Rabu, 27 Agustus 2014

INDONESIANISASI INDONESIA

 
Indonesia merupakan negara yang didalamnya terdapat berbagai ragam suku, budaya, ras, adat istiadat, agama, bahasa, dan lain-lain. Selain itu juga, Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan yang luas. Dari sabang sampai merauke, nama Indonesia terbentang. Itulah Indonesia.
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sungguh amat pelik kondisi saat itu. Para tokoh-tokoh perjuangan dibuang, diasingkan, dan di penjara. Memang untuk mencapai kemerdekaan itu membutuhkan pengorbanan. Tak hanya para tokoh yang merasakan penderitaan dan siksaan. Rakyat jelata lebih parah lagi, mereka terbelenggu dengan imperialisme kala itu.
Tergambar jelas bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia menginginkan bangsa ini bebas dari tirani asing yang mencokol. Bagaimana para pahlawan kita berjuang begitu hebatnya demi penguasaan pemerintah ditangan sendiri. Mungkin tak ada yang lain dibenak mereka, yaitu kemerdekaan. Dimana kemerdekaan itu akan berdampak pada kesejahteraan rakyat dan Indonesia pun dapat memimpin bangsanya sendiri.
Semangat itulah yang harusnya terwarisi dari generasi ke generasi. Namun apa yang terjadi? Realitanya generasi saat ini semakin jauh meninggalkan nilai-nilai luhur tersebut. perjuangan untuk ‘menjadi tuan di negeri sendiri’ seakan semakin luntur dimakan waktu. Lihatlah kepemimpinan bangsa kita saat ini. Benar pemimpinnya orang Indonesia asli, tapi siapa yang mengendalikan?. Lihatlah retorika-retorika yang diperagakan oleh wakil-wakil rakyat di senayan. Kepentingan siapa yang dijadikan bahan perdebatan?. Kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah, untuk siapa itu? Jawabannya adalah untuk kepentingan asing.
Tak hanya elit pemerintahan yang dijadikan alat asing untuk memenuhi kepentingannya. Rakyat juga dijadikan alat untuk mempermulus kepentingan itu cepat terealisasi. Lihatlah kehidupan rakyat kita sekarang. Bagaimana dengan budaya masyarakat kita sekarang? Bagaimana dengan pola hidup masyarakat kita sekarang? Dari mana masyarakat mendapatkan uang? Dari mana masyarakat mendapatkan kebutuhan hariannya? Jawabannya adalah pengaruh asing.
Bagaimana tidak, kita tahu sendiri budaya-budaya Indonesia semakin hari semakin redup. Pola hidup masyarakat kita sekarang sudah berubah seperti hidup kebarat-baratan. Sumber keuangan Indonesia dikuasai oleh orang-orang non pribumi. Sampai-sampai, kebutuhan harian pun tak lepas dari penagruh asing. Itulah realitanya sekarang. Begitu hebatnya penguasaan segala sektor di bumi pertiwi saat ini. Memang tidak bisa dipungkirai bahwa kita masih terbelenggu oleh pihak asing.
Mengapa sampai terjadi demikian? Mentalitas orang Indonesia saat ini kurang terdidik dan kurang terarahkan dengan baik. Mentalitas yang juga dapat diartikan sebagai karakterlah yang mempengaruhi pola kehidupan dan pola pikir seseorang. Erie Sudewo, mantan direktur Dompet Dhuafa dalam kesempatannya berbicara di pelatihan kepemimpinan ke-14 yang diselenggarakan FIM (Forum Indonesi Muda), memaparkan bagaimana karakter itu sangat penting dimiliki setiap individu. Berikut sedikit catatan dari materi yang disampaikan:
Yang akan dibicarakan disini adalah reformasi karakter. Bagaimana kita membentuk karakter pribadi kita sehingga memiliki jati diri yang kuat. Ini penting dibahas karena bisa dikatakan, jika kita lihat kondisi moralitas bangsa kita saat ini, degradasi moral anak bangsa semakin menjadi.
Indonesia adalah contoh yang paling baik untuk tidak dicontoh. Banyak diantara anak bangsa yang mempunyai banyak keahlian dibidangnya masing-masing. Banyak juga diantara mereka yang mempunyai posisi-posisi penting sebagai pengambil kebijakan nasional. Dan tak jarang juga ada diantara mereka yang tidak mencerminkan apa yang sedang diamanahkan.
Sudah rahasia umum jika pejabat mulai dari tingkat kampung sampai tingkat nasional banyak yang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pengambil kebijakan dibidang hukum juga tak jarang bermain amplop. Warga sipil pun tak sedikit yang pesimis dengan prestasi-prestasi nasional, sepakbola misalkan. Juga dibidang pendidikan kita dituntut untuk memenuhi kompetensi, yang semua itu tidak bisa baik jika tidak diimbangi dengan karakter setiap individu.
Karena mereka hanya punya kompetensi. Dimana kompetensi tersebut hanya mengantarkan orang pada suatu keahlian tertentu, tapi tidak terhadap mentalitas atau karakter yang dimiliki. Mereka hanya dididik untuk bisa memenuhi kualifikasi tertentu untuk bisa mengisi pos-pos tertentu.
Kualitas manusia itu dilihat dari kompetensi dan karekternya. Jika seorang mempunyai kompetensi dan diimbanginya dengan karakter, bijaklah jika kita katakan ia adalah seorang yang sukses mulia. Dan jika kita menginginkan sukses mulia, bangunlah karakter berbasis agama. Karena agama adalah warisan yang paling suci.
Orang yang selalu dilatih kecerdasannya tanpa dilatih karakternya, maka orang akan lebih buas dari serigala. Jika kebanyakan manusia Indonesia sudah mempunyai karakter disamping kompetensinya, siapa yang dapat membendung Indonesia lebih baik, makmur dan sejahtera?.
Itulah sedikit catatan dari materi ‘character building’ yang disampaikan Erie Sudewo. Karena karakter itu akan membentuk sikap seseorang, maka ini perlu dipunyai oleh setiap warga negara Indonesia. Jika karakter-karakter orang Indonesia sudah baik, maka nilai-nilai luhur itu akan terasa kembali.
Para pendahulu, pejuang, dan pahlawan kemerdekaan telah jelas memiliki karakter nasionalis. Sesuai dengan jamannya, karena memang yang dibutuhkan kala itu adalah semangat nasionalisme. Dengan semangat dan karakter yang dimiliki tersebut pendahulu kita bersatu padu untuk membebaskan tanah air ini dari belenggu dan otoritas tirani penjajah. Sehingga dari kesatuan tujuan itu bangsa Indonesia bisa merdeka.
Sekarang tantangan buat kita, para generasi muda khususnya, adalah mengembalikan semangat juang para pendahulu kita guna melepaskan Indonesia saat ini dari ketergantungan pihak asing. Kepentingan-kepentingan asing itu harus kita putus. Dan kemerdekaan Indonesia akan benar-benar terwujud jika Indonesia dapat menjadi tuan di negerinya sendiri.
Seperti yang disampaikan Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI) dalam kesempatan yang sama: Yang perlu ditekankan pada diri kita sebagai warga negara Indonesia adalah bagaimana kita harus mempunyai sikap ‘menjadi tuan di Negeri sendiri’. Menjadi tuan di negeri sendiri bukan berarti menjadi tuan rumah bagi warga negara asing secara berlebihan dan boros dalam menjamu tamu. Bukannya tidak menghormati atau memuliakan mereka, akan tetapi lebih pada kita tetap harus menjaga kebersahajaan kita.
Menjadi tuan di negeri sendiri artinya kita menjadi master yang dapat mengatur siapa saja yang datang. Bukan malah kita yang diatur. Intinya kita menerima adanya pihak asing yang datang asalkan memberi kebaikan bersama dan tidak merugikan kita sebagai master.
Dari sedikit catatan tersebut, terbesit dalam pikiran, bahwa memang harusnya kita sebagai bangsa yang sudah memproklamirkan kemerdekaan, dapat mengelola Indonesia ini sendiri. Maksudnya adalah dengan memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya alam secara mandiri. Bukannya malah menuruti pihak asing. Karena otomatis kita tidak akan menerima keuntungan dari penguasaan asing tersebut.
Pemimpin saat ini haruslah bijak dalam mengatur bangsanya. Jangan sampai kepemilikan-kepemilikan atau modal-modal dari asing itu semakin merajalela. Kita harus bisa mengelola negara ini tanpa harus didikte oleh luar. Harus berani memutus hubungan dengan pihak asing jika itu dampaknya berkelanjutan menyengsarakan masyarakat.
Dan tantangan bagi pemuda saat ini, kita dituntut untuk memperbaiki negeri ini. Karena pemuda hari ini adalah pelopor (tokoh) kepemimpinan hari esok. Dari berbagai problema Indonesia saat ini, kuncinya adalah masih besarnya penguasaan asing diberbagai sektor kehidupan negeri ini. Maka dari itu kita perlu untuk Indonesianisasi Indonesia.
Dengan semangat kolaborasi karya untuk negeri, kita jadikan diri kita kunang-kunang yang akan menerangi gulita. Karena titik-titik cahaya kunang-kunang, jika itu banyak, akan menerangi seantero Indonesia. Dan Indonesiapun akan bercahaya.

Usaha Keras, Allah yang Membalas!


 Salah satu tulisan dalam buku Goresan Kecil untuk Negeriku. Oleh M. Bagus Setiawan.


Di pinggiran gedung-gedung Ibukota yang menjulang tinggi, Sari hidup sederhana bersama keluarganya. Anak ke-3 dari empat bersaudara ini adalah anak yang cukup berbakti kepada kedua orang tuanya. Hidup di lingkungan perkotaan membuatnya mempunyai wawasan yang cukup luas. Wajar saja, ia hidup di tanah metropolitan, Jakarta.

Sejak usia sekolah menengah pertama, Sari ingin sekali bisa belajar ke Eropa. Keinginan itu didasari karena banyaknya orang disekelilingnya yang melanjutkan studi ke luar negeri, terutama ke Eropa. Bahkan orang terdekatnya pun dijadikannya tauladan untuk berani bercita-cita tinggi seperti itu. Masdar, kakak Sari pada waktu itu sedang menempuh S2 di Belanda. Kakak Sari mendapatkan beasiswa untuk studinya tersebut.

Sari menyadari cita-citanya untuk belajar ke Eropa merupakan keinginan yang sangat besar. Itu akan tercapai dengan perjuangan yang besar pula. Ia pun selalu giat belajar agar bisa meneruskan ke sekolah menengah atas, kuliah, hingga bisa belajar di Eropa.

Pelajaran yang paling ia tekuni adalah bahasa Inggris. Dengan berbagai cara ia lakukan demi menguasai bahasa Inggris, mulai dari menghafal kosakata-kosakata baru sampai berlatih bicara di depan cermin. Sari menyadari bahwa yang dibutuhkan seseorang untuk dapat beradaptasi di lingkungan yang baru adalah paling tidak ia harus menguasai bahasa sebagai alat komunikasi.

Tak hanya tekun belajar, Sari juga selalu berdo’a dan meminta do’a dari orang tua agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Ia meyakini, kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa akan memuluskan jalannya. Bahkan tak jarang ia larut dalam deraian air mata pada shalat malamnya. Shalat dhuha tak pernah ia tinggalkan kecuali jika berhalangan. Puasa sunnah pun kerap ia lakukan. Semua itu ia dedikasikan guna membangun kedekatan denganNya.

Hari-hari Sari terus termotivasi untuk bisa belajar ke Eropa. Sampai ia lulus sekolah menengah pertama dan melanjutkan ke sekolah menengah atas. Tak pernah sedikit pun ia melupakan cita-citanya yang satu ini.

Motivasi dari orang-orang di sekitarnya kembali muncul setelah guru sekolah menengah atasnya juga pergi ke Eropa guna melanjutkan studinya. Guru yang baru satu tahun mengajar di sekolahnya itu mendapat beasiswa untuk meraih gelar S2 di Jerman. Hal ini membuat gairah Sari semakin membara untuk bisa mengejar cita-citanya.

Dalam tiga tahun masa belajarnya di SMA, tak jarang juga ia menemui kemalasan, ketidakpercayaan diri, dan hal-hal yang mengendurkan semangatnya. Karena dalam proses sekolahnya, ia hanya pernah menjadi rangking tiga besar pada waktu kelas dua. Namun nilai yang paling menonjol adalah tetap bahasa Inggris. Ia akan selalu mempersiapkan bekalnya yang satu ini. Karena ia memahami yang dibutuhkannya jika ingin belajar ke luar negeri adalah bahasa Internasional ini.

Lulus dari SMA, Sari mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Ia memilih perguruan tinggi ternama agar cita-citanya belajar ke Eropa semakin dekat. Proses seleksi pun ia jalani. Setelah tiba waktunya pengumuman, dengan antusias ia melihat pengumuman hasil penerimaan mahasiswa baru di koran. Beberapa menit mencari, namanya tertera, ia diterima di perguruan tinggi negeri. Dilihatnya di sebelah tulisan namanya tertera nama perguruan tinggi pinggiran, Universitas Jember. Ia pun sontak kaget dan tidak habis pikir, yang ia tuju adalah perguruan tinggi ternama. Kenapa bisa diterimanya di perguruan tinggi pinggiran. Usut punya usut, ternyata yang ia arsir dalam bulatan kertas pendaftarannya adalah Universitas Jember. Universitas di ujung timur pulau Jawa.

Hatinya pun dirundung kegelisahan. Melanjutkan atau mendaftar ulang lewat jalur yang lain. Tiga hari ia mengalami kegelisahan itu. Sampai pada akhirnya ia berkonsultasi dengan orang tua dan guru ngajinya. Yang didapat dari konsultasi tersebut adalah meminta petunjuk dari Allah. Dengan shalat istikhara, Sari meminta petunjuk dari yang Maha Kuasa. Tiga hari berselang setelah shalat istikhara, hati Sari menjadi semakin dapat menerima keadaan. Bahwa dia kini lebih lapang dada untuk kuliah di perguruan tinggi pinggiran itu.

Hari registrasi tiba, dengan niat ikhlas karena Allah, Sari berangkat dari ujung pulau ke ujung pulau. Setibanya di Universitas Jember, ia nampak kagum. Tak seperti lintasan pikiran yang selama ini ia pikirkan. Ternyata Universitas itu tampak megah meski berada di pinggiran. Semangatnya untuk menimba ilmu hidup kembali.

Dalam prosesnya selama kuliah, ternyata juga mengasyikkan dan ia merasa dipilihkan oleh Allah jalan untuk menggapai cita-citanya. Karena di Universitas ini, Sari bertemu dengan orang-orang yang nampaknya dihadirkan Allah untuknya. Orang-orang itu adalah dua orang yang nantinya menjadi dosen pembibing tugas akhirnya dan seorang dosen yang membimbingnya dalam keteguhan beragama, Bu Lilik. Dalam masa kuliahnya, Sari akrab sekali dengan 3 dosen ini. Terlebih pada Bu Lilik.

Di akhir tahun kedua ia berada di tanah orang, nampaknya ada ujian hidup yang harus Sari jalani. Uang kiriman dari orang tua yang biasanya mencukupi kebutuhannya, kian hari kian sulit. Kiriman sering kali terlambat dan itu tak sebanding dengan pengeluarannya untuk makan sehari-hari.

Sari yang tidak mau menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan orangtuanya, tetap tegar menjalani kehidupan. Awalnya ia sempat menghutang beberapa uang dari teman-temannya untuk mencukupi kebutuhan isi perutnya. Namun ia sadar, hutang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah.

Ia pun mencoba untuk bekerja sambilan. Disamping harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Allah memberikan jalan. Mendapat info dari teman satu kosnya, bahwa radio Kisah membutuhkan pembawa acara tambahan, Sari pun bergegas untuk mendatangi kantor radio itu. Tanpa prosedur yang panjang, ia diterima untuk bekerja. Sekarang ia menjadi penyiar radio.

Pagi sampai sore hari Sari gunakan untuk kuliah, belajar, dan mengerjakan tugas kuliah. Sedang malamnya ia bekerja di radio Kisah. Meski kesehariannya ia disibukkan dengan urusan dunia, Sari tetap menjaga amalan ibadah hariannya yang sudah rutin dilakukan semenjak SMP,. Mulai dari shalat tepat waktu, shalat malam, shalat dhuha, puasa sunnah, serta membaca Al Qur’an, masih menjadi aktivitasnya sehari-hari. Dengan pekerjaannya itu, Sari telah bisa membiayai hidupnya sendiri. Ia pun meminta orangtuanya untuk tidak mengkhawatirkan kondisi keuangannya.

Ternyata aktivitasnya yang padat itu berlanjut hingga ia mengerjakan tugas akhir. Dengan pengalamannya mengatur waktu, Sari tak merasa kesulitan dalam menyelesaikan kuliahnya.

Dua dosen pembimbing yang tak hanya menjadi pembimbingnya dalam hal tugas akhir. Namun mereka juga mendengar curhat dari Sari yang menceritakan ia ingin sekali belajar ke Eropa. Dengan antusias, dua dosen pembimbing ini pun selalu mendorong keinginannya itu agar segera terwujud. Sedang Bu Lilik juga selalu mendengarkan dan menasihati Sari setiap kali ia bercerita tentang masa depannya.

Dari nasihat-nasihat mereka bertigalah Sari banyak memperoleh pelajaran hidup. Hingga tiba masa ia wisuda dengan waktu yang relatif singkat dan, tiga tahun delapan bulan. IPKnya juga memuaskan, 3,33.

Setelah lulus kuliah, selama dua bulan Sari mencari-cari beasiswa ke Eropa. Mengurus ini dan itu, dan lain sebagainya. Yang paling menjadikan tantangan adalah kala ia harus menunjukkan ijazah translate berbahasa inggris, sedangkan ia sudah berada di Jakarta. Ia pun sedikit kebingungan awalnya, namun Allah memberinya jalan. Sari ingat Bu Lilik yang sangat akrab dengannya. Dengan semangat yang membara, Sari menghubungi Bu Lilik dengan telepon. Setelah Sari menerangkan maksudnya, Bu Lilik pun antusias untuk membantunya membuatkan translate ijazahnya.

Dua pekan Sari menunggu, ijazah translatenya akhirnya selesai dan ada di depan mata. Ia akhirnya mendaftar beasiswa ke empat Universitas sekaligus. Melewati berbagai tes, baik tulis maupun wawancara, ia lalui dengan niat karena Allah semata. Ia ingin memiliki manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Dari usaha-usahanya yang sungguh, nampaknya Allah mengujinya dengan kesabaran. Beberapa hari tidak ada jawaban untuk mendapatkan beasiswa. Ia pun mulai pesimis.

Ditengah pesimis itu, suatu hari Sari pergi ke Masjid. Setelah melakukan shalat dua rakaat, ia meminta kepada Allah dengan cucuran air mata yang sangat deras. Ia memohon agar supaya Allah berkenan memberikannya kesempatan mendapat beasiswa ke luar negeri.

Keajaiban terjadi, satu hari setelah ia memohon dengan sangat dan penuh harap, ada surat datang. Surat tersebut menuliskan bahwa ia berhak menerima beasiswa dari salah satu Universitas di Belanda. Sari langsung sujud syukur dengan berita yang datang waktu itu. Setelah semua persyaratan dipenuhi, berangkatlah ia ke benua biru yang selama ini ia cita-citakan.

4 Hal Yang Apabila Itu Terdapat Pada Kita, Maka Kita Akan Bahagia.



1.      Istri yang sholihah
Istri sholihah ialah istri yang bilamana kita memandangnya dapat menyejukkan/menyenangkan hati, bilamana kita perintah selalu dikerjakannya, dan bilamana kita bepergian ia menjaga harta dan kehormatannya.

2.      Anak yang berbakti
Beruntunglah bila kita punya anak yang berbakti, karena dengannya pahala amalan kita akan terus mengalir kala kita sudah tiada. Yaitu melalui do’anya anak yang sholeh, sebagaimana sabda Rasulullah: “pahala seseorang akan terputus kala ia meninggal, kecuali 3 perkara yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.

3.      Sahabat yang baik
Sahabat yang baik adalah salah satu sumber kebahagiaan, karena dengannya kita dapatkan pergaulan yang baik-baik pula. Sahabat yang baik-baik akan senantiasa memberi keberuntungan bagi kita, serta akan selalu melakukan suatu hal yang menuju pada kebaikan.

4.      Kerja di negeri sendiri
Ada pepatah mengatakan “lebih baik makan singkong di negeri sendiri daripada makan roti di negeri lain”, artinya lebih baik kita bekerja di nageri sendiri yang merupakan hasil jerih payah sendiri ketimbang bekerja di negeri orang yang jauh dari keluarga, tentunya nilai kebahagiaan itu akan serasa kurang.

Kalau Bisa Tepat, Mengapa Terlambat?


Waktu merupakan suatu hal yang tak mungkin dapat diperlambat, dihentikan, maupun diulang. Waktu akan terus setia berjalan mengitari detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, dan begitu seterusnya. Selama siklus kehidupan itu ada, maka waktu akan selalu berputar.

Sungguh bijak jika kita sebagai makhluk hidup menggunakan waktu dengan efektif dan efisien. Karena menyia-nyiakan waktu merupakan ciri dari kebodohan (kata Aa Gym). Belajar menggunakan waktu dengan tepat akan selalu mendorong kita untuk bergerak dan bertumbuh. Akan senantiasa ada kerja-kerja yang kita lakukan. Dan itu akan lebih baik dari pada menyia-nyiakan waktu yang kita miliki.

Kenyataan disekitar kita cukup membuat prihatin. Masalah ketepatan terhadap waktu nampaknya sangat sulit untuk dirubah. Padahal jika kita bisa memanajemen waktu yang kita punya dengan baik, maka masalah klasik ‘terlambat’ akan hilang.

Tepat waktu merupakan ciri orang yang disiplin dan menghargai waktu. Juga merupakan ciri dari keseriusannya menghargai orang lain jika itu berhubungan dengan janji atau sesuatu yang sudah ada kesepakatan waktu sebelumnya. Sedangkan terlambat merupakan ciri orang yang lalai atau teledor. Antara orang yang disiplin dengan orang yang teledor sebenarnya memiliki jatah waktu yang sama. Hanya perbedaaannya adalah terkait dengan manajemen waktu. Jika orang yang disiplin dapat memanajemen waktunya dengan baik, orang yang teledor tidak dapat memanajemen waktunya dengan baik.

Antara orang yang disiplin dengan orang yang teledor memiliki jatah waktu yang sama. Seharusnya tidak ada alasan untuk terlambat jika sudah ada kesepakatan waktu sebelumnya. Misalkan kita diundang rapat jam empat sore, jka kita sudah menyanggupi untuk hadir, maka kita harus bisa datang sebelum jam empat. Karena jam empat sudah waktunya untuk memulai rapat. Jika ada yang masih terlambat, padahal sudah menyanggupi untuk hadir, maka orang tersebut dapat dikatakan kurang bisa memanajemen waktunya dengan baik dan tidak konsisten.

Terkadang ada saja alasan “Maaf, tempat saya jauh (dari tempat rapat), kebetulan tadi juga macet dijalan sehingga saya terlambat.” Apakah alasan ini dapat diterima? Seharusnya jika ingin tepat waktu, dia akan memperhitungkan waktunya, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pun akan diperhitungkannya. Misalkan macet itu tadi, jika sudah diperhitungkan, maka dia akan berangkat lebih awal untuk dapat datang tepat waktu meski ada halangan macet di jalan.

Ada juga alasan, “Maaf terlambat, saya tadi masih ada urusan lain.” Alasan seperti ini pun sebenarnya tidak dapat diterima jika sudah ada kesepakatan waktu sebelumnya. Berbeda jika memberi tahu terlebih dahulu (ijin) bahwa dia akan terlambat karena masih harus menyelesaikan urusan yang lain. Namun jika urusannya sepele dan bahasan rapat misalnya lebih penting, seharusnya dia memilih tepat waktu dalam menghadiri undangan rapatnya.

Ada lagi satu alasan, yang alasan ini sungguh akan memperpanjang budaya terlambat, yaitu “Ah, biasanya juga acaranya molor, saya berangkat nanti dulu saja.” Artinya dia sengaja untuk terlambat. Sampai kapan pun jika pikiran seperti ini tetap dipelihara, hasilnya keterlambatan itu tidak dapat dirubah. Sehingga tepat waktu menjadi suatu hal yang langkah.

Dari begitu banyaknya alasan seseorang untuk membela dirinya dari keterlambatan, hal itu tidak akan merubah kebiasaan terlambat. Salah satu kunci agar dapat merubah budaya tersebut adalah tepat waktu. Jika ingin merubah suatu kebiasaan, maka harus dipaksakan kebiasaan yang lain (kata Rhenald Kasali). Semua orang mempunyai waktunya masing-masing, semua orang dapat memanajemen waktunya dengan baik, dan semua orang bisa untuk sekedar tepat waktu.

Yang jelas, membuat orang menunggu itu merupakan suatu keburukan yang harus diperbaiki. Kita sudah mengetahui, bahkan merasakan, bahwa menunggu itu membosankan dan melelahkan. Jangan sampai orang lain terkena dampak dari keburukan yang kita lakukan. Semoga dengan ini kita dapat menghargai waktu dan menghargai orang lain. SALAM PERUBAHAN!

(sebuah tulisan untuk saya dan kalian)