Rabu, 27 Agustus 2014

Usaha Keras, Allah yang Membalas!


 Salah satu tulisan dalam buku Goresan Kecil untuk Negeriku. Oleh M. Bagus Setiawan.


Di pinggiran gedung-gedung Ibukota yang menjulang tinggi, Sari hidup sederhana bersama keluarganya. Anak ke-3 dari empat bersaudara ini adalah anak yang cukup berbakti kepada kedua orang tuanya. Hidup di lingkungan perkotaan membuatnya mempunyai wawasan yang cukup luas. Wajar saja, ia hidup di tanah metropolitan, Jakarta.

Sejak usia sekolah menengah pertama, Sari ingin sekali bisa belajar ke Eropa. Keinginan itu didasari karena banyaknya orang disekelilingnya yang melanjutkan studi ke luar negeri, terutama ke Eropa. Bahkan orang terdekatnya pun dijadikannya tauladan untuk berani bercita-cita tinggi seperti itu. Masdar, kakak Sari pada waktu itu sedang menempuh S2 di Belanda. Kakak Sari mendapatkan beasiswa untuk studinya tersebut.

Sari menyadari cita-citanya untuk belajar ke Eropa merupakan keinginan yang sangat besar. Itu akan tercapai dengan perjuangan yang besar pula. Ia pun selalu giat belajar agar bisa meneruskan ke sekolah menengah atas, kuliah, hingga bisa belajar di Eropa.

Pelajaran yang paling ia tekuni adalah bahasa Inggris. Dengan berbagai cara ia lakukan demi menguasai bahasa Inggris, mulai dari menghafal kosakata-kosakata baru sampai berlatih bicara di depan cermin. Sari menyadari bahwa yang dibutuhkan seseorang untuk dapat beradaptasi di lingkungan yang baru adalah paling tidak ia harus menguasai bahasa sebagai alat komunikasi.

Tak hanya tekun belajar, Sari juga selalu berdo’a dan meminta do’a dari orang tua agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Ia meyakini, kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa akan memuluskan jalannya. Bahkan tak jarang ia larut dalam deraian air mata pada shalat malamnya. Shalat dhuha tak pernah ia tinggalkan kecuali jika berhalangan. Puasa sunnah pun kerap ia lakukan. Semua itu ia dedikasikan guna membangun kedekatan denganNya.

Hari-hari Sari terus termotivasi untuk bisa belajar ke Eropa. Sampai ia lulus sekolah menengah pertama dan melanjutkan ke sekolah menengah atas. Tak pernah sedikit pun ia melupakan cita-citanya yang satu ini.

Motivasi dari orang-orang di sekitarnya kembali muncul setelah guru sekolah menengah atasnya juga pergi ke Eropa guna melanjutkan studinya. Guru yang baru satu tahun mengajar di sekolahnya itu mendapat beasiswa untuk meraih gelar S2 di Jerman. Hal ini membuat gairah Sari semakin membara untuk bisa mengejar cita-citanya.

Dalam tiga tahun masa belajarnya di SMA, tak jarang juga ia menemui kemalasan, ketidakpercayaan diri, dan hal-hal yang mengendurkan semangatnya. Karena dalam proses sekolahnya, ia hanya pernah menjadi rangking tiga besar pada waktu kelas dua. Namun nilai yang paling menonjol adalah tetap bahasa Inggris. Ia akan selalu mempersiapkan bekalnya yang satu ini. Karena ia memahami yang dibutuhkannya jika ingin belajar ke luar negeri adalah bahasa Internasional ini.

Lulus dari SMA, Sari mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Ia memilih perguruan tinggi ternama agar cita-citanya belajar ke Eropa semakin dekat. Proses seleksi pun ia jalani. Setelah tiba waktunya pengumuman, dengan antusias ia melihat pengumuman hasil penerimaan mahasiswa baru di koran. Beberapa menit mencari, namanya tertera, ia diterima di perguruan tinggi negeri. Dilihatnya di sebelah tulisan namanya tertera nama perguruan tinggi pinggiran, Universitas Jember. Ia pun sontak kaget dan tidak habis pikir, yang ia tuju adalah perguruan tinggi ternama. Kenapa bisa diterimanya di perguruan tinggi pinggiran. Usut punya usut, ternyata yang ia arsir dalam bulatan kertas pendaftarannya adalah Universitas Jember. Universitas di ujung timur pulau Jawa.

Hatinya pun dirundung kegelisahan. Melanjutkan atau mendaftar ulang lewat jalur yang lain. Tiga hari ia mengalami kegelisahan itu. Sampai pada akhirnya ia berkonsultasi dengan orang tua dan guru ngajinya. Yang didapat dari konsultasi tersebut adalah meminta petunjuk dari Allah. Dengan shalat istikhara, Sari meminta petunjuk dari yang Maha Kuasa. Tiga hari berselang setelah shalat istikhara, hati Sari menjadi semakin dapat menerima keadaan. Bahwa dia kini lebih lapang dada untuk kuliah di perguruan tinggi pinggiran itu.

Hari registrasi tiba, dengan niat ikhlas karena Allah, Sari berangkat dari ujung pulau ke ujung pulau. Setibanya di Universitas Jember, ia nampak kagum. Tak seperti lintasan pikiran yang selama ini ia pikirkan. Ternyata Universitas itu tampak megah meski berada di pinggiran. Semangatnya untuk menimba ilmu hidup kembali.

Dalam prosesnya selama kuliah, ternyata juga mengasyikkan dan ia merasa dipilihkan oleh Allah jalan untuk menggapai cita-citanya. Karena di Universitas ini, Sari bertemu dengan orang-orang yang nampaknya dihadirkan Allah untuknya. Orang-orang itu adalah dua orang yang nantinya menjadi dosen pembibing tugas akhirnya dan seorang dosen yang membimbingnya dalam keteguhan beragama, Bu Lilik. Dalam masa kuliahnya, Sari akrab sekali dengan 3 dosen ini. Terlebih pada Bu Lilik.

Di akhir tahun kedua ia berada di tanah orang, nampaknya ada ujian hidup yang harus Sari jalani. Uang kiriman dari orang tua yang biasanya mencukupi kebutuhannya, kian hari kian sulit. Kiriman sering kali terlambat dan itu tak sebanding dengan pengeluarannya untuk makan sehari-hari.

Sari yang tidak mau menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan orangtuanya, tetap tegar menjalani kehidupan. Awalnya ia sempat menghutang beberapa uang dari teman-temannya untuk mencukupi kebutuhan isi perutnya. Namun ia sadar, hutang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah.

Ia pun mencoba untuk bekerja sambilan. Disamping harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Allah memberikan jalan. Mendapat info dari teman satu kosnya, bahwa radio Kisah membutuhkan pembawa acara tambahan, Sari pun bergegas untuk mendatangi kantor radio itu. Tanpa prosedur yang panjang, ia diterima untuk bekerja. Sekarang ia menjadi penyiar radio.

Pagi sampai sore hari Sari gunakan untuk kuliah, belajar, dan mengerjakan tugas kuliah. Sedang malamnya ia bekerja di radio Kisah. Meski kesehariannya ia disibukkan dengan urusan dunia, Sari tetap menjaga amalan ibadah hariannya yang sudah rutin dilakukan semenjak SMP,. Mulai dari shalat tepat waktu, shalat malam, shalat dhuha, puasa sunnah, serta membaca Al Qur’an, masih menjadi aktivitasnya sehari-hari. Dengan pekerjaannya itu, Sari telah bisa membiayai hidupnya sendiri. Ia pun meminta orangtuanya untuk tidak mengkhawatirkan kondisi keuangannya.

Ternyata aktivitasnya yang padat itu berlanjut hingga ia mengerjakan tugas akhir. Dengan pengalamannya mengatur waktu, Sari tak merasa kesulitan dalam menyelesaikan kuliahnya.

Dua dosen pembimbing yang tak hanya menjadi pembimbingnya dalam hal tugas akhir. Namun mereka juga mendengar curhat dari Sari yang menceritakan ia ingin sekali belajar ke Eropa. Dengan antusias, dua dosen pembimbing ini pun selalu mendorong keinginannya itu agar segera terwujud. Sedang Bu Lilik juga selalu mendengarkan dan menasihati Sari setiap kali ia bercerita tentang masa depannya.

Dari nasihat-nasihat mereka bertigalah Sari banyak memperoleh pelajaran hidup. Hingga tiba masa ia wisuda dengan waktu yang relatif singkat dan, tiga tahun delapan bulan. IPKnya juga memuaskan, 3,33.

Setelah lulus kuliah, selama dua bulan Sari mencari-cari beasiswa ke Eropa. Mengurus ini dan itu, dan lain sebagainya. Yang paling menjadikan tantangan adalah kala ia harus menunjukkan ijazah translate berbahasa inggris, sedangkan ia sudah berada di Jakarta. Ia pun sedikit kebingungan awalnya, namun Allah memberinya jalan. Sari ingat Bu Lilik yang sangat akrab dengannya. Dengan semangat yang membara, Sari menghubungi Bu Lilik dengan telepon. Setelah Sari menerangkan maksudnya, Bu Lilik pun antusias untuk membantunya membuatkan translate ijazahnya.

Dua pekan Sari menunggu, ijazah translatenya akhirnya selesai dan ada di depan mata. Ia akhirnya mendaftar beasiswa ke empat Universitas sekaligus. Melewati berbagai tes, baik tulis maupun wawancara, ia lalui dengan niat karena Allah semata. Ia ingin memiliki manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Dari usaha-usahanya yang sungguh, nampaknya Allah mengujinya dengan kesabaran. Beberapa hari tidak ada jawaban untuk mendapatkan beasiswa. Ia pun mulai pesimis.

Ditengah pesimis itu, suatu hari Sari pergi ke Masjid. Setelah melakukan shalat dua rakaat, ia meminta kepada Allah dengan cucuran air mata yang sangat deras. Ia memohon agar supaya Allah berkenan memberikannya kesempatan mendapat beasiswa ke luar negeri.

Keajaiban terjadi, satu hari setelah ia memohon dengan sangat dan penuh harap, ada surat datang. Surat tersebut menuliskan bahwa ia berhak menerima beasiswa dari salah satu Universitas di Belanda. Sari langsung sujud syukur dengan berita yang datang waktu itu. Setelah semua persyaratan dipenuhi, berangkatlah ia ke benua biru yang selama ini ia cita-citakan.

Tidak ada komentar: