Selasa, 01 September 2015

Klarifikasi


17 Dzulqo'dah 1436 H


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) klarifikasi berarti penjernihan, penjelasan, pengembalian kepada apa yang sebenarnya. Kalimat ini bukan satu kata tanpa makna. Bahkan mempunyai makna yang sangat mendalam bagi saya. Karena dengannya bisa terurai benang kusut permasalahan dan berbagai bentuk prasangka.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Terkadang kita lupa menjaga hati dari penyakit prasangka. Maka jika sudah terlanjur berprasangka (buruk) terhadap orang lain, semoga klarifikasi menjadi penawarnya. Sungguh tidak ada kebaikan dari berprasangka buruk. Akibatnya bisa berupa permusuhan, minimalnya kerisihan di dalam hati.

Saya mempunyai berbagai pengalaman –terutama dalam berorganisasi- banyak perkara yang tak terselesaikan karena adanya prasangka. Jika ada dua pihak atau lebih berlainan pendapat, maka masing-masing menaruh prasangkanya. Tidak ada jalan keluar jika masing-masing masih menyimpan prasangka. Maka jalan bijak untuk menemukan jalan keluarnya adalah dengan klarifikasi dari semua pihak. Karena dengan klarifikasi akan membuahkan kompromi kebijaksanaan yang insya Allah diterima dengan kelapangan hati.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai hamba yang rendah hati dan senantiasa melindungi kita dari berbagai penyakit hati. Wallahu a’lam bish showab.