Jumat, 21 Februari 2014

Merasakan Indonesia


21 Rabi’ul Akhir 1435 H
21 Februari 2014 M

Merasakan Indonesia. Itulah yang saya pikirkan setelah melihat beberapa film tentang Indonesia. Di Timur Matahari, Tanah Air Beta, dan Tanah Surga...Katanya, 3 film inilah yang membuat saya sedikit lebih mengenal Indonesia. 3 film yang habis saya lihat mulai pagi hingga menjelang shalat Jum’at hari ini.

Batapa kompleks permasalahan di negeri ini. Hingga banyak lintasan-lintasan pertanyaan dalam benak kala melihat film-film tadi. Ternyata di sana itu...? mengapa begitu...? mengapa harus...? harusnya itu...? dan pintasan-pintasan pikiran yang lain. Selama ini mungkin kita menyuarakan gagasan yang normatif mengenai membangun Indonesia. Kita bahkan belum mengetahui kondisi riil masyarakat di sana, di luar pulau Jawa.

Waktu saya melihat film Di Timur Matahari, betapa saya melihat gambaran kehidupan masyarakat Papua yang begitu mirisnya. Mungkin sampai saat ini masih ada perang antasuku di sana. Karena adat mereka mungkin juga seperti itu. Sama dengan apa yang di ceritakan dalam film tersebut. Bagaimana kehidupan ekonomi mereka yang labil, harga-harga mahal. Pendidikan tak ter-urus dengan baik. Sarana kesehatan yangmnim. Konflik dan dendam antarsuku berkelanjutan. Juga kondisi lingkungan di pegunungan yang saya pikir, susahnya mereka untuk berkembang, susahnya mereka mengakses layanan-layanan publik, susahnya mereka keluar dari pikiran-pikiran adatnya. Karena mereka hidup di situ saja. Belum merasakan dunia di luar kebiasaan adat mereka.


Dalam film itu, nampak bahwa orang yang telah mengenal dunia luar akan lebih bijak menyikapi segala sesuatu yang ada dalam kebiasaan adatnya. Dia tahu pentingnya perdamaian daripada peperangan. Pentingnya pendidikan, bahkan pentingnya mengubah kabiasaan adat yang buruk, yang dapat merugikan.

Dalam film Di Timur Matahari, saya disuguhkan sedikit potret pola kehidupan masyarakat Papua. Ada juga lintasan pikiran, mengapa harus misionaris yang menyebarkan agamanya di sana? Mengapa bukan da’i-da’i Islam yang berdakwah di sana? Saya jadi ingat ada buku tentang Papua yang ditulis teman-teman KAMMI, “Dakwah KAMMI di Tanah Papua”. Saya jadi ingin membaca buku itu. Saya juga ingat betapa besarnya pengorbanan teman-teman Papua untuk hadir di Jakarta dan Bogor dalam satu agenda yang juga saya ikuti. Merinding kalau kita mengetahui cerita perjuangan dakwah di sana. Bahkan pernah dapat cerita, untuk menghadiri pengajian pekanan saja mereka rela merogoh kocek yang tak sedikit untuk terbang melintasi satu gunung ke gunung yang lain. Maka bersyukurlah kita yang hidup serba tercukupi ini.


Film kedua yang saya lihat tadi pagi juga memberikan gambaran kepada saya tentang pengorbanan menjadi Indonesia. Banyak juga orang Timor-Timur yang memilih Indonesia sebagai tanah airnya ketimbang ikut negara baru Timor Leste. Batapa besar rasa cintanya kepada Indonesia ini hingga mereka rela carut-marut kehilangan atau ketinggalan sanak keluarganya usai referendum. Mungkin tak banyak yang saya bisa rasakan dari film kedua ini.

Sedangkan film ke-3, saya suka. Banyak emosi yang keluar kala melihat film ini, Tanah Surga...Katanya. Betapa saya diperlihatkan rasa nasionalisme yang begitu tinggi oleh salah seorang kakek. Kampung yang damai, di kelilingi air rawa-rawa. Namun miris juga ketika saya disuguhi cerita dimana pendidikan pun juga tak ter-urus dengan baik di sana, di perbatasan Indonesia-Malaysia. Perekonomian pun mereka gunakan RM sebagai mata uangnya. Mereka merasa Malaysia lah yang memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena memang mereka berdagang ke negara tetangga. Dan mereka pun merasa lebih sejahtera hidup di negeri sebelah ketimbang harus merasakan beban mental tak diurusi Indonesia. Lalu banyak orang Indonesia lebih memilih berbendera Malaysia.


Setelah sedikit menyaksikan realita kehidupan masyarakat Indonesia yang di filmkan itu, membuat saya kembali berpikir ulang. Membangun Indonesia itu, berbicara bagaimana mensejahterakan orang Indonesia, semuanya!

Minggu, 16 Februari 2014

Kisah-kisah Penuh Hikmah


Pengajian Ahad Pagi IKADI Jember (Lapangan PTPN XII)
Bersama Ust. Abdullah Hadrami (Malang)

16 Rabi’ul Akhir 1435 H
16 Februari 2014 M

Di awal ceramahnya, Ust. Hadrami mendo’akan para donatur IKADI Jember agar apa yang mereka keluarkan (hartanya) mendapat berkah dari Allah SWT. Bahkan beliau menyebutkan, ada Ulama’ yang mengatakan: “Carilah harta dan bawalah sampai mati”. Makna “bawalah sampai mati” ini adalah harta yang dikeluarkan di jalan Allah, maka pahala dari harta yang demikian itu akan dibawa sampai mati. Dan Imam Muslim telah meriwayatkan,  fungsi harta bagi manusia, hanya ada tiga:

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقْرَأُ (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) قَالَ « يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى - قَالَ - وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ ». صحيح مسلم - م (8/ 211)

Artinya: “Mutharrif mendapatkan riwayat dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku pernah menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang membaca surat (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) , beliau bersabda: “Anak manusia mengucapkan: “Hartaku, hartaku”, kemudaian beliau bersabda: “Wahai anak manusia, Apakah kamu memiliki dari hartamu melainkan yang kamu telah makan lalu habis, atau yang kamu telah pakai lalu rusak, atau yang telah kamu sedekahkan maka itu yang tersisa”. (HR. Muslim).

Dalam riwayat muslim yang lain ada tambahan sebagai penjelas, setalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelasakan tiga fungsi harta tadi, belaiu bersabda:

« وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ ».

Artinya: “Dan selain itu maka dia akan sirna dan dia tinggalkan untuk manusia.” (HR. Muslim).

Kisah 1: keutamaan istighfar
Ini adalah kisah Imam Ahmad bin Hanbal, murid kesayangan Imam Syafi’i Rahimahullah. Suatu ketika Ia melakukan perjalanan. Sampai pada satu daerah, Ia mencari masjid sebagai tempat peristirahatan. Ketika didapatinya sebuah masjid, Ia pun memasukinya. Namun, penjaga masjid yang tidak kenal dengan Imam Ahmad bin Hanbal ini mengusirnya. “Ijinkan saya istirahat di pintu masjid” Ia berkata kepada si penjaga masjid. Tetap saja penjaga ini tak membolehkan. Lalu datang Khabbas, seorang tukang roti, dan mengajak Imam Ahmad untuk istirahat di rumahnya. Khabbas juga tak tahu bahwa Ia adalah Ulama’ besar, Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika telah sampai di rumahnya, Khabbas pun memulai pekerjaannya, membuat roti. Imam Ahmad tertegun ketika melihat dan mendengar si tukang roti ini membuat roti sambil beristighfar. Lalu Ia pun bertanya: “sejak kapan anda melakukan hal seperti ini?”. Tukang roti menjawab: “sudah sejak dulu saya melakukan ini”. Imam Ahmad kembali bertanya: “apa faedah yang anda dapat dengan melakukan hal seperti ini?”. “Semua keinginan saya alhamdulillah dapat terpenuhi” kata tukang roti. “Ada satu yang belum terpenuhi” tambah Khabbas si pembuat roti. “Apa itu” tanya Imam Ahmad. Orang itu pun menjawab: “telah lama saya ingin bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal”. Imam Ahmad pun kaget dan mengatakan, “sekarang Allah telah mengabulkan keinginan anda, sayalah Ahmad bin Hanbal. Allah telah menarik saya sampai ke tempat ini untuk anda.”

Dari kisah 1 tersebut, ada pelajaran atau hikmah yang dapat diambil, yaitu keutamaan istighfar. Tukang pembuat roti dapat terpenuhi keinginannya karena rajin baca istighfar.

Islam merupakan agama yang menganjurkan ummatnya untuk bertaubat. Istighfar dapat menjadi kalimatnya. Bahkan Rasulullah yang maksum (bebas dari dosa) saja bertaubat dengan istighfar sebanyak 70, atau ada yang menyebutkan 100 kali dalam satu hari. Karena Allah sangat senang dengan hambanya yang bertaubat. Bahkan para Ulama’ mengatakan, ada satu ayat dalam Al Qur’an yang sangat menyenangkan, membuat manusia roja’ (mempunyai harapan), tidak membuat manusia putus asa, yaitu surat Az Zumar ayat 53:
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jangan menunda taubat. Karena manusia tidak tahu kapan akan mati. Sedangkan taubat hanya bisa diterima saat nyawa masih dikandung badan. Jangan menuruti setan yang selalu membisikkan agar menunda-nunda taubat. Islam tak pandang masa lalu kita, tapi memandang akhirnya, sekarang dan kedepan kita harus lebih baik.

Ada kisah seorang pembunuh yang ingin taubat. Kisah ini dapat ditemui di Kitab Riyadush Shalihin. Ia telah membunuh 99 orang. Namun Ia ingin bertaubat kepada Allah. Datanglah Ia kepada orang ‘abid (ahli ibadah). Ia lalu bertanya “ada orang yang telah membunuh 99 nyawa. Apakah Allah akan menerima taubatnya?”. Orang ‘abid itu menjawab, “tidak bisa, sudah terlalu banyak Ia membunuh orang”. Dengan jawaban itu, si pembunuh ini lalu menghunuskan pedangnya dan menghabisi orang ‘abid tadi. Gelaplah orang yang ia bunuh, 100.

Namun masih ada tekad Ia untuk bertaubat kepada Allah. Lalu datanglah ia pada orang ‘alim (orang yang mempunyai ilmu). Ia menanyakan apakah taubatnya masih bisa diterima? Orang ‘alim pun menjawab bisa. Kemudian orang ‘alim ini menyuruh Ia untuk hijrah ke suatu tempat, “lingkungan tempat tinggalmu sekarang adalah lingkurang yang buruk, berhijrahlah ke tempat yang di sana lingkungannya baik”. Si pembunuh ini pun lega bisa bertaubat dan melakukan anjuran dari seorang ‘alim. Ia pun berhijrah.

Di tengah perjalanan, malaikat maut mengambil nyawanya. Lalu datang malaikat nikmat yang akan membawanya ke surga. Namun malaikat adzab pun ingin mengadzabnya dan menyeretnya ke surga. Kedua malaikat ini saling berebut. Malaikat nikmat berdalih ia sudah bertaubat, maka Ia bagianku. Sedang malaikat adzab beralasan, Ia pembunuh banyak jiwa, dia juga belum melakukan kebaikan, maka Ia bagianku. Akhirnya datang malaikat ke-3 sebagai penengah. Malaikat ke-3 pun berucap: “ukur saja jarak antara tempat kematiannya dari rumah dan tempat yang Ia tuju untuk berhijrah. Jika lebih dekat pada tempat yang Ia tuju untuk berhijrah, maka Ia bagian malaikat nikmat. Sedangkan kalau Ia lebih dekat dengan rumah tempat tinggalnya, maka Ia bagian malaikat adzab”. Kemudian Allah dekatkan tempat yang dituju dan menjauhkan rumah dari tempat meninggalnya pembunuh taubat ini. Hasil pengukuran pun di dapatkan Ia lebih jauh sejengkal antara rumah dan tempatnya meninggal. Artinya lebih dekat tempat yang dituju untuk berhijrah. Maka malaikat nikmat pun membawanya ke surga. Begitulah, Allah Maha penerima taubat hambaNya.

Ada pula kisah seorang perampok yang kemudian menjadi Ulama’ besar, Fudail bin Iyadh. Ia selalu merampok siapa saja, kabilah, yang melintasi daerahnya. Kabilah-kabilah yang melintasi daerah tersebut pasti takut akan dirampok oleh Fudail bin Iyadh. Hingga suatu ketika, Ia mendapat hidayah dan bertaubat kala mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur’an. Ayat itu merasuk dalam hatinya. Dan membuat Ia ingin bertaubat kepada Allah. Ia pun bertaubat.

Fudail yang telah bertaubat terus memperbaiki diri hingga akhirnya Ia menjadi Ulama’ besar. Para ulama’ mengatakan, “anaknya, Ali bin Fudail, lebih baik dari bapaknya”. Ali bin Fudail paling tidak bisa membaca surat Al Zalzalah dan Al Qori’ah. Ayat yang bercerita tentang hari kiamat. Ali bin Fudail pingsan jika membaca surat ini. Saking takut dan tawadhu’nya beliau. Bahkan wafatnya juga karena mendengar bacaan surat Yasin ayat 51:
“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.”

Ketika itu Ali shalat bermakmum dibelakang bapaknya. Ketika bapaknya membaca surat yasin dan sampai pada ayat ke-51, Ali bin Fudail kemudian pingsan dan akhirnya wafat.
Sekali lagi, segeralah bertaubat. Orang berdosa itu ada dua. Pertama, orang yang berbuat dosa dan berusaha ia tutupi, maka Allah menutup aibnya itu, dan ia adalah pendosa yang selamat. Kedua, orang yang berbuat dosa dan malah memberitahukan perbuatan dosanya, bahkan membanggakan dosa yang telah diperbuatnya, maka ia tak selamat.
Semoga kita sekalian dimatikan oleh Allah dengan husnul khatimah, aamiin.

Kisah 2: untuk kebahagiaan
Ada wanita namanya Yulia Natasya. Ia anak orang kaya, bapaknya direktur bank dan ibunya adalah atlet tari balet. Kehidupannya serba tercukupi. Wajahnya cantik, mobil mewah, bahkan pacarnya banyak, pokoknya apa yang diinginkannya selalu dapat terpenuhi. Namun diujung hidupnya Ia mati bunuh diri.

Suatu pagi ibunya mendatangi kamarnya. Lama dipanggil tidak ada jawaban, akhirnya didobraklah pintu kamarnya. Dan ibunya mendapati anaknya terbujur kaku membiru, ia bunuh diri. Kemudian ibunya menemukan secari kertas yang kemungkinan besar Yulia tuliskan sebelum bunuh diri. Dalam kertas itu Yulia menuliskan, “mama aku bosan hidup”.
Begitu juga kurt cobain. Dipuncak kariernya ia malah mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke kepalanya, bunuh diri.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena mereka merasa hidupnya sempit. Mereka tak mengenal panduan hidupnya, Al Qur’an. Allah Sang pencipta tahu persis apa-apa tentang makhluk ciptaannya, maka Allah memberinya panduan berupa Al Qur’an. Mereka yang bunuh diri mungkin belum sampai kepadanya surat Taha ayat 124:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Maka untuk mendapat hidup bahagia, dekatilah yang membunyai kebahagiaan, yaitu Allah, dengan Al Qur’an.

Orang kaya harta yang tak berilmu dan orang miskin yang berilmu, sama-sama terhormat dalam masyarakat. Namun apakan orang kaya harta itu akan tetap terhormat kala hartanya habis?

Ada kisah. Orang kaya harta tak berilmu dan orang miskin yang berilmu sama-sama akan berlayar ke sebrang pulau. Si kaya membawa hartanya karena memang tidak ada penitipan barang kala itu, atau tidak ada bank kala itu. Ditengah laut, kapal pecah dihantam badai. Harta orang kaya itu tak terselamatkan, tapi nyawa mereka terselamatkan ke tepi daratan kampung halaman mereka. Bagaimana masyarakat memandang kedua orang tersebut nantinya? Apakah tetap sama-sama terhormat? Jawabanya adalah, orang kaya harta itu tak lagi disegani karena hartanya lenyap. Namun orang berilmu akan tetap disegai karena ilmunya masih ada.

Kisah 3: dahsyatnya shalawat
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS. Al Ahzab: 56.

Allah menyuruh hambanya untuk bershalawat kepada Nabi. Dan Allah dan malaikat-malaikatNya pun bershalawat kepada Nabi. Bershalawat adalah besar kemanfaatannya bagi kita ummat Muhammad Rasulullah SAW.

Ada kisah seorang syaikh yang begitu menakjubkan sembuh dari penyakitnya tanpa operasi karena shalawat. Ini adalah kisah syaikh Shalih, Imam masjid Quba. Masjid yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah dalam hijrahnya ke Madinah.

Suatu ketika syaikh Shalih sakit dan harus dioperasi. Karena ada penyumbatan darah di jantungnya. Dokter dan tim medis lainnya pun panik ketika mengetahui hal itu. Mereka kelihatan lesu mengkhawatirkan keadaan syaikh. “kenapa kalian berwajah lesu? Tak apa, ayo lakukan saja operasinya, saya siap”. Dengan perasaan khawatir mereka pun bersiap melakukan operasi. Namun belum juga dilakukan operasi, ada perawat dari lebanon datang kepada beliau. Lalu perawat ini menyuruh syaikh Shalih untuk bershalawat, dia tak tahu yang ada dihadapannya itu adalah syaikh, imam masjid Quba, yang ia tahu adalah nama yang terpampang di sebelah tempat tidurnya. “Yaa Shalih, bershalawatlah anda. Bershalawatlah kepada Nabi Muhammad SAW.” Ujar perawat itu. Syaikh Shalih pun mempunyai pikiran, ini pasti orang dikirim oleh Allah untuk kemudian menyuruhku bershalawat. Beliau pun bershalawat.

Dokter dan tim medis pun siap melakukan operasi penyumbatan aliran darah itu. Ajaib, dilihatnya saluran yang tadinya tersumbat kini telah lancar kembali. Kemudian mereka pun memancarkan wajah ceria. Syaikh pun bertanya, “ada apa dengan kalian? Tadi kalian berwajah lesu, kini kalian ceriah”. Yaa syaikh Shalih, kita urung mengoperasi anda, aliraran darah dalam jantung anda yang tadinya tersumbat, kini telah lancar.

Itulah satu kisah dahsyatnya bershalawat. Mungkin masih banyak sekali kisah serupa. Maka perbanyaklah shalawat kepada Rasulullah SAW. Agar kita juga bisa mendapat syafaatnya di akhirat kelak.

Dan ceramah pun akhirnya selesai dengan do’a yang dipimpin langsung oleh Ust. Abdullah Hadrami. Wallahu a’lam bishshawab.

Senin, 10 Februari 2014

Nostalgia Masa Lalu (3)


10 Februari 2014

3.        Bersahabat
Aku menyayangkan ingatanku yang lemah. Mungkin karena banyak dosa dan maksiat yang aku perbuat. Aku ingatnya, terkait kisah ini, adalah waktu aku SD. Aku lupa kelas berapa kisah yang ingin aku ceritakan ini. Yang jelas kisah ini adalah waktu booming film “Di Sini Ada Setan”.

Hampir setiap malam teman-temanku datang ke rumah selepas isya’. Mereka datang untuk menyelesaikan PR bersama. Mereka bilangnya kerja kelompok bila ditanyai orang tuanya, “mau kemana?”. Aku merasakan bagaimana aku bersahabat dengan mereka. Kita senang bila berkumpul bersama. Sungguh pertemuan-pertemuan dalam mengerjakan PR itu serasa kuat sekali ikatan cintanya.

Waktu SD, mungkin kita semua sepakat bahwa selalu ada pekerjaan rumah dari guru-guru kita, hamir setiap hari. Hal inilah yang membuat kita berkumpul dihampir setiap malam. Banyak canda tawa memang. Meski mereka bilang kerja kelompok, nyatanya yang ngerjakan juga dua-tiga orang. Tapi kebersamaan itu mungkin yang lebih berarti.

Kita biasa berkumpul dan mengerjakan PR di teras depan rumahku. Sebelum mengeluarkan buku catatan, selalu kita awali dengan bincang pembuka. Dan bincang pembukanya tak akan jauh dari perbincangan camilan atau makanan. “masa’ gak ada camilannya? Garing nanti” cetus salah seorang di antara kita. Yang lain menyahuti, “iya, ayo beli apa gitu. Ini aja beli tahu petis ke cak padel”. Semua serempak menyetujui. “sini aku aja yang beli, mana uangnya?” kata Sahrul. Suasana rame lagi. “pake uang siapa? Apa iuran?” kata teman yang suaranya terdengar dari belakang. “ini pake uangku aja” sahut (Almarhum) Rudi. Berangkatlah Sahrul untuk beli tahu petis.

Bincang pembukaan yang lumayan seru sudah usai. Kita buka PRnya. Namun setiap anak mempunyai kadar semangat yang berbeda-beda. Selalu saja ada yang merasa malas lah, tidak bisa lah, belum sampai dipikiran lah, atau alasan-alasan lain yang membuat beberapa di antara kita yang enggan menyelesaikan PR itu dengan kerja kelompok. Yang beberapa anak itu “pasrah” dangan hasil akhir diskusi dari kita yang mengerjakan PR itu. Mereka yang tidak ikut berdiskusi beralih ke dalam rumah untuk nonton TV. Acara favoritnya adalah “Di Sini Ada Setan”.

Logistik datang. Tahu petis membuat kita yang berdiskusi rehat sejenak. Teman-teman yang nonton TV pun melengkapi hiburannya dengan makan tahu petis. Beginilah indahnya kebersamaan, jika tak saling benci, semua senang dan menerima dengan lapang dada. Setelah menyantap beberapa tahu petis dilanjutkanlah pengerjaan PR yang sudah sadikit lagi tuntas itu. Kita yang mengerjakan PR sesekali dijenguk teman yang nonton TV berkat iklan yang lewat.

PR pun selesai. Kita yang berdiskusi tadinya juga ingin melepaskan penat dengan melihat TV. “Itu PRnya sudah selesai” seru ku. “oke, akan kita kerjakan setelah film ini selesai, taruh depan dulu aja bukunya.” Kata Yudi. Kita pun bersama, bergerombol nonton di sini ada setan yang sudah tingal satu sesi sebelum buyar dan bersambung.

Film sudah usai. Mereka yang tadinya nonton TV dari awal gantian menyalin hasil diskusi. Sedangkan kita yang tadinya diskusi ngobrol ngalor-ngidul sambil lihat TV. Akhirnya semua sudah menyelesaikan PRnya. Teman-teman ku pun pamit undur diri. Beginilah aktivitas kita dihampir setiap malam, kalau ada PR khususnya.

Ahh... Betapa indahnya persahabatan itu... J

Jumat, 07 Februari 2014

Ada Cinta di Bulan Februari


Kata cinta akan semakin nyaring ditelinga para manusia, pemuda khususnya, pada bulan Februari. Mengapa demikian? Karena dibulan tersebut terdapat hari kasih sayang yang biasa disebut hari valentine. Di sinilah penjerumusan awal yang sengaja dibuat Barat untuk mendegradasi moral bangsa-bangsa yang bermoral.

Hari Valentine tidak lepas dari sejarah kelam sepasang muda mudi yang memadu kasih hingga berujung pada kematian salah seorang kaisar yang rela membela pasangan yang tidak sah itu, karena pasangan muda mudi itu ternyata masih mempunyai hubungan darah. Dari sedikit cuplikan sejarah di atas saja sudah tidak jelas. Memang banyak perbedaan sejarah mengenai hari valentine. Tapi tetap saja tidak jelas dari mana sumbernya.

Apakah kita sebagai generasi (pemuda) yang intelek, akan tetap menuruti kegiatan-kegiatan kuno tersebut? Sudah tidak jamannya lagi mempertahankan budaya-budaya kuno yang itu tidak membawa manfaat sama sekali. Sekarang jamannya sudah modern dan canggih, sudah saatnya kita meninggalkan budaya “hari kasih sayang”. Bukankah kita bisa setiap saat berkasih sayang kepada sesama saudara kita dan juga keluarga?

Kasih sayang sering disalah artikan oleh kebanyakan kaum muda. Hal ini tidak lain karena perspektif manusia yang salah mengartikan hari kasih sayang. Hari kasih sayang diartikan sebagai hari untuk bercinta, hari untuk bercumbu, hari untuk memberikan seluruh raga kepada sang kekasih, meskipun belum ada ikatan suci yaitu pernikahan.

Perspektif ini cenderung terjadi dan dialami oleh para pemuda. Yang mengartikan hari kasih sayang sebagai hari untuk “bercinta”. Padahal kasih sayang merupakan ikatan batin yang mempersatukan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Dengan rasa kasih sayang seseorang rela berkoraban untuk orang yang dikasihinya.

Seorang ibu rela berkoraban untuk anak-anaknya, seorang ayah rela berkorban untuk istri dan anak-anaknya, seorang anak rela berkorban untuk kehormatan keluarganya. Inilah esensi sebenarnya dari kasih sayang. Namun yang terjadi justru sebaliknya, seorang anak rela mengorbankan kehormatan diri dan keluarganya demi melampiaskan nafsu birahinya.

Ketika menjelang hari valentine, mungkin banyak para remaja yang sudah membuat perencanaan, akan kemana, bersama siapa, berapa lama dan apa yang dibawa. Ketika hari valentine tiba, mereka meninggalkan orang tua mereka dengan pacar-pacar mereka, pergi ke tempat wisata atau sekedar pergi ke hotel-hotel kelas melati. Parahnya lagi, hotel pun sudah siap memfasilitasi perbuatan-perbuatan mesum mereka dengan menyediakan stok kondom yang mencukupi.

Padahal Allah sudah melarang kita untuk sekedar mendekati zina, apalagi sampai berzina. Semoga kita mendapat perlindungan Allah SWT dari hal-hal negatif mengenai kasih sayang tersebut. Amiin.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Israa’, 17: 32)