Jumat, 30 Januari 2015

Meski Buta, tetap disyariatkan Penuhi Panggilan Adzan.

10 Rabi'ul Akhir 1436 H

Telah sampai kepadaku kisah Abdullah bin Umi Maktum, dari ust. Abu Hasanuddin. Bahwa kondisi sahabat Nabi yg satu ini adalah seorang tua yang buta, berjalan pun sering terjatuh. Rumah beliau juga jauh dari jangkauan masjid Rasulullah.

Maka suatu ketika sahabat ini mengadu kepada baginda Nabi, "ya Rasulullah, engkau melihat kondisi saya seperti ini. Bolehkah saya tidak ikut shalat di masjid?" Rasulullah diam.

Dengan diamnya Rasulullah tersebut, Abdullah bin Umi Maktum meyakinkan dirinya, berarti Rasulullah membolehkan atau memaklumi. Beliau pun berbalik dan hendak meninggalkan sang Nabi.

Tak sampai jauh meninggalkan Nabi, suara adzan menggelegar. Lantas Rasulullah bersabda, "apakah engkau mendengar suara adzan itu?" Si tua buta nenjawab, "iya, yaa Rasulullah". "Maka datangilah ia" pungkas Rasulullah.

Maka Abdullah bin Umi Maktum mendatanginya setiap waktu adzan berkumandang. Dalam berjalannya menuju masjid, beliau sering terjatuh. Disetiap jatuh itulah dosa-dosanya banyak berguguran.

Maka datanglah sosok yg membantunya menuntun menuju masjid. Setiap hari seperti itu, bahkan ia dituntun dari rumahnya hingga masjid.

Belakangan beliau curiga, ia merasa sosok yg setiap hari menuntunnya ini tak menyertainya shalat. Bertanyalah si tua buta ini pada sosok itu, "engkau ini siapa? Engkau selalu menuntunku tapi tak pernah membersamaiku shalat!"

Sesosok itupun menjawab, "aku adalah iblis yg  diperintah untuk menuntunmu." Lalu Abdullah menimpali, "kok bisa seperti itu?" Iblis menjawab, "karena dosamu banyak berguguran kala engkau terjatuh. Dan kami tidak sudi melihat hal itu."

Wallahu a'lam bish shawab.

Rabu, 28 Januari 2015

Kisah Saras, Kisah Keikhlasan dan Kesabaran.

8 Rabi'ul Akhir 1436 H

Disarikan dari Twitter @mbagusetiawan

1. Ini kisah keikhlasan dan kesabaran, Saras aktornya.

2. Ini kisah tentang keikhlasan dan kesabaran tunaikan amanah. Yg sy sndr blm bs spt dirinya, Saras.

3. Saras bisa aja lulus 4 tahun kuliah. Tp selama ada amanah setahun lagi di organisasi, ia rela mengatungkan kuliahnya.

4. Kesabarannya terungkap usai ia sidang dan dinyatakan lulus, berdekatan waktunya dg masa berakhirnya amanah.

5. Unt mengatungkan kuliahnya, Saras nyambi ngajar di SMP swasta. Lumayan unt menghidupi diri, katanya.

6. Organisasi yg ia ada amanah di dalamnya udh rutin unt nerbitin majalah.

7. Nah, ternyata keikhlasan dan kesabarannya selama ini terungkap dr kiriman tulisannya ke meja redaksi.

8. Ia menceritakan ihwal diri dan amanahnya, ia bertutur setaun rela ngatingin kuliahnya unt beramanah di organisasi.

9. Dlm artikelnya jg ia minta maaf atas banyak salahnya, juga pamit undur diri.

10. Ia akan pergi ke pulau terpencil menuruti panggilan hati unt mengabdi Ibu Pertiwi. Saras Ikut program pemerintah mengajar unt negeri.

11. Jauh hari sebelum ia terima amanah di organisasi itu, unt periode selanjutnya. Ia  sebenarnya udh sampaikan permohonan maaf g bs nerima.

12. Mengingat kalo diterima akan ganggu studinya yg hampir habis. Ia berdalih udh istikharah unt tak terima amanah.

13. Namun demisioner ketuanya malah nyanggah, kalo bkn kamu yg emban amanah, siapa lg.

14. Sang ketua lantas lebih menekan, pikirkan lg. Bsk ditunggu konfirmnya.

15. Keesokan harinya Saras konfirmasi. Aku udh istikharah, dan jawabanku tetap tak bs terima amanah di organisasi ini.

16. Sang ketua demisioner lantas menekan lg, oke kalo itu hasil istikharahmu. Saya cb minta ustadz Aa unt Istikharah tandingan, bnrkah pilianmu

17. Saras pun termenung. Sebenarnya ia pun kabur dg keputusannya itu.

18. Setelah beberapa menit termenung, lantas ia sampaikan kpd ketua, ya sudah kamu tak perlu repot2 minta ustad unt beristikharah. Skrg aku trma

19. MasyaAllah, betapa ikhlas dan sabarnya Sarar nerima amanah itu.

20. Semoga kisah pg ni berhikmah. Sejuknya pagi menyapa kita sekalian. Selamat beraktivitas.

Senin, 26 Januari 2015

Kisah Budi, Kisah Kebijaksanaan.

6 Rabi'ul Akhir 1436 H

1. Ini kisah Budi yg begitu bijaknya dalam keluarga. Bgt memuliakan org tuanya.

2. Dia anak ke-5 dr 11 bersaudara. 3 kakak pertamanya perempuan. Kakak ke-4 laki. Adiknya pertama n kedua laki. 4 adik lainnya perempuan.

3. Saat usianya 23 tahun, keempat kakaknya sudah membangun keluarganya masing2. Ada yg di Jkt, di Pas, dan desa sebelah.

4. Budi bekerja membantu di toko kakeknya. Adik lakinya pertama kerja di sby sbg pelayan mall.

5. Adik laki ke-2 sekolah SMK. adiknya yg perempuan pertama ngajar TPQ. 3 sisanya mondok.

6. Praktis yg di rumah hanya 3 org, Budi, adiknya laki yg SMK n adiknya perempuan pengajar TPQ.

7. Abahnya pengajar ngaji di masjid selepas maghrib. Paginya ke pasar jualan sandal. Ibunya di rumah saja sbg ibu rumah tangga.

8. Setahun kemudian 3 adik perempuannya pulang dari pondok. Menetaplah di rumah.

9. Rumah kembali rame dg 6 bersaudara tinggal di dalamnya.

10. Merasa tanggungan ortunya tak memungkinkan unt menghidupi 6 anaknya, dan gaji dari kakeknya yg tak seberapa, membuat Budi merantau.

11. Ia pergi ke Jkt, disana ada kakaknya. Dan bekerjalah ia di bengkel mobil, dg bantuan kakaknya yg nyarikan.

12. 8 bln kemudian ia mendengar abahnya sakit. Hatinya terusik. Di rumah hanya ada satu adik laki yg SMK.

13. Ia pun memutuskan pulang, krn tak ada yg merawat abahnya. Ia kasihan kalo adiknya yg perempuan yg merawat.

14. Di sinilah letak kebijaksanaan Budi. Ia merelakan kehidupan 'nyaman' di Jkt unt sekadar merawat abahnya.

15. Semoga kisah Budi ini berhikmah unt kita sekalian. Selamat akhir pekan

Sabtu, 24 Januari 2015

Kisah Bunga, Kisah Kebersahajaan.

4 Rabi'ul Akhir 1436 H

Disarikan dari Twitter @mbagusetiawan

1. Ini kisah keluarga Bunga. Kisah tentang kesederhanaan nan bersahaja.

2. Dikisahkan dari penuturan Arif yang 'takjub' akannya. Tak berlebihan jika ia takjub dg kebersahajaannya.

3. Arif dan Bunga adalah satu pesantren, namun keduanya hanya sebatas tahu. Tak saling kenal dekat.

4. Satu pagi adik pesantren Arif meninggal dunia. Singkat cerita, Ia pun melayat ke kampung adik pesantrennya.

5. Kampung yg dituju adl juga merupakan kampung Bunga.

6. Arif ke kampung Bunga dg sebuah mobil bersama 6 temannya. 3 di antaranya perempuan yg jg teman Bunga.

7. Perjalanan pun dilakukan. Sekitar 8 jam perjalanan. Arif beserta rombongan pun sampai di kampung almarhum adik kelas.

8. Di sana sudah ada Bunga dan beberapa teman yg telah berada di kampung itu. Rombongan pun di tuntun ke rumah duka...

9. ...setelah sblmnya janjian bertemu di jalanan taman kota.

10. Sampailah rombongan yg semakin banyak ke rumah duka.

11. Sepulang dari melayat, Bunga mengajak rombongan ke rumahnya. Sudah disiapkan sesuatu sama keluarga, katanya.

12. Rumah Bunga yang tak jauh dari rumah duka, sekitar 15 menit, telah sampailah.

13. Subhanallah, Arif terkesima dg kebersahajaan keluarga Bunga.

14. Rumah gedek berlatar tanah itu nampak sederhana, tapi bagi Arif, ini keluarga kaya.

15. Ia menganggap demikian karena satu ruang tamu bergelar kloso itu terletak makanan suguhan semua.

16. Sehingga tamu sulit mendapat tempat duduk lesehan. Untuk mendapat duduk, mereka harus berdempet2 dg gedek.

17. Arif tak pernah jumpai keluarga sebersahaja itu. Maka dari itu, Arif takjub dg keluarga Bunga.

18. Keluarga Bunga sederhana, tapi hatinya kaya. Maka arif berkesimpulan, keluarga Bunga adl keluarga kaya yg hakiki.

19. Mereka sederhana, tapi mereka kaya. Mereka sederhana, tapi mereka bersahaja.

20. Selepas mendapat jamuan dari keluarga Bunga, rombongan kembali pulang.

21. Demikian sedikit kisah keluarga Bunga yg begitu bersahaja. Smg dpt berbuah hikmah bg kita sekalian. Selamat mlm

Rabu, 21 Januari 2015

Resensi Buku "Cinta di Rumah Hasan al-Banna"

1 Rabi'ul akhir 1436 H

Cinta di rumah Hasan al-Banna adalah kumpulan kisah-kisah pendek tentang peran seorang ayah dalam keluarga. Membacanya semakin mencerahkan kita, para ikhwan, akan peranan ketika menjadi seorang ayah. Bahwa tarbiyah haruslah dilakukan sedini mungkin, yaitu terhadap anak-anak di rumah.

Dengan mengetahui sedikit gambaran praktis Imam Hasan al-Banna membina anak-anaknya, kita diajak untuk turut membesarkan anak dengan kasih sayang yang tulus. Utamanya kasih sayang dari seorang ayah kepada setiap anak-anaknya.

Di dalamnya diceritakan bagaimana asy-Syahid Hasan al-Banna mendidik anak-anaknya sedari lahirnya hingga besarnya dengan baik. Inilah penuturan anak-anaknya dalam menggambarkan sesosok ayah idaman nan ideal bagi mereka. Ayah yang memerhatikan setiap anaknya dengan perhatian yang penuh, ditengah kesibukan aktivitas dakwahnya yang sangatlah padat.

Dikisahkan setiap pagi beliau selalu menemani anak-anaknya makan. Ia memantau pendidikan anak-anaknya di sekolah, dan memberi pengetahuan di rumah. Bahkan Hasan al-Banna mengirim pengintai untuk memata-matai anaknya di sekolah, mengarahkan gurunya untuk memberi sebuah tugas tambahan kepada anak didiknya. Beliau juga memberi loker pribadi setiap anaknya, untuk diisi dengan buku-buku yang mereka beli sendiri sesuai yang diingini dari uang yang diberikan setiap bulan oleh ayahnya, khusus untuk membelanjakan buku.

Ada kehangatan dalam setiap tarbiyah yang beliau tegakkan di rumah. Ada penghargaan dan hukuman memang dalam mendidik anaknya. Dikisahkan Hasan al-Banna senang memberikan kue-kue pada anak-anaknya sebagai hadiah. Disatu saat beliau menghukum anaknya. Anak yang dihukum menerangkan ia hampir-hampir tertawa oleh pukulan penggaris ayahnya, karena begitu tidak kerasnya ayahnya memukul. Tapi dengan itu ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan.

Insya Allah banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam singkatnya buku ini. Karena saking singkatnya, saya semakin ingin mengetahui lebih banyak bagaimana Imam Hasan al-Banna membina keluarga. Bagaimana peran istri dan pembantu, lingkungan sekitar, dsb. Karena bagi saya, cerita-cerita pendek dari buku ini bagaikan setetes embun dalam secawan bening yang masih bisa menampung lebih banyak lagi air kesejukan nan jernih.