Sabtu, 25 Januari 2014

Nostalgia Masa Lalu

25 Januari 2014

Hujan menemaniku duduk sendiri untuk menuliskan ini. Kisah yang ingin aku sibak kembali masa-masa kecil hingga remajaku dulu. Aku ingin menuliskannya karena di sekelilingku, di lingkunganku saat ini, adalah sebuah lingkungan yang aku dulu pernah menjalaninya.

Di depan tempat tinggalku selama Kuliah Kerja Nyata ada Sekolah Dasar. Aku pernah berjaya waktu itu. Dan ingin rasanya aku juga berjaya diwaktuku kini dan nanti. Untuk berkoordinasi dengan perangkat Desa, kami pergi ke Balai Desa yang disebelahnya persis dan masih dalam satu area yang sama, ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Aku jadi ingat dulu ketika aku sekolah di Taman Kanak-kanak (TK).

Agar tulisan ini sistemis, aku ingin menyibak kembali masa lalu ku mulai dari aku sekolah di TK. Kemudian ke SD, dan ingin juga aku ceritakan rekam jejakku sampai saat ini, kuliah. Dengan pendekatan jenjang pendidikan tentunya. Aku akan ceritakan pengalaman-pengalaman menarik seingat ku saja. Karena aku menyadari, manusia adalah makhluk hebat. Dan itu karena manusia mempunyai tekad atau kemauan. Yang menjadikan kehebatan itu tak nampak hanyalah kemalasan. Ini yang aku rasa menjadi penyakitnya.

1.        Lugu Waktu TK
Aku belum mengenal yang namanya krismon (Krisis Moneter) dulu. Tahun 1998 aku bersekolah di TK Darun Najah, Sepanjang-Sidoarjo. Uang koin 25 perak waktu itu sudah diujung tanduk. Habis itu tidak laku. Kalu tidak salah, uang saku ku waktu itu 50 perak.

Seperti biasa, pagi sebelum masuk kelas aku beli jajanan dulu di kantin sekolah. Tapi satu hari aku urungkan niat beli jajanan itu lantaran ada satu teman ku, namanya Fuad, bak sales menawarkan aku sesuatu. “Wan, aku punya koin untuk main di Tunjungan. Bisa untuk main bom-bom car, dan sejenisnya.” kata Fuad. Aku langsung sumringah, “mana?” tanya ku. Ditunjukkannya banyak receh 25 perak. Entah sadar atau tidak, aku masih lugu waktu itu, jadi tidak ada prasangka lain melainkan meyakini itu adalah koin, bukan uang. “Kalau mau, 50 perak untuk dua koin” tawar Fuad. Oke, aku beli.

Sepulang sekolah, dengan riangnya aku mendatangi Ibu. “Bu, ayo ke Tunjungan. Main mobil-mobilan. Aku sudah punya Koinnya. Aku beli 2 dari uang saku ku.” kata ku. Ibu pun langsung menyahuti, “mana, coba lihat!” lalu aku tunjukkan koin yang ku beli tadi pagi. Sambil tersenyum dan setengah tertawwa Ibu bilang: “ini bukan koin, ini uang 25 perak. Kalau koin tidak seperti ini. Pantesan dengan 50 perak dapat 2. Sama saja dengan tukar, tapi sebentar lagi 25 perak sudah tidak laku lagi.”

Kalau anak-anak sekarang bisa tak di tipu seperti itu?? Hha.

Bersambung...

Tidak ada komentar: