Minggu, 26 Januari 2014

Nostalgia Masa Lalu (2)


26 Januari 2014

2.        Kecelik
Masih cerita waktu di TK. Mungkin aku kurang memperhatikan ketika guru ku memberitahukan bahwa besok libur karena ada rapat. Aku merasa tidak menerima informasi itu.

Esok harinya aku tetap berangkat ke sekolah seperti biasa. Sebelum berangkat sekolah, pagi-pagi sekali mesti ada Ibu-ibu penjual kue keliling. Sehabis makan nasi, aku biasa makan kue dari Ibu penjual itu, otok-otok namanya. Sudah sarapan, aku gendong tas bergambarkan robot “Jiban” dan ku kenakan kaos kaki beserta sepatunya. Aku lantas berdiri, “Bu, salim (sungkem ijin berangkat sekolah)” aku cium punggung tangan Ibu. Berangkatlah aku bersama Ayah.

Di jalanan dekat sekolah TK ku yang biasanya ramai anak berangkat sekolah, saat itu sepi. “kok sepi, Wan? Apa sekarang libur?” tanya ayah. Aku jawab, “tidak tahu yah, aku tidak dapat informasi kalau sekarang libur.” Sesampainya di depan sekolah ada teman satu sekolah ku yang rumahnya berdekatan dengan sekolah malah mengejek ku. “Haha, kecelik. Sekarang kan libur.” serunya. “sekarang libur ya?” tanya ayah pada teman ku itu, memastikan. “iya, sekarang libur. Ada rapat guru.” kata temanku.

Aku tak berucap apa-apa. “tuh kan libur. Kita langsung pulang saja ya?” kata ayah. “iya, yah.” Sahut ku datar. Berputar balik untuk pulang, teman ku tadi ngeledek lagi dengan nyanyian “haha, kecelik. Ketendang bola kadal, Iwan lungguh dingklik dijejek kayal-kayal

Makanya perhatikan guru kalau ada pemberitahuan, biar tidak kecelik!

Sabtu, 25 Januari 2014

Nostalgia Masa Lalu

25 Januari 2014

Hujan menemaniku duduk sendiri untuk menuliskan ini. Kisah yang ingin aku sibak kembali masa-masa kecil hingga remajaku dulu. Aku ingin menuliskannya karena di sekelilingku, di lingkunganku saat ini, adalah sebuah lingkungan yang aku dulu pernah menjalaninya.

Di depan tempat tinggalku selama Kuliah Kerja Nyata ada Sekolah Dasar. Aku pernah berjaya waktu itu. Dan ingin rasanya aku juga berjaya diwaktuku kini dan nanti. Untuk berkoordinasi dengan perangkat Desa, kami pergi ke Balai Desa yang disebelahnya persis dan masih dalam satu area yang sama, ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Aku jadi ingat dulu ketika aku sekolah di Taman Kanak-kanak (TK).

Agar tulisan ini sistemis, aku ingin menyibak kembali masa lalu ku mulai dari aku sekolah di TK. Kemudian ke SD, dan ingin juga aku ceritakan rekam jejakku sampai saat ini, kuliah. Dengan pendekatan jenjang pendidikan tentunya. Aku akan ceritakan pengalaman-pengalaman menarik seingat ku saja. Karena aku menyadari, manusia adalah makhluk hebat. Dan itu karena manusia mempunyai tekad atau kemauan. Yang menjadikan kehebatan itu tak nampak hanyalah kemalasan. Ini yang aku rasa menjadi penyakitnya.

1.        Lugu Waktu TK
Aku belum mengenal yang namanya krismon (Krisis Moneter) dulu. Tahun 1998 aku bersekolah di TK Darun Najah, Sepanjang-Sidoarjo. Uang koin 25 perak waktu itu sudah diujung tanduk. Habis itu tidak laku. Kalu tidak salah, uang saku ku waktu itu 50 perak.

Seperti biasa, pagi sebelum masuk kelas aku beli jajanan dulu di kantin sekolah. Tapi satu hari aku urungkan niat beli jajanan itu lantaran ada satu teman ku, namanya Fuad, bak sales menawarkan aku sesuatu. “Wan, aku punya koin untuk main di Tunjungan. Bisa untuk main bom-bom car, dan sejenisnya.” kata Fuad. Aku langsung sumringah, “mana?” tanya ku. Ditunjukkannya banyak receh 25 perak. Entah sadar atau tidak, aku masih lugu waktu itu, jadi tidak ada prasangka lain melainkan meyakini itu adalah koin, bukan uang. “Kalau mau, 50 perak untuk dua koin” tawar Fuad. Oke, aku beli.

Sepulang sekolah, dengan riangnya aku mendatangi Ibu. “Bu, ayo ke Tunjungan. Main mobil-mobilan. Aku sudah punya Koinnya. Aku beli 2 dari uang saku ku.” kata ku. Ibu pun langsung menyahuti, “mana, coba lihat!” lalu aku tunjukkan koin yang ku beli tadi pagi. Sambil tersenyum dan setengah tertawwa Ibu bilang: “ini bukan koin, ini uang 25 perak. Kalau koin tidak seperti ini. Pantesan dengan 50 perak dapat 2. Sama saja dengan tukar, tapi sebentar lagi 25 perak sudah tidak laku lagi.”

Kalau anak-anak sekarang bisa tak di tipu seperti itu?? Hha.

Bersambung...

Selasa, 14 Januari 2014

Pengajaran dari Iblis yang dibenarkan Rasulullah SAW

14 Januari 2014

Cerita ini saya rangkum dari ceramah di radio. Kurang tahu siapa ustadz yang saat itu menyampaikan materi. Tapi yang jelas, ceramah yang saya perdengarkan ini adalah waktu saya bersama rekan-rekan melakukan perjalanan menuju Ngawi. Untuk ta’ziah ke rumah duka salah satu adik angkatan kami yang meninggal dunia. Saya mendengarkan ceramah ini tepatnya saat mobil yang kita naiki terjebak panjangnya kemacetan di jalan raya Lumajang.

Suatu ketika Abu Hurairah ra. ditugasi Rasulullah untuk menjaga gudang padi. Beliau pun menjalankan amanah tersebut dengan baik. Singkat cerita, saat beliau sendirian menjaga gudang tersebut, dilihatnya orang yang mencuri barang yang ada di gudang. Lantas Abu Hurairah mengejar pencuri tersebut dan tertangkaplah olehnya. Karena pencuri memelas untuk dibebaskan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, Abu Hiraira pun melepaskannya.

Dimalam berikutnya si pencuri itu datang lagi dan mengambil kembali barang yang ada di gudang. Beliau dengan sigap mengejar pencuri itu hingga tertangkap. Seperti malam sebelumnya, pencuri ini memelas untuk dimaafkan dan dibebaskan, serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Pagi harinya Abu Hurairah mengadu kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menceritakan ada pencuri yang dua hari berturut-turut mencuri di tempat yang sama. Beliau juga menceritakan sempat menangkapnya, namun karena belas kasihnya, akhirnya dilepaskan. Rasulullah menanggapinya dengan ungkapan, “dia akan datang lagi nanti malam.”

Benar sekali apa yang disampaikan Rasulullah, pencuri itu datang dan melakukan aksi yang sama seperti dua malam sebelumnya. Dan seperti yang dilakukan sebelumnya, Abu Hurairah berhasil menangkap pencuri itu. Kali ini ia benar-benar geram dan akan menghukum si pencuri. Tak seperti biasanya, si pencuri tidak sekadar meminta dibebaskan, tapi akan memberi satu ilmu kepada Abu Hurairah.

Mendengar akan diberi ilmu, Abu Hurairah pun melunak. Beliau berkata, “baik, kamu akan saya lepaskan asal kamu benar-benar memberikan ilmu kepada saya.” Lalu si pencuri itu berkata, “bacalah ayat kursi sebelum tidur, maka kamu akan dijaga dari gangguan setan sampai kamu bangun.” Karena sudah diberi satu wawasan baru tersebut, Abu Hurairah menepati janjinya untuk melepaskan si pencuri.

Di pagi hari pasca pengajaran dari pencuri itu, Abu Hurairah mendatangi Rasulullah. Lantas menceritakan bahwa ia diberi satu ilmu oleh pencuri yang datang 3 malam berturut-turut itu. Mendengar cerita itu, Rasulullah bersabda, “ilmu dari pencuri itu adalah benar, dan tahukah kamu  siapa pencuri itu?” Abu Hurairah menjawab, “saya tidak tahu siapa pencuri itu.” Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya, “pencuri itu adalah Iblis, hanya saja tadi malam ia jujur. Maka bacalah ayat kursi sebelum tidur, agar kamu tidak diganggu olehnya sampai bangun tidur.”

Itulah satu pengajaran dari Iblis yang kemudian oleh Rasulullah dianjurkan untuk dilakukan. Jika kita melakukan anjuran itu, bukan berarti kita mengikut Iblis, tapi kita mengikut Rasulullah. Allahu a’lam bish shawab.