Rabu, 26 Agustus 2015

Orang Tua


11 Dzulqo'dah 1436 H


Ada satu paradigma tentang orang tua bagi saya, yaitu seorang bijak dalam sifat dan sikapnya. Begitulah seharusnya. Sebagai orang tua, sudah sepatutnya karakter bijak tersemat di pundaknya.

Saya tidak hendak membahas tentang orang tua yang belum bijak menurut pandangan orang lain. Tapi saya ingin menitik beratkan pada sisi kebijaksanaannya.

Tahun 2014, saya beserta teman-teman yang lain –seperti biasa- mengadakan dauroh di PP. Al-Ishlah Bondowoso. Dalam hati saya merasa tidak nyaman kepada pihak pondok yang selalu ramah mengijinkan dan melayani kebutuhan dauroh, terutama aula dan seperangkat peralatannya.

Perasaan tidak enak itu muncul karena bagi saya, pihak pondok telah berjasa besar kepada organisasi yang saya berada di dalamnya. Sangat sulit bagi organisasi saya untuk membalas jasa pihak pondok. Bayangkan kita diayomi sedari lama, dari awal saya masuk ke Jember 2010. Setiap tahun tidak hanya satu agenda yang kita selenggarakan di sana, tanpa ada feed back yang sepadan. Inilah yang memunculkan keresahan di hati saya.

Tapi keresahan itu buyar seketika pada waktu penutupan dauroh tahun 2014. Abi Thoha -yang menggantikan Abi Maksum karena sakit- mengatakan, “...Al-Ishlah sebagai orang tua organisasi saya...”. Kalimat orang tua itulah yang menenteramkan hati dan pikiran saya kala itu.

Tiga bulan terakhir ini saya mengenal dan bekerja pada seseorang. Satu hal yang menarik ketika beliau menyikapi tudingan negatif dari orang lain. Beliau mengatakan, “kita posisikan diri sebagai orang tua...”. Lagi-lagi kalimat orang tua yang saya terima itu begitu menyejukkan hati.

Seketika mendengar pernyataan semisal dengan dua contoh di atas, saya mendapatkan satu pelajaran besar dalam mengelola emosi, yaitu posisi sebagai orang tua. Ya. Memposisikan diri sebagai orang tua akan lebih merendahkan hati. Akan semakin bijak dalam bersikap. Karena tugas orang tua adalah mengayomi.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba yang rendah hati dan senantiasa melindungi kita dari berbagai penyakit hati. Wallahu a’lam bish showab.

Senin, 24 Agustus 2015

Sandal


9 Dzulqo'dah 1436 H
Setiap hari manusia tidak terlepas dari memakai sandal. Hal ini digunakan untuk melindungi alas kaki dari kotoran, panas, atau benda-benda yang tidak dikehendaki untuk diinjak.

Sandal hanya dipakai jika keluar rumah, meski ada sebagian orang yang memakai sandal khusus dalam rumah. Orang yang hanya memakai sandal ketika keluar rumah, tentu akan melepas sandalnya jika akan memasuki rumah atau tempat lain yang tidak boleh memakai sandal ke dalamnya (masjid, misalkan).

Terkadang banyaknya orang yang ada di suatu rumah atau masjid, mengakibatkan sandal berjubel di halaman depan. Baiknya memang ditata rapi. Tetapi kebanyakan yang sering terlihat adalah semburat tak karuan. Hal ini menjadi kurang sedap dipandang mata.

Selain kerapian, yang menjadi dongkol adalah ketika sandal kita ditindih dengan sandal milik orang lain. Karena hal ini menyebabkan sandal kita menjadi kotor. Meski tak ditindih, kadang sandal kita terinjak. Hasilnya sama saja membuat sandal kita kotor.

Maka resep bijak dalam menyikapi hal tersebut adalah pertama, kita harus melepas dan meletakkan sandal kita secara rapi. Kedua, jika ternyata kita dapati sandal kotor bekas pijakan sandal orang lain, relakan saja. Sambil tenangkan hati (tak perlu marah), pakai sandal kita dan basuh kaki beserta sandal kita dengan air. Ketiga, sebisa mungkin kita tidak melakukan hal yang membuat dongkol di awal tadi, yaitu menindih atau menginjak sandal orang lain.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba yang rendah hati dan senantiasa melindungi kita dari berbagai penyakit hati. Wallahu a’lam bish showab.