Jumat, 21 Februari 2014

Merasakan Indonesia


21 Rabi’ul Akhir 1435 H
21 Februari 2014 M

Merasakan Indonesia. Itulah yang saya pikirkan setelah melihat beberapa film tentang Indonesia. Di Timur Matahari, Tanah Air Beta, dan Tanah Surga...Katanya, 3 film inilah yang membuat saya sedikit lebih mengenal Indonesia. 3 film yang habis saya lihat mulai pagi hingga menjelang shalat Jum’at hari ini.

Batapa kompleks permasalahan di negeri ini. Hingga banyak lintasan-lintasan pertanyaan dalam benak kala melihat film-film tadi. Ternyata di sana itu...? mengapa begitu...? mengapa harus...? harusnya itu...? dan pintasan-pintasan pikiran yang lain. Selama ini mungkin kita menyuarakan gagasan yang normatif mengenai membangun Indonesia. Kita bahkan belum mengetahui kondisi riil masyarakat di sana, di luar pulau Jawa.

Waktu saya melihat film Di Timur Matahari, betapa saya melihat gambaran kehidupan masyarakat Papua yang begitu mirisnya. Mungkin sampai saat ini masih ada perang antasuku di sana. Karena adat mereka mungkin juga seperti itu. Sama dengan apa yang di ceritakan dalam film tersebut. Bagaimana kehidupan ekonomi mereka yang labil, harga-harga mahal. Pendidikan tak ter-urus dengan baik. Sarana kesehatan yangmnim. Konflik dan dendam antarsuku berkelanjutan. Juga kondisi lingkungan di pegunungan yang saya pikir, susahnya mereka untuk berkembang, susahnya mereka mengakses layanan-layanan publik, susahnya mereka keluar dari pikiran-pikiran adatnya. Karena mereka hidup di situ saja. Belum merasakan dunia di luar kebiasaan adat mereka.


Dalam film itu, nampak bahwa orang yang telah mengenal dunia luar akan lebih bijak menyikapi segala sesuatu yang ada dalam kebiasaan adatnya. Dia tahu pentingnya perdamaian daripada peperangan. Pentingnya pendidikan, bahkan pentingnya mengubah kabiasaan adat yang buruk, yang dapat merugikan.

Dalam film Di Timur Matahari, saya disuguhkan sedikit potret pola kehidupan masyarakat Papua. Ada juga lintasan pikiran, mengapa harus misionaris yang menyebarkan agamanya di sana? Mengapa bukan da’i-da’i Islam yang berdakwah di sana? Saya jadi ingat ada buku tentang Papua yang ditulis teman-teman KAMMI, “Dakwah KAMMI di Tanah Papua”. Saya jadi ingin membaca buku itu. Saya juga ingat betapa besarnya pengorbanan teman-teman Papua untuk hadir di Jakarta dan Bogor dalam satu agenda yang juga saya ikuti. Merinding kalau kita mengetahui cerita perjuangan dakwah di sana. Bahkan pernah dapat cerita, untuk menghadiri pengajian pekanan saja mereka rela merogoh kocek yang tak sedikit untuk terbang melintasi satu gunung ke gunung yang lain. Maka bersyukurlah kita yang hidup serba tercukupi ini.


Film kedua yang saya lihat tadi pagi juga memberikan gambaran kepada saya tentang pengorbanan menjadi Indonesia. Banyak juga orang Timor-Timur yang memilih Indonesia sebagai tanah airnya ketimbang ikut negara baru Timor Leste. Batapa besar rasa cintanya kepada Indonesia ini hingga mereka rela carut-marut kehilangan atau ketinggalan sanak keluarganya usai referendum. Mungkin tak banyak yang saya bisa rasakan dari film kedua ini.

Sedangkan film ke-3, saya suka. Banyak emosi yang keluar kala melihat film ini, Tanah Surga...Katanya. Betapa saya diperlihatkan rasa nasionalisme yang begitu tinggi oleh salah seorang kakek. Kampung yang damai, di kelilingi air rawa-rawa. Namun miris juga ketika saya disuguhi cerita dimana pendidikan pun juga tak ter-urus dengan baik di sana, di perbatasan Indonesia-Malaysia. Perekonomian pun mereka gunakan RM sebagai mata uangnya. Mereka merasa Malaysia lah yang memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena memang mereka berdagang ke negara tetangga. Dan mereka pun merasa lebih sejahtera hidup di negeri sebelah ketimbang harus merasakan beban mental tak diurusi Indonesia. Lalu banyak orang Indonesia lebih memilih berbendera Malaysia.


Setelah sedikit menyaksikan realita kehidupan masyarakat Indonesia yang di filmkan itu, membuat saya kembali berpikir ulang. Membangun Indonesia itu, berbicara bagaimana mensejahterakan orang Indonesia, semuanya!

Tidak ada komentar: