Rabu, 27 Agustus 2014

INDONESIANISASI INDONESIA

 
Indonesia merupakan negara yang didalamnya terdapat berbagai ragam suku, budaya, ras, adat istiadat, agama, bahasa, dan lain-lain. Selain itu juga, Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan yang luas. Dari sabang sampai merauke, nama Indonesia terbentang. Itulah Indonesia.
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sungguh amat pelik kondisi saat itu. Para tokoh-tokoh perjuangan dibuang, diasingkan, dan di penjara. Memang untuk mencapai kemerdekaan itu membutuhkan pengorbanan. Tak hanya para tokoh yang merasakan penderitaan dan siksaan. Rakyat jelata lebih parah lagi, mereka terbelenggu dengan imperialisme kala itu.
Tergambar jelas bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia menginginkan bangsa ini bebas dari tirani asing yang mencokol. Bagaimana para pahlawan kita berjuang begitu hebatnya demi penguasaan pemerintah ditangan sendiri. Mungkin tak ada yang lain dibenak mereka, yaitu kemerdekaan. Dimana kemerdekaan itu akan berdampak pada kesejahteraan rakyat dan Indonesia pun dapat memimpin bangsanya sendiri.
Semangat itulah yang harusnya terwarisi dari generasi ke generasi. Namun apa yang terjadi? Realitanya generasi saat ini semakin jauh meninggalkan nilai-nilai luhur tersebut. perjuangan untuk ‘menjadi tuan di negeri sendiri’ seakan semakin luntur dimakan waktu. Lihatlah kepemimpinan bangsa kita saat ini. Benar pemimpinnya orang Indonesia asli, tapi siapa yang mengendalikan?. Lihatlah retorika-retorika yang diperagakan oleh wakil-wakil rakyat di senayan. Kepentingan siapa yang dijadikan bahan perdebatan?. Kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah, untuk siapa itu? Jawabannya adalah untuk kepentingan asing.
Tak hanya elit pemerintahan yang dijadikan alat asing untuk memenuhi kepentingannya. Rakyat juga dijadikan alat untuk mempermulus kepentingan itu cepat terealisasi. Lihatlah kehidupan rakyat kita sekarang. Bagaimana dengan budaya masyarakat kita sekarang? Bagaimana dengan pola hidup masyarakat kita sekarang? Dari mana masyarakat mendapatkan uang? Dari mana masyarakat mendapatkan kebutuhan hariannya? Jawabannya adalah pengaruh asing.
Bagaimana tidak, kita tahu sendiri budaya-budaya Indonesia semakin hari semakin redup. Pola hidup masyarakat kita sekarang sudah berubah seperti hidup kebarat-baratan. Sumber keuangan Indonesia dikuasai oleh orang-orang non pribumi. Sampai-sampai, kebutuhan harian pun tak lepas dari penagruh asing. Itulah realitanya sekarang. Begitu hebatnya penguasaan segala sektor di bumi pertiwi saat ini. Memang tidak bisa dipungkirai bahwa kita masih terbelenggu oleh pihak asing.
Mengapa sampai terjadi demikian? Mentalitas orang Indonesia saat ini kurang terdidik dan kurang terarahkan dengan baik. Mentalitas yang juga dapat diartikan sebagai karakterlah yang mempengaruhi pola kehidupan dan pola pikir seseorang. Erie Sudewo, mantan direktur Dompet Dhuafa dalam kesempatannya berbicara di pelatihan kepemimpinan ke-14 yang diselenggarakan FIM (Forum Indonesi Muda), memaparkan bagaimana karakter itu sangat penting dimiliki setiap individu. Berikut sedikit catatan dari materi yang disampaikan:
Yang akan dibicarakan disini adalah reformasi karakter. Bagaimana kita membentuk karakter pribadi kita sehingga memiliki jati diri yang kuat. Ini penting dibahas karena bisa dikatakan, jika kita lihat kondisi moralitas bangsa kita saat ini, degradasi moral anak bangsa semakin menjadi.
Indonesia adalah contoh yang paling baik untuk tidak dicontoh. Banyak diantara anak bangsa yang mempunyai banyak keahlian dibidangnya masing-masing. Banyak juga diantara mereka yang mempunyai posisi-posisi penting sebagai pengambil kebijakan nasional. Dan tak jarang juga ada diantara mereka yang tidak mencerminkan apa yang sedang diamanahkan.
Sudah rahasia umum jika pejabat mulai dari tingkat kampung sampai tingkat nasional banyak yang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pengambil kebijakan dibidang hukum juga tak jarang bermain amplop. Warga sipil pun tak sedikit yang pesimis dengan prestasi-prestasi nasional, sepakbola misalkan. Juga dibidang pendidikan kita dituntut untuk memenuhi kompetensi, yang semua itu tidak bisa baik jika tidak diimbangi dengan karakter setiap individu.
Karena mereka hanya punya kompetensi. Dimana kompetensi tersebut hanya mengantarkan orang pada suatu keahlian tertentu, tapi tidak terhadap mentalitas atau karakter yang dimiliki. Mereka hanya dididik untuk bisa memenuhi kualifikasi tertentu untuk bisa mengisi pos-pos tertentu.
Kualitas manusia itu dilihat dari kompetensi dan karekternya. Jika seorang mempunyai kompetensi dan diimbanginya dengan karakter, bijaklah jika kita katakan ia adalah seorang yang sukses mulia. Dan jika kita menginginkan sukses mulia, bangunlah karakter berbasis agama. Karena agama adalah warisan yang paling suci.
Orang yang selalu dilatih kecerdasannya tanpa dilatih karakternya, maka orang akan lebih buas dari serigala. Jika kebanyakan manusia Indonesia sudah mempunyai karakter disamping kompetensinya, siapa yang dapat membendung Indonesia lebih baik, makmur dan sejahtera?.
Itulah sedikit catatan dari materi ‘character building’ yang disampaikan Erie Sudewo. Karena karakter itu akan membentuk sikap seseorang, maka ini perlu dipunyai oleh setiap warga negara Indonesia. Jika karakter-karakter orang Indonesia sudah baik, maka nilai-nilai luhur itu akan terasa kembali.
Para pendahulu, pejuang, dan pahlawan kemerdekaan telah jelas memiliki karakter nasionalis. Sesuai dengan jamannya, karena memang yang dibutuhkan kala itu adalah semangat nasionalisme. Dengan semangat dan karakter yang dimiliki tersebut pendahulu kita bersatu padu untuk membebaskan tanah air ini dari belenggu dan otoritas tirani penjajah. Sehingga dari kesatuan tujuan itu bangsa Indonesia bisa merdeka.
Sekarang tantangan buat kita, para generasi muda khususnya, adalah mengembalikan semangat juang para pendahulu kita guna melepaskan Indonesia saat ini dari ketergantungan pihak asing. Kepentingan-kepentingan asing itu harus kita putus. Dan kemerdekaan Indonesia akan benar-benar terwujud jika Indonesia dapat menjadi tuan di negerinya sendiri.
Seperti yang disampaikan Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI) dalam kesempatan yang sama: Yang perlu ditekankan pada diri kita sebagai warga negara Indonesia adalah bagaimana kita harus mempunyai sikap ‘menjadi tuan di Negeri sendiri’. Menjadi tuan di negeri sendiri bukan berarti menjadi tuan rumah bagi warga negara asing secara berlebihan dan boros dalam menjamu tamu. Bukannya tidak menghormati atau memuliakan mereka, akan tetapi lebih pada kita tetap harus menjaga kebersahajaan kita.
Menjadi tuan di negeri sendiri artinya kita menjadi master yang dapat mengatur siapa saja yang datang. Bukan malah kita yang diatur. Intinya kita menerima adanya pihak asing yang datang asalkan memberi kebaikan bersama dan tidak merugikan kita sebagai master.
Dari sedikit catatan tersebut, terbesit dalam pikiran, bahwa memang harusnya kita sebagai bangsa yang sudah memproklamirkan kemerdekaan, dapat mengelola Indonesia ini sendiri. Maksudnya adalah dengan memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya alam secara mandiri. Bukannya malah menuruti pihak asing. Karena otomatis kita tidak akan menerima keuntungan dari penguasaan asing tersebut.
Pemimpin saat ini haruslah bijak dalam mengatur bangsanya. Jangan sampai kepemilikan-kepemilikan atau modal-modal dari asing itu semakin merajalela. Kita harus bisa mengelola negara ini tanpa harus didikte oleh luar. Harus berani memutus hubungan dengan pihak asing jika itu dampaknya berkelanjutan menyengsarakan masyarakat.
Dan tantangan bagi pemuda saat ini, kita dituntut untuk memperbaiki negeri ini. Karena pemuda hari ini adalah pelopor (tokoh) kepemimpinan hari esok. Dari berbagai problema Indonesia saat ini, kuncinya adalah masih besarnya penguasaan asing diberbagai sektor kehidupan negeri ini. Maka dari itu kita perlu untuk Indonesianisasi Indonesia.
Dengan semangat kolaborasi karya untuk negeri, kita jadikan diri kita kunang-kunang yang akan menerangi gulita. Karena titik-titik cahaya kunang-kunang, jika itu banyak, akan menerangi seantero Indonesia. Dan Indonesiapun akan bercahaya.

Tidak ada komentar: