Selasa, 28 Oktober 2014

Ruh Sumpah Pemuda

4 Muharram 1436 H
28 Oktober 2014 M

Berangkat dari pemahaman akan istilah iman, ruh sumpah pemuda dapat kita hayati bersama. Bahwa iman adalah membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan. Sumpah pemuda mempunyai ruh berupa keyakinan akan sebuah cita persatuan berbangsa. Yang awalnya lebih tinggi fanatisme kedaerahan, menjadi satu semangat kebangsaan.

Cita-cita persatuan untuk kebebasan dan keadilan yang bergelora dari diri pemuda telah menjadi tonggak sejarah. Sejarah lahirnya kesatuan tujuan untuk satu berdaulat. Bukan terpecah-pecah antardaerah, apalagi hanya karena perbedaan antarsuku bangsa dan bahasa. Kepercayaan akan perubahan inilah yang akhirnya disadari bersama oleh para pemuda kala itu.

Memang disetiap perubahan yang terjadi, dari dulu hingga sekarang, pemudalah pilarnya. Di kongres pemuda ke-2 yang diadakan 27-28 Oktober 1928 silam, terkumpullah ruh persatuan berbangsa itu. Yang kemudian diikrarkan 3 bunyi sumpah, sumpah pemuda. "Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia." Begitulah gairah pemuda. Sumpah telah disuarakan, bak mengucapkan dengan lisan dalam istilah iman.

Tiga sumpah itulah yang kemudian menjadi segerak perubahan. Tak ada lagi sekat kedaerahan. Tak ada lagi saling menjatuhkan. Tak ada lagi hina-menghina suku maupun bahasa. Kesemuanya telah menjadi satu persatuan, Indonesia. Perubahan sikap dan sifat perjuangan yang holistik tersebut, pada waktu kedepan menjadi segerak cita kemerdekaan. Tepatnya 17 tahun setelah sumpah itu diikrarkan. Persatuan yg dicitakan akhirnya terproklamasikan. Ruh sumpah pemuda telah mengilhami kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dengan ruh sumpah pemuda jua, Indonesia telah benar-benar terbebas dari belenggu penjajahan pada 1960. Setelah setahun sebelumnya kolonial ingin memecah belah kemerdekaan dengan pengakuan Republik Indonesia Serikat. Artinya, Indonesia diupayakan untuk menjadi negara-negara bagian. Kolonial ingin membangkitkan kembali fanatisme kedaerahan. Dan berkat ruh sumpah pemuda, keinginan itu sirna. Kita bisa dapati sampai hari ini, NKRI masih berdiri. Inilah pengamalan dari keyakinan akan cita.

Semangat sumpah itu juga harusnya tetap disadari oleh generasi negeri ini. Sehingga tak ada lagi konflik Poso, Ambon, Sampit, Papua, Aceh, dan lainnya. Ruh itu harus tetap ada sekarang, bahkan masa depan. Bahwa persatuan lebih mulia daripada berpecah-belah. Jika ada budaya asing yang merusak budaya ketimuran kita, bisalah kita tolak bersama. Juga apabila bahasa Indonesia tak lagi dijunjung, bisalah kita junjung (lagi) bersama.

Delapan puluh enam tahun sudah kita peringati hari ini, 28 Oktober, hari sumpah pemuda. Dan ruh dari sumpah ini akan tetap relevan saat ini dan masa depan. Maka peringatan tak seharusnya menjadi sikap yang monumental, tapi haruslah menjadi sikap keseharian pemuda lintas zaman. Yaitu sikap persatuan dan perjuangan untuk kemerdekaan sejati.