Jumat, 07 November 2014

Beginilah Tauhid


14 Muharram 1436
7 November 2014 

Tauhid arti sederhananya adalah menjadikan satu. Untuk memahami secara holistik tentang tauhid, maka penjelasannya dibagi menjadi tiga. Yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, serta tauhid asma wa shifat. Namun belakangan ini, para ulama' menjabarkan lagi menjadi empat. Ketambahan tauhid Mulkiyah yang sebenarnya masuk dalam penjelasan tauhid Uluhiyah. Penjabaran ini dikarenakan para ulama' mengkhawatirkan manusia jaman sekarang tak lagi memandang bahwa hukum Allah adalah yang tertinggi.

Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah adalah meyakini keEsaan Allah SWT sebagai Rabb. Yaitu Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, raja diraja, dan pengatur alam semesta ini.

Secara nalar, adanya sesuatu pasti ada asal muasalnya. Adanya ciptaan pasti ada penciptanya. Begitulah fitrah manusia dalam berpikir. Adanya alam semesta ini pun tentulah ada penciptanya, Ialah Allah SWT.

Hanya Allah yang maha memberi rizki kepada semua makhluknya. "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." (QS. Hud, 11: 6). Begitu juga manusia harus meyakini bahwa Allah-lah Sang raja diraja yang mengatur segala macam urusan makhluknya.

Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah artinya mengEsakan Allah dalam ibadah atau sesembahan. Bahwa tiada Illah yang berhak disembah melainkan Allah SWT. Hanya menjadikan satu saja yang disembah.

Tauhid ini penting untuk diyakini agar tauhid manusia lurus. Sehingga manusia tak menyembah selain kepada Allah SWT. Ditinggalkan semua sekutu-sekutu Allah, thaghut. Jadi semua thaghut harus ditinggalkan oleh manusia untuk kemurnian keyakinannya.

Thaghut bisa diartikan luas. Manusia yang menyembah manusia misalnya, maka manusia yang disembah adalah thaghut. Contohnya manusia meyakini dengan berdo'a kepada manusia lainnya atau yang telah tiada maka do'anya dapat dikabulkan. Atau manusia meyakini ada kekuatan ghaib dari pohon sebelah mata air, sehingga harus ada sesaji untuk 'penghuni' pohon. Hal ini (syirik) tidak dibenarkan dalam tauhid. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa', 4: 48)

Tauhid Mulkiyah
Seperti disebutkan di awal, tauhid mulkiyah adl penjabaran dari tauhid uluhiyah. Hal ini dikarenakan arti dari tauhid mulkiyah adalah meyakini hukum Allah SWT adalah hukum tertinggi, sedangkan hukum buatan manusia adalah rendah dan tak bisa memuliakan manusia seutuhnya. Namun bukan berarti jika seorang tak berhukum dengan hukum Allah SWT lantas dianggap kufur. Contoh, Indonesia belum berhukum pada hukum Allah secara total, yang menjadi landasan adalah UUD,  UU, dan peraturan pemerintahan lainnya. Jika seseorang mematuhi UU dan menjalankannya, bukan berarti orang ini kufur dan tak boleh orang lain men-takfir-i (menghukumi kafir) jika orang ini masih meyakini bahwa hukum Allah-lah yang tertinggi.

Berhukum pada hukum Allah SWT adalah bentuk kepatuhan manusia dalam Ibadah (tauhid uluhiyah). Namun Para ulama' menjabarkan tauhid mulkiyah dari tauhid uluhiyah untuk memberitakan kepada manusia bahwa meyakini hanya satu hukum (yaitu hukum Allah) adalah perkara tauhid. Para ulama' ingin manusia menyadarinya secara benar.

Tauhid Asma wa Shifat
Tauhid asma wa shifat artinya meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang baik dan setiap nama itu mempunyai masing-masing sifatNya. "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)" (QS. Thaha, 20: 8). Bahwa Allah tak sama dengan makhlukNya. Misalnya manusia mempunyai nama karim (mulia), tapi kelakuannya sehari-hari buruk atau tidak mulia, berarti antara nama dan sifatnya bertolak belakang. Atau misalnya lagi ada manusia bernama sami' (mendengar), tapi di usianya yang sudah tua ia tak lagi bisa mendengar melainkan suara yang keras dan didekatkan, nama dan sifatnya berbeda. Berbeda dengan Allah SWT, dengan nama-nama yang baik itu, sifatNya berbanding lurus seperti namaNya. Misalnya, dalam asmaul husna ada nama Allah SWT, Al-Ghafur (maha pengampun), sifatNya memang maha pengampun. Seperti firmanNya dalam al-Qur'an, "Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa', 4: 106).

Keempat tauhid tersebut harus diyakini secara keseluruhan. Tak bisa cukup bertauhid rububiyah saja tanpa bertauhid uluhiyah, misalnya. Seperti musyrik Qurays dahulu. Jika ditanya siapa yang menciptakan mereka, jawabnya Allah. Tapi dalam beribadah, mereka sembah yang namanya Lata, Uzzah, Hubal, dll. Artinya mereka tak bertauhid secara menyeluruh. Maka belum bisa dikatakan beriman.

Semoga kita dapat bertauhid secara menyeluruh dan tetap menjaganya hingga akhir hayat. Karena Allah SWT telah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali-Imran, 3: 102). Wallahua'lam bish shawab.

Tidak ada komentar: