Selasa, 25 November 2014

Selamat Hari Guru by @mbagusetiawan

3 Safar 1436 H
25 November 2014 M


#SelamatHariGuru :) engkaulah pelita penyinar terang bagi kami, murid2mu

1. Saya ingin haturkan salam penghormatan sedalamnya pada para bapak/ibu guru saya. Dari TK s/d Kuliah. #SelamatHariGuru

2. Kpd guru TK yg saya lupa wajah juga namanya, maaf mendalam jika engkau blm bs terbayang lagi... #SelamatHariGuru

3. Namun terimakasihku haturkan padamu guru TKku smw. Aku trbimbing karena kalian. TK nan jauh dsna, Darun Najah, Sidoarjo. #SelamatHariGuru

4. Kpd guru SDku smw, jg terimakasih telah menuntun dalam belajar. tak bisa ku sebutkan semua, tp ku coba sebut beberapa... #SelamatHariGuru

5. Bpk/ibu guru SDku semua spesial. Yg akan saya sebut adl yg sedang terlintas dlm pikiran... #SelamatHariGuru

6. Bpk. Alm. Daman Huri, guru agama Islam SD Trewung, Pasuruan. Terimakasih atas kesabaran dan kedisiplinan yg bpk ajarkan. #SelamatHariGuru

7. Semoga engkau bahagia di alam sana. Salam rinduku padamu, semoga Allah kumpulkan kita kembali di jannahNya, aamiin. #SelamatHariGuru

8. Ibu Suharlis, terimakasih atas bimbingan ketekunan yg engkau ajarkan. 'Garang'mu adl kasih sayang. #SelamatHariGuru

9. Ibu Pamrih, kepsek yg tulus tanpa pamrih, meski bernama pamrih. Terimakasih ats ketegarannya bimbing kami yg 'nakal'. #SelamatHariGuru

10. Bpk. Kadir yg selalu hadirkan keceriaan dg senam dan olahraganya. Terimakasih, pak. #SelamatHariGuru

11. Bpk. Slamet, terimakasih bimbingan yg tegas dan tegarnya. #SelamatHariGuru

12. Ibu Neni, terimakasih membimbing unt ikuti lomba cerdas cermat, yg rela membagi wktnya hingga sekolah sepi. #SelamatHariGuru

13. Bapak Rahman, kepsek baru yg coba buka wawasan kami, terimakasih atas wawasan yg bpk berikan. #SelamatHariGuru

14. Ibu Lilik, terimakasih kesabarannya meski kami banyak menggunjing engkau. Semoga sabarmu adl berkah bagi kami. #SelamatHariGuru

15. Tak lupa guru MI Miftahul Ulum dan Guru ngaji di Masjid Al Abror (Ust. Sidiq) yg berikan asupan keislaman. #SelamatHariGuru

16. Bpk Ahmad, terimakasih kesabarannya mendidik kami, juga keluangan wkt istirahatnya unt ajari kami. #SelamatHariGuru

17. Bpk. Abidin yg popular, terimakasih banyak ilmu yg engkau beri. Semoga ketulusanmu berbuah bahagia. #SelamatHariGuru

18. Bpk Achyak, terimakasih pelajaran b. Arabnya. Saya sedang mngorek memori lbh dr 10thn lalu unt belajar b. Arab lg dsni. #SelamatHariGuru

19. Bpk (lupa namanya tp ingt wajahnya). Terimakasih pelajaran shorrofnya. Maaf jika dulu kurang antusias. Skrg aku tau manfaatnya, mksih

20. Guru SMP, http://t.co/wFGWTm7k5A, kita kenal sbg kepsek disiplin n sering 'blusukan', terimakasih kepemimpinannya, bpk. #SelamatHariGuru

21. Ibu siti, terimakasih pelajaran pancasilanya. #SelamatHariGuru

22. Ibu Nurul, terimakasih ketekunannya mengajar mtk sehingga kami paham. #SelamatHariGuru

23. Ibu Purwatiningsih, walikelas 3C, terimakasih pengayomannya dan pelajaran b. Indonya. #SelamatHariGuru

24. Bpk. Santoso, terimakasih jg ilmu mtknya. #SelamatHariGuru

25. Bpk. Didik yg familiar, terimakasih pelajaran jasmerahnya. Seorang yg tegas n disiplin, yg menindak 'kebathilan' murid2nya...

26. ...meski tak lg d SMPN 2 Grati, pikiran engkau tetap hidup disana. SATRIA 165, bahkan skrg jd logo. Bpk hebat, salut.

27. Guru SMKN 1 Grati, Bpk. Guntur. Terimakasih telah mengajari kami ikhlas dan terimakasih transfer ilmunya. #SelamatHariGuru

28. Bpk. Bambang, terimakasih kehangatan suasana yg dibangun hingga cairnya kelas.

29. Bpk Basir, terimakasih ilmunya, kebijaksanaannya. #SelamatHariGuru

30. Ibu Afifah, Ibu Ita, dan Ibu Ulfa, terimakasih ilmu matematikanya dg varian metode pembelajarannya.

31. Ibu pipit laoshi, terimakasih pelajaran b. Mandarinnya. #SelamatHariGuru

32. Ibu Yu'la Diana n Ibu Nunik, terimakasih pelajaran IPAnya, khususnya AMDAL. #SelamatHariGuru

33. Bpk. Imam n Bpk Sajumin, terimakasih ilmu agama Islam n BTQnya. #SelamatHariGuru

34. Terimakasih juga dosen2 saya saat ini. Terimakasih banyak atas sharing Ilmunya :) #SelamatHariGuru

Jumat, 21 November 2014

Resensi Buku GMGM


Oleh: M. Bagus Setiawan
 
 

Judul Asli                    : Jiil An Nashr Al Mansyuud
Penulis                        : Dr. Yusuf Qordhowi
Penerbit                      : Maktabah Wahbah, Kairo – 1988
Judul Terjemahan     : Generasi Mendatang Generasi yang Menang
Penerjemah               : H. Salim Basyarahil
Penerbit                      : Gema Insani Press, Jakarta – Cet. Keempat 1995

Buku kecil ini merupakan jawaban dari keresahan seorang sahabat dari penulis. Disebutkan dalam mukaddimah dengan ungkapan “apakah malam ini belum juga mau berakhir? Apakah fajar belum juga mau menyingsing?...”. Maksud dari ungkapan itu adalah ketika melihat realita kekinian kondisi umat Islam yang seakan tenggelam dalam gulita malam. Umat yang rusak moralitasnya, teracuni aqidahnya, dan juga lemahnya dalam berislam secara totalitas. Lantas keresahan itu berkembang, sampai kapankah kondisi Umat Islam terpuruk hingga saat ini? Kapan generasi terbaik umat ini kembali hadir bak fajar menyingsing hadirkan cahaya benderang?.
Keresahan itu kemudian dijawab oleh penulis sebagai kabar gembira. Bahwa generasi mendatang yang akan menyibak gulita pastilah datang. Penulis mengisyaratkan, kita tak boleh putus asa dengan keadaan umat Islam yang terpuruk sekalipun. Karena sunnatullah adalah ketetapan, adanya malam pasti akan ada fajar yang menggantikan.
Penulis mengawali penjabaran dari jawaban atas keresahan itu dengan kata Islam itu sendiri. Islam adalah ruh dari umat ini. Dengan Islamlah umat ini akan bisa hidup. Artinya kemenangan atau kejayaan Islam akan selalu meminta ruhnya, yaitu Islam itu sendiri. Maka dari itu penulis menyerukan umat ini untuk kembali pada Islam. Sederhananya, Islam dapat diartikan dengan rukun Islam. Dimana rukun pertama adalah mengucap dua kalimat syahadat. Dari pemahaman dua kalimat inilah umat ini akan totalitas memperjuangkan Islam.
Pada kenyataannya, umat Islam saat ini belum begitu memahami konsekuensi dari keIslaman dirinya. Diantara sebabnya adalah tidak sadarnya hakikat hidup manusia di dunia, terjajahnya nalar manusia oleh nilai-nilai buatannya sendiri sehingga ujungnya adalah pemisahan agama dan materi (sekuler). Hal ini diabadikan oleh penulis dengan bahasan problema besar umat Islam. Lalu diberilah petunjuk bagaimana hukum kemenangan itu. Ada 3 hukum kemenangan menurut Dr. Yusuf Qordhowi, pertama kemenangan hanya dari sisi Allah, kedua kemenangan dilimpahkan pada orang-orang yang menolong Allah SWT, dan ketiga kemenangan itu hanya dapat diraih oleh kaum mukminin saja.
Lantas apa saja ciri-ciri maupun karakter dari generasi mendatang yang dapat menghadirkan kemenangan Islam kembali, dibahas dalam bab yang berjudul Generasi Mendatang Generasi yang Menang. Disebutkan ada duabelas ciri maupun karakter dari generasi mendatang yang akan kembali memenangkan Islam. Pada akhirnya, generasi harapan itu hadir oleh gemblengan dari pembinaan pergerakan Islam dewasa ini. Pembinaan inilah yang menjadi tanggungjawab bagi semua pergerakan Islam yang merindukan kemenangan dan kejayaan Islam kembali.

Jumat, 07 November 2014

Beginilah Tauhid


14 Muharram 1436
7 November 2014 

Tauhid arti sederhananya adalah menjadikan satu. Untuk memahami secara holistik tentang tauhid, maka penjelasannya dibagi menjadi tiga. Yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, serta tauhid asma wa shifat. Namun belakangan ini, para ulama' menjabarkan lagi menjadi empat. Ketambahan tauhid Mulkiyah yang sebenarnya masuk dalam penjelasan tauhid Uluhiyah. Penjabaran ini dikarenakan para ulama' mengkhawatirkan manusia jaman sekarang tak lagi memandang bahwa hukum Allah adalah yang tertinggi.

Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah adalah meyakini keEsaan Allah SWT sebagai Rabb. Yaitu Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, raja diraja, dan pengatur alam semesta ini.

Secara nalar, adanya sesuatu pasti ada asal muasalnya. Adanya ciptaan pasti ada penciptanya. Begitulah fitrah manusia dalam berpikir. Adanya alam semesta ini pun tentulah ada penciptanya, Ialah Allah SWT.

Hanya Allah yang maha memberi rizki kepada semua makhluknya. "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." (QS. Hud, 11: 6). Begitu juga manusia harus meyakini bahwa Allah-lah Sang raja diraja yang mengatur segala macam urusan makhluknya.

Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah artinya mengEsakan Allah dalam ibadah atau sesembahan. Bahwa tiada Illah yang berhak disembah melainkan Allah SWT. Hanya menjadikan satu saja yang disembah.

Tauhid ini penting untuk diyakini agar tauhid manusia lurus. Sehingga manusia tak menyembah selain kepada Allah SWT. Ditinggalkan semua sekutu-sekutu Allah, thaghut. Jadi semua thaghut harus ditinggalkan oleh manusia untuk kemurnian keyakinannya.

Thaghut bisa diartikan luas. Manusia yang menyembah manusia misalnya, maka manusia yang disembah adalah thaghut. Contohnya manusia meyakini dengan berdo'a kepada manusia lainnya atau yang telah tiada maka do'anya dapat dikabulkan. Atau manusia meyakini ada kekuatan ghaib dari pohon sebelah mata air, sehingga harus ada sesaji untuk 'penghuni' pohon. Hal ini (syirik) tidak dibenarkan dalam tauhid. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa', 4: 48)

Tauhid Mulkiyah
Seperti disebutkan di awal, tauhid mulkiyah adl penjabaran dari tauhid uluhiyah. Hal ini dikarenakan arti dari tauhid mulkiyah adalah meyakini hukum Allah SWT adalah hukum tertinggi, sedangkan hukum buatan manusia adalah rendah dan tak bisa memuliakan manusia seutuhnya. Namun bukan berarti jika seorang tak berhukum dengan hukum Allah SWT lantas dianggap kufur. Contoh, Indonesia belum berhukum pada hukum Allah secara total, yang menjadi landasan adalah UUD,  UU, dan peraturan pemerintahan lainnya. Jika seseorang mematuhi UU dan menjalankannya, bukan berarti orang ini kufur dan tak boleh orang lain men-takfir-i (menghukumi kafir) jika orang ini masih meyakini bahwa hukum Allah-lah yang tertinggi.

Berhukum pada hukum Allah SWT adalah bentuk kepatuhan manusia dalam Ibadah (tauhid uluhiyah). Namun Para ulama' menjabarkan tauhid mulkiyah dari tauhid uluhiyah untuk memberitakan kepada manusia bahwa meyakini hanya satu hukum (yaitu hukum Allah) adalah perkara tauhid. Para ulama' ingin manusia menyadarinya secara benar.

Tauhid Asma wa Shifat
Tauhid asma wa shifat artinya meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang baik dan setiap nama itu mempunyai masing-masing sifatNya. "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)" (QS. Thaha, 20: 8). Bahwa Allah tak sama dengan makhlukNya. Misalnya manusia mempunyai nama karim (mulia), tapi kelakuannya sehari-hari buruk atau tidak mulia, berarti antara nama dan sifatnya bertolak belakang. Atau misalnya lagi ada manusia bernama sami' (mendengar), tapi di usianya yang sudah tua ia tak lagi bisa mendengar melainkan suara yang keras dan didekatkan, nama dan sifatnya berbeda. Berbeda dengan Allah SWT, dengan nama-nama yang baik itu, sifatNya berbanding lurus seperti namaNya. Misalnya, dalam asmaul husna ada nama Allah SWT, Al-Ghafur (maha pengampun), sifatNya memang maha pengampun. Seperti firmanNya dalam al-Qur'an, "Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa', 4: 106).

Keempat tauhid tersebut harus diyakini secara keseluruhan. Tak bisa cukup bertauhid rububiyah saja tanpa bertauhid uluhiyah, misalnya. Seperti musyrik Qurays dahulu. Jika ditanya siapa yang menciptakan mereka, jawabnya Allah. Tapi dalam beribadah, mereka sembah yang namanya Lata, Uzzah, Hubal, dll. Artinya mereka tak bertauhid secara menyeluruh. Maka belum bisa dikatakan beriman.

Semoga kita dapat bertauhid secara menyeluruh dan tetap menjaganya hingga akhir hayat. Karena Allah SWT telah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali-Imran, 3: 102). Wallahua'lam bish shawab.