Rabu, 27 Agustus 2014

Kalau Bisa Tepat, Mengapa Terlambat?


Waktu merupakan suatu hal yang tak mungkin dapat diperlambat, dihentikan, maupun diulang. Waktu akan terus setia berjalan mengitari detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, dan begitu seterusnya. Selama siklus kehidupan itu ada, maka waktu akan selalu berputar.

Sungguh bijak jika kita sebagai makhluk hidup menggunakan waktu dengan efektif dan efisien. Karena menyia-nyiakan waktu merupakan ciri dari kebodohan (kata Aa Gym). Belajar menggunakan waktu dengan tepat akan selalu mendorong kita untuk bergerak dan bertumbuh. Akan senantiasa ada kerja-kerja yang kita lakukan. Dan itu akan lebih baik dari pada menyia-nyiakan waktu yang kita miliki.

Kenyataan disekitar kita cukup membuat prihatin. Masalah ketepatan terhadap waktu nampaknya sangat sulit untuk dirubah. Padahal jika kita bisa memanajemen waktu yang kita punya dengan baik, maka masalah klasik ‘terlambat’ akan hilang.

Tepat waktu merupakan ciri orang yang disiplin dan menghargai waktu. Juga merupakan ciri dari keseriusannya menghargai orang lain jika itu berhubungan dengan janji atau sesuatu yang sudah ada kesepakatan waktu sebelumnya. Sedangkan terlambat merupakan ciri orang yang lalai atau teledor. Antara orang yang disiplin dengan orang yang teledor sebenarnya memiliki jatah waktu yang sama. Hanya perbedaaannya adalah terkait dengan manajemen waktu. Jika orang yang disiplin dapat memanajemen waktunya dengan baik, orang yang teledor tidak dapat memanajemen waktunya dengan baik.

Antara orang yang disiplin dengan orang yang teledor memiliki jatah waktu yang sama. Seharusnya tidak ada alasan untuk terlambat jika sudah ada kesepakatan waktu sebelumnya. Misalkan kita diundang rapat jam empat sore, jka kita sudah menyanggupi untuk hadir, maka kita harus bisa datang sebelum jam empat. Karena jam empat sudah waktunya untuk memulai rapat. Jika ada yang masih terlambat, padahal sudah menyanggupi untuk hadir, maka orang tersebut dapat dikatakan kurang bisa memanajemen waktunya dengan baik dan tidak konsisten.

Terkadang ada saja alasan “Maaf, tempat saya jauh (dari tempat rapat), kebetulan tadi juga macet dijalan sehingga saya terlambat.” Apakah alasan ini dapat diterima? Seharusnya jika ingin tepat waktu, dia akan memperhitungkan waktunya, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pun akan diperhitungkannya. Misalkan macet itu tadi, jika sudah diperhitungkan, maka dia akan berangkat lebih awal untuk dapat datang tepat waktu meski ada halangan macet di jalan.

Ada juga alasan, “Maaf terlambat, saya tadi masih ada urusan lain.” Alasan seperti ini pun sebenarnya tidak dapat diterima jika sudah ada kesepakatan waktu sebelumnya. Berbeda jika memberi tahu terlebih dahulu (ijin) bahwa dia akan terlambat karena masih harus menyelesaikan urusan yang lain. Namun jika urusannya sepele dan bahasan rapat misalnya lebih penting, seharusnya dia memilih tepat waktu dalam menghadiri undangan rapatnya.

Ada lagi satu alasan, yang alasan ini sungguh akan memperpanjang budaya terlambat, yaitu “Ah, biasanya juga acaranya molor, saya berangkat nanti dulu saja.” Artinya dia sengaja untuk terlambat. Sampai kapan pun jika pikiran seperti ini tetap dipelihara, hasilnya keterlambatan itu tidak dapat dirubah. Sehingga tepat waktu menjadi suatu hal yang langkah.

Dari begitu banyaknya alasan seseorang untuk membela dirinya dari keterlambatan, hal itu tidak akan merubah kebiasaan terlambat. Salah satu kunci agar dapat merubah budaya tersebut adalah tepat waktu. Jika ingin merubah suatu kebiasaan, maka harus dipaksakan kebiasaan yang lain (kata Rhenald Kasali). Semua orang mempunyai waktunya masing-masing, semua orang dapat memanajemen waktunya dengan baik, dan semua orang bisa untuk sekedar tepat waktu.

Yang jelas, membuat orang menunggu itu merupakan suatu keburukan yang harus diperbaiki. Kita sudah mengetahui, bahkan merasakan, bahwa menunggu itu membosankan dan melelahkan. Jangan sampai orang lain terkena dampak dari keburukan yang kita lakukan. Semoga dengan ini kita dapat menghargai waktu dan menghargai orang lain. SALAM PERUBAHAN!

(sebuah tulisan untuk saya dan kalian)

Tidak ada komentar: