Selasa, 01 September 2015

Klarifikasi


17 Dzulqo'dah 1436 H


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) klarifikasi berarti penjernihan, penjelasan, pengembalian kepada apa yang sebenarnya. Kalimat ini bukan satu kata tanpa makna. Bahkan mempunyai makna yang sangat mendalam bagi saya. Karena dengannya bisa terurai benang kusut permasalahan dan berbagai bentuk prasangka.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Terkadang kita lupa menjaga hati dari penyakit prasangka. Maka jika sudah terlanjur berprasangka (buruk) terhadap orang lain, semoga klarifikasi menjadi penawarnya. Sungguh tidak ada kebaikan dari berprasangka buruk. Akibatnya bisa berupa permusuhan, minimalnya kerisihan di dalam hati.

Saya mempunyai berbagai pengalaman –terutama dalam berorganisasi- banyak perkara yang tak terselesaikan karena adanya prasangka. Jika ada dua pihak atau lebih berlainan pendapat, maka masing-masing menaruh prasangkanya. Tidak ada jalan keluar jika masing-masing masih menyimpan prasangka. Maka jalan bijak untuk menemukan jalan keluarnya adalah dengan klarifikasi dari semua pihak. Karena dengan klarifikasi akan membuahkan kompromi kebijaksanaan yang insya Allah diterima dengan kelapangan hati.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba yang rendah hati dan senantiasa melindungi kita dari berbagai penyakit hati. Wallahu a’lam bish showab.

Rabu, 26 Agustus 2015

Orang Tua


11 Dzulqo'dah 1436 H


Ada satu paradigma tentang orang tua bagi saya, yaitu seorang bijak dalam sifat dan sikapnya. Begitulah seharusnya. Sebagai orang tua, sudah sepatutnya karakter bijak tersemat di pundaknya.

Saya tidak hendak membahas tentang orang tua yang belum bijak menurut pandangan orang lain. Tapi saya ingin menitik beratkan pada sisi kebijaksanaannya.

Tahun 2014, saya beserta teman-teman yang lain –seperti biasa- mengadakan dauroh di PP. Al-Ishlah Bondowoso. Dalam hati saya merasa tidak nyaman kepada pihak pondok yang selalu ramah mengijinkan dan melayani kebutuhan dauroh, terutama aula dan seperangkat peralatannya.

Perasaan tidak enak itu muncul karena bagi saya, pihak pondok telah berjasa besar kepada organisasi yang saya berada di dalamnya. Sangat sulit bagi organisasi saya untuk membalas jasa pihak pondok. Bayangkan kita diayomi sedari lama, dari awal saya masuk ke Jember 2010. Setiap tahun tidak hanya satu agenda yang kita selenggarakan di sana, tanpa ada feed back yang sepadan. Inilah yang memunculkan keresahan di hati saya.

Tapi keresahan itu buyar seketika pada waktu penutupan dauroh tahun 2014. Abi Thoha -yang menggantikan Abi Maksum karena sakit- mengatakan, “...Al-Ishlah sebagai orang tua organisasi saya...”. Kalimat orang tua itulah yang menenteramkan hati dan pikiran saya kala itu.

Tiga bulan terakhir ini saya mengenal dan bekerja pada seseorang. Satu hal yang menarik ketika beliau menyikapi tudingan negatif dari orang lain. Beliau mengatakan, “kita posisikan diri sebagai orang tua...”. Lagi-lagi kalimat orang tua yang saya terima itu begitu menyejukkan hati.

Seketika mendengar pernyataan semisal dengan dua contoh di atas, saya mendapatkan satu pelajaran besar dalam mengelola emosi, yaitu posisi sebagai orang tua. Ya. Memposisikan diri sebagai orang tua akan lebih merendahkan hati. Akan semakin bijak dalam bersikap. Karena tugas orang tua adalah mengayomi.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba yang rendah hati dan senantiasa melindungi kita dari berbagai penyakit hati. Wallahu a’lam bish showab.

Senin, 24 Agustus 2015

Sandal


9 Dzulqo'dah 1436 H
Setiap hari manusia tidak terlepas dari memakai sandal. Hal ini digunakan untuk melindungi alas kaki dari kotoran, panas, atau benda-benda yang tidak dikehendaki untuk diinjak.

Sandal hanya dipakai jika keluar rumah, meski ada sebagian orang yang memakai sandal khusus dalam rumah. Orang yang hanya memakai sandal ketika keluar rumah, tentu akan melepas sandalnya jika akan memasuki rumah atau tempat lain yang tidak boleh memakai sandal ke dalamnya (masjid, misalkan).

Terkadang banyaknya orang yang ada di suatu rumah atau masjid, mengakibatkan sandal berjubel di halaman depan. Baiknya memang ditata rapi. Tetapi kebanyakan yang sering terlihat adalah semburat tak karuan. Hal ini menjadi kurang sedap dipandang mata.

Selain kerapian, yang menjadi dongkol adalah ketika sandal kita ditindih dengan sandal milik orang lain. Karena hal ini menyebabkan sandal kita menjadi kotor. Meski tak ditindih, kadang sandal kita terinjak. Hasilnya sama saja membuat sandal kita kotor.

Maka resep bijak dalam menyikapi hal tersebut adalah pertama, kita harus melepas dan meletakkan sandal kita secara rapi. Kedua, jika ternyata kita dapati sandal kotor bekas pijakan sandal orang lain, relakan saja. Sambil tenangkan hati (tak perlu marah), pakai sandal kita dan basuh kaki beserta sandal kita dengan air. Ketiga, sebisa mungkin kita tidak melakukan hal yang membuat dongkol di awal tadi, yaitu menindih atau menginjak sandal orang lain.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba yang rendah hati dan senantiasa melindungi kita dari berbagai penyakit hati. Wallahu a’lam bish showab.

Kamis, 05 Maret 2015

Tadabbur QS. Al-Baqarah: 34

14 Jumadil 'Ula 1436

Disampaikan oleh Ust. Neman. Selasa, 3 Maret 2015, pukul 19.30-21.00 WIB. Bertempat di Gazebo Ma'had Tahfidzul Qur'an Ibnu Katsir, Jember.

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34)

Perintah Allah SWT kepada para Malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam menggunakan kalimat perintah yang pelaksanaannya harus dilangsungkan saat itu juga. Fasajaduu. Bukan Tsumma sajadu. Maka para Malaikat yang selalu menaati perintah Allah pun langsung bersujud.

Perintah "Sujudlah kamu kepada Adam," ini menimbulkan banyak pertanyaan. Sebagian 'Ulama ada yang mengatakan:
1. Bagaimana Malaikat sujud kepada selain Allah SWT?
2. Apakah makna sujud itu beribadah kepada Nabi Adam?
3. Sujud kepada selain Allah tidak boleh, dalam kondisi apa pun.

Tadabbur untuk memaknai perintah tersebut adalah dengan memahami apa definisi ibadah. Ibadah adalah menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya. Maka sujud para Malaikat itu merupakan ibadah kepada Allah SWT. Karena yang memerintahkan untuk sujud itu Allah SWT. Bukan berarti menyembah atau beribadah kepada Nabi Adam.

Tidak semua Malaikat diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam. Malaikat yang berhubungan langsung dengan manusia saja yang diperintahkan. Misalnya Malaikat Rakib dan Atid. Ada lagi Malaikat yang lebih agung derajatnya. Misalnya Malaikat penjunjung 'Arsy. Untuk mereka tidak diperintah bersujud kepada Nabi Adam.

Buktinya adalah "Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?" (QS. Shad: 75).

"...kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku..." artinya adalah Nabi Adam. Sedangkan "...golongan yang (lebih) tinggi?", 'aaliin, artinya Malaikat yang lebih agung. Inilah ayat yang menunjukkan tidak semua Malaikat diperintah, kemudian sujud kepada Nabi Adam.

Kembali ke QS. Al-Baqarah: 34. Dalam ayat ini, yang diperintah adalah Malaikat. Tapi kenapa ada iblis di situ yang enggan untuk bersujud dan menyombongkan diri. Bukankah wajar iblis tidak sujud, yang diperintah kan Malaikat?

Tadabbur dari pertanyaan tersebut adalah kita harus mengetahui bahwa iblis itu dari golongan apa. Iblis adalah golongan dari jin. Sedangkan jin derajatnya sama dengan manusia. "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dan manusia telah diberi keleluasan untuk memilih taat atau tidak, tak ada paksaan. "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Asy-Syams: 8).

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 256). Itulah sebabnya Iblis tidak diperintah secara langsung untuk bersujud kepada Nabi Adam.

Maka kepada golongan yang enggan dan sombong untuk taat selamanya, seperti iblis, adalah golongan kafir. Semoga kita dijauhkan dari kekafiran, dan dimasukkan ke dalam golongan yang taat kepada Allah SWT. Aamiin. Wallahu a'lam bishshawab.

Rabu, 04 Februari 2015

5 Cara Aman Terhindar dari Minyak Goreng Panas Saat Memasak

15 Rabi'ul Akhir 1436 H

Pernah memasak ikan? Kalau pernah memasak ikan, jenis apa saja, pasti tahu kejadian ini. Ya, minyak goreng akan terbang kesana-kemari (jawa: nyiprat). Meletus-letus bak mercon rintik.

Tak jarang kita, pemasak dibuat takut kecipratan percikan minyak goreng yang panas. Apalagi bagi pemasak pemula. Kalau akan membalik, badan dijauhkan dari wajan. Membuat tangan bekerja lebih keras lagi dengan mengulurnya panjang-panjang. Sambil memicingkan mata lagi. Siaga.

Cipratan minyak goreng bisa menyerang bagian kulit mana saja. Seperti muka, tangan, kaki, dan lain sebagainya. Dan efek dari kulit yang terkena cipratan adalah nylekit dan bisa saja meninggalkan bercak hitam.

Makanya perlu cara berikut untuk hindari serangan minyak goreng panas saat memasak:
1. Pakai baju lengan panjang,
2. Pakai celana panjang,
3. Pakai sarung tangan,
4. Pakai kaos kaki,
5. Pakai helm dengan menutup kacanya.
*Nomer tiga sampai lima hanya untuk yang sindrom akut.

Selamat mencoba, semoga selamat dari panasnya minyak goreng saat memasak.

Minggu, 01 Februari 2015

Wejangan Penambang Emas Jember

13 Rabi'ul Akhir 1436 H


Ahad siang saya diajak untuk bermain ke rumah Agus, sahabat saya. Pukul 13.30 WIB kita berangkat bersama satu lagi sahabat, Zam-zam. Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan-Jember tujuannya.

Sekitar 45 menit perjalanan, kita disuguhi berbagai pemandangan alam. Sawah dan perbukitan lebih tepatnya. Tiba di rumah Agus, kita disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Tak lama kemudian adiknya, Hatta menyuguhkan teh panas dan roti. Tak lupa kita pun dijamu makan siang. Alhamdulillah.

Selepas makan, waktu shalat asar tiba. Kita pun pergi ke masjid terdekat. Dalam perjalanan ke masjid, saya bertanya kepada agus: "kita kemana nih enaknya habis ini?" Dia menimpali, "saya ajak ke tempat penambangan emas saja."

Jadilah setelah shalat kita berempat menuju pertambangan emas di desa sebelah, Kesilir. Tempat penambangannya di bukit. Sekitar 10 KM dari jalan raya.

Untuk menuju ke tempat penambangan, kita harus melewati jalanan sempit kebun jagung. Para penambang biasa menggunakan motor trial untuk menuju parkiran. Sebelum akhirnya memarkir motornya dan jalan melewati jalan setapak yang masih dikelilingi tanaman jagung.

Sekitar sepuluh menit kita jalan dari parkiran menuju bukit tempat penambangan. Dalam menapaki jalan setapak itu, kita banyak jumpai para penambang lalu-lalang. Ada yang turun membawa bongkahan pasir dan batu yang ditaksir mengandung emas. Ada pula yang baru datang untuk menambang.

Sampai di atas kita bertemu beberapa penambang. Kita pun menanyakan apa-apa yang ingin kita tanyakan kepada mereka. Mulai dari nama, asal, penghasilan, pengeluaran, dsb.

Orang yang pertama kita tanyai adalah mbah Bo. Dia kayaknya lebih suka dipanggil mbah meski kelihatannya masih muda. Tak lama kita bincang-bincang sama mbah Bo. Ada satu pelajaran yang kita dapat dari orang yang dituakan dalam kelompok penambang ini. Yaitu menambang pun juga perlu untuk melestarikan lingkungan. Seperti tidak menebang pohon, katanya.

Mbah Bo bilang, terkait penghasilan yang tak seberapa. "Buat makan aja susah mas. Lebih banyak pengeluarannya. Satu kelompok saya dua hari ini sudah habis 1 juta. Sedang perolehan paling-paling 400 ribu per orang. Ya namanya rezeki, mas. Kalau nemu banyak ya Alhamdulillah." Setelah itu beliau pamit turun, pulang.

Nah, dua orang yang kita temui selanjutnya ini yang sedikit lebih banyak memberi wejangan kepada kita. Pak Limin dan Pak Udin, namanya. Pak Limin baru saja keluar dari dalam galian.

Saya tanya berapa kedalaman galian tambangnya. Pak Limin menjawab, "rata-rata kedalaman galian adalah 50 meter." Karena dalamnya itu mereka memakai blower untuk menghembuskan udara dari atas.

Agus tanya berapa lama menambang. Pak Udin menjawab, "sekitar dua tahunan kalu di sini. Sebelumnya nambang di Banyuwangi sekitar 3 tahunan." Pak Limin kembali menyahuti, "yang di Banyuwangi kita pernah dapat 2 Kg emas. Kalau gak percaya tanya saja itu pak Udin."

"Istilahnya kan menambang emas ini seperti judi, mas. Kalau gak dapat-dapat ya bangkrut. Tapi kalau sedang rejeki ya bisa menghidupi kebutuhan keluarga setahun." Lanjut Pak Limin.

Pak Udin menambahkan, "makanya mas, enakan sekolah kayak sampeyan-sampeyan ini. Nanti bisa punya skill." Pak Limin kembali menyahuti, "Nah itu bener mas. Makanya sekolah jangan dibuat main-main. Mumpung masih ada fasilitas dari orang tua. Jangan malah pacaran kesana-kemari. Kasihan orang tua kalau begitu. Sekolah yang benar, kayak sampean-sampean ini kan nanti yang akan menggantikan pejabat-pejabat itu. Siapa tahu Presidennya nanti dari sampean-sampean ini." Kita pun mengangguk-angguk dan tersenyum manis mendengarkan wejangan itu.

Hari semakin senja. Kita pun bersalaman, pamit pulang dan berterimakasih pada pak Limin dan Pak Udin yang telah memberi wejangan bagi kita. Semoga berhikmah dan menjadi motivasi bagi kita semua. Aamiin.

Jumat, 30 Januari 2015

Meski Buta, tetap disyariatkan Penuhi Panggilan Adzan.

10 Rabi'ul Akhir 1436 H

Telah sampai kepadaku kisah Abdullah bin Umi Maktum, dari ust. Abu Hasanuddin. Bahwa kondisi sahabat Nabi yg satu ini adalah seorang tua yang buta, berjalan pun sering terjatuh. Rumah beliau juga jauh dari jangkauan masjid Rasulullah.

Maka suatu ketika sahabat ini mengadu kepada baginda Nabi, "ya Rasulullah, engkau melihat kondisi saya seperti ini. Bolehkah saya tidak ikut shalat di masjid?" Rasulullah diam.

Dengan diamnya Rasulullah tersebut, Abdullah bin Umi Maktum meyakinkan dirinya, berarti Rasulullah membolehkan atau memaklumi. Beliau pun berbalik dan hendak meninggalkan sang Nabi.

Tak sampai jauh meninggalkan Nabi, suara adzan menggelegar. Lantas Rasulullah bersabda, "apakah engkau mendengar suara adzan itu?" Si tua buta nenjawab, "iya, yaa Rasulullah". "Maka datangilah ia" pungkas Rasulullah.

Maka Abdullah bin Umi Maktum mendatanginya setiap waktu adzan berkumandang. Dalam berjalannya menuju masjid, beliau sering terjatuh. Disetiap jatuh itulah dosa-dosanya banyak berguguran.

Maka datanglah sosok yg membantunya menuntun menuju masjid. Setiap hari seperti itu, bahkan ia dituntun dari rumahnya hingga masjid.

Belakangan beliau curiga, ia merasa sosok yg setiap hari menuntunnya ini tak menyertainya shalat. Bertanyalah si tua buta ini pada sosok itu, "engkau ini siapa? Engkau selalu menuntunku tapi tak pernah membersamaiku shalat!"

Sesosok itupun menjawab, "aku adalah iblis yg  diperintah untuk menuntunmu." Lalu Abdullah menimpali, "kok bisa seperti itu?" Iblis menjawab, "karena dosamu banyak berguguran kala engkau terjatuh. Dan kami tidak sudi melihat hal itu."

Wallahu a'lam bish shawab.

Rabu, 28 Januari 2015

Kisah Saras, Kisah Keikhlasan dan Kesabaran.

8 Rabi'ul Akhir 1436 H

Disarikan dari Twitter @mbagusetiawan

1. Ini kisah keikhlasan dan kesabaran, Saras aktornya.

2. Ini kisah tentang keikhlasan dan kesabaran tunaikan amanah. Yg sy sndr blm bs spt dirinya, Saras.

3. Saras bisa aja lulus 4 tahun kuliah. Tp selama ada amanah setahun lagi di organisasi, ia rela mengatungkan kuliahnya.

4. Kesabarannya terungkap usai ia sidang dan dinyatakan lulus, berdekatan waktunya dg masa berakhirnya amanah.

5. Unt mengatungkan kuliahnya, Saras nyambi ngajar di SMP swasta. Lumayan unt menghidupi diri, katanya.

6. Organisasi yg ia ada amanah di dalamnya udh rutin unt nerbitin majalah.

7. Nah, ternyata keikhlasan dan kesabarannya selama ini terungkap dr kiriman tulisannya ke meja redaksi.

8. Ia menceritakan ihwal diri dan amanahnya, ia bertutur setaun rela ngatingin kuliahnya unt beramanah di organisasi.

9. Dlm artikelnya jg ia minta maaf atas banyak salahnya, juga pamit undur diri.

10. Ia akan pergi ke pulau terpencil menuruti panggilan hati unt mengabdi Ibu Pertiwi. Saras Ikut program pemerintah mengajar unt negeri.

11. Jauh hari sebelum ia terima amanah di organisasi itu, unt periode selanjutnya. Ia  sebenarnya udh sampaikan permohonan maaf g bs nerima.

12. Mengingat kalo diterima akan ganggu studinya yg hampir habis. Ia berdalih udh istikharah unt tak terima amanah.

13. Namun demisioner ketuanya malah nyanggah, kalo bkn kamu yg emban amanah, siapa lg.

14. Sang ketua lantas lebih menekan, pikirkan lg. Bsk ditunggu konfirmnya.

15. Keesokan harinya Saras konfirmasi. Aku udh istikharah, dan jawabanku tetap tak bs terima amanah di organisasi ini.

16. Sang ketua demisioner lantas menekan lg, oke kalo itu hasil istikharahmu. Saya cb minta ustadz Aa unt Istikharah tandingan, bnrkah pilianmu

17. Saras pun termenung. Sebenarnya ia pun kabur dg keputusannya itu.

18. Setelah beberapa menit termenung, lantas ia sampaikan kpd ketua, ya sudah kamu tak perlu repot2 minta ustad unt beristikharah. Skrg aku trma

19. MasyaAllah, betapa ikhlas dan sabarnya Sarar nerima amanah itu.

20. Semoga kisah pg ni berhikmah. Sejuknya pagi menyapa kita sekalian. Selamat beraktivitas.

Senin, 26 Januari 2015

Kisah Budi, Kisah Kebijaksanaan.

6 Rabi'ul Akhir 1436 H

1. Ini kisah Budi yg begitu bijaknya dalam keluarga. Bgt memuliakan org tuanya.

2. Dia anak ke-5 dr 11 bersaudara. 3 kakak pertamanya perempuan. Kakak ke-4 laki. Adiknya pertama n kedua laki. 4 adik lainnya perempuan.

3. Saat usianya 23 tahun, keempat kakaknya sudah membangun keluarganya masing2. Ada yg di Jkt, di Pas, dan desa sebelah.

4. Budi bekerja membantu di toko kakeknya. Adik lakinya pertama kerja di sby sbg pelayan mall.

5. Adik laki ke-2 sekolah SMK. adiknya yg perempuan pertama ngajar TPQ. 3 sisanya mondok.

6. Praktis yg di rumah hanya 3 org, Budi, adiknya laki yg SMK n adiknya perempuan pengajar TPQ.

7. Abahnya pengajar ngaji di masjid selepas maghrib. Paginya ke pasar jualan sandal. Ibunya di rumah saja sbg ibu rumah tangga.

8. Setahun kemudian 3 adik perempuannya pulang dari pondok. Menetaplah di rumah.

9. Rumah kembali rame dg 6 bersaudara tinggal di dalamnya.

10. Merasa tanggungan ortunya tak memungkinkan unt menghidupi 6 anaknya, dan gaji dari kakeknya yg tak seberapa, membuat Budi merantau.

11. Ia pergi ke Jkt, disana ada kakaknya. Dan bekerjalah ia di bengkel mobil, dg bantuan kakaknya yg nyarikan.

12. 8 bln kemudian ia mendengar abahnya sakit. Hatinya terusik. Di rumah hanya ada satu adik laki yg SMK.

13. Ia pun memutuskan pulang, krn tak ada yg merawat abahnya. Ia kasihan kalo adiknya yg perempuan yg merawat.

14. Di sinilah letak kebijaksanaan Budi. Ia merelakan kehidupan 'nyaman' di Jkt unt sekadar merawat abahnya.

15. Semoga kisah Budi ini berhikmah unt kita sekalian. Selamat akhir pekan

Sabtu, 24 Januari 2015

Kisah Bunga, Kisah Kebersahajaan.

4 Rabi'ul Akhir 1436 H

Disarikan dari Twitter @mbagusetiawan

1. Ini kisah keluarga Bunga. Kisah tentang kesederhanaan nan bersahaja.

2. Dikisahkan dari penuturan Arif yang 'takjub' akannya. Tak berlebihan jika ia takjub dg kebersahajaannya.

3. Arif dan Bunga adalah satu pesantren, namun keduanya hanya sebatas tahu. Tak saling kenal dekat.

4. Satu pagi adik pesantren Arif meninggal dunia. Singkat cerita, Ia pun melayat ke kampung adik pesantrennya.

5. Kampung yg dituju adl juga merupakan kampung Bunga.

6. Arif ke kampung Bunga dg sebuah mobil bersama 6 temannya. 3 di antaranya perempuan yg jg teman Bunga.

7. Perjalanan pun dilakukan. Sekitar 8 jam perjalanan. Arif beserta rombongan pun sampai di kampung almarhum adik kelas.

8. Di sana sudah ada Bunga dan beberapa teman yg telah berada di kampung itu. Rombongan pun di tuntun ke rumah duka...

9. ...setelah sblmnya janjian bertemu di jalanan taman kota.

10. Sampailah rombongan yg semakin banyak ke rumah duka.

11. Sepulang dari melayat, Bunga mengajak rombongan ke rumahnya. Sudah disiapkan sesuatu sama keluarga, katanya.

12. Rumah Bunga yang tak jauh dari rumah duka, sekitar 15 menit, telah sampailah.

13. Subhanallah, Arif terkesima dg kebersahajaan keluarga Bunga.

14. Rumah gedek berlatar tanah itu nampak sederhana, tapi bagi Arif, ini keluarga kaya.

15. Ia menganggap demikian karena satu ruang tamu bergelar kloso itu terletak makanan suguhan semua.

16. Sehingga tamu sulit mendapat tempat duduk lesehan. Untuk mendapat duduk, mereka harus berdempet2 dg gedek.

17. Arif tak pernah jumpai keluarga sebersahaja itu. Maka dari itu, Arif takjub dg keluarga Bunga.

18. Keluarga Bunga sederhana, tapi hatinya kaya. Maka arif berkesimpulan, keluarga Bunga adl keluarga kaya yg hakiki.

19. Mereka sederhana, tapi mereka kaya. Mereka sederhana, tapi mereka bersahaja.

20. Selepas mendapat jamuan dari keluarga Bunga, rombongan kembali pulang.

21. Demikian sedikit kisah keluarga Bunga yg begitu bersahaja. Smg dpt berbuah hikmah bg kita sekalian. Selamat mlm

Rabu, 21 Januari 2015

Resensi Buku "Cinta di Rumah Hasan al-Banna"

1 Rabi'ul akhir 1436 H

Cinta di rumah Hasan al-Banna adalah kumpulan kisah-kisah pendek tentang peran seorang ayah dalam keluarga. Membacanya semakin mencerahkan kita, para ikhwan, akan peranan ketika menjadi seorang ayah. Bahwa tarbiyah haruslah dilakukan sedini mungkin, yaitu terhadap anak-anak di rumah.

Dengan mengetahui sedikit gambaran praktis Imam Hasan al-Banna membina anak-anaknya, kita diajak untuk turut membesarkan anak dengan kasih sayang yang tulus. Utamanya kasih sayang dari seorang ayah kepada setiap anak-anaknya.

Di dalamnya diceritakan bagaimana asy-Syahid Hasan al-Banna mendidik anak-anaknya sedari lahirnya hingga besarnya dengan baik. Inilah penuturan anak-anaknya dalam menggambarkan sesosok ayah idaman nan ideal bagi mereka. Ayah yang memerhatikan setiap anaknya dengan perhatian yang penuh, ditengah kesibukan aktivitas dakwahnya yang sangatlah padat.

Dikisahkan setiap pagi beliau selalu menemani anak-anaknya makan. Ia memantau pendidikan anak-anaknya di sekolah, dan memberi pengetahuan di rumah. Bahkan Hasan al-Banna mengirim pengintai untuk memata-matai anaknya di sekolah, mengarahkan gurunya untuk memberi sebuah tugas tambahan kepada anak didiknya. Beliau juga memberi loker pribadi setiap anaknya, untuk diisi dengan buku-buku yang mereka beli sendiri sesuai yang diingini dari uang yang diberikan setiap bulan oleh ayahnya, khusus untuk membelanjakan buku.

Ada kehangatan dalam setiap tarbiyah yang beliau tegakkan di rumah. Ada penghargaan dan hukuman memang dalam mendidik anaknya. Dikisahkan Hasan al-Banna senang memberikan kue-kue pada anak-anaknya sebagai hadiah. Disatu saat beliau menghukum anaknya. Anak yang dihukum menerangkan ia hampir-hampir tertawa oleh pukulan penggaris ayahnya, karena begitu tidak kerasnya ayahnya memukul. Tapi dengan itu ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan.

Insya Allah banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam singkatnya buku ini. Karena saking singkatnya, saya semakin ingin mengetahui lebih banyak bagaimana Imam Hasan al-Banna membina keluarga. Bagaimana peran istri dan pembantu, lingkungan sekitar, dsb. Karena bagi saya, cerita-cerita pendek dari buku ini bagaikan setetes embun dalam secawan bening yang masih bisa menampung lebih banyak lagi air kesejukan nan jernih.