muncul setelah guru sekolah menengah atasnya juga pergi ke Eropa guna melanjutkan studinya. Guru yang baru satu tahun mengajar di sekolahnya itu mendapat beasiswa untuk meraih gelar S2 di Jerman. Hal ini membuat gairah Sari semakin membara untuk bisa mengejar cita-citanya.

Dalam tiga tahun masa belajarnya di SMA, tak jarang juga ia menemui kemalasan, ketidakpercayaan diri, dan hal-hal yang mengendurkan semangatnya. Karena dalam proses sekolahnya, ia hanya pernah menjadi rangking tiga besar pada waktu kelas dua. Namun nilai yang paling menonjol adalah tetap bahasa Inggris. Ia akan selalu mempersiapkan bekalnya yang satu ini. Karena ia memahami yang dibutuhkannya jika ingin belajar ke luar negeri adalah bahasa Internasional ini.

Lulus dari SMA, Sari mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Ia memilih perguruan tinggi ternama agar cita-citanya belajar ke Eropa semakin dekat. Proses seleksi pun ia jalani. Setelah tiba waktunya pengumuman, dengan antusias ia melihat pengumuman hasil penerimaan mahasiswa baru di koran. Beberapa menit mencari, namanya tertera, ia diterima di perguruan tinggi negeri. Dilihatnya di sebelah tulisan namanya tertera nama perguruan tinggi pinggiran, Universitas Jember. Ia pun sontak kaget dan tidak habis pikir, yang ia tuju adalah perguruan tinggi ternama. Kenapa bisa diterimanya di perguruan tinggi pinggiran. Usut punya usut, ternyata yang ia arsir dalam bulatan kertas pendaftarannya adalah Universitas Jember. Universitas di ujung timur pulau Jawa.

Hatinya pun dirundung kegelisahan. Melanjutkan atau mendaftar ulang lewat jalur yang lain. Tiga hari ia mengalami kegelisahan itu. Sampai pada akhirnya ia berkonsultasi dengan orang tua dan guru ngajinya. Yang didapat dari konsultasi tersebut adalah meminta petunjuk dari Allah. Dengan shalat istikhara, Sari meminta petunjuk dari yang Maha Kuasa. Tiga hari berselang setelah shalat istikhara, hati Sari menjadi semakin dapat menerima keadaan. Bahwa dia kini lebih lapang dada untuk kuliah di perguruan tinggi pinggiran itu.

Hari registrasi tiba, dengan niat ikhlas karena Allah, Sari berangkat dari ujung pulau ke ujung pulau. Setibanya di Universitas Jember, ia nampak kagum. Tak seperti lintasan pikiran yang selama ini ia pikirkan. Ternyata Universitas itu tampak megah meski berada di pinggiran. Semangatnya untuk menimba ilmu hidup kembali.

Dalam prosesnya selama kuliah, ternyata juga mengasyikkan dan ia merasa dipilihkan oleh Allah jalan untuk menggapai cita-citanya. Karena di Universitas ini, Sari bertemu dengan orang-orang yang nampaknya dihadirkan Allah untuknya. Orang-orang itu adalah dua orang yang nantinya menjadi dosen pembibing tugas akhirnya dan seorang dosen yang membimbingnya dalam keteguhan beragama, Bu Lilik. Dalam masa kuliahnya, Sari akrab sekali dengan 3 dosen ini. Terlebih pada Bu Lilik.

Di akhir tahun kedua ia berada di tanah orang, nampaknya ada ujian hidup yang harus Sari jalani. Uang kiriman dari orang tua yang biasanya mencukupi kebutuhannya, kian hari kian sulit. Kiriman sering kali terlambat dan itu tak sebanding dengan pengeluarannya untuk makan sehari-hari.

Sari yang tidak mau menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan orangtuanya, tetap tegar menjalani kehidupan. Awalnya ia sempat menghutang beberapa uang dari teman-temannya untuk mencukupi kebutuhan isi perutnya. Namun ia sadar, hutang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah.

Ia pun mencoba untuk bekerja sambilan. Disamping harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Allah memberikan jalan. Mendapat info dari teman satu kosnya, bahwa radio Kisah membutuhkan pembawa acara tambahan, Sari pun bergegas untuk mendatangi kantor radio itu. Tanpa prosedur yang panjang, ia diterima untuk bekerja. Sekarang ia menjadi penyiar radio.

Pagi sampai sore hari Sari gunakan untuk kuliah, belajar, dan mengerjakan tugas kuliah. Sedang malamnya ia bekerja di radio Kisah. Meski kesehariannya ia disibukkan dengan urusan dunia, Sari tetap menjaga amalan ibadah hariannya yang sudah rutin dilakukan semenjak SMP,. Mulai dari shalat tepat waktu, shalat malam, shalat dhuha, puasa sunnah, serta membaca Al Qur’an, masih menjadi aktivitasnya sehari-hari. Dengan pekerjaannya itu, Sari telah bisa membiayai hidupnya sendiri. Ia pun meminta orangtuanya untuk tidak mengkhawatirkan kondisi keuangannya.

Ternyata aktivitasnya yang padat itu berlanjut hingga ia mengerjakan tugas akhir. Dengan pengalamannya mengatur waktu, Sari tak merasa kesulitan dalam menyelesaikan kuliahnya.

Dua dosen pembimbing yang tak hanya menjadi pembimbingnya dalam hal tugas akhir. Namun mereka juga mendengar curhat dari Sari yang menceritakan ia ingin sekali belajar ke Eropa. Dengan antusias, dua dosen pembimbing ini pun selalu mendorong keinginannya itu agar segera terwujud. Sedang Bu Lilik juga selalu mendengarkan dan menasihati Sari setiap kali ia bercerita tentang masa depannya.

Dari nasihat-nasihat mereka bertigalah Sari banyak memperoleh pelajaran hidup. Hingga tiba masa ia wisuda dengan waktu yang relatif singkat dan, tiga tahun delapan bulan. IPKnya juga memuaskan, 3,33.

Setelah lulus kuliah, selama dua bulan Sari mencari-cari beasiswa ke Eropa. Mengurus ini dan itu, dan lain sebagainya. Yang paling menjadikan tantangan adalah kala ia harus menunjukkan ijazah translate berbahasa inggris, sedangkan ia sudah berada di Jakarta. Ia pun sedikit kebingungan awalnya, namun Allah memberinya jalan. Sari ingat Bu Lilik yang sangat akrab dengannya. Dengan semangat yang membara, Sari menghubungi Bu Lilik dengan telepon. Setelah Sari menerangkan maksudnya, Bu Lilik pun antusias untuk membantunya membuatkan translate ijazahnya.

Dua pekan Sari menunggu, ijazah translatenya akhirnya selesai dan ada di depan mata. Ia akhirnya mendaftar beasiswa ke empat Universitas sekaligus. Melewati berbagai tes, baik tulis maupun wawancara, ia lalui dengan niat karena Allah semata. Ia ingin memiliki manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Dari usaha-usahanya yang sungguh, nampaknya Allah mengujinya dengan kesabaran. Beberapa hari tidak ada jawaban untuk mendapatkan beasiswa. Ia pun mulai pesimis.

Ditengah pesimis itu, suatu hari Sari pergi ke Masjid. Setelah melakukan shalat dua rakaat, ia meminta kepada Allah dengan cucuran air mata yang sangat deras. Ia memohon agar supaya Allah berkenan memberikannya kesempatan mendapat beasiswa ke luar negeri.

Keajaiban terjadi, satu hari setelah ia memohon dengan sangat dan penuh harap, ada surat datang. Surat tersebut menuliskan bahwa ia berhak menerima beasiswa dari salah satu Universitas di Belanda. Sari langsung sujud syukur dengan berita yang datang waktu itu. Setelah semua persyaratan dipenuhi, berangkatlah ia ke benua biru yang selama ini ia cita-citakan.