Rabu, 04 Februari 2015

5 Cara Aman Terhindar dari Minyak Goreng Panas Saat Memasak

15 Rabi'ul Akhir 1436 H

Pernah memasak ikan? Kalau pernah memasak ikan, jenis apa saja, pasti tahu kejadian ini. Ya, minyak goreng akan terbang kesana-kemari (jawa: nyiprat). Meletus-letus bak mercon rintik.

Tak jarang kita, pemasak dibuat takut kecipratan percikan minyak goreng yang panas. Apalagi bagi pemasak pemula. Kalau akan membalik, badan dijauhkan dari wajan. Membuat tangan bekerja lebih keras lagi dengan mengulurnya panjang-panjang. Sambil memicingkan mata lagi. Siaga.

Cipratan minyak goreng bisa menyerang bagian kulit mana saja. Seperti muka, tangan, kaki, dan lain sebagainya. Dan efek dari kulit yang terkena cipratan adalah nylekit dan bisa saja meninggalkan bercak hitam.

Makanya perlu cara berikut untuk hindari serangan minyak goreng panas saat memasak:
1. Pakai baju lengan panjang,
2. Pakai celana panjang,
3. Pakai sarung tangan,
4. Pakai kaos kaki,
5. Pakai helm dengan menutup kacanya.
*Nomer tiga sampai lima hanya untuk yang sindrom akut.

Selamat mencoba, semoga selamat dari panasnya minyak goreng saat memasak.

Minggu, 01 Februari 2015

Wejangan Penambang Emas Jember

13 Rabi'ul Akhir 1436 H


Ahad siang saya diajak untuk bermain ke rumah Agus, sahabat saya. Pukul 13.30 WIB kita berangkat bersama satu lagi sahabat, Zam-zam. Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan-Jember tujuannya.

Sekitar 45 menit perjalanan, kita disuguhi berbagai pemandangan alam. Sawah dan perbukitan lebih tepatnya. Tiba di rumah Agus, kita disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Tak lama kemudian adiknya, Hatta menyuguhkan teh panas dan roti. Tak lupa kita pun dijamu makan siang. Alhamdulillah.

Selepas makan, waktu shalat asar tiba. Kita pun pergi ke masjid terdekat. Dalam perjalanan ke masjid, saya bertanya kepada agus: "kita kemana nih enaknya habis ini?" Dia menimpali, "saya ajak ke tempat penambangan emas saja."

Jadilah setelah shalat kita berempat menuju pertambangan emas di desa sebelah, Kesilir. Tempat penambangannya di bukit. Sekitar 10 KM dari jalan raya.

Untuk menuju ke tempat penambangan, kita harus melewati jalanan sempit kebun jagung. Para penambang biasa menggunakan motor trial untuk menuju parkiran. Sebelum akhirnya memarkir motornya dan jalan melewati jalan setapak yang masih dikelilingi tanaman jagung.

Sekitar sepuluh menit kita jalan dari parkiran menuju bukit tempat penambangan. Dalam menapaki jalan setapak itu, kita banyak jumpai para penambang lalu-lalang. Ada yang turun membawa bongkahan pasir dan batu yang ditaksir mengandung emas. Ada pula yang baru datang untuk menambang.

Sampai di atas kita bertemu beberapa penambang. Kita pun menanyakan apa-apa yang ingin kita tanyakan kepada mereka. Mulai dari nama, asal, penghasilan, pengeluaran, dsb.

Orang yang pertama kita tanyai adalah mbah Bo. Dia kayaknya lebih suka dipanggil mbah meski kelihatannya masih muda. Tak lama kita bincang-bincang sama mbah Bo. Ada satu pelajaran yang kita dapat dari orang yang dituakan dalam kelompok penambang ini. Yaitu menambang pun juga perlu untuk melestarikan lingkungan. Seperti tidak menebang pohon, katanya.

Mbah Bo bilang, terkait penghasilan yang tak seberapa. "Buat makan aja susah mas. Lebih banyak pengeluarannya. Satu kelompok saya dua hari ini sudah habis 1 juta. Sedang perolehan paling-paling 400 ribu per orang. Ya namanya rezeki, mas. Kalau nemu banyak ya Alhamdulillah." Setelah itu beliau pamit turun, pulang.

Nah, dua orang yang kita temui selanjutnya ini yang sedikit lebih banyak memberi wejangan kepada kita. Pak Limin dan Pak Udin, namanya. Pak Limin baru saja keluar dari dalam galian.

Saya tanya berapa kedalaman galian tambangnya. Pak Limin menjawab, "rata-rata kedalaman galian adalah 50 meter." Karena dalamnya itu mereka memakai blower untuk menghembuskan udara dari atas.

Agus tanya berapa lama menambang. Pak Udin menjawab, "sekitar dua tahunan kalu di sini. Sebelumnya nambang di Banyuwangi sekitar 3 tahunan." Pak Limin kembali menyahuti, "yang di Banyuwangi kita pernah dapat 2 Kg emas. Kalau gak percaya tanya saja itu pak Udin."

"Istilahnya kan menambang emas ini seperti judi, mas. Kalau gak dapat-dapat ya bangkrut. Tapi kalau sedang rejeki ya bisa menghidupi kebutuhan keluarga setahun." Lanjut Pak Limin.

Pak Udin menambahkan, "makanya mas, enakan sekolah kayak sampeyan-sampeyan ini. Nanti bisa punya skill." Pak Limin kembali menyahuti, "Nah itu bener mas. Makanya sekolah jangan dibuat main-main. Mumpung masih ada fasilitas dari orang tua. Jangan malah pacaran kesana-kemari. Kasihan orang tua kalau begitu. Sekolah yang benar, kayak sampean-sampean ini kan nanti yang akan menggantikan pejabat-pejabat itu. Siapa tahu Presidennya nanti dari sampean-sampean ini." Kita pun mengangguk-angguk dan tersenyum manis mendengarkan wejangan itu.

Hari semakin senja. Kita pun bersalaman, pamit pulang dan berterimakasih pada pak Limin dan Pak Udin yang telah memberi wejangan bagi kita. Semoga berhikmah dan menjadi motivasi bagi kita semua. Aamiin.